Tentang Buku ‘”Indonesia Mengajar”

Posted: January 31, 2012 in Catatan Harian, Reportase
Tags: ,

Sekilas Wajah-Wajah Pengajar Muda Angkatan I

Sebuah buku. Indonesia Mengajar. Hanya ini. Buku ini adalah rezeki yang tidak ternilai bagi saya. Rezeki, karena buku ini pemberian adik  yang tiba-tiba ‘berubah’ jadi altruis. Mengajak saya jalan ke toko buku dan membayar semua harga yang tertera di struk. Ransel ini menjadi penuh dengan buku. Tidak muat lagi menampung seandainya dia menambah lagi meskipun itu cuma sebuah komik.

 Nah, buku yang kupilih hanya satu. Akan tetap satu. Kalau tidak, penyakit saya nomor 5 bisa kambuh. Beli dua buku, hanya satu yang dibaca. Satunya sudah lenyap duluan dipinjam orang. Kembalinya jangan ditanya lagi Ini dia judulnya: Indonesia Mengajar. Rezeki karena saya tidak lagi salah pilih buku ketika dihadapkan gemerlapnya lampu dan alunan instrumen klasik di toko buku terbesar di kota kami.

Sejak awal terbit, saya langsung tertarik untuk memiliki buku ini. Namun tidak seperti komik dan buku ‘seksi’ lainnya. Semisal Chicken Soup for The Soul dengan tema baru milik Mark Victor Hansenn dkk, novel sejarah berjudul “Perang Makassar”, dan juga ‘Manusia Setengah Salmon’ karya freak si aneh Raditya Dika. Buku-buku itu lebih menarik secara alamiah.

Terhitung sudah tiga kali saya menyambangi toko buku, akhirnya tidak juga kesampaian membeli buku “Indonesia Mengajar”. Meskipun buku ini sarat emosi positif sekalipun. Ya. Tiap ke mari, saya selalu mengulang-ngulang membaca komentar para figur publik di sampul belakang. Tiap kali itu pula saya terkesan sekaligus terhenyak! Akan tetapi pertimbangan lain lebih memaksa saya secara naluri. Entah itu sederetan komik edisi terbaru, atau diskon gila-gilaan (cuci gudang) pada lain kesempatan. Akhirnya buku ini tidak jadi terbeli karena alasan banalitas perilaku konsumerisme dan prioritas freak yang terkadang tidak masuk akal. Haha…

Tapi pertimbangan lain bahwa saya harus mendahulukan komik edisi baru adalah alasan klasik. Nanti habis diborong abg labil, ceritanya saya ikuti sejak masih sekolah, ataupun alasan sebagai bahan cerita baru dengan siswa SMP dan SMA di kelas mikro yang kami miliki di bimbingan belajar. Namun, aktivitas mengajar di bimbingan belajar yang menyita waktu dan pikiran saya yang telah genap dua tahun turut meng ‘iya’ kan dan meng ’amin’ kan semua apa terjadi dalam buku ini. Saya sungguh terkesima dengan semua pengalaman Pengajar Muda.

Ketulusan: ini yang tidak selalu dan tidak mudah saya dapatkan.

Sampul depan Buku "Ajaib" tersebut

Setelah peristiwa pembelian buku yang bersejarah tersebut, hampir sepekan lamanya buku ini saya tenteng jika hendak ke mana-mana. Jika tidak, maka pasti ada di dalam ransel punggung. Tertimbun di sela-sela buku, laptop, dan barang pribadi lainnya yang menemani aktivitas keseharian saya. Ok. Pekan lalu buku ini belum tuntas saya baca.  Akan tetapi, dengan sedikit paksaan, walhasil hari ini saya tuntas membacanya. Imbasnya luar biasa. Semangat, pantang menyerah, mimpi, cita-cita, harapan, pengabdian, dan integritas para Pengajar Muda yang sudah menular melalui kumpulan goresan kisah.

Saya sangat paham: di tempat saya mengabdi sebagai tenaga tutor bimbingan belajar, kami para tentor difasilitasi dengan beragam peralatan yang ‘wah’ dan ‘wooow’. Pun metode mengajar yang berbeda di setiap tempat bimbingan belajar. Itu sejenak memuat kami lupa akan tugas ikutan seorang pengajar: menginspirasi.

Masalah kemudian timbul,  ispirasi apa yang dinginkan anak-anak kota nan berada ini? Itu yang lupa kami pikirkan bersama. Meskipun tidak menjadi bagian dari honor kami dalam sebulan, tetapi baru kali ini saya sangat menyadari hal sepenting itu. “Mengajarkan cara bersyukur”, “menepis nuansa perbedaan”, dan “memperbaharui semangat” adalah hal-hal yang layak dipertimbangkan oleh manajemen kami di lembaga bimbingan belajar.

Inspirasi Anies Baswedan

Penggagas Gerakan Indonesia Mengajar  Anies Baswedan, Ph. D akhir tahun lalu datang ke kampus kami, UNM Makassar. Berbagi kepada ratusan civitas akademika (mulai Rektor hingga alumni turut hadir) tentang kepemimpinan pemuda dan integritas membangun Indonesia yang bermartabat. Sebuah nasehat yang jarang kami dapatkan di bangku kuliah. Kalau kawan-kawan pernah menghadiri acara lokal tahunan TEDx, kira-kira kesan akhirnya sama.

Let’s share, let’s inspire…

Setelah beliau mengisahkan sekilas program ‘Indonesia Mengajar’, beliau lantas mengakhiri dengan  sebuah ungkapan yang sangat mengena. Masih saya ingat pesan beliau hingga saat ini. “Jadikan pengabdian itu sebagai sebuah kewajaran” pungkasnya. Saya percaya beliau tidak omong kosong. Terbukti aksi dan tekadnya di lapangan luas bernama ‘INDONESIA’. Sebanyak 51 Pengajar Muda Angkatan pertama berdedikasi tinggi siap membantu mewujudkan impian anak-anak di pelosok melalui pendidikan dan leadership.

Hingga kini, Pengajar Muda Angkatan III tengah bergumul di wilayah-wilayah terdepan, terpencil, dan terluar Indonsia. Acara berakhir dengan penyerahan sebuah buku “Indonesia Mengajar” kepada LPPM (Lembaga Penyiaran dan Penerbitan Mahasiswa) Profesi UNM selaku penyelenggara. Turut pula mendampingi seorang anak Makassar, Pengajar Muda Angkatan I Yunita Ekasari Bahrum  yang juga Alumni Universitas Hasanudin.

Ada rasa haru dan antusias yang menyeruak seketika. Catatan pilihan para Pengajar Muda di pelosok negeri ini di rangkum menjadi magnet yang bernama ‘buku’. Mulai dari rimba Aceh hingga pedalaman Fak-fak.  Buku ini sejak diterbitkan pertama kali, saya yakin telah melesakkan semangat pengabdian, melontarkan optimisme hidup, menjentikkan nurani para pengawal pendidikan, dan mengacuhkan sinisme orang-orang pesimis akan Indonesia yang lebih baik.

Saya sangat berharap suatu ketika, saya bisa turut menjadi bagian dari Pengajar Muda. Atau paling tidak, kobar semangat mereka akan terus menggema dalam alam pikiran saya. Dan itu mewujud dalam tindakan saya ke depan. Semoga.

Mengajar adalah tugas orang terdidik’ Anies Baswedan

#Salam perubahan!   

Advertisements
Comments
  1. ajang pembentukan KARAKTER TANGGUH seorang Guru

    SEmangan!!!

    Like

    • mujahidzulfadli says:

      sekaligus inspirasi buat anak-anak muda zaman sekarang.

      IM mengajak kita untuk melihat dan merawat Indonesia dari segi pendidikan. masih banyak masalah, masih banyak tantangan.

      inspirasi dan gerakan-gerakan seperti ini perlu. Gerakan UI Mengajar, UGM Mengajar, sudah mendahului kita. UNM harus punya terobosan. kalau tidak bisa, setidaknya harus menjadi ‘data source’ pengembangan ilmu pendidikan dengan penelitian tentunya.

      thanks, Amirullah. salam kenal. sukses!!!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s