SD 350 Kahaya: Sisi Lain Pencapaian MDG Indonesia 2015

Tempora mutantur et nos mutamur in illis.

 “Waktu terus berubah dan kitapun berubah di dalamnya”

Berkaca dari filosofi Latin tersebut, maka Indonesia merupakan anti refleksinya. Seiring perubahan waktu, Indonesia masih dihadapkan dengan masalah yang itu-itu juga. Juga paling pelik, yakni ketidakmampuan anak-anak usia sekolah mengakses pendidikan karena faktor ekonomi.

Terhitung sejak tanggal 8 hingga 12 Juli 2011 bulan lalu, kami dan teman-teman LPM (Lembaga Penelitian Mahasiswa) Penalaran UNM Makassar melaksanakan KBI (Karya Bakti Ilmiah) yang kelima kalinya. Adapun lokasi ber-Karya Bakti Ilmiah-setelah obseravasi sebelumnya- adalah Dusun Kahaya yang merupakan salah satu Dusun paling terpencil dan tertinggal di Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan.

Kegiatan KBI merupakan bentuk pengabdian kami kepada masyarakat yang notabene merupakan aplikasi terhadap Tri Darma Perguruan Tinggi. Mengangkat tema ‘Optimalisasi Sumber Daya Lokal Menuju Masyarakat Mandiri’, maka kami merancang berbagai kegiatan agar dapat bermanfaat bagi masyarakat Dusun Kahaya khususnya anak usia sekolah. Pencapaian terkait kewajiban pendidikan dasar 9 tahun (compulsory basic education) mewujud menjadi masalah utama di daerah ini.

Demi mencapai lokasi Karya Bakti Ilmiah, kali ini kami rela menempuh ‘jalan sunyi’. Menempuh perjalanan darat selama kurang lebih empat jam dari Makassar ke Desa Kindang. Setelah itu, medan akan semakin sulit dengan jalanan yang terus menanjak.

Tidak ada moda transportasi yang bisa mengantar kami ke sana. Oleh karenanya, jalan kaki mendaki dengan tebing-tebing curam di sisi kanan dan hutan hujan tropis yang membentuk kanopi di sisi kiri mesti dilalui. Belum lagi populasi pacet yang senantiasa mengintai di sepanjang perjalanan. Dusun Kahaya dan Dusun Ta’buakkang di atasnya berada persis di kawasan lereng Gunung Lompobattang yang merupakan gunung terbesar di Sulawesi Selatan.

Tujuan kami adalah Dusun Kahaya. Sebuah dusun yang masih merupakan wilayah adminidstrasi Desa Kindang. Hanya saja letaknya yang berada di ketinggian 1200 mdpl (meter di atas permukaan laut) terpaksa membuat kami harus berpayah-payah untuk dapat mencapainya. Daerah ini merupakan wilayah perbatasan antara Kabupaten Bulukumba dan Sinjai. Hampir setiap waktu Dusun Kahaya diselimuti oleh kabut dan hujan gerimis yang seakan tidak pernah usai.

Realita Kultural: Pendidikan Dasar Tidak Penting

Satu lagi pelajaran berharga tentang kehidupan dari Dusun Kahaya. Masalah pendidikan khususnya pencapaian pendidikan dasar di Indonesia masih belum dapat terselesaikan dengan baik. Begitu banyak faktor yang menjadi pemicu, namun kemiskinan dan keterpencilan adalah faktor yang terbesar. Satu-satunya lembaga pendidikan  yang ada di daerah atas -Dusun Gamaccaya, Dusun Kahaya, dan Dusun Ta’buakkang- adalah SD 350 Kahaya yang belakangan dengan kebijakan pemerintah dibangun gedung baru untuk SATAP (Sekolah Satu Atap) SMP 40 Kahaya.

Berada di ketinggian 1200 mdpl, Dusun Kahaya dan Dusun Ta’buakkang memiliki pontensi yang besar dalam produk perkebunan layak ekspor seperti kopi jenis arabika, robusta, dan buah markisa. Namun setiap hasil panen tidak mengembirakan bagi masyarakat. Hama tanaman paling ganas yakni babi hutan sering merusak dan menghancurkan tanaman kopi.

Belum lagi bencana angin puyuh-oleh warga dikatakan angin gunung-yang hampir setiap tahun datang dengan kemampuan menerbangkan sekolah satu-satunya serta menumbangkan tanaman yang ada di kebun dan hutan milik masyarakat. Hal ini perlahan-lahan mengikis asa masyarakat untuk dapat hidup lebih baik dan sejahtera.

“Jadi, apa gunanya sekolah jika tidak ada uang yang digunakan untuk membeli bahan makanan sehari-hari?” Begitu masyarakat kadang berujar kepada kami dalam beberapa perbincangan. Bahkan Istri Kepala Dusun Kahaya, Ibu Bastian mempertegas implikasi logis  masalah kemiskinan dengan mengatakan dominasi masyarakat terutama anak usia sekolah, remaja, dan pemuda belasan tahun lebih memilih untuk bekerja serabutan, menjadi pelaku urbanisasi di Makassar serta kota-kota besar lainnya bahkan sebagian lagi menjadi tenaga kerja di luar negeri -Malasyia – daripada tinggal di kampung tanpa harapan kehidupan ekonomi yang akan segera membaik.

Salah seorang guru SD 350 Kahaya, Rahmatiah, S.Pd. juga menuturkan bahwa di Dusun Kahaya hanya terdapat tiga orang yang tamat sekolah menengah atas. Mereka mencari uang sedini mungkin. Begitulah potret kemiskinan Dusun Kahaya,   bak tameng ampuh untuk menghindari hak dan kewajiban mereka memperoleh pendidikan sebagaimana warga negara pada umumnya.

Tanpa Listrik Apalagi Sinyal

Masyarakat yang memiliki animo tinggi untuk bersekolah ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak dapat melanjutkan harapan besarnya. Dusun Kahaya masih belum memiliki SMA negeri, swasta ataupun lembaga pendidikan yang setara. Sehingga siswa yang berasal dari Dusun Kahaya dengan jumlah beberapa orang, harus rela bangun sekitar pukul empat subuh untuk dapat sampai di SMA tepat saat jam pertama pelajaran di sekolah mulai.

Mereka harus turun gunung terlebih dahulu dengan berjalan kaki. Tidak kurang dari tiga jam perjalanan kaki untuk dapat sampai ke Desa Kindang. Segera setelah mereka tiba, mereka kembali akan melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkutaan pedesaan hingga sampai ke sekolah. Sekolah menengah atas yang terdekat berada di Ibu Kota Kecamatan Kindang.

Tidak ada aliran listrik –apalagi sinyal- adalah pelengkap penderita masyarakat Dusun Kahaya. Tersedianya listrik sendiri masih merupakan impian yang belum kesampaian. Listrik sangat diperlukan untuk kelancaran adminstrasi sekolah dan pengembangan proses  proses belajar mengajar berbasis teknologi informasi.

MDG Indonesia Masih Setengah Hati

Sudah lebih satu dasawarsa MDGs (Millenium Development Goals) diberlakukan sebagai bentuk kemitraan global Indonesia dan 189 negara lainnya dalam membuat komitmen untuk bersinergi terhadap kesejahteraan umat manusia pada tahun 2015 melalui Sidang PBB Dekalarasi Milenium di New York pada September 2000 lalu. Tujuan pembangunan milenium menetapkan manusia sebagai fokus utama dari pembangunan yang mencakup 8 komponen kegiatan.

Kegiatan dan goals yang dimaksud adalah (i) menganggulangi kemiskinan dan kelaparan (ii) mencapai pendidikan dasar untuk semua (iii) mendorong kesetaraan gender dan perempuan (iv) menurunkan angka kematian anak (v) meningkatkan kesehatan ibu (vi) memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya (vii) memastikan kelestarian lingkungan hidup dan (viii) membangun kemitraan global untuk pembangunan. Selama 15 tahun waktu yang disepakati untuk semua tujuan tersebut, khususnya goal kedua yakni pencapaian pendidikan dasar untuk semua.

Berdasarkan rilis laporan resmi pencapaian MDGs di Indonesia oleh Bappenas (2010) diperoleh raihan Angka Partisipasi Murni (APM) pada tahun 2008/2009 untuk jenjang SD/MI termasuk Paket A telah mencapai 95,23 persen dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) telah jauh melampaui 100 persen. Peningkatan yang terjadi pada indikator APM jenjang SD/MI dan SMP/MTs ini mencerminkan kebijakan pemerintah yang berkelanjutan untuk meningkatkan akses ke jenjang pendidikan dasar.

Pada tahun yang sama untuk jenjang SMP/SMPLB/MTs/termasuk paket B, angka  APM dan APK masing-masing telah mencapai 74,52 persen dan 98,11 persen. Untuk itu, dalam mengukur pencapaian partisipasi pendidikan penduduk usia 7-12 tahun digunakan juga indikator Angka Partisipasi Sekolah (APS). Hingga tahun 2009, APS usia 7-12 tahun telah mencapai 97,95 persen.

Nah, apa sebenarnya kesimpulan yang dapat kita peroleh dari belitan data-data statsitik di atas? Kenyataan tersebut menunjukkan hanya sekitar dua persen penduduk usia 7-12 tahun yang belum bersekolah. Masalah belum selesai di sini. Sekolah Satu Atap (SATAP) SD 350-SMP 40 Kahaya adalah ‘sisi lain’ kemungkinan besar Indonesia berhasil mencapai goal kedua dari tujuan pembangunan milenium.

Solusi yang ditawarkan oleh pemerintah dengan dibangunnya gedung baru yang lebih modern untuk SATAP (Sekolah Satu Atap) antara SD 350  dan SMP 40 Kahaya sampai saat ini juga masih belum maksimal. Bahkan terkesan setengah-setengah. Jika ditilik dari sisi permintaan (demand), maka faktor ekonomi merupakan penyebab utama rendahnya partisipasi masyarakat dalam mengakses pendidikan.

Sedangkan dari sisi penyediaan (supply) atau layanan pendidikan, faktor yang turut berkontribusi pada capaian partisipasi pendidikan, diantaranya sarana-prasarana pendidikan yang masih sangat terbatas, metode belajar-mengajar yang belum optimal, dana operasional sekolah yang belum sepenuhnya memadai bahkan terkatung-katung dengan alasan sulitnya akses ke sekolah terpencil, juga persyaratan kualifikasi akademik yang belum dipenuhi oleh semua guru, dan distribusi guru yang belum merata untuk semua wilayah termasuk di Dusun Kahaya.

Mari Berbenah

Masih banyak tantangan dan halangan yang tersisa untuk dapat dilakukan perbaikan dan pembenahan di segala titik lemah pendidikan dalam kurun kurang dari selustrum lagi. Langkah strategis yang dapat dilaksanakan adalah menjangkau anak-anak yang belum terlayani oleh sistem pendidikan karena faktor ekonomi. Kemiskinan adalah faktor utama anak tidak bersekolah, dimana 70 persen siswa yang tidak bersekolah disebabkan oleh ketidakmampuan keuangan. Keluarga miskin masih menghadapi kesulitan untuk memenuhi biaya pendidikan seperti biaya transportasi, buku, dan pakaian seragam.

Kemudian meningkatkan profesionalisme dan pemerataan distribusi guru. Pemerintah menyadari bahwa perbaikan kualitas tidak mungkin dapat dilaksanakan apabila kesejahteraan tenaga pengajar tidak terjamin. Pada tahun 2009, masih terdapat sekitar 57,4 persen dari 2,6 juta guru yang belum memiliki kualifikasi akademik minimal D4 atau S1. Sangat naïf dan fatal akibatnya jika guru yang ditempatkan di daerah terpencil seperti Dusun Kahaya tidak memiliki kemampuan akademik yang memadai serta kecakapan pedagogik yang baik. Nanti yang ada murid-murid malah meradang.

Namun di satu sisi kita mesti yakin bahwa Indonesia punya rencana untuk memajukan bangsa ini melalui pemerataan pendidikan. Tanpa usaha tersebut, Indonesia telah mengabaikan amanat konsitutusi dan mengkhianati the founding father bangsa ini. Oleh karenanya, beragam pertemuan dilakukan mulai dari keikutsertaan dalam MDGs (Millenium Development Goals), Dekalarasi Dakar untuk Education for All, dan Konvensi Hak Anak (Convention on The Right of Child). Iktikad baik tersebut  semakin memperkuat komitmen pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan berkeadilan bagi seluruh anak Indonesia. Indonesi hanya butuh komitmen kuat dari seluruh masyarakat.

Saati ini, yang mesti dilakukan adalah meningkatkan kemampuan literasi bangsa dengan pencapaian pendidikan dasar hingga 100 persen sesuai dengan goal kedua program MDGs.  Biarpun negara maju  lain tengah berkutat dengan usaha pencapaian teknologi informasi yang paling handal. Marshall Mcluhan (1962) yang terkenal dengan pernyataannya ‘the medium is message’ dalam teori determinsme teknologi pun sampai pada kesimpulan bahwa yang kuat adalah yang menguasai informasi. Tapi entah waktunya kapan. Kita lihat saja.

REFERENSI:

1. Nurudin. 2007.Pengantar Komunikasi Massa. Rajawali Pers: Jakarta.

2. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. 2010.  Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s