Mengupayakan Kembali Pendidikan Multikultural

Posted: May 14, 2011 in Opini

Hari ini kita dikejutkan dengan terungkapnya beberapa pelaku sekaligus jaringan terorisme baru di Indonesia (Kompas, Senin 2 Mei 2011). Jaringan NII (Negara Islam Indonesia) adalah sebutan bagi teroris baru yang dimaksud. Menargetkan dan memburu habis semua produk dan hasil pemerintahan negara Indonesia yang dianggap sekuler, liberal, primordialistik, dan  sekaligus penganut paham kapitalis ala Marxis. Selama satu dasawarsa kita tidak pernah dibuat tenang  sejak tahun 2000 hingga sekarang dengan aksi-aksi nekat yang mereka lakukan dengan telah menggunakan bermacam motif berikut legitimasi-legitimasinya. Justru organisasi bentukan SM Kartosoewirjo tahun 1949 ini kami pikir ini hanya akan menjadi sejarah dalam buku-buku, ternyata mewujud sebuah gerakan radikal massif. Kemudian sejalan dengan waktu, kelompok ini berkembang menjadi beberapa faksi menurut catatan sejarah dan beberapa perpecahan diantara pengikutnya.

Rangkaian peristiwa penculikan/penghilangan selama beberapa hari salah seorang anggota PNS dan beberapa mahasiswa di Jogjakarta, Malang, dan terakhir Bogor semuanya mengarah kepada indoktrinasi paham NII. Proses cuci otak dan pengekspolitasiaan seluruh harta yang mereka miliki untuk kepentingan jaringan dilakukan. Meskipun hasil investigasi pihak Universitas Muhammadiyah Malang, gerakan jaringan NII murni kasus penipuan berkedok doktrin agama (Kompas, 26 April 2011), namun pengakuan Ketua FUUI (Forum Ulama Umat Islam Indonesia) Athian Ali menyebutkan bahwa tahun lalu sebanyak 3000 orang berhasil dipengaruhi melalui aksi cuci otak dan mencengangkan sekitar 450-an orang di antara mereka adalah mahasiswa yang dipersiapkan sebagai jaringan teroris baru di NII. Angka yang fantastis untuk meluluhlantakkan negara bangsa Indonesia yang purna eksis selama kurang lebih 66 tahun bersama asas Pancasila dengan masyarakat yang sangat majemuk.

Pertanyaannya adalah mengenai seberapa besar kontribusi yang telah dilakukan oleh sistem pendidikan nasional utamanya kebijakan Direktorat Pendidikan Tinggi selama satu dasawarsa ini terkait mitigasi dan pencegahan paham-paham radikal masuk ke lembaga pendidikan formal. Entah apakah bisa terjawab karena tidak ada indikator yang ditetapkan oleh para perumus kebijakan pendidikan untuk mengukur hal tersebut. Justru ketika hal ini semakin meresahkan saja di tengah kehidupan rmasyarakat.

Upaya konkret berupa gagasan me-redesign kurikulum pendidikan yang ada sekarang dengan mengingintegrasikan konsep pendidikan multikultur adalah opsi yang patut dipertimbangkan untuk mencegah paham jaringan NII semakin melebarkan sayapnya di nusantara. Pendidikan multikultur sejalan dengan wawasan ke-Bhineka Tunggal Ika-an yang dianut oleh negara Indonesia. Pendidikan multikultur mengajarkan wawasan kebangsaan dan wawasan nusantara dalam kurikulum yang diterapkan. Peserta didik dalam pendidikan multikultural nyatanya harus berdiri menempati posisi sejajar dengan peserta didik yang lain. Hal ini dapat kita artikan tidak ada gradasi dan diskursus mengenai superioritas kompenen kultural seseorang terhadap siswa terhadap siswa lainnya.

Model Pendidikan Multikultur   

Clarry Sada (2004) mengutip tulisan Sleeter dan Grant dalam Jurnal Multicultural Education in Indonesia and South East Asia memberikan pemahaman bahwa pendidikan multikultural memiliki empat makna dan atau model, yakni pengajaran tentang keragaman budaya sebagai sebuah pendekatan asimilasi kultural, pengajaran tentang berbagai pendekatan dalam tata hubungan sosial, pengajaran untuk memajukan pluralisme  tanpa membedakan strata sosial dalam masyarakat, dan pengajaran tentang refleksi keragaman untuk meningkatkan pluralisme dan kesamaan. Semuanya tampaknya menjadi penting namun dengan konteks kekinian bangsa saat ini, model yang terakhir disebutkan Sleeter dan Grant tampaknya mesti untuk segera diupayakan oleh para stakeholders pendidikan bangsa sebab nilai-nilai dasar dari pengupayaan ini adalah penanaman dan pembumian nilai toleransi, empati, simpati dan solidaritas sosial. Selain itu, pendidikan multikultur memiliki posisi strategis dalam memberikan sumbangsih terhadap penciptaan perdamaian dan penanggulangan konflik para separatis.

Selain ketimpangan dalam struktur sosial, paradigma pendidikan multikultural juga mencakup subjek-subjek mengenai ketidakadilan, kemiskinan, penindasan, keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam berbagai bidang sosial, budaya ekonomi,  dan utamanya pendidikan. Jika dirunut ke belakang, maka pendidikan multikultural dengan segala ragam potensi dan pengertian dari ahli pendidikan diharapkan akan mendorong tumbuhnya kajian-kajian tentang ‘ethnic studies’ dalam kurikulum pendidikan sejak dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Kaisar_Mujahid 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s