Bandul Beton: Kreatif atau Konyol?

Inilah Bandul Beton tersebut. Dipasang melintang di perlintasan.

Ini mungkin salah satu berita teraneh yang pernah saya dengar. Tadi di berita pagi salah satu stasiun televisi swasta. Sederetan bandul beton -semuanya ada 24- dipasang di atas palang lintasan kereta api antara Stasiun Besar Bekasi dengan perlintasan pertamanya. Bandul tersebut dipasangi rantai yang menjuntai di ujung palang lintasan. Nah, jika nantinya ada penumpang kereta yang ‘nakal’ atau ‘terpaksa’ menaiki gerbong KRL (Kereta Rel Listrik), mereka akan tertimpuk bandul beton ini.

Saya memang tidak pernah naik kereta api sekalipun dalam hidup. Maklum, di wilayah Sulawesi tidak ada rel kereta api yang terpasang. Mungkin Belanda lupa menyuruh paksa bangsa ini untuk membuat rel kereta api dari ujung huruf “K” pulau Sulawesi hingga ke Makassar? Entahlah. Malah lebih elit lagi nantinya. Bapak Jusuf Kalla akan segera membangun monorail pertama di Indonesia. Dan itu rencananya akan dibangun di tengah-tengah kota Makassar. Dengan kereta yang mirip-mirip Shinkansen yang terkenal seantero dunia itu.

Kembali ke rencana kebijakan pemasangan bandul beton. Menurut saya, ini ide yang luar biasa konyol. Bagaimana menurutmu? Saya sedikit paham kondisi psikologis (sok tahu) orang-orang yang menjadi pengguna moda transportasi darat. Semua umur wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah saya habiskan di atas pete’pete’ (baca: angkot).

Perwajahan bandul beton ini memang agak sangar. Dibuat menjadi lebih berat dan warna bandul yang keperak-an. Persis seperti senjata berat para algojo zaman Romawi yang akan menghukum si pesakitan. Sejauh ini katanya berhasil membuat jera. Khan, masih tahap uji coba. Terbukti tidak ada lagi warga yang menaiki gerbong kereta api. Kalau ada yang nekat, bisa-bisa kepalanya pecah atau paling tidak gegar otak berat terkena hantaman kebijakan yang kurang masuk akal tersebut.

Terlepas dari hal itu, Komnas HAM mewanti-wanti jika ada keluhan, pengrusakan, maupun korban jiwa jika seandainya ini betul-betul diterapkan di semua jalur perkeretapiaan. Tanggung jawab itu tetap kembali ke PT. KAI selaku penempu kebijakan tidak rasional ini.

Katanya: Rentan Pelanggaran HAM

Berita tersebut tidak menerangkan lebih jauh mengapa kebijakan ini rentan pelanggaran HAM. Biar tidak dijelaskan, jika merunut ke logika akal sehat hal ini tidak bisa dibenarkan begitu saja. Kalau anak-anak mungkin akan tertawa, karena mereka punya saingan dalam hal jebak-menjebak. Yah, biasalah. Anak-anak yang sedang masa-masa bermain, cenderung mencari hal-hal yang membuat mereka semua tertawa. Salah satunya adalah dengan membuat jebakan. Menjebak teman sendiri untuk dijadikan bahan tertawaan.

Justru petugas Kereta Api yang jurusan ke kota Jakarta itu punya argumentasi lain. Imbauan tidak menaiki gerbong Kereta Api sudah disampaikan dengan segala cara kepada masyarakat. Setrum listrik (-dalam pemasangan pintu koboi- sudaaah. Cat semprot berwarna, juga sudaah. Sidang di tempat kejadian juga sudaaah. Termasuk beberapa jebakan lain sebelum bandul beton tak logis itu.

Tapi masyarakat tetap saja berani menumpang di atas gerbong. Padahal kondisi amannya tidak ada. Minim bahkan nihil kalau boleh dikatakan. Memang benar hal ini melanggar UU nomor sekian-sekian tentang perkeretapiaan. Kebijakan ini tidak sepenuhnya berimbang. Karena tanggung jawab pemerintah sepenuhnya harus memberikan penyediaan transportasi umum yang aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat. Masyarakat tentunya akan sangat salut jika kebijakan yang ada memiliki sifat meng-edukasi, bukan menjebak. Kekanak-kanakan.

Seandainya saja petugas Kereta Api tertawa-tawa setelah ada orang korban jiwa di bawah palang lintasan, entah di mana beliau-beliau itu menyimpan moralnya. Apalagi sambil mengatakan “tau rasa loe pade. emang enak!”. Tidak manusiawi, guys. Kesimpulan sementara saya. Yah, ini jebakan yang dilegalkan. Sampai kiamat pun, saya tidak akan pernah sepakat. Kecuali dalam adegan film. Mungkin. Ini baru kreatif. Haha…

Kalau bisa, berontak! Menolak untuk diam dan bungkam dengan segala ketidaksesuaian kebijakan pemerintah dengan res publica.

*catatan kecil ini pernah kami muat juga di Kompasiana.

foto: okezone.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s