Budaya: Ikatan Emosional Indonesia-Malasyia

Indonesia dan Malasyia. Kedua negara ini selama dekade terakhir kerap dilanda masalah diplomatik terkait klaim budaya antar bangsa dan wilayah kedaulatan kedua negara. Jika kita mengajukan pertanyaan retoris, mengapa demikian adanya? Karena akar kesejarahan kedua negara yang berasal dari kerajaan Melayu sebelum Perjanjian London 1824 yang begitu kental waktu itu1.

Jadi kita adalah bangsa yang serumpun dari dulu, dan hal tersebut masih berlangsung hingga sekarang dan sampai bumi kiamat. Sejarah, budaya, bahkan bahasa Melayu merangkai menjadi collective identity antara Indonesia dan Malasyia. Hal tersebut yang menguatkan pasang surut hubungan antar kedua negara selama beberapa dekade. Nah, akan tetapi saat ini generasi muda bangsa, khususnya negara Malasyia sendiri kurang paham akan sejarah bangsa mereka.

Peneliti dari UI, Dr. Prudentia, MPSS bahwa perjalanan ‘kemelayuan’ di Indonesia dan Malaysia kemudian berubah. Melayu di Malaysia menjadi pernyataan politik, sedang di Indonesia adalah pernyataan budaya. Sebagai sebuah pernyataan politik, menjadi Melayu memiliki arti berbudaya Melayu, berbahasa Melayu dan beragama Islam. Melayu merupakan penanda yang ditasbihkan untuk negara Malaysia2.

Kemelayuan itu sebagai sebuah pluralitas yang religius dan bersifat terbuka. Ini memang benar adanya. Indonesia sendiri, saya pikir sangat Melayu dalam kenyataanya. Konsep Budaya Melayu di Indonesia tidak terbatas pada daerah Melayu -Sumatera Timur, Riau dan Kepulauan Riau- yang basicly sejak awal. Akan tetapi, semua daerah di Indonesia adalah Melayu dalam artian budaya dan politik. Sultan Johor, Sultan Selangor, dan Raja Negeri Sembilan adalah keturunan dari suku asli Indonesia.

Sehingga ketika klaim budaya terjadi, maka mari kita kembali kepada sejarah. Ini lebih bersifat emosional oleh sebab kedua negara masih serumpun dan bertetangga. Apalagi sampai mengedepankan arogansi.

Salam Budaya!

  1. Makalah Konferensi Sejarah Nasional IX. Linda Sunarti. Dinamika Hubungan Malasyia-Indonesia ‘Menelusuri Akar Permasalahan Ketidakharmonisan Hubungan Dua Negara Serumpun’  Jakarta, 5-7 Juli 2011
  2. Tabloid Diplomasi. No. 36 Tahun III, Tgl. 15 Oktober-14 Nopember 2010. Kilas: RI-Malaysia ‘Membangun Diplomasi Budaya Dari Sudut Pandang Kesejarahan’. Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s