Kopi, Kemah, dan Pemudi Yang Resah

Kabut Turun Perlahan di Tana Tengngah, Maros

Hampir sepekan lalu, saya harus mengikuti –nyatanya saya hadir- kegiatan OAB (Orientasi Anggota Baru) sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang concern di bidang penelitian dan keorganisasiaan. Tempatnya di kawasan perkemahan dan peristirahatan Tanah Tengngah, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros. Pasal saya wajib hadir? karena bertindak sebagai salah seorang panitia pengarah dalam kegiatan tersebut.

Saya senang. Entah, kali yang keberapa, ada rasa haru yang menyeruak. Meskipun dengan otoritas dan keterbatasan kewenangan yang diberikan oleh panitia pelaksana, sedikit banyak kami -sebelas orang Panitia Pengarah- membidani lahirnya 45 amunisi baru lembaga tersebut. Kami kader di lembaga tersebut. Dan: kami punya tanggung jawab moral dan tanggung jawab kekaderan. Menyiapkan segala sesuatu dari awal hingga akhir, tentunya sangat berat bagi kami. Tapi, semua dijalani dengan rasa harap-harap cemas yang besar bagi keberlangsungan penerus lembaga ke depan.

Setiap keputusan dan kebijakan mengenai peserta (kondisi awal dengan 400 pendaftar; kondisi akhir dengan 45 peserta OAB) kami bicarakan baik-baik. Semua untuk lembaga dan nama baik lembaga di kemudian hari. Walhasil, semua kami pertimbangkan dengan sebenar-benar pertimbangan. Jikalau pernah ada benturan pandangan, itu tidak sampai menimbulkan kondisi chaos. Kami masih bisa tersenyum bahkan tertawa lepas bersama-sama. Saat-saat yang tidak bisa saya lupakan untuk semua Panitia Pengarah: Tismi Dipalaya, Wahyuddin MY, Rahmat Fajar Asis, Ma’ruf M. Nur, Hikmawati Sabar, Andi Asrafiani Arafah, Muhammad Arsyad, Nurfadillah Umar, dan Burhanuddin.

Rapat, rapat, dan rapat.

Diskusi, diskusi, dan diskusi.

Kerja, kerja, dan kerja.  

Begadang: ini  kami lakukan di akhir-akhir masa kerja tiga bulan.

Ada keputusan bagi peserta yang kami bijaki, dalam artian kami membuat  kebijakan untuk diputuskan di atas peraturan dan tata tertib yang ada. Kemarin-kemarin, terlalu banyak kisah dari dari calon peserta OAB yang menyentuh sisi manusiawi. Kami juga kaum humanis dalam maksud yang sesungguhnya. Oleh karena itulah, beberapa keputusan diambil berdasarkan sudut pandang tersebut. Meskipun sebenarnya sama saja, mereka sebenarnya nyaris tidak bisa ikut sampai pada tahapan pengukuhan. Sebab, ada-ada saja panitia pengarah yang luluh hatinya di detik-detik terakhir deadline. Luput dari pengawasan kami semua.

Tapi yang jelas, lebih banyak keputusan yang bisa kami pertanggungjawabkan, karena memang begitulah tujuan peraturan itu dirancang. Tiga hari berikutnya, mereka yang berjumlah 45 orang telah dikukuhkan dengan sumpah di saat waktu subuh masih beberapa jam lagi. Ayam jantan pun masih enggan meng-inisiasi aktivitas sahut-menyahut. Ada yang salah dari prosesi pengukuhan.

Panitia Pelaksana membuat kesalahan besar yang tidak bisa kami tolerir. Semuanya sudah berlangsung, dan kami sebenarnya tidak mendapatkan esensi dan ‘sakralitas’ rutinitas tahunan ini. AD (Anggaran Dasar) dan ART (Anggaran Rumah Tangga) dilabrak begitu saja. Beberapa senior dari kami mengatakan, sumpah tidak sah. Ya sudahlah, para pengurus dan Panitia Pelaksana yang akan atur mekanisme pengulangan sumpah itu jika ingin diulangi dikemudian hari.

Kolam Renang Dengan Lokasi Yang Eksotis

Meskipun demikian, tidak ada sama sekali penyesalan datang ke tempat pengukuhan yang begitu indah seperti di sana.

Wah, pokoknya sangat lumayan. Selain masalah  amanah dan tanggung jawab, tempat ini bisa digunakan untuk me-refresh tubuh selama kurang lebih tiga bulan bekerja dalam satu tim secara kolektif kolegial. Enak, kolam renangnya ada tiga. I was very-very enjoy and relax. Dua yang gratisan, satunya lagi mesti bayar tiga ribu perak. Juga ada tempat karaoke-an, kantin, meja bilyard, aula, mushalla, dan kamar mandi yang tersebar di banyak tempat.

Kopi Instan Ibu Penjaga Villa…

Satu hal yang tidak bisa saya lupakan, pesan kopi instan di kantin. Pagi, dan sore hari. Haha… Kebiasaan ini saya bawa dari rumah. Pagi dan sore adalah waktu yang sangat tepat dan tenang untuk menyentuh dan mengulum bibir cangkir kopi. Tapi menandas kopi hingga ampas, tidak bisa selalu saya lakukan. Tidak biasa.

Kopi pagi:
saya akan duduk dengan manis di depan televisi si ibu penjaga villa. Mencari siaran tv one, sambil menunggu pesanan kopi untuk mengusir dan membunuh rasa dingin. Panitia dan peserta yang tidak mau antri di WC, menyerobot juga kemari.

Atau juga, saya akan memegang perimeter gelas itu dengan kedua tangan. Masuk ke tenda salah seorang teman, dan memulai perbincangan ringan ala orang kedinginan.

Kopi sore:
saya akan duduk pada tepian bale-bale (tempat duduk lebar berbahan kayu atau bambu) di pinggir kolam renang dengan secangkir kopi di depan kaki yang sedang dalam posisi menyila. Gelas dan alasnya tidak serasi. Kalau match, kemungkinan saya berada di dalam kafe. Haha…

Kolam renang tersebut tidak biasa. Berada di atas bukit. Pemandangan yang terhampar di depannya berupa lembah. Lembah yang sungguh indah luar biasa. Kesannya seperti berada dalam arena resort mewah di pulau tak berpenghuni. Jutaan spektrum cahaya memendarkan beribu-ribu macam warna. Hijau, warna yang satu ini selalu atraktif di segala kondisi dan medan.

Nah, jika malam-malam insomniaku mulai menyergap, saya jadi agak menyesal menyeruput secangkir demi secangkir penghasil kafein itu. Saya jadi kurang tidur. Saya juga takut bagian bawah kelopak mata saya akan menghitam (layaknya seorang panda) dan membentuk kantong (seperti kondisi para lanjut usia).  A myth? I don’t know! Hehe…

Beralih ke teh? Akan saya coba suatu saat nanti. Ini juga saran ibu saya yang telah resah dan mendesah gundah. Anaknya jadi pengidap kafein. ‘Dee’ dalam kumpulan cerpennya ‘Madre’, mengistilahkan habitus yang kurang baik ini dengan nada yang sedikit mengejek: ‘pemuda overdosis kafein’. Meskipun, itu ditujukan kepada anak-anak muda Jakarta, tetapi setidaknya fenomena ini semakin menggurita di kota-kota besar. Makassar tidak luput malahan.

Jika Anda orang Makassar, sudilah orang-orang mengajak saudara minum kopi di starbucks coffee, coffee tiam, j-co, dan tempat-tempat yang lumrah berbagi aroma saat barista memeragakan ritual pembuatan kopi. Orang-orang sudah pada memaklumkan kegiatan yang dibaurkan dengan spending night membincangkan diskursus yang lagi memanas berdampingan dengan kopi panas. Kegiatan ini lebih disenangi daripada Anda diajak untuk makan di sebuah restoran. Harga dan rasanya masih pas di kantong. Haha…

Nikmat kopi itu  begitu tidak tertahankan. Saya teringat buku Chicken Soup for the Coffee Lovers. Kumpulan kisah, pengalaman, dan hikmah (mungkin) yang brilian dari para penggemar kopi di seluruh dunia. Anda boleh baca di toko-toko buku terdekat. Saya tidak akan heran sampulnya telah terbuka beberapa eksemplar. Beberapa orang menjadi maniak dengan karya Mark Victor Hansenn dkk tersebut.

Sejauh ini, saya menemukan hubungan yang positif antara kopi dan kegiatan begadang yang dilakukan anak-anak muda kala malam. Saya masih berumur 22 menjelang 23 tahun. Ukurannya belum sampai seperempat abad. Masih muda dong. Jadi, saya tahu lah apa yang mereka lakukan hingga dini hari. Apa lagi kalau bukan begadang ditemani bergelas-gelas kopi. Naif? Saya rasa tidak demikian.

Beberapa biografi dan autobiografi orang-orang besar yang pernah saya baca, menyebutkan bahwa mereka menghabiskan waktu malam-malam mereka dengan menulis, membaca, menelaah, dan berdiskusi untuk urusan bangsa dan negara. Presiden Republik Indonesia ke-III BJ. Habibie (saya baca tiga buku biografi beliau) malah hanya tidur tiga jam setiap hari. Waktu tidur yang dipangkas si “Mister Crack Random” ini digunakan untuk beribadah, bekerja, dan belajar. Jangan tanya sama saya ya, hehe… Beliau bisa menghitung seberapa besar keretakan acak pesawat dalam hitungan mol. Rumusannya tersebut digunakan di seluruh text book mata kuliah aerodinamika dan aeormodelling. Wow..encer juga tuh otak.

Mereka-mereka itu percaya, tidur hanyalah persoalan kebiasaan. Normal waktu istirahat malam relatif berbeda untuk semua orang. Mulai dari rentang lima hingga delapan jam. Okelah, kita patok delapan jam untuk tidur setiap malamnya. Kita akan sehat insya Allah, dan kita terhindar dari penyakit gangguan fungsi hati. Akan tetapi, bukankah kebiasaan ini bisa kita kurangi sejam hingga tiga jam? Pasti bisa. Sekali lagi, ini hanya soal kebiasaan.

Mari kita pikirkan bersama, jika seandainya waktu tidur yang kita korbankan tersebut digunakan untuk membaca, menulis, dan mengerjakan hal-hal yang bermanfaat. Berapa banyak pekerjaan yang bisa kita selesaikan? Berapa banyak gagasan ces pleng yang akan dilontarkan? Anak muda, di usianya yang muda tidak butuh tidur panjang hingga delapan jam. Tidur adalah soal kualitas. Jika saya tidak tidur semalaman, saya dan kita semua sanggup meluruskan punggung hanya sejam. Setelah itu, kembali bisa beraktivitas seperti sedia kala. Dan itu pernah saya lakukan beberapa kali. Termasuk malam ini. Don’t postpone what you can do today until tomorrow.

Situasi di Tenda Pada Pagi Hari. Ayo, mari makan!

Mari Berkemah…

Jumlah peserta OAB (Orientasi Anggota Baru) ada 45 orang. Dibagi dalam 7 kelompok outdoor dengan anggota enam hingga tujuh orang peserta. Mereka wajib bawa perlengkapan untuk hidup mandiri sebagaimana di rumah dan kos-kosan masing-masing. Tenda, terpal, alat-alat masak, bahan makanan untuk tiga hari, pakaian outdoor, dan rupa-rupa yang tidak bisa saya ingat satu persatu.

Survive atau kemampuan bertahan hidup, adalah pelajaran pertama untuk para peserta. Meskipun alam terbuka ini dikelola dalam sebuah kawasan sehingga fasilitas outdoor yang kami jadikan standar melebihi batas kewajaran, namun fasilitas tersebut kami batasi penggunaannya. Bahkan, ada yang tidak kami perbolehkan sama sekali. Melanggar: get out from here, right now. Hehe… sangar. Alam terbuka dan beberapa kemah yang berdiri patut menjadi saksi. Hanya saja, tidak ada dari mereka yang memasak dengan tungku tanah liat. Di hutan banyak kayu bakar. Itu baru namanya masak di alam. Alat masak mereka adalah kompor gas mata satu dan kompor hock yang sudah melegenda di kalangan ibu-ibu. Haha…

Pelajaran kedua, tuntutan menjadi pemimpin dalam skala mikro. Setiap tenda yang berjumlah tujuh dan seluruh penghuninya, kami bagaikan sebuah rumah dan keluarga kecil. Ada bertugas memasak, ada yang mencuci peralatan makan,  juga ada yang menyapu, membersihkan kotoran di luar tenda, memotong alang-alang, dan  mengatur ransel-ransel berukuran rata-rata 60L yang sementara berpencar-pencar dalam tenda. Memikirkan persediaan bahan makanan, dan apa yang mesti mereka masak untuk makan pagi, siang, dan malam pun tidak kalah pentingnya. Kami melihat ini sebagai aktivitas yang seru tapi serius.

Mereka butuh keterampilan manajemen sederhana. Bagaimana mengambil keputusan di antara mereka ber-enam atau ber-tujuh. Pastinya, seorang pemimpin telah diangkat untuk itu. Namun, kesediaan mereka untuk mulai berdiskusi dengan wajar, dan tidak mementingkan ego pribadi adalah sesuatu yang penting bagi kami di sisi lain. Ini mengajarkan kepada mereka arti dari sebuah keputusan.

Dalam manajemen keorganisasian, pengambilan keputusan ini lazim disebut Pareto Analysis. Intinya, putuskan sesuatu berdasarkan prinsip prioritas. Yang mana paling penting dan sangat mendesak, itulah yang mesti didahulukan. Tidak ada makanan yang kami sediakan. Tidak masak, berarti tidak makan. Tidak makan, berarti mereka siap lapar. Siap lapar, berarti mereka harus pulang. Harus pulang, berarti tidak jadi dikukuhkan sebagai anggota baru. Haha…

Pelajaran ketiga yakni, memahami karakter seorang teman. Salah seorang sahabat Rasulullah, pernah berujar di suatu masa, ‘jika  kau ingin mengenali karakter saudaramu, ajaklah ia safar (bepergian) selama beberapa hari. Niscaya kau akan tahu ia seperti apa.’ Kira-kira redaksinya seperti itu. Kawan-kawan yang sering bepergian bersama, tahu banyak makna dan perintah kalimat ini.

Sama. Lebih kurangnya, saya pun mengalami hal yang sama. Oleh sebab, secara rutin saya ikut kegiatan hiking dan tracking selama beberapa hari ditemani teman-teman kecil ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga menjelang masa kuliah. Dalam memori yang masih membekas, kita bisa menemukan dan mengidentifikasi karakter-karakter teman yang kita ajak bepergian. Ada tipe teman yang egois, ada yang suka menolong, ada yang cuek, periang, dan lain-lain. Alih-alih menghilangkan kepenatan di alam terbuka, kita juga dituntut untuk terus bersikap waspada, dan terkadang mengamati perilaku teman. Apa lagi ya, yang akan mereka lakukan ketika terjadi seperti ini dan itu? Haha… Penting untuk saling mengerti kondisi satu sama lain.

Instruksi Outbond Dari Kakashi (Kanda Rahmat Fajar Asis)

Outbond Asyik…

Bagi peserta OAB (Orientasi Anggota Baru) kali ini, seorang kawan panitia pengarah dari Jurusan Psikologi mendesain dan merancang beberapa permainan dalam outbond. Inilah pelajaran memahami karakter satu sama lain yang coba kami selipkan. Mereka akan berjalan dalam lima kelompok terpisah dengan lima pos persinggahan. Setiap pos punya haling rintang yang berbeda-beda. Sebuah perjalanan yang mungkin tidak akan mereka lupakan seumur hidup.  Kecuali ada yang mengidap amnesia di kemudian hari. Haha… Ada outcome value yang ingin kami hasilkan dan tanamkan dalam diri setiap peserta.

Kami, Panitia Pengarah yang bertugas menjadi empunya setiap pos permainan, mendengarkan dengan saksama uraian tata cara permainan yang dimaksudkan. Dibantu dua orang yojimbo (Jepang: pengawal).

Penjaga Pos. Mukanya Tidak Kelihatan. Anonim: 2012

Semua berlangsung seru dan menarik hingga refleksi di akhir. Saya tidak bisa menerangkan begitu banyak. Kami terpisah. Track-nya cukup menantang untuk pemula. Lintasannya cukup panjang dengan waktu tempuh satu jam perjalanan memutar pos satu lalu sampai finish di pos lima. Itupun dengan tenaga yang sudah tersisa dua pertiga. Nah, para peserta akan menjalaninya bersama-sama. Berusaha untuk tetap utuh dan kompak dari awal hingga akhir. Hujan yang turun selama peserta tracking menaiki dan menuruni lembah, membuat kami cukup antusias.

Sebab, tantangannya menjadi lebih berat. Angin lembah yang bertiup cukup kencang menjadikan tubuh menggigil kedinginan. Untung semua baik-baik saja. Panitia Pengarah, Panitia Pelaksana, dan Peserta. Utamanya kami, Panitia Pengarah. Kami pun harus tahan banting. Jangan sampai kalah fisik dengan peserta. Beberapa dari mereka bahkan dalam kondisi sakit. Memaksakan ikut kemari adalah tekad baja yang luar biasa.

Menjelang sore hari (sekitar pukul tiga), semua sudah sampi di pos awal. Bersih-bersih, kemudian istirahat. Kaki saya jeblok. Pucat. Terus bergetar. Membentuk guratan-guratan yang tidak diketahui polanya. Saya hanya bisa meringkuk menyedakkan tangan memeluk tubuh yang hampir menggigil. Akhirnya usai sudah. Peserta masih pada semangat. Mereka sungguh unik dan menarik. Sulit menemukan bandingan mereka di tengah kondisi pragmatis mahasiswa.

Menikamati Perjalanan. Sampaikan Berita Kepada Kawan.

Pemudi Yang Resah…

Ini yang saya tunggu-tunggu, jadwal kepulangan ke Makassar. Setelah berenang puas di kolam renang, saya prepare, packing, dan bersiap mengikuti acara penutupan oleh Panitia Pelaksana. Wajah-wajah kelelahan tidak bisa kami sembunyikan, akan tetapi, forum penutupan ini pesan dan kesan akan disampaikan oleh mereka: para amunisi baru. Kami dengarkan semuanya dengan penuh perhatian dan rasa suka cita yang dalam.

Dalam forum ini, permintaan maaf secara terbuka juga kami sampaikan kepada segenap elemen lembaga yang hadir. Mulai dari yang bertugas mengangkat peralatan hingga kepada yang bertugas memasak dan cuci piring untuk kami semua.

Di antara seluruh anggota baru, ada yang cukup menarik. Entah ini diperhatikan atau tidak oleh yang lain. Salah seorang anggota baru yang namanya saya kurang tahu. Seorang perempuan. Motivasi yang ia utarakan berbeda dari yang lain terkait keinginannya bergabung bersama kami di lembaga. Apakah itu?

Dengan setengah bercanda ia mengatakan: ‘mau cari tempat makan gratis’. Saya belum cek ulang, apakah itu dia cantumkan dalam essai atau tidak. haha…ada-ada saja.

Dengan aksen Malasyia-nya yang sangat kental dia mengungkapkannya dengan panjang lebar ceritanya selama tiga bulan lamanya, dari awal hingga akhir. Kami bosan juga. Tapi dari ceritanya, saya yakin dia sebenarnya resah dan peduli. Mahasiswi Jurusan Matematika, baru pula. Tidak ada yang membuat dia tertarik untuk ikut seleksi tahap dua (Focus Group Discussion) kecuali tema FGD yang dibebankan kepadanya.

Tema pertama? KPK. Dia tidak tahu apa itu KPK. Padahal dia tinggal di kampung halaman Ketua KPK terpilih, Abraham Samad. Tidak tertarik sama sekali. Maklumlah. Tema kedua: ASEAN Community 2015. Secara terang-terangan dan jelas, dia mengungkapkan minat dan kepedulian yang besar terhadap masalah regional ini. Belum ada satu pun mahasiswa yang saya temui menyatakan diri tertarik mengikuti perkembangan masalah-masalah internasional, khususnya isu-isu regional di kawasan ASEAN. Saya pun bahkan tidak mengikuti dengan baik persoalan ini. Kurang lebih, menurut dia, hal tersebut menyemangatinya untuk kembali ikut seleksi di lembaga kami.

Idealnya, mahasiswa sebagai kaum intelek di tengah masyarakat, seharusnya memiliki kepekaan yang besar terhadap masalah-masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, ideologi, sampai ke masalah hubungan bilateral dan multilateral negara tercinta Indonesia. Apalagi, Indonesia adalah negara dunia ketiga. Digoncang sedikit saja, sudah oleng. Aktifnya mahasiswa dalam usaha memahami dan memecahkan solusi persoalan bangsa merupakan agenda mendesak. Sebaliknya, kegamangan, apatis, dan belitan kapitalisme global  yang melanda mahasiswa menjadi bumerang yang akan menghancurkan bangsa ini 20 atau 30 tahun ke depan.

Mudah-mudahan itu tidak terjadi. Semoga.

Bersama Kawan dan beberapa Rekan

Kami, menunggu. Jika yang pemudi tadi katakan hanya sebatas penghias retorika, itu hanya omong kosong menghabiskan waktu.

Kami butuh bukti nyata.

Sebelum pulang, saya masih sempat memesan segelas kopi pada ibu penjaga villa. Airnya kurang panas. Kurang puas. Sekali lagi, saya menyeruput dan mengulum bibir cangkir kopi.

Advertisements

11 thoughts on “Kopi, Kemah, dan Pemudi Yang Resah

  1. Huaaaaa huaaaaa #nangis….

    Makan es krim….

    #reda

    Ehm…

    Saat-saat terindah bersamamu*

    *panpel,pengurus,peserta,paper

    Like

  2. Kita-kita mustahil untuk dipertemukan pada satu paket kepanitiaan (pengarah) yang lain. Karena kisah dan romantisme masa lalu, menurut Imam Al Gazali adalah perihal terjauh dari diri kita. Cerita dengan setumpuk pergolakan kian hari akan menjauh dari ingatan dan perbincangan.
    Bekerja dengan cara yang lain, menimbulkan refleksi yang lain. Kita 10 orang panitia kadang-kadang tak tahu diri, dimana kita berdiri? melangkahi atau kita bungkam ditindas angin yang berlalu. Mengisi hari demi hari berbincang soal cara, bagaimana, kalau misalnya, dan jenis bayangan prediksi dan antisipasi lain hampir rinci diatur menurut pemahahan subjektif.
    Bahwa kitalah yang telah rapuh dalam fondasi kekuatan rasa, dari sisi spirit, kia telah kokoh menapaki hari. Spirit itu tak diragukan lagi, wilayah rasa-lah yang cenderung memusnahkan. Hingga kisah itu nyaris berakhir tak etis. Terima kasih Kaisar Mujahid yang meluangkan waktunya mengabadikan romansa-romansa masa. Insya Allah, suatu saat kita semua akan bertemu kondisi hebat dan kerkesan sukses. Senang bekerja dengan ente-ente semua. Ana ente wassalam….

    Like

    1. Pengurus harus menumbuhkan: l’esprit de corps kepada anggota baru di Penalaran. Bismillah. Komentar yang sungguh luar biasa. Amin. Allahukbar.

      Like

    1. Muse: Sekarang. Saatnya BELAJAR, dan BEKERJA. Kenangan tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali setumpuk rasa. Itupun jika kau bisa mengambil sedikit pelajaran. Ganbatte ne!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s