Riuh Sebelum Losari

Pantai Losari di pagi hari

Pagi ini di sepanjangan jalan, lalu lintas manusia begitu ramai. Hilir mudik sekitar seribuan manusia berasyik masyuk lewat aktivitas masing-masing. Hari ini minggu, kebanyakan dari warga menggunakan sepeda untuk bersantai ria. Bercengkerama bersama teman maupun keluarga. Senyum yang begitu lepas, spontan tertahan di wajah para pelaku urban ini.

Pagi di awal Juni itu pula, saya dan seorang teman, mencoba ikut menikmati riuhnya suasana di sepanjangan jalan tersebut. Jalan yang berbatasan langsung dengan pantai terindah yang pernah kujamah: Pantai Losari. Namanya: Jalan Rajawali.

Menjelang pukul 06.30, saya berangkat dari Kompleks Hartaco Indah. Perjalananku dengan mengendarai motor menghabiskan waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Kami melewati sejumlah rombongan pejalan kaki dan pesepeda yang juga akan menuju ke sana. Ada pula yang berlari-lari kecil. Ciri khas mereka  rerata hampir sama dengan yang lainnya.

Mengenakan training, jersey, topi, handuk kecil melingkar di leher, dan tak lupa air mineral yang selalu sedia dalam genggaman. Yang memilih untuk bepergian sendirian pun tidak kalah antusiasnya. Mereka juga terlihat menikmatinya, memasang headphone dan mendengarkan musik favorit sambil menikmati suasana pagi.

Anjungan Pantai Losari, sepertinya menjadi kiblat bagi pencari hiburan dan refreshing singkat di akhir pekan bagi warga kota. Ini ruang publik yang khas. Saking menariknya mungkin, Jayasuprana pernah mengulas Pantai Losari dalam sebuah opininya di Kompas. Bagaimana tidak? ketika itu ia sedang berada di lantai sekian dari sebuah hotel tempatnya menginap. Lokasinya memang berada persis di hadapan keramaian anjungan pantai. Hehe…terima kasih Om, telah mengenalkan tempat ini ke seluruh penjuru Indonesia.

Tempat ini milik publik dan digunakan untuk kepentingan publik.  Meskipun pada pukul 10.00, jalur ini dibuka kembali untuk kendaraan bermotor. Sebelum waktu itu, kendaraan yang boleh masuk hanya sepeda. Tidak dengan yang lain.

Mau sekedar ber -“happy and enjoy.” Silahkan datang kemari! hehe…


Rajawali oh…Rajawali.

Motor kuparkir depan sebuah gedung yang kelihatannya sengaja dikosongkan. Masih sedikit yang parkir. Kami tidak tahu difungsikan sebagai apa sebelumnya gedung itu. Dibiarkan saja berdebu tanpa pernah kelihatannya dibersihkan bagian halaman depannya.

Ahhh, di sini sajalah.” kataku singkat.
Ya, kelihatannya cukup aman.” temanku menimpali.

Biarlah, yang penting motor kami tetap aman meskipun jauh dari jangkauan penglihatan tukang parkir dadakan yang harus dibayar jasanya setelah ini. Sebenarnya, jalan ini memang tidak boleh dijadikan areal parkir secara keseluruhan. Kecuali lahan parkir milik TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Rajawali. Juga beberapa meter sepadan jalan untuk parkir pengunjung pasar tradisional. Tapi, apa boleh buat, semaunya serba dibenarkan jika kalender di rumah telah menunjuk di hari Sabtu dan Minggu.

Setidaknya, petugas parkir ‘mendadak’ ini berjasa karena telah mengamankan motor dan mobil milik warga. Kalau dihitung-hitung, penghasilan mereka lumayan juga di hari minggu. Saya perkirakan, jaraknya mencapai 200-an meter memanjang ke arah anjungan. Praktis, jalan Rajawali menjadi areal parkir motor dan mobil di sisi kiri maupun kanannya. Setoran parkir pun meningkat secara drastis di dua hari ‘besar’ itu.

Jalan Rajawali memang lokasi paling ramai dilalui masyarakat kota untuk segera sampai di Pantai Losari di hari Minggu pagi. Kecuali, dari Jalan Haji Bau (di bilangan jalan inilah Pak Jusuf Kalla tinggal) dan arah jalan Somba Opu-pusat penjualan oleh-oleh Khas Makassar dan Sulawesi Selatan-yang tidak terkena imbas kemacetan manusia, dan kemacetan kendaraan.

Bagian depan TPI Rajawali sudah hampir berdekatan dengan “car free zone.” Terlihat telah ada petugas dari Dinas Perhubungan dan Polantas telah berjaga-jaga. Sampai di situ, mobil dan motor masih harus saling bergesek untuk dapat keluar dari belitan kemacetan.

Jalan Rajawali adalah kulminasi dari semuanya. Pejalan kaki, pesepeda, pengendara motor, pengendara mobil, truk angkut barang, pedagang ikan yang telah lelah berjubel sepagi ini. Aku pikir disinilah rasa keseimbangan dan saling menghormati tercipta.

Para pemangku kegiatan ekonomi di TPI, harus rela pula berjumpalitan kiri kanan karena macet. Jalan mereka dihadang oleh ratusan bahkan hampir seribuan orang yang akan menuju arus utama di Pantai Losari. Harus selalu sabar. Atau larut dalam keceriaan dan kegembiraan di hari Minggu pagi yang selalu cerah. Padahal, mereka yang tidak lain adalah para pa’balu juku (Makassar: penjual ikan) harus segera  memasarkan ikannya yang baru saja diperolehnya dari transaksi dengan nelayan yang baru tiba melaut.

Begitu pula sebaliknya. Warga urban yang memang hanya datang untuk berjalan-jalan.  Menikmati fasilitas jogging gratis. Atau sekedar bermain Banana Boat bersama keluarga. Semuanya harus menikmati kerelaan itu: berjubel riuh di Jalan Rajawali. Membentuk pola asimetris namun tampak ciamik.

Hembusan Anging Mamiri Pantai Losari menyejukkan hati semua pihak. Inilah tempat yang menjadi kebanggan warga Makassar. Anda mau Direktur atau rakyat jelata,  sama-sama berkehendak menikmati pagi di anjungan Losari. Semua berbaur dalam keriuhan yang tidak biasa.

Sore yang indah dan cerah di Pantai Losari


Keluar dari Rajawali

Meskipun begitu, jalan ini menjadi satu-satunya tempat saya sering memarkir kendaraan jika ingin mencari sedikit hiburan di tempat yang katanya adalah Centre Point of Indonesia. Siapa yang mengatakan? Itu hasil promosi Kota Makassar yang gencar dilakukan pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariswisata.

Katanya, ini hasil perhitungan. Dengan kata lain, titik tengah Indonesia ada di: Pantai Losari. Liat saja nanti. Ada proyek bangunan megah yang akan segera direalisasikan. Tapi, mudah-mudahan tidak menimbulkan kekacauan ekosistem pantai. Yang lebih penting lagi, adalah menjaga penghormatan terhadap fungsinya sebagai ruang publik. Selamanya akan menjadi milik publik.

Kami kemudian kembali berjalan. Menapaki kembali sisa jalan Rajawali yang terhubung langsung dengan Pantai Losari. Himpitan dan desak-desakan tidak dapat terelakkan lagi. Saya bergabung dengan limpahan manusia. Hampir setiap jengkal jalan ini disesaki oleh kaki-kaki yang tidak bisa lagi kompromi untuk mendesak orang didepannya untuk berjalan lebih cepat.

Semua warga harus bersabar untuk bisa sampai di Jalan Penghibur yang dikhususkan untuk pejalan kaki dan pesepeda. Sangat memungkinkan seorang anak bisa hilang di tengah hiruk pikuk sekali sepekan ini. Bukan sekali saya melihat orang tua yang berhenti tiba-tiba karena menyadari anaknya sudah tidak berada dalam jangkauan.

Saya berusaha mempercepat langkah, mengimbangi langkah teman yang juga mencoba untuk menerobos. Dari jarak 20 meteran, Pantai Losari terlihat sangat ramai. Sesekali kami terhenti total di tengah jalan. Situasi ini sendiri kurang mengenakkan karena bisa saja saling senggol yang mengakibatkan ketersinggungan di satu pihak. Pokoknya sangat tidak mengenakkan.

 Tapi akhirnya, kami berhasi sampai di ujung jalan. Lega rasanya…
Anging Mamiri, datanglah berhembus padaku.
Kau akan kuresapi dengan diam tapi penuh rasa senang yang dalam.

Milik ta’ semua itu Pantai Losari. Jagaki baek-baek.” 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s