Aspal Beton dan Banjir Syekh Yusuf

Posted: February 15, 2012 in Catatan Harian, Reportase
Tags: , ,

Investo “Investasikan Enegimu Untuk Bumi”

Kompas Muda mengadakan Anniversary yang kelima di Makassar. Beberapa volunteer yang berjumlah 28 orang terlihat bekerja dengan luar biasa untuk menyukseskan acara para mudaers tersebut. Mereka berasal dari mahasiswa universitas dan siswa sekolah menengah atas yang telah melalui proses seleksi yang lumayan ketat sebelumnya. Salut untuk mereka!

 Makassar bisa tonji! Frasa ini begitu menggugah semangat anak-anak Makassar untuk selalu berbuat yang positif dan terbaik. Setidaknya ada hal yang akan berbuah signifikan dari hal-hal yang telah mereka lakukan dalam kegiatan “Investo” kali ini. Termasuk cara berpikir ‘green’ yang senantiasa sesuai dengan prinsip keseimbangan lingkungan dan pembangunan.

Kompas Muda Investo “Investasikan Energimu Untuk Bumi”.

Berlangsung dari tangga 10 hingga 11 Februari 2012 yang telah berakhir kemarin sore. Mengambil tempat di halaman gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) Universitas Hasanuddin. Stand yang disediakan lumayan banyak.

Ada Makassar Berkebun, Vonis (Makassar Divonis Kreatif), Toko Sokola, Tanahindie,  KPAJ (Kelompok Peinta Anak Jalanan),  dan masih beberapa lagi. Pengunjung yang datang sebagian besar para mahasiswa dan masyarakat umum.

Hari pertama Investo pukul tiga sore: Saya ikut Workshop Citizen Journalism (gabung dengan Citizen Journalsim Competition) di Aula Prof. Amiruddin Fakultas Kedokteran. Tri Harijono (Wartawan Kompas) mengupas beberapa tips, trik, dan kisah-kisah menarik dari jurnalisme ala warga. Segera setelah itu, kami diperintahkan langsung  untuk menuliskan laporan warga bertemakan lingkungan. Inilah kompetisi Citizen Journalism yang dimaksud. Jadi, bukan sekedar menulis untuk latihan. Akan tetapi langsung praktek di tempat. Menulis apa yang pernah dialami atau disaksikan.

Kemudian setelah itu, Riri Riza menyampaikan materi singkat mengenai Film dan Wawasan Lingkungan. Ini pertemuan kali kedua secara langsung dengannya. Salah satu sutradara sekaligus penulis skenario yang sangat berbakat di Indonesia. Sebelumnya kali pertama saya melihatnya secara langsung di kelas III Akademi Berbagi Makassar bulan Desember silam tahun lalu di backyard Kantor BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia).

Kakaban Island Yang Eksotis.

Ternyata selama ini, beliau banyak membuat film-film dokumenter tentang lingkungan. Salah satunya adalah The Magic of Kakaban Island from The Journey of Nicholas Saputra. Film ini Cuma berdurasi 16 menit. Lampu aula dimatikan. Sesaat kami peserta workshop hening menyaksikan Nicholas Saputra menyampaikan narasi hidup perjalanan singkatnya ke Pulau Kakaban di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur.

Suaranya masih sama. Berat, angkuh, namun penuh magis. Terakhir kali saya mendengar suaranya pada saat membaca puisi dari Soe Hok Gie dalam film dengan judul yang sama: Gie. Imaji saya lantas melambungkan ke bait terakhir pusi indah itu.

kita begitu berbeda dalam semua: kecuali dalam CINTA”.

Pulau ini kelihatannya begitu indah. Katanya hanya ada dua di dunia ini dengan jenis yang sama. Danau air tawar di tengah laut. Gagasan kepedulian akan lingkungan telah diramu begitu tajam dan mengena. Cerdas mengungkap fakta-fakta obsservasi di lapangan. Selain itu: pastinya ada solusi yang selalu akan dimulai dari diri sendiri.

Tepat jam tujuh malam, naskah tulisan hasil Workshop Citizen Journalism saya kumpul di stan Kompas Muda. Rio Febrian datang sebagai bintang tamu di panggung utama. Menyanyikan beberapa lagu. Sementara hujan turun dengan sangat deras. Tidak ada jalan lain. Saya harus pulang ke rumah.

Hari Kedua Investo pukul dua siang: mengunjungi stan-stan (kemarin belum puas), lanjut membeli sejumlah souvenir menarik dari stan KPAJ (Komunitas Pecinta Anak Jalanan) dan Toko Sokola, mengambil sertifikat Workshop Citizen Journalism. Ternyata Yudi Arianto (volunteer Kompas Muda Makassar Batch IV/Panitia Investo 2012) telah menyimpannya. Tidak ada lagi yang menurut saya menarik. Setelah itu pulang. Domo Arigato. …

Tertarik membaca naskah Citizen Journalism abal-abal yang saya buat dengan setengah mengantuk? Haha…berikut tulisan yang saya maksud.

Mohon maaf jika memang tidak memenuhi kriteria sebuah laporan warga. So, ini bukan contoh yang baik jika seandainya kawan-kawan berminat belajar buat berita. Sama sekali tidak memperhatikan ABDIKASIM (Apa, Bagaimana, Di mana, Kapan, Siapa, Mengapa). Pokoknya, freak

Selamat menikmati! (sudah mengalami beberapa perubahan dari tulisan asli)

                                                                                                             ***********

Warga Memalang Jalan Syekh Yusuf

Aspal Beton dan Banjir Syekh Yusuf

Entah sudah ribu-an yang keberapa saya lewat di jalanan ini. Saya juga tidak tahu lagi. Ya. Jalan Syekh Yusuf. Semua orang Makassar pasti tahu. Ruas jalan ini ditengahi oleh Makam Syekh Yusuf yang terkenal seantero dunia itu. Dalam buku “Sejarah Lokal Indonesia”, saya mengetahui peran besar beliau dalam penyebaran agama Islam di Sulawesi, Jawa, hingga belahan dunia Afrika. Sehingga, atas dasar itulah mengapa beliau digelari pahlawan nasional di Indonesia dan di Afrika Selatan. Luar biasa, kan?

Tapi apa balas jasa pemerintah? Dari dulu-dulu hingga sekarang, jalan Syekh Yusuf selalu dipenuhi genangan air. Betul. Genangan air setinggi kurang lebih sepertiga betis orang dewasa. Kami akrab menyebutnya ‘banjir’. Ekstrem. Terlalu berlebihan. Tapi itulah kenyataannya.

banjirmi sedeng” begitu orang-orang menukas tajam perihal situasi yang kurang baik ini ketika melintas di Jalan Syekh Yusuf. Macam-macam cercaan serta pandangan negatif \yang kerap kali menghiasi rintihan kekesalan warga.

Aneh memang.

Tapi kondisi ini menyimpan keunikan tersendiri.

Nah, begini.

Jalan AP. Pettarani misalnya. Khusus untuk kawasan perkantoran (Kantor Telkom, Pos dan Giro, beberapa Departemen dan Dinas milik pemerintah), pusat bisnis (Pettarani Business Centre, Ramayana, Carrefour), dan pusat pendidikan (MTsN Model, MAN 2 Model, SDN IKIP, AMIK Profesional). Ah,,,masih banyak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Berbeda halnya dengan di Jalan Syekh Yusuf. Ini wilayah perbatasan kota Makassar dengan Kabupaten Gowa. Dinamika dan konsentrasi masyarakat dalam mencari peruntungan hidup sangat tinggi. Ada yang jualan kambing, ada tukang las, ada pemilik pete’pete’ (baca: angkot), ada pagandeng (penggayung/tukang) becak, ada yang berprofesi sebagai sopir  taksi, ada ruko yang didominasi barang bangunan (sampai hari ini Alfamart dan Indomaret juga sudah berdiri), jualan bunga dan air botol di depan makan Syekh Yusuf, toko alat-alat listrik, rumah bersalin, jualan kudapan, jualan gorengan, jualan mini franchise, pemilik jasa Laundry, jualan voucher pulsa, dan seterusnya.

Pokoknya campur sari. Kita bisa mengamati dan melakukan prediksi bagaimana kesenjangan ekonomi masyarakat di daerah sepanjang jalan Syekh Yusuf. Setali tiga uang dengan situasi tempat mereka tinggal dan bermukim. Jalan Syekh Yusuf menjadi bukti nyata kesenjangan tersebut. Malah Jalan Syekh Yusuf menjadi gerbang dan pintu utama sebuah kompleks pemukiman warga kelas menengah atas. Dibuat lebih tinggi dari jalan utama, juga ada beberapa satpam yang selalu sedia menanyai keperluan kita jika hendak bertandang ke rumah salah seorang dari warga yang high class itu.

Padahal jalan Syekh Yusuf: “B.A.N.J.I.R”

Warga Bahkan Menanam Pohon Pisang di Badan Jalan

Hingga tiba saat itu…    

Hingga sekitar bulan Mei 2010, ruas jalan ini memang masih rusak parah. Kondisi jalan yang berlubang di mana-mana, aspal-aspalan (baca: non aspal butas) yang sudah sekian kali ditambal sulam, saluran pembuangan alias got yang sengaja ditutup, bagian sepadan jalan yang dialihfungsikan ruko milik warga sebagai tempat parkir, dan masalah lain yang saya kurang paham.

Ingatan saya masih jelas pada medio 2010 silam. Warga memblokir jalan dengan balok, papan, ranting dan dahan pohon besar selama hampir sebulan. Betul, dengan itu saya terbebas dari “banjir” dadakan di Jalan Syekh Yusuf. Akan tetapi, jalan memutar yang saya lalui ternyata lebih panjang dan lebih lama untuk dapat sampai di kampus kala itu.

Jelas, ini bukan solusi. Saya bingung sekaligus khawatir. Masyarakat tiba-tiba saja marah kepada pemerintah. Kesal dan geram dengan Pemerintah Gowa atau Makassar atau Sulawesi Selatan atau sekalian Pemerintah Indonesia. Saya juga tidak tahu. Akses untuk masuk dan keluar dari jalan Syekh Yusuf di blokir oleh warga yang tinggal di sepanjangan jalan. Dipasangi pula spanduk-spanduk bernada penolakan, protes, dan penuntutan warga untuk bisa segera memperoleh jalan baru.

Apakah kawan-kawan tahu siapa nama yang digadang-gadang dalam aksi warga ini?

Betul saja: Syekh Yusuf.

Paentengi siritta’

Tuanta Salamaka Pahlawan Nasional

Dimana penghargaanta’ kodong…

Begitu salah satu tulisan spanduk yang dipasang melintang oleh warga di jalan Syekh Yusuf. Kita semua tahu urat leher orang-orang Makassar cepat kembang kempis jika siri’ nya diganggu. Apalagi kalau memang sengaja untuk diusik. Meskipun bukan karena alasan Syekh Yusuf pahlawan nasional itu, pemerintah memang berkewajiban menyediakan akses jalan yang aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat.

Meskipun demikian, persepsi dan pemahaman masyarakat tentang lingkungan tetap saja tidak berubah. Kalaupun ada yang menjadi sadar ketika warga sudah marah, perubahan itu tidaklah signifikan. Begitu kira-kira. Memaksa pemerintah mengadakan jalan baru berupa aspal beton, terbukti selama kurang lebih dua tahun (bahkan hingga detik ini), kuantitas genangan dan “BANJIR” dadakan masih selalu jadi mimpi buruk bagi kami warga yang menetap dan bermukin di selatan kota Makassar.

Apa boleh buat, ini akses terdekat yang menghubungkan kami dengan dunia luar (pusat kota) setelah jalan Aroepala (dulu masih bernama Jalan Hertasning Baru). Tidak ada perubahan berarti. Di mana letak permasalahannya, saya pun tidak mengerti. Ok. Saya paham. Dua tahun lalu warga memang berhasil memaksa pemerintah mengadakan dengan segera jalan baru. Namun, sekali lagi. Warga tidak berubah. Mereka masih tidak membuka saluran pembuangan utama (got) dan masih menggunakan sepadan jalan untuk lahan parkir ruko mereka. Hanya itu yang bisa saya amati sejauh ini. Karena, tidak menutup kemungkinan pemerintah yang mengerjakan proyek dadakan ini juga tidak teliti dan acuh dalam pelaksanaannya. Yang penting: JADI DULU.

Walhasil

Setiap musim penghujan tiba seperti yang terjadi di bulan-bulan terakhir ini. Insya Allah, saya akan senantiasa membawa sandal jepit untuk menghindari basahnya sepatu satu-satunya yang saya miliki hari ini karena telah berani menerjang garang genangan dan “BANJIR” dadakan tersebut. Pun di musim kemarua sama saja. Makassar biasanya mendapat jatah hujan sekali atau bahkan dua kali dalam sebulan.

Istilah kami di sini: “HUJAN SEJAM, BANJIR SEPEKAN”

Masyarakat yang notabene tinggal dan bermuki di sepanjangan jalan Syekh Yusuf agaknya tidak ingin melakukan inisiasi pergerakan perubahan ke arah yang lebih baik. Ya, saya pun acuh tak acuh. Padahal, menurut logika awam saya, air hujan menjadi menggenang dan mewujud “BANJIR” dadakan alasannya cuma satu: SISTEM DRAINASE.

Tersumbat. Tuttt..tuttt…tuttt…

Itu Saja.

Pola pikir warga yang tinggal di sepanjang jalan Syekh Yusuf terlihat sangat sederhana:

  1. Pagi: bisa cuci motor dan mobil dari air “BANJIR”
  2. Sore: bisa duduk-duduk di beranda rumah, sambil ngopi, meskipun “BANJIR”
  3. Malam: bisa tidur dengan nyenyak, walaupun “BANJIR”

 Demi Bumi!
Saya, kalian, dan mereka: Mari Menjaga Lingkungan!

Sumber gambar: nai-harn-beach.com dan foto.detik.com

Advertisements
Comments
  1. muhammad asdar says:

    wah wah knapa dijln tnm pohon pisang, mungkin kebunnya dah habis kali..

    Like

  2. mr.f says:

    wah, keren bos tulisannya
    gambar-gambarnya juga 🙂

    Like

  3. Trims ud buat tulisan mengenai event Investo.. Salam MuDA!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s