Bergabung di “identitas”: Sebuah Argumen dan Apologi

Posted: March 28, 2012 in Opini
Tags: , ,

Tempora muntantur et nos mutamur in illis
“Waktu terus berubah dan kita pun berubah seiring dengannya”

Kepada kawan, kerabat, dan orang-orang yang saya kenal baik, pepatah latin itu sering saya sampaikan kepada mereka. Bahwa perubahan itu adalah sebuah keniscayaan. Pada akhirnya, kita semua akan berubah karena waktu. Apakah berubah ke arah yang lebih baik,  atau malah justru sebaliknya. Kalau kita katakan ada perubahan yang stagnan, itu tidak benar sepenuhnya. Umur yang bertambah, kondisi kesehatan yang tidak lagi prima karena usia pun adalah hasil permainan waktu. Ya. Kita berubah.

Perubahan bukanlah sesuatu yang turun dari langit, perubahan itu diciptakan sendiri oleh manusia dan alam. Di dalamnya ada proses yang terjadi. Kita belajar, kita bekerja, dan kita pun berusaha sekuat daya dan upaya agar tercapai hal yang diinginkan. Proses ini mendatangkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Sebagai makhluk Tuhan –tak ada yang lepas dari nilai transendental, atheis sekalipun- kita diajarkan tentang kemampuan manusia merubah nasib –karena dibekali akal pikiran dan hati-, meskipun tidak  untuk yang namanya takdir –karena punya iman- dalam menjalani hidup dan kehidupan di muka bumi.

Sementara perubahan sendiri menuntut semangat juang yang lebih sebagai anteseden. Semangat itu bahkan tidak datang dari orang lain, semangat itu malah berasal dari diri sendiri. Sekali lagi, waktu jualah yang akan menjawab semuanya. Sehingga, tugas kita adalah menciptakan perubahan ke arah positif dan mengantisipasi sekaligus mencegah perubahan ke arah negatif yang akan membawa kehancuran individu dan masyarakat.

Eksistensi “ke-Aku-an” (Argumen)

Kalau membaca, saya sering. Kebiasaan itu dimulai dari ‘paksaan’ orang tua yang terlalu sering mengajak weekend di toko buku. Sampai sekarang, saya selalu teringat-ingat tumpukan malajah Bobo yang sampai menyentuh langit-langit atap rumah yang dulu masih ngontrak. Kupikir, ini bekal yang lumayan. Membaca adalah jendela dunia. Pikiran menjadi sangat open mind dengan arus pemikiran dari luar, cakrawala berpikir menjadi sangat luas, sekali waktu kita welcome diajak menggunakan logika untuk berdialektika hingga jauh malam. Pastinya: kegiatan membaca mencegah pengerutan otak yang kemudian akhirnya mengalami perusakan kelak di hari tua. Sampai sekarang pun masih sama. Saya menyempatkan waktu membaca dan meanamatkan sebuah buku setidaknya dalam sepekan.

Tapi tidak dengan kegiatan menulis. Ini kelemahan saya. Aktivitas ini saya mulai baru 2006 silam. Ketika itu saya masih siswa kelas dua sekolah menengah atas di bilangan jalan AP. Pettarani Makassar. Dua orang guru mengajukan prasyarat untuk dapat naik ke kelas tiga: menulis karya ilmiah. Jadi, dua karya ilmiah yang harus saya buat untuk naik kasta menjadi penguasa semua fasilitas di sekolahan. Kelas tiga. Saya berpikir keras dan hampir putus asa. Tapi, akhirnya karya ilmiah itu hanya satu yang jadi. Itupun tanpa memerhatikan metodologi penulisan karya ilmiah yang baik dan benar. Menulis: saya mulai menyadari kegiataan ini yang sebenarnya sungguh mengasyikkan. Saya juga tidak tau, transformasi kekuatan dari mana sehingga berlembar-lembar tulisan saya hasilkan dalam waktu kurang dari dua pekan. Mungkin lebih karena saya punya buku, dan: saya membacanya.

Jikalau gajah mati meninggalkan gading, maka manusia mati meninggalkan namanya. Kembali saya mengutip pepatah. Pepatah tua dari seorang bijak bestari negeri sendiri. Apa yang akan diketahui orang lain tentang diri kita setelah ajal menjemput? Tidak ada. Kecuali pembicaraan ramai karib kerabat dan handai taulan beberapa hari setelah menyatunya kita dengan tanah. Segera setelah itu, manusia akan melupakan dan kembali berasyik masyuk dengan habitus yang rutin.

Lebih Dekat Dengan Jurnalistik

Kecuali, jika manusia meninggalkan sebuah pesan. Pesan itu disampaikan lewat karya, lewat tulisan. Mereka tau apa yang menjadi minat dan kegalauan kita semasa hidup. Apatah lagi jika tulisan dan karya yang kita hasilkan melibatkan kepentingan orang banyak. Akan terus menjadi perbincangan sampai kapan pun. Scripta manent verba Volant. Saya ingin ada perubahan. Saya punya semangat. Oleh karena itulah, saya ingin bergabung dengan Penerbitan Kampus Identitas Universitas Hasanuddin.

Setiap tempat adalah sekolah, dan Setiap orang adalah guru (Apologi)

Manusia belajar, belajar, dan terus belajar. Dengan itulah mereka bisa berubah. Menjadi pembelajar seumur hidup adalah tuntutan hidup. Jika tidak, waktu akan menggilas habis usia kita tanpa pernah menghasilkan karya apa pun. Saya ingin belajar.

Identitas memang bukan media mainstream kebanyakan, ruang lingkup peliputannya dan segementasinya beda. Oleh sebab Identitas terikat dengan pihak universitas yang membiayai proses naik cetak koran kebanggaan segenap civitas akademika di kampus merah tersebut. Akan tetapi, menurut saya, ‘Identitas’ meruapkan kekosongan Idealitas yang begitu dibutuhkan.

Idealitas itu pastinya bukan tanpa hambatan, tantangan dan hantaman adalah hal lumrah untuk sebuah media yang mencoba eksis dan menjunjung ethics. Saya melihat dalam beberapa catatan alumni Identitas yang begitu memprovokasi untuk menghidupkan kondisi ideal sebuah media kampus yang tetap setia dengan core  “all about UNHAS” dengan segala dinamikanya.

Pada sebuah catatan, Pimpinan Redaksi ‘Identitas’ pernah mengalami intimidasi dan tindak kekerasan. Majalah Tempo yang dibredel 1994 di rezim otoritarian Presiden Soeharto juga pernah mengalami hal yang sama. Kemudian bangkit lagi pada 1998 pasca kejatuhan Soeharto setelah melalui proses yang lazim kita kenal dengan Reformasi. Media features ini terbilang cukup sukses dalam melanggengkan ‘Azas Djurnalisme’ yang pernah dipekikkan dengan lantang oleh Goenawan Muhammad di tahun pertama dan edisi pertama Majalah Tempo: 41 tahun yang lalu.

Jika menilik Identitas, dengan keberadaan dan konsistensi Identitas hingga sekarang, setidaknya membuktikan media kampus ini layak menghasilkan para jurnalis-jurnalis handal sekaliber Tempo. Bahkan lebih baik. Dan: itu terbukti.

Tulisan-tulisan dan dan catatan kenangan itu dibuat oleh orang-orang hebat yang pernah saya temui dalam beberapa peristiwa dan episode kehidupan saya sebagai seorang mahasiswa tahun ke empat. Termasuk Nasrullah Nara, Dahlan Abubakar, Amril Taufiq Gobel, Lily Yulianti Farid, Moh. Hasymi Ibrahim, Ryana Mustamin, Muhary Wahyu Murba, Judy Rahardjo, dan lain-lain. Dari mereka, saya pernah belajar. Mereka guru-guru yang diam. Pernah bertatap muka sekali atau dua kali, setelah itu saya menyambangi karya dan tulisannya di media internet maupun media cetak. Tulisan mereka, dulu, saya kerap baca di malam-malam insomnia.

Sekarang, ternyata, saya berjodoh nama dengan mereka. Cuma satu alasan: mereka alumni Identitas. Saya mendapatkan nama-nama mereka berada dalam boks redaksi Identitas dalam suatu masa. Pengaruh itu begitu kuat, internalisasi nilai-nilai dan semua ilmu yang mereka peroleh di Identitas menyemangati saya untuk ikut bergabung dengan PK (Penerbitan Kampus) Identitas. Bagi saya, Identitas dan apa pun nanti namanya, merupakan sekolah. Sekolah yang bukan dipahami dalam konteks ruang-ruang sempit untuk belajar. Tapi, lebih dari itu. Identitas: dari pengakuan orang-orang adalah sekolah kehidupan. Dan setiap orang di dalamnya berarti guru.

S.M. Noor, penulis novel Perang Makassar yang karyanya saya baca sebulan lalu, juga alumni Identitas. Terkejut melihat beliau ada di hadapan kami sebagai senior di Identitas. Saya tahu beliau guru besar di FISIPOL Univiersitas Hasanuddin. Beliau justru meminta waktu –technical meeting Diklat Jurnalistik 38 dua  pekan lalu di sekretariat Identitas– untuk memberikan arahan dan berbagi pengalaman semasa masih mahasiswa dengan sematan predikat awak Identitas.

Berceritera romantika dan kegetiran masa lalu. Kata-kata yang paling saya ingat betul dari beliau adalah “Identitas, adalah tempat, wadah, sekaligus sekolah jurnalistik di kalangan mahasiswa yang paling baik di Indonesia Timur dari dahulu hingga sekarang.” Sejam pun tak terasa. Tak apalah. Dedikasi, komitmen, integritas, dan kerjas keras, adalah beberapa hal yang beliau sempat ajarkan. Mohon maaf bila alasan ini kental dengan penokohan atau figur yang saya maksud di atas. Itupun bisa dijadikan dasar keinginan saya bergabung di Identitas. Saya ingin belajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s