Berlebaran Itu Menjaga Diri dan Persaudaraan

Pekik takbir terdengar berkumandang sayup-sayup di seluruh penjuru kota Makassar. Semua kaum muslimin dengan bersuka cita  mendatangi  setiap lapangan, Masjid, dan areal tempat pelaksanaan shalat Iedhul Fitri. Ada yang berjalan kaki, mengendarai motor maupun mobil pribadi. Perjalanan kami diselingi dengan takbir kepada Allah Sang Pencipta Sekalian Alam. Tuhan seluruh umat manusia yang beriman kepada-Nya.

Hari ini kita berlebaran. Berlebaran artinya merayakan kemenangan dari hawa nafsu. Di Bulan Ramadhan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah sebelumnya menjadi haram dengan datangnya Ramadhan. Makan, minum, berhubungan suami istri, semuanya diharamkan oleh Allah pada saat berpuasa. Nah, setelah puasa semuanya kembali halal. Puasa memang ibadah yang istimewa. Hanya Allah dan kita sendiri yang tahu kualitas puasa yang kita laksanakan.

Dalam hadits Nabi dalam Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dikatakan bahwa ‘Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu’.  Dalam hidup, manusia memang tidak dapat lepas dari salah, khilaf, maksiat, dan dosa.

Semakin banyak dosa yang kita lakukan, maka sedikit demi sedikit hati juga akan terhalang dari kebenaran ilahi. Memohon ampun kepada Allah melalui taubat dan momentum bulan Ramadhan adalah pilihan yang harus kita tempuh. Sebab, hanya orang-orang kafir yang berputus asa dari Rahmat Allah.

Banyak hikmah yang bisa kita petik dari disyariatkannya puasa selama sebulan penuh ini. Di bulan Ramadhan pula, kita merefleksi diri terhadap ibadah, khususnya puasa yang kita lakukan selama sebulan. apakah nilai-nilai puasa serta keutamaan bulan Ramadhan berdampak positif terhadap perkembangan enthusiasme keber-agama-an kita sebagai hamba Allah. Ataukah justru sebaliknya. Hal ini dapat kita lihat nanti selama sebelas bulan ke depan.

Jika Allah berkenan menerima segala puasa, shalat taraweh, zakat, infaq, shadaqah, dan bacaan Al-Qur’an kita maka kita patut bersyukur. Perjuangan menghadapi cobaan, musibah, godaan, dan tantangan hidup akan semakin ringan kita rasakan. Sebab keimanan dan ketaqwaan kita menjadi bertambah dengan suksesnya kita melewati bulan Ramadhan.

Terlepas dari polemik dan perbedaan pandangan mengenai jatuhnya satu syawal di tahun 1342 Hijriah ini, tentunya ada hikmah karena Allah pasti telah menakdirkannya terjadi -sudah beberapa kali- di salah satu jengkal bumi Allah ini, Indonesia. Terlepas pula dari siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya dan juga mungkin umat muslim yang lain tidak suka mengumbar dan mempertajam perbedaan hari raya idhul fitri tahun ini. Sebab, jika itu diperuncing maka ada hal yang hilang.

Yakni perbedaan itu tidak lagi menjadi Rahmat -seperti yang sering disampaikan oleh para Da’i-karena justru kecenderungannya kita akhirnya akan saling menyalahkan satu sama lain. Saling mengejek yang lebaran Selasa tempo hari atau yang lebaran hari Rabu. Ini bukan sebagaimana yang dicontohkan Nabi dalam menyelesaikan persoalan.

Salam Lebaran!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s