Tanggal Tua

Posted: January 21, 2012 in Uncategorized
Tags: , ,
Image

Mungkin Sedang Tanggal Tua

Menarik untuk membaca, kemudian menyimak dengan baik apa yang ditulis oleh Kasijanto Sastrodinomo. Seorang pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Beliau menggoreskan penanya untuk menyitir kegalauan sebagian besar dari kita tentang tanggal tua. Dari sisi bahasa tentunya. Sesuatu yang berhubungan dengan kondisi finansial yang terkadang seret dan ambrol jika sudah datang masanya.

Kali pertama muncul di benak kita adalah: mungkin diri sendiri jadinya. Laporan akhir tahun di sebuah media menunjukkan hal yang mencengangkan. Patut kiranya menjadi bahan perenungan sekaligus rencana aksi setahun ke depan ini. Golongan menengah ke atas di Indonesia naik dengan jumlah sekian persen, akan tetapi golongan menengah ke bawah bertransformasi menjadi golongan hampir miskin dengan jumlah yang lebih besar lagi.

Ya, bangsa kita punya banyak masyarakat yang sangat-sangat berkecukupan. Cukup di terima dan cukup untuk dimakan. Kebutuhan lain, sudah tak terpikirkan. Yang ada hanya perbincangan mengenai tanggal tua.

Berikut adalah tulisan lengkap beliau yang saya ambil kemarin dari Harian Kompas (Jumat / 20 Januari 2012) dalam kolom Analisis Bahasa. Selamat membaca.

*****

Pada bagian awal roman lawasnya, Djalan Tak Ada Udjung (1952), Mochtar Lubis memperkenalkan tokoh Isa. Di tengah kecamuk revolusi, guru sekolah yang lembut dan sederhana itu galau menatap masa depannya. Kagalauan itu terlukis dalam frase pendek-pendek (dalam Ejaan Soewandi), “Banjak jang ditakutinja timbul. Hari depan jang kabur dan menakutkan. Keselamatan istri dan anaknja. Penghidupan jang semakin mahal. Dan gadji jang tidak cukup. Hutang pada warung jang sudah dua bulan tidak dibajar. Sewa rumah jang sudah dihutang tiga bulan. Perhiasan istrinja di padjak gadai.”

Di alam kemerdekaan ini gambaran tentang guru Isa itu seperti tampil kembali pada Wito. Saban bulan munsyi sekolah dasar itu dikepung biaya kebutuhan hidup yang jumlahnya jauh melampaui gaji resminya. Biasanya begitu menerima upah setiap awal bulan ia langsung menyisihkan uang membeli beras, membayar sewa rumah beserta segala macam rekening, uang jajan dua anaknya ke sekolah, mencicil utang di koperasi, dan transpor dirinya sendiri. Istrinya yang setia menjaga “garis belakang” mengelola sedikit sisanya untuk keperluan sehari-hari. Setelah itu, berselang dua-tiga hari lepas tengah bulan, dia katakan, “tertatih dalam tanggal tua” hingga muncul bulan baru berikutnya.

Ungkapan tanggal tua sudah lama beredar di kalangan masyarakat berpenghasilan kurang atau pas-pasan. Pegawai sipil negeri rendahan yang semata-mata mengandalkan gaji bulanan, misalnya, sangat terpengaruh oleh ungkapan itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, tanggal tua berarti ‘akhir bulan’; sebaliknya tanggal muda adalah ‘awal bulan’. Diungkap lebih rinci, tanggal tua berasosiasi dengan bokek; sedangkan tanggal muda berarti kantong sedang tebal-tebalnya. Penjelasan itu bisa dimengerti, tetapi menyisakan pertanyaan apakah “akhir bulan” itu berarti tanggal 30/31; demikian pula apakah “awal bulan” pada tanggal muda tepat jatuh tepat tanggal satu setiap bulan berjalan.

Dalam kenyataan tanggal tua kerap mengacu pada waktu yang tiba lebih cepat sebelum akhir bulan, seperti dialami Pak Guru tersebut. Biasanya seberapa tua suatu tanggal akan ditetapkan sendiri oleh yang merasa terlibat didalamnya. Begitu hari-hari dirasakan berjalan seret karena uang di kantong mulai cekak, sementara kebutuhan yang harus dibayar masih berdesakan, orang akan mengatakan, “sedang tanggal tua.” Tentang hal itu KBBI merekam satu ungkapan serupa, tanggung bulan, yang berarti “sudah lebih dari pertengahan bulan”. Kedua ungkapan itu pada dasarnya mengatakan hal yang sama: tipis sudah, atau malah sudah tiada lagi, sisa uang di bawah bantal.

Berbeda dengan istilah penduduk usia tua/muda dalam demografi yang bisa diukur secara statistik dalam suatu perampatan, tanggal tua (dan muda) bersifat unik dan empirik. Secara imajinatif ungkapan itu melukiskan keadaan sosial-ekonomi yang serba-kurang pada sebagian besar orang di negeri kita. Sedemikian cingkrang kehidupan itu sehingga ungkapan tanggal tua pun terkadang hanya bermakna sebagai lintasan waktu yang cepat berlalu untuk kemudian dihadapkan pada realitas sosial yang sebenarnya: pengeluaran untuk kehidupan jauh lebih besar ketimbang pendapatan yang diterima.

Tanggal tua bukanlah istilah astronomi, tetapi kredo tentang kesejahteraan rakyat yang kusam. Mungkin pula istilah itu dekat dengan subsistence seperti dikenalkan James Scott dalam The Moral Economy of The Peasant: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia (1976). Dalam subsistensi, penghasilan petani hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Atau, malah minus.

Kasijanto Sastrodinomo (Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

foto: Johan Wardono

*****

Advertisements
Comments
  1. mr.f says:

    Tanggal tua, tanggal muda, tanggal remaja, tanggal bayi!
    kalau perlu ada tanggal mati, untuk memperlihatkan bahwa orang bisa mati di tanggal tertentu!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s