Mengaku Kalah

Posted: February 4, 2012 in Catatan Harian
Merenung di tengah hujan


Sebuah catatan hidup/ Kamis, 12 Januari 2012

Waktu masih menunjukkan pukul delapan lebih sekian menit ketika hujan mengguyur sebagaian daerah Makassar dengan sangat deras. Angin bertiup sangat kencang. Seakan-akan pohon akan tumbang setelah diterjangnya selama beberapa saat. Peristiwa hujan angin dan hujan lebat di berbagai tempat di Indonesia menjadi biasa-biasa saja akhir-akhir ini. Terutama di daerah pulau Jawa bagian selatan. Prediksi BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) bahwa ekor badai siklon tropis akan terus menerjang. Berhenti apabila telah bergerak menuju Australia. Tapi dampaknya hanya terasa di pulau Jawa.

Alhamdulillah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Makassar dan daerah sekitar masih dalam hitungan kondisi aman tidak (insya Allah) terkena imbas badai siklon tropis seperti yang santer diberitakan di media. Dampaknya memang cukup parah. Saya belum bisa menerima imaji ketika Makassar terkena dampak buruk badai tersebut. Pohon runtuh di mana-mana, papan reklame bertumbangan di jalan-jalan, genangan air hujan menggenang di ruas jalanan protokol, dan pastinya: kemacetan yang tidak terhindarkan. Namun, saya mulai merasakan hal yang sama dengan kondisi serupa. Ya, jika frekuensi hujan masih saja tinggi terjadi hampir setiap hari. Seperti hujan hari ini. Hujan yang berbeda. Hujan dengan belitan angin dan ringkihan bulir-bulir air.

Lantas, hari ini saya memandang pemandangan tersebut dari luar pintu kaca sebuah ruko yang beralih fungsi menjadi tempat bimbingan belajar. Kendaraan bergerak sangat perlahan. Sementara hujan turun tanpa henti. Letaknya di bilangan jalan Perintis Kemerdekaan. Tempat ini sudah keseringan macet dalam kondisi normal sekalipun. Dan, bisa dibayangkan jika hujan pun turut memperparah.

Bukan bermaksud  menyalahkan hujan. Sebab hujan bisa terlihat sangat indah jika terlihat dari kaca jendela rumah sendiri. Bukan di tempat lain. Segala macam pikiran bertumpuk, kemudian kita merenung di tengah ‘aroma khas’ hujan. Renungan yang kadang melahirkan inspirasi dan ide baru. Entah berapa banyak lagu hits tercipta dengan lirik yang mengandung kata ‘hujan’. Hujan itu memang ajaib. Kita malah banyak tersadar karena hujan. Juga euphoria aktivitas harian yang demikian menggelora.

Apalagi jika ditemani segelas coklat panas. Hmmm…mampu memikat nikmat.

Semua siswa telah balik ke rumah masing-masing. Mereka naik angkot. Kebanyakan diantar jemput oleh orang tua dan kerabat. Saya sendiri juga ingin ke suatu tempat dengan segera. Ada agenda yang mesti diselesaikan dengan deadline yang hampir usai. Tapi tidak mungkin juga saya memaksa. Selain mantel yang bocor dan juga angin yang kencang, berkendara di tengah hujan deras seperti ini sangat dimungkinkan terjadinya kecelakaan kecil, bahkan mungkin saja kecelakaan fatal.

Setengah jam berlalu. Hujan belum reda sama sekali. Kelihatannya makin parah.

Perut sudah melilit bernada keroncong dengan suara riuh rendah. Ya. Saya belum makan  apa-apa dari pukul delapan pagi hingga sekarang. Lebih sepuluh jam berselang. Mengapa saya bisa sekuat ini, saya juga kurang paham. Sebenarnya beragam kudapan dan gorengan yang ditawarkan rekan-rekan tutor saya tolak dengan halus. Hari setelah jam mengajar usai, Direktur dan siswa membuat acara kecil-kecilan di sini: makan-makan. Mungkin syukuran ini itu. Tidak penting. Adapatasi saya masih rendah. Peka juga kurang.

Saya sibuk membolak balik koran edisi kemarin. Saya mulai mengacuhkan semuanya. Hingga saya menoleh dan melihat sisa makan-makan mereka yang berantakan di meja front office. Office boy (seorang pria lewat paruh baya) sudah memasang muka masam dan menegur Direktur yang masih muda itu. Yah, wajarlah.

Saya masih berniat dan bertekad ingin pulang. Sekali lagi. Namun hujan belum reda. Saya mengaku kalah dengan hujan. Setitik air berbondong-bondong yang datang jauh nun di atas langit sana. Tempat awan berkondensasi membentuk uap-uap air. Seandainya bukan hujan. Saya sudah pulang. Pulang ke peraduan. Tanpa makan ketika pergi dan belum makan juga ketika pulang. Saya yang mengaku kalah dengan hujan.

Jika mereka menganggap saya tidak punya apa-apa, mereka benar.
Jika mereka menuduh saya tidak berarti apa-apa, mereka juga benar.
Aku: Yang mengaku mengalah pada kehidupan dan hujan.
#KM_2012

Advertisements
Comments
  1. mr.f says:

    tak bisa berucap apa-apa…

    Like

  2. mr.f says:

    Reblogged this on The Lost Word and commented:
    Mohon izin saya reblog di sajakantigalau

    Like

  3. kaisar_mujahid says:

    iye, kanda. it’s okay.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s