Lawatan ke Rumah “Komunitas Sapi Berbunyi”

Posted: May 6, 2012 in Catatan Harian
Tags: , , ,

Perjalanan Sabtu Sore….

Sore itu hujan turun dengan agak tergesa-gesa. Seakan memburu waktu petang yang sebentar lagi akan tiba. Makassar, meskipun terkenal dengan cuacanya yang cukup panas, kadangkala hujan turun pada waktu yang tidak terduga. Sejatinya, kami perlu bersiap diri dengan situasi seperti ini, cuaca misalnya. Membawa payung, mantel, mantel, dan jas hujan untuk melindungi diri dari dinginnya siraman air hujan.

Seperti biasa, pengidealan selalu yang kita harapkan bakal terjadi. Seperti sabtu lalu. Hujan turun dengan debit yang kecil. Tapi cukup untuk membuat orang yang mencoba menerabasnya bisa-bisa sakit kepala dan demam ringan. Apalagi jika tidak membawa apa-apa sama sekali untuk perlindungan diri. Seperti saya saat ini.

daerah sini nyaman.” gumamku dalam hati. Suasananya tenang. Apakah karena hujan? Mungkin saja. Konturnya jauh dari landai. Jalanan menaik dan menurun. Perumahan Bukit Baruga yang letaknya di Antang juga memiliki kondisi yang sama. Tidak kusangka, dari sini, saya bisa melihat pesawat yang sementara take off dengan jarak yang tidak bisa kuterka. Tapi dekat. Sungguh. Menarik bisa menyaksikannya. Relatif ribut bagi mereka yang tiap hari mendengarnya. Tapi tidak dengan saya yang baru mendengarnya dengan lokasi yang bukan di landasan pacu. Haha…

Di tengah hujan seperti ini, apalagi di sabtu sore menjelang akhir pekan. Orang-orang yang tinggal di perumahan padat penduduk seperti kompleks, griya, dan utamanya perumahan BTN, sedikit masyarakat menyempatkan waktu untuk sekadar keluar menyaksikannya. Menyaksikan bulir-bulir seindah mutiara itu berjatuhan menimpa daun-daun yang menjadi lemah gemulai. Hujan menjadi agenda rutin masyarakat untuk lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Atau juga alasan untuk lebih berlama-lama berada di coffee shop dan café.

Mungkin seperti itu. Tapi, kecuali satu: anak-anak ASEP. Singkatan dari Anak SEribu Pulau. Komunitas anak-anak belum mencapai kelas 5 sd yang mencak-mencak dan paling punya strategi jitu menerobos barisan pertahanan ayah, ibu, dan kakaknya. Keluar bertemu dengan teman-temannya. Tentu saja, dalam hujan.

Lama saya tidak melihat anak-anak bermain hujan. Bukan serangan flu dan demam yang tiba-tiba menyerang yang bukannya saya tidak mengakhawatirkan mereka, tapi keceriaan dan tingkah polah anak-anak itu dalam bermain yang begitu saya nikmati. Biarkan saja mereka bermain. Aji mumpung.  Hujan belum turun menggarang. Sembari mereka berfikir tentang hujan, bermain: -bagi saya- memantapkan wacana multikultur yang sementara hangat diperbincangkan.

Ingatan saya menerawang program-program cerdasnya Irfaan Amalee (Peace Generation). Juga sebuah tayangan dari youtube tentang  sekolah sore bagi anak-anak yang memiliki perbadaan dalam hal religiusitas. Anak-anak itu bermain tanpa memeperhatikan agama, warna kulit, dan status sosial. Jelas kupikir. Itu dunia mereka, kan? Ya, mereka lepas selepasnya. Setidaknya, sore ini, anak-anak itu hanya bermain sebentar dalam hujan gerimis yang terus mengikis daerah kering yang kukenakan.

Asa di Sebuah Rumah

Saya tidak bawa mantel. Mantel itu bukan mantel seperti yang kawan-kawan sangka: pelindung dan pengaman barang bawaan pakaian dan ketika berkendaraan di tengah hujan. Belum cukup pemakaian tiga bulan di awal tahun, sobekan besar di sana sini terlihat menganga. Apa boleh buat, demi menepati janji dengan beberapa senior dan rekan-rekan, saya terus menambah laju sepeda motor dalam hujan. Mereka sudah berada di tujuan setengah jam lalu. Saya tentu tidak ingin melewatkan kesempatan yang menghadirkan nuansa keakraban di antara kami terlewat begitu saja.

Akan tetapi sedari tadi, alamat yang dituju oleh seorang rekan belum juga ketemukan. Dengan handphone yang mengerjap-ngerjap mau mati, saya terus menanyakan rute mana lagi yang harus kutempuh untuk sampai di sana. Beberapa saat kemudian, handphone saya mati. “hufffttt…..berakhir sudah petualanganku hari ini” bisikku agak kesal. Saya hendak pulang saja waktu itu. Saya pasrah. Terdampar di tengah belantara ratusan rumah yang pukang melintang di areal kompleks perumahan. Dan parahnya: alamatnya tidak juga kutemukan. Komunikasi putus.

Akhirnya, dalam kegalauan karena handpohne saya mati secara total, pertolongan yang diharapkan akhirnya muncul juga. Alhamdulillah. Setelah mencari-cari dalam hujan yang sudah mulai reda, saya melihat ada sebuah kios yang memiliki tempat teduh, tidak ramai pula, tapi agaknya terasa lumayan untuk mencoba meminta bantuan si pemilik. Sore yang menjelang maghrib ini, bak lintang kemukus yang menimbulkan setitik cahaya sebelum redup dan akhirnya mati.

Kepadanya saya minta tolong untuk men-charge handphone. Lagi-lagi, saya menunggu. Berselang lima menit kemudian, saya mencoba menghubungi kembali teman. Jangkauan penglihatan saya terbatas karena colokan listrik berada tepat di dalam kios. Sebisa mungkin, kucoba memberitahukan posisi tempatku sekarang. Nyatanya, saya berada di tempat yang tepat untuk diselamatkan sesegera mungkin. Jaraknya hanya sepelemparan batu. Haha…

“Halo, kak, saya berada di tepat seberang jalan minimarket X.” kataku cepat.

“ok, kujemput kau di sana” jawab seorang senior.

Saya mempertimbangkan presumsi. Mini market jenis ini memang lagi menjamur di segala penjuru kota Makassar. Bahkan ada dua hingga empat mini market jika yang disasar adalah kompleks perumahan. Beruntung, presumsi yang mengarah ke insting itu benar.

Meskipun realitanya demikian, minimarket X di daerah ini hanya satu biji. Kupikir demikian oleh sebab daerah ini agak terpencil dari kota. Tepatnya di wilayah utara kota. Itu sebabnya, hanya ada satu.  Entah apa lagi yang bisa kuterkajawabkan jika tadi dia sempat melewati beberapa minimarket yang sama. Bisa runyam. Haha…

Akhirnya: sampai juga.

Rumah Unik: Komunitas Sapi Berbunyi.

Bangunan rumahnya terdiri dari dua lantai. Dari luar, dinding bagian atas bertuliskan “Komunitas Sapi Berbunyi” yang dibuat dengan gaya mural. Lantai satu penuh dengan barang-barang yang tidak terduga. Tepat depan lemari buku ruang tengah ada gamelan yang masih berfungsi dengan baik, sepeda ontel yang menggantung di pagar kayu pengaman di lantai dua sisi kiri, dan topeng dengan aneka ekspresi di sisi kanan, dan bermacam-macam alat pentas lakon drama yang bertumpuk di salah satu sudut ruangan lantai satu.

Ini pertama kali saya menginjakkan kaki kemari. Yang paling kentara adalah dua lemari besar penuh dengan buku. Terdiri dari buku hasil karangan kak Asdar sendiri –begitu kami menyapanya- dan tentu saja buku-buku lain yang baru kuliat untuk kali pertama. Belum lagi dengan puluhan kardus yang berisi ratusan eksemplar buku yang belum diambil oleh pemesannya. Memenuhi sudut-sudut ruang di lantai satu dan dua. Teman-teman ada di ruang tengah. Menghamburkan buku-buku yang dianggapnya menarik dari dalam lemari.

Penggemar sastra, penggila referensi jurnalistik, dan buku-buku populer. Penilaian awal yang kutorehkan kepada beliau. Mataku begitu awas dan antusias terhadap hal-hal baru yang dapat kugapai. Saya berpikir, buku-buku itu menarik. Alangkah bahagianya bila saya berkesempatan menemukan buku yang sama di acara obral buku besar-besaran. Atau barangkali saya mesti mengobrak-abrik toko-toko buku loak untuk mendapatkannya.

Untuk lebih jelas tentang base camp Komunitas Sapi Berbunyi tersebut, harian Kompas Minggu, tertanggal 11 Desember 2011, mewujudkan rumah Kak Asdar menjadi objek rubrik ”Aku dan Rumahku.” Silahkan diibaca.

Umar Kayam: “Kumpul-kumpul, mangan

Sebenarnya, kami – saya, beberapa senior dan sejumlah rekan- menerima undangan makan malam dari seorang budayawan Sulawesi Selatan yang terkenal: Asdar Muis RMS. Tidak hanya sekadar makan terus pulang. Ikut juga acara bincang-bincangnya. Haha… Rasanya aneh, jika tidak ada yang kita bisa bawa “bawa pulang” dari rumah seorang esais populer  yang cukup nyentrik ini.

Makanan yang disuguhkan juga banyak. Didahuli dengan appetizer, berupa kudapan ringan dan kue-kue tradisional Makassar dan daerah lain yang entah apa namanya. Soal makanan, bagi saya, yang penting itu enak di lidah.  Ada beberapa macam. Dan, itu sudah membuat saya dan rekan-rekan agak kewalahan sebelum memulai ‘pertarungan’ sebenarnya.

Asdar Muis RMS

Anda tahulah, sebagai tuan rumah yang baik, penjamuan terhadap tamu haruslah dilakukan sebaik mungkin. “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda” begitu ujaran populer yang pernah ditampilkan dalam sebuah iklan tv. Ada benarnya juga. Kak Asdar sebisa mungkin menjelaskan kepada kami apa nama, dan dari daerah mana kue-kue ini semua berasal. Sungguh menarik hati dan tentu saja menggugah selera.

Tanpa ragu-ragu teman-teman mengiyakan, sebab mereka sebagian besar juga tahu meskipun mereka bingung juga dari mana kue-kue ini didatangkan.

Haha… Termasuk dengan hidangan utama kami yang semuanya satu spesies: ikan. Ikannya macam-macam. Tapi ada satu yang paling besar, dan paling menggairahkan bagi saya: ikan goreng renyah.

ini ikan cuma ada di sungai, segar.” Kata kak Asdar.

cobalah, kalian beruntung bisa menemukannya.” Sergahnya dengan yakin.

Tanpa menunggu lebih lama, saaya mengambilnya mendahului teman-teman. Ini ikan limited edition. Cuma sepiring. Tidak ada “ronde” ke dua. Serta merta kubawa menuju piring yang sudah kuisi  dengan dua sendok nasi. Juga sambal yang sangat menggoda selera. Ikan sungai yang mirip ikan cepak, besarnya seukuran telapak tangan orang dewasa. Dan: digoreng.

Saya bisa hitung jari, di tempat mana saja, makan saya begitu nikmat dan terasa sangat lezat. Nah, di rumah kak Asdar, sudah kuprediksi sejak awal, makanku pasti nikmat. Akan kuingat terus ceramahnya mengenai ikan sungai itu yang namanya sudah tidak kuingat lagi. Haha…

Umar Kayam, dalam sebuah memoar yang dirangkum dalam sebuah buku “Umar Kayam Luar Dalam”, sebagaimana yang ditulis oleh Vevep Sp. Wardhana mengisahkan, UK –singkatan Umar Kayam- juga kerap kali mengundang mereka yang calon sastrawan untuk makan ramai-ramai di malam minggu dengan sistem lesehan di Jogja.

Berikut petikan komentarnya:

Karenanya, dalam ajakan dan undangan ritual makan (dengan Umar Kayam) terkadang saya agak susah membedakan antara makan dalam artian sebagai salah satu representasi terhadap pemanjaan atmosfer kuliner dengan makan sebagai sebuah frame untuk bica kesana kemari yang ternyata full isi, termasuk membicarakan situasi politik kiwari negeri.

Saking seringnya kebersamaan dalam undangan makan malam yang berlangsung sekitar tahun 1970 hingga 1980-an tersebut,  keberadaan UK diutuhkan oleh Ashadi Siregar dan Faruk HT dengan memodifikasi pameo Jawa yang sangat terkenal: “mangan ora mangan ngumpul.” Menjadilah ia “kumpul-kumpul, mangan. Sambil mangan-mangan, cerita.”

Persis dengan apa yang kami lakukan dengan saat ini. Hanya saja, perbincangan itu kami lakukan setelah makan. Biasalah, realitas kultural orang Bugis Makassar menuntut kami untuk tidak banyak bercakap saat makan. Diksusi intensif kami lakukan setelah selesai makan, dan semuanya kembali teratur. Lantai ruang tengah telah bersih dan kami pun mulai duduk melingkar.

Esai “Berkarung Uang”

Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Kak Asdar terlihat mengambil tape kecil di atas tumpukan  buku. Sudah sangat usang kelihatannya. Guratan karat berwarna kuning keperakan menghiasi seluruh permukaannya. Mungkin hampir tidak ada yang mengira bahwa, dengan “barang laik museum” itulah, kak Asdar mengontrol jalannya Smart FM.

Woooww…padahal yang ada dalam pikiranku adalah sebuah big compo dengan dua stereo yang suaranya bombastis itu. Agar terdengar dengan lebih jelas. Meskipun bayangan itu sudah tidak sesuai lagi, orang bisa mendengarkan radio via internet dan smartphone yang hampir semua kami miliki. Tidak wajar bagi sebuah pemilik stasiun radio. Kesederhanaan dan kebersahajaan. Itu mungkin yang ingin ditampilkannya kepada kami.

Sambil mencari-cari frekuensi radio yang dimaksud, dia memejamkan mata dan menghela nafas panjang dengan agak tersengal. Tak lama berselang, musik backsound permulaan pembacaan esai mengalun menggema syahdu di sekeliling kami. Wooow…kupikir ini luar biasa. Waktunya mungkin diatur sedemikian rupa agar kami bisa langsung mendengarnya tepat saat pembacaan esai dimulai.  Tepat setelah segala sesuatunya menjadi beres kembali. Termasuk buku-buku yang berhamburan dan peralatan makan.

Kami datang untuk mendengarkan. Mencoba menangkap apapun yang coba disampaikan. Pengalaman-pengalamannya, wawasan jurnalistiknya, keresahan-keresahannya tentang beberapa orang, kegalauannya dengan pemimpin-pemimpin negeri, hingga kepiawaiaannya dalam menulis dan membaca esai. Sering kudengar esainya dia bacakan dan perdengarkan di radio Suara Celebes FM yang ia dirikan. Waktu itu saya masih kelas tiga sekolah menengah. Saya takjub. Ketemu dengan orangnya secara langsung.

Dalam beberapa kesempatan, kami diperintahkan untuk menanggapi dan merespon apa pun yang di rasa tidak dipahami dan dimengerti secara langsung. Timbal balik pun terjadi. Akrab. Suasana begitu kondusif dan cair. Kami berdiskusi panjang dengan beliau selama lebih dari dua jam, kami ditawari untuk mendengarkan pembacan esai tersebut secara langsung, bukan lewat siaran radio. Tawaran untuk mendengarkan esainya itu langsung kami terima. Serempak kami melonjak kegirangan.

 “Berkarung Uang.” Itulah judul lengkap esai yang dibacakan Asdar Muis RMS ketika akan mengakhiri lawatan kami di kediamannya. Esai yang membuat kami semua berdecak dan berdesis beberapa kali setelah mendengarnya. Kami sebenarnya tidak ingin bertepuk tangan karena aroma esai yang dibacakannya begitu kuat. Menangis malahan. Ya, Menangis. Hampir semua kawan perempuan yang turut ikut tidak kuasa menahan air matanya turun menjangkau pelipis. Esai ini dibaca sekitar 9-10 menit dengan pemaknaan yang luar biasa baik oleh penulisnya.

Ada nuansa magis dan keharuan yang menimbulkan rasa iba, peduli, marah, gamang, spektis, pragamatis, denasionalisasi, dan  tentu saja humanisasi yang terangkum begitu gamblang dalam setiap pemilihan ide esai yang ditulisnya. Rasanya hal tersebut sengaja ingin selalu di tampilkan oleh kak Asdar yang hobi memakai celana pendek.

Saatnya kami pulang…

Kami anggap ini oleh-oleh dan hadiah yang menimbulkan rasa cinta untuk kembali lagi kemari yang entah kapan saat itu tiba. Esai “Berkarung Uang” saat ini tertuang dalam buku “Tuhan Masih Pidato” terbitan Agustus tahun lalu. Esai tersebut hanya satu dari sekian ratus esai yang ditulisnya pada harian Pedoman Rakyat dalam kurun waktu semenjak pertengahan 2003 sampai Februari 2007 silam.

Beliau mengakui banyak karya-karya esainya yang lenyap entah kemana. Ketidakcakapannya dalam mengarsipkan esai yang telah dibuatnya menjadi hambatan serius menurutnya saat ini.

Inilah rute jalan menuju rumahnya:

Jalur tempuh biasa dijangkau dengan naik pete’pete’ dan kendaraan pribadi. Dari arah Daya –sebelah utara- maupun Sudiang –sebelah selatan-, ada persimpangan empat. Tandanya, ada patung ayam jantan dan beberapa induknya yang berukuran raksasa saling bersilangan. Itu Pasar Daya. Kita belok ke arah Jalan Paccerakang. Terus saja sampai menemukan kelokan ke dua sebelah kiri jalan. Setelah itu, belok kiri seperti yang dimaksud.

Cobalah untuk mengemudi secara perlahan, jalanan mulai menurun dan beberapa tanjakan. Jangan berhenti sebelum menemukan pertigaan. Setelah itu, belok kiri lagi. Berhentilah jika kawan telah menemukan Apotek Bungadia. Disitulah letak rumahnya. Kompleks Hartaco Indah blok sekian. Ya. Rumah “Komunitas Sapi Berbunyi” sekaligus apotek. Rumah Asdar Muis RMS. Senior sekaligus guru  yang menginsiprasi bagi kami.

Kami pulang selepas hari berganti. Sabtu telah berubah menjadi minggu.

Advertisements
Comments
  1. Wahyuddin says:

    Sebuah cerita yang sangat menarik, gaya bahasa yang sangat luar biasa dan pendeskripsian yang sangat jelas. Saya seolah ada pada cerita tersebut. Wouw Amazing!

    Like

  2. ivan Moez says:

    Fantastis ini tetanggaku, tmn mainku, juniorku.. Luar biasa penyajian ceritanya…

    Terkhusus buat Ayahanda Asdar Muis RMS. Amazing.. Dari dulu sy pengagum ta’ yg hanya bisa menikmati krna bingung mau brgbung di komunitas sapi berbunyi…

    Like

    • mujahidzulfadli says:

      haha. ngeri. fantastis bedeng. na biasa-biasa jie anne. Menulis di blog karena ndak profesionalka’ kalo cerita. kalo nulis lebih gampang diatur toh. haha. ini blog sedikit pengunjungnya kasian. jadi bemana caranya ini ko bisa ketemu ini tempat curhatku?

      Kesanami saja. daya terus-terus. dulu itu saya cuma jalan-jalanji ke sana. April setahun lalu kalo tidak salah. Kuliah jurnalistik informal di rumahnya sekaligus kemek-kemek. Anak identitas yang ajak saya ke sana. Semua karyanya ada di sana, waktu itu saya cuma sempat beli “Tuhan Masih Pidato: Kumpulal Esai selama beberapa tahun.” Yoi daeng bro, diam memang hebat. Budayawan tommi, wartawan senior juga, doseon luar biasa juga di jurnalistik unifa.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s