Komaruddin Hidayat ‘Liburan-Mudik Mengawetkan Budaya’

Posted: August 8, 2011 in Artikel
Tags: , ,

Tulisan dibawah merupakan hasil dialog Wartawan Kompas Nasrullah Nara dan Yunas Santhani Azis dengan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat untuk Kompas Ekstra Terbitan Juli-Agustus Edisi ‘Libur Lebaran‘. Meskipun libur lebaran masih sekitar tiga pekan lagi, namun tidak salah untuk menyempatkan membacanya.

Sangat menginspirasi. Apalagi di tengah pergumulan modernisasi masyarakat yang implikasinya menjahukan dari nilai-nilai agama Islam dan etika bernegara, kupikir ini dapat mewakili sekaligus mencerahkan kita bersama.  Saat pertama kali membacanya, saya merasa ini bagus dipublikasikan. Saya mengutip kembali dengan lengkap. Silahkan menikmati!


Suara pantulan bola basket terdengar di antara sorak-sorai mahasiswa di Kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa dua pekan silam. Meski matahari telah mendekati ufuk barat, keriuhan itu masih terdengar hingga gedung rektorat lantai II.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat sama sekali tidak terusik dengan keriuhan tersebut. Sore itu, ia tengah asyik memanfaatkan waktu senggang untuk menuntaskan sebuah artikel yang sudah ditunggu redaksi sebuah media terbitan Ibu Kota. Tak lama kemudian, lulusan master dan doktor bidang filsafat Universitas Teknik Timur Tengah Ankara, Turki, itu mempersilahkan Kompas masuk di ruang kerjanya untuk berbincang-bincang.

Pada salah satu dinding yang berhadapan dengan meja rapat rektor terpampang foto Komaruddin bersama Azyumardi Azra. Foto itu menggambarkan suasana pemilihan tongkat estafet kepemimpinan dari Azyumardi selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah kepada Komaruddin pada 2006.

Sama seperti Azyumardi, Komaruddin selama ini tergolong cendekiawan yang siap dan mampu meluangkan waktu untuk menulis artikel di berbagai media massa terbitan Ibu Kota. Di berbagai talk show dan dan mata acara televisi, ia juga tergolong narasumber yang kritis, tajam, tetapui tetap arif terhadap permasalahan bangsa dan negara.

Seiring isu tergerusnya karakter bangsa pada semua lini kehidupan, pria kelahiran Muntilan, Jawa Tengah, 18 Oktober 1953, ini amat antusias ketika disodori tema tentang puasa Ramadhan, Lebaran, dan mudik. Dengan amat fasih, ia mengulas hal itu sebagai bagian dari proses penguatan karakter bagi anak-anak dan orang dewasa.

Berikut petikan wawancaranya:

 Apa esensi idul fitri dan mudik?

Idul fitri dan mudik punya paralelisme makna. Idul fitri artinya kembali pada fitrah. Saatnya merayakan kemenangan kita setelah puasa sebulan. Kita rayakan rediscovery. Itu sebuah inner journey. Dalam kehidupan sehari-hari, orientasi kita itu adalah outer journey sehingga acapkali kita lupa untuk berdialog pada diri kita sendiri. Nah, Idul Fitiri itu merupakan dialog dalam diri kita untuk bertanya seberapa jauh kefitrian jiwa kita.

Mudik adalah persitiwa budaya yang menyertai Idul Fitri. Mudik amat terkait aspek psikologis. Ada dorongan keinginan dan kerinduan yang kuat untuk pulang menapak tilas tempat lahir dan tempat yang menyimpan memori dan masa tumbuh kembang sebagai anak-anak hingga dewasa.

Ini merupakan kerinduan psikologis-primordial. Di Indonesia, momentum Lebaran dan mudik didukung oleh pembenaran teologis untuk menyampaikan bakti dan permohonan maaf kepada handai tolan, khususnya orang tua.

Apa esensi mudik itu relevan dengan sifat dasar manusia?

Manusia itu homo festivus, suka berfestival. Festival mengemban tiga misi. Pertama, mengenang budaya dan tradisi lama. Kedua, mengenalkan tradisi (lama) itu kepada generasi baru. Ketiga, memperhadapkan tradisi lama pada situasi hari esok berupa penguatan budaya.

Karena festival itu selalu bersifat masif atau melibatkan banyak orang, terjadilah pemuatan dan penyampaian pesan-pesan keagamaan secara implisit. Sebagai contoh, ibadah haji diwarnai dengan kegiatan mengenang Nabi Ibrahim. Itu adalah bagian dari proses pengayaan batin.

Nah, mudik itu juga merupakan acara festival. Ada upaya mengenang (tradisi) masa lalu, mengenalkan tradisi itu kepada anak-anak sekarang serta memprediksi peluang pengembangan nilai tradisi untuk hari esok.

Sebetulnya tradisi ziarah kubur sehabis Lebaran tidak terlalu kuat dalam Islam. Sebab, ziarah itu kapan saja bisa dilakukan. Nyekar dan sejenisnya itu lebih inovasi kultural. Agama itu hadir untuk member makna pada kultural. Lalu, akhirnya itu semua saling menguatkan dalam festival.

Apakah mudik mengandung nilai universal?   

Mudik adalah festival yang berbau keagamaan, tetapi lebih banyak warna kulturalnya. Mudik sebetulnya tidak diatur oleh agama secara normatif. Mudik adalah persitiwa tradisi dan budaya yang paralel dengan event keagamaan.

Ini fenomena antropologis universal. Punya aspek psikologis. Semua agama dan bangsa punya event tertentu untuk gathering. Setiap agama, bangsa, dan agama punya event seperti itu. Orang Amerika, misalnya mengenal Thanksgiving Day, hari pengucapan syukur yang dilakoni dengan gathering. Demikian pula orang China, berkumpul melalui Imlek.

Bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia, mudik amat kuat karena ikatan komunitas kita amat kental. Ini tak terlepas dari kondisi geografis negeri kita yang berpulau-pulau dan bersuku-suku. Suku menjadi identitas. Kedaerahan menjadi identitas yang penting dan kuat. Ini tentu punya daya tarik. Siapa pun yang merantau pasti rindu untuk pulang ke kampung dan bereuni bersama sanak family dan handai tolan. Karena momentumnya berkait dengan event agama, terjadilah keserempakan pulang kampung dengan segala problematikanya.

Mudik selalu diidentikkan dengan pulang kampung. Bagaimana dengan generasi sekarang yang lahir dan tumbuh di kota?

Sebagai orang yang lahir dan tumbuh kembang sebagai anak-anak di sebuah desa di Magelang, Jawa Tengah, saya termasuk orang yang bermukim di Jakarta, selalu rindu pada kampung halaman setiap tiba Idul Fitri. Ada kerinduan untuk menemui orang tua dan sanak famili serta teman-teman semasa kecil di kampung halaman.

Nah, rupanya perasaan itu tidak dialami oleh anak-anak saya yang lahir dan besar di Jakarta. Bagi anak saya, mudik itu dalam artian pulang kampung. Mereka adalah urban society yang tak punya ikatan emosional dengan kampung.

Namun sebagai bagian dari pegayaan jati diri, anak-anak kota itu butuh informasi tentang asal-usul orang tuanya. Akan timbul naluri danrasa ingin tahu tentang sejarahdan silsilah keluarga. Kawan-kawan keturunan China yang lahir di sini tetap ada imajinasi untuk mengunjungi dan melihat langsung ke dataran Tiongkok. Orang Selandia Baru ingin pulang ke Eropa untuk menapak tilas jejak-jejak orang tuanya.

Demikian pula anak yang migrasi dari timur tengah atau yang lahir di Eropa. Fisiknya lahir di Eropa, tetapi imajinasinya secara simbolis adalah warisan orang tuanya dari Timur Tengah dan Afrika. Di negara baru mereka belum lebur karena menjadi bagian dari komunitas orang tuanya. Sementara mereka juga sudah terlanjur tidak punya rumah lagi di negeri asalnya. Ini problem serius bagi imigran dunia ketiga karena kerap diwarnai benturan akulturasi.

Di samping aspek psikologis, rupanya mudik juga mengandung aspek sosial. Bagaimana menjelaskannya?

Kerinduan pada sesuatu akan muncul jika ada memori yang intens serta ada jarak. Jadi, tidak mungkin ada keinginan untuk bertemu apabila setiap hari selalu bertemu.

Dari tinjauan psikologis, orang melepas kerinduan pada tempat-tempat yang dianggap punya kenangan pada masa kanak-kanak hingga dewasa.

Keinginan bertemu orangtua juga muncul menyertai kegiatan mudik. Apalagi biasanya orangtua merasa tidak utuh jika anak-anaknya belum berkumpul di kediamannya. Orangtua akan bangga menceritakan kepada tetangga tentang kesuksesan itu disertai bagi-bagi sesuatu kepada tetangga.

Bisakah mudik diarahkan sebagai bagian dari rekayasa sosial yang produktif?

Mudik sangat potensial untuk diarahkan sebagai gerakan nasional guna memperkuat institusi pendidikan dan mengawetkan budaya. Adakan panggung kesenian yang mementaskan seni tradisi. Namun, jangan pamer kekayaan, kasihan orang yang tidak mampu.

Semestinya ada penguatan budaya yang memberikan nilai tambah pada mudik itu sendiri. Misalnya, setiap pemudik mengumpulkan buku untuk mendirikan perpustakaan desa. Dalam hal ini semestinya kepala sekolah menyurati alumninya yang berdiam di kota. Minta alumni untuk menyumbang buku. Walaupun Cuma satu dua buku saja, pasti bermanfat.

Bisa juga ada gerakan sosial menghimpun dana pendidikan untuk anak-anak desa yang terpaksa putus sekolah karena kendala biaya. Dengan demikian, reunian sesama lulusan SD, SMP, SMA, dan universitas bisa lebih produktif dan bernilai sosial.

Apa yang harus dilakukan pemerintah?

Mudik itu berdimensi sosial, ekonomi, dan politik. Pemerintah semestinya berterima kasih kepada masyarakat yang terus memelihara tradisi mudik. Seharusnya pemerintah menyediakan infrastruktur yang memadai bagi warganya untuk memperlancar arus mudik. Berkumpulnya masyarakat kota-kota di desa-desa dalam suasana Lebaran membangun penyadaran akan ketimpangan pembangunan antara kota dan desa. Diharapkan muncul kesetiakawanan sosial. Secara tidak langsung mobilitas manusia yang masif akan berdampak pada perputaran uang dari kota ke desa.

Jadi kerusakan jalan pada jalur mudik yang setiap tahun menyita perhatian semestinya tidak perlu terjadi jika pemerintah memahami pentingnya mudik.

Sebelum pemudik berdatangan, pemerintah di daerah juga perlu berapa banyak anak di kampung itu tidak bisa sekolah atau lulus sekolah tetapi belum bekerja. Mudik bisa dikelola sebagai ajang mengumpulkan ide dan kekuatan materi untuk mengatasi berbagai problem akibat kemiskinan struktural.

Sebagai cendekiawan dan pimpinan universitas yang sudah puluhan tahun mengenyam suasana hidup di kota, bisakah Anda menggambarkan perasaan dan sensasi mudik itu?

Setiap Idul Ftiri, saya selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung menemui orang tua dan sanak famili. Ada rasa bahagia saat berkumpul. Namun, begitu kembali ke kota, selalu tersisa perasaan hampa, semu, dan sedih. Saya di kota dengan mudahnya menikmati kafe, mall, panggung panggung pertunjukan orchestra, dan hotel bintang lima. Setiap menikamati fasilitas itu, terbayang betapa banyak saudara dan sahabat di desa yang tidak sempat mengakses fasilitas itu. Inilah yang membuat saya sedih.

 Bagi kita di perkotaan, baju dengan merek terbaru tidak mengenal musim. Namun, bagi saudara kita di desa, jangankan mengenal merek, bajunya saja sulit terbeli. Alangkah senjangnya negeri ini…

 Sumber gambar: indonesianow.blogspot.com

Advertisements
Comments
  1. wawank says:

    Mantap.., keren postingannya..!!

    Like

  2. mujahidzulfadli says:

    bah, thanks. biasa2jie ces.. cuma rewriting dari Kompas.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s