Mahasiswa Menulis Opini: Kepedulian di Tengah Krisis Idealitas dan Kritik Sosial

Kaisar_Mujahid
Mahasiswa Universitas Negeri Makassar

Zaman dahulu dengan zaman sekarang sangatlah berbeda. Sangat banyak hal yang kita rasakan sekarang, tidak dirasakan oleh orang-orang tua kita dahulu. Terutama dalam hal perkembangan teknologi dan barbagai aplikasinya di segala lini kehidupan. Hal ini sebagai dampak dari globalisasi ekonomi yang diterapkan di hampir seluruh negara. Dinamika hidup di tengah arus globalisasi menjadi tidak terelakkan lagi. Justru ketika ini terjadi, sebagian besar kaum muda Indonesia hanya bisa menjadi penikmat dan bukan pencipta dari sebuah sistem yang menjadi mainstream.

Sejarah mencatat, kaum muda terpelajar masa lampau mampu menjadi tonggak sejarah peradaban di seluruh dunia dengan karya nyata mereka dalam perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam karya sastra dan pekembangan ilmu pengetahuan modern seperti sains dan ilmu-ilmu sosial humaniora. Beribu-ribu lembar manuskrip kuno dan berjilid-jilid buku telah dihasilkan. Pun dengan berbagai pemikiran-pemikiran dan gagasan mereka tentang laiknya kehidupan bermasyarakat tak luput dari perhatian mereka. Karya mereka lahir karena didorong oleh kepedulian dan kepekaan akan situasi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Mahasiswa sendiri dan sebagian besar masyarakat mengakui bahwa mereka adalah calon intelektual muda dan calon pemimpin masa depan pada mulanya. Inisiator gerakan perubahan di tengah masyakarat adalah mayoritas dari kalangan mahasiswa. Hanya saja seiring dengan perjalanan waktu, dinamika kehidupan kampus sering membuat mereka lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai agent of change.

Kita dan bahkan semua elemen bangsa tidak ingin intelektualitas itu hanya bisa terempas oleh perolehan nilai akademis. Kalau itu terjadi kita akan meretas calon-calon pemimpin yang tidak tahu jalan kemana Indonesia akan dibawa. ‘Peduli’, itulah keyword yang mesti dibisikkan ke telinga setiap para mahasiswa. Kepedulian tentang perisitwa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan sumbangsih pemikiran lainnya.

Hari ini generasi muda bangsa khususnya yang berstatus mahasiswa, idealnya juga wajib memiliki sikap kepedulian sekaligus empati terhadap kondisi kekinian masyarakat Indonesia. Sumbangsih pemikiran dan gagasan-gagasan solutif eksplanatif terkati persoalan yang menimpa bangs ini masih sangat dibutuhkan masyarakat. Suara mahasiswa yang terelaborasi dalam sebingkai tulisan sarat pesan dan makna akan lebih terasa gaungnya ketika itu disampaikan dengan cara-cara yang elegan.

Meskipun beberapa waktu lalu mahasiswa ditengarai hanya bisa monolog dalam menyampaiakan aspirasi  dengan demonstrasi yang cenderung anarkis dan bukan dengan dialog. Terlepas dari hal tersebut, kita berharap tersampaikannya kepada masyarakat tentang ide-ide dan gagasan cerdas mahasiswa bisa mewujud dengan salah satunya menulis opini atau artikel di media cetak khususnya koran. Segmen pembaca di media massa khususnya koran sangatlah beragam sehingga memungkinkan reperesentatif terhadap kalangan yang membacanya.

Kritik Sosial dalam Opini

Pemberitaan di beberapa media massa juga kadang di-setting dengan baik untuk membangun opini negatif tentang sesuatu hal alias menggiring persepsi masyarakat dalam kontrol media. Entah itu dilakukan oleh oknum pejabat hipokrit yang bekerja sama dengan media massa dengan tujuan tersebut. Oleh karenanya, mahasiswa harus bisa membuat opini tandingan agar masyarakat tidak terseret ke dalam arus kebohongan publik. Kebenaran haruslah disampaikan dengan tegas dan lugas.

Diantara big theme dari opini yang banyak dikemukakan adalah gencarnya ‘Liberalisme’ dan ‘Kapitalisme Global’. Sebagai mahasiwa yang masih teguh memegang idealisme sangat mengetahui bahwa hal tersebut adalah buah dari sistem politik dan sistem ekonomi yang berusaha mengambil ‘bagian’ yang banyak dari negara. Saatnya untuk menyampaikan pendapat dan kritik, tidak hanya demonstrasi tapi juga dalam bentuk opini di koran. Sudah waktunya mahasiswa harus senantiasa menjadi avant garde. Mahasiswa adalah kaum intelektual dalam nilai dan pesan. Opini mahasiswa adalah seseuatu yang orisinil tanpa pretensi dan tendensi.

Banyak bukti yang bisa kita tampilkan bahwa mereka yang telah menjadi ‘besar’ sekarang, dahulunya sering menyampaikan pendapat dan kritik mereka  pada kolom opini di koran ataupun media cetak lainnya. Sebut saja Soe Hok Gie-salah satu mahasiswa pertama yang mengkritik tajam rezim orde baru- pelopor gerakan mahasiswa 1966 dan pendiri Mapala UI yang banyak meninggalkan tulisan artikel dan opini di harian nasional Kompas, Ahmad Fuadi penulis Trilogi Negeri 5 Menara yang keranjingan menulis opini di koran lokal semasa kuliah di Bandung, dan masih banyak lagi. Jika kita menelisik sembari berpikir,  mereka memiliki sebentuk kepedulian terhadap apa saja yang sedang menimpa negara ini yang pastinya khas mahasiswa.

Selamat peduli dengan menulis!

Tulisan ini sebelumnya saya buat di sini.

Advertisements

2 thoughts on “Mahasiswa Menulis Opini: Kepedulian di Tengah Krisis Idealitas dan Kritik Sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s