Dendam (Aku dan Kami) Untuk “Risalah Rindu”

Komunita Daeng Blogger Makassar “Resolusi – Revolusi”

Kau tau kawan, ada sedikit lompatan nasib yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini. Terkhusus untukku pribadi. Istilah yang punya makna konotatif: Aku terlalu masih amatiran untuk bisa mewujudkannya. Tergopoh-gopoh menggapai semuanya. Hal yang semula terasa begitu aneh dan terasa tidak wajar untuk bisa dengan lekas terjadi: menerbitkan sebuah buku. Tapi sudahlah, segalanya telah lewat.

Sesuatu yang ajaib terjadi.

Sejak tiga bulan lalu, tidak ada karya puisi. Kenapa saya mesti memperingan kata jika bisa memanjangkannya lewat deksripsi? Tapi sekarang, bukan hanya puisi yang Aku (kami) punya, tapi sebuah buku Antologi Puisi. Tidak berbayang sama sekali. Anak tangga betul telah kulampaui beberapa. Tanpa melewati tahapan yang mencengangkan sekaligus melelahkan.

Bukan mantra simsalabim abrakadabra yang mewujudkannya, tapi keinginan kuat, motivasi, serta energi yang luar biasa. Maka, terjadilah akhir yang sedikit banyak  membahagiakan kami. Saya, Ma’ruf M Noor (founder Komunitas Daeng Blogger Makassar), dan semua penulis turut merayakannya.

Aku mencoba mengingat-ingat kembali apa yang pernah dibicarakan dan dicanangkan sejak awal. Meruntuhkan block mental yang sementara mengkarut. Bahwa menerbitkan buku dalam waktu dekat (kurang dari dua bulan) adalah sesuatu yang agak mustahil. Semua sudah disuratkan oleh Allah si pemilik kuasa takdir dan jalan hidup semua makhluk di permukaan bumi. Buku Antologi Puisi dengan judul “Risalah Rindu” ini telah terbit. Akan launching bulan depan. Entah di mana diadakan, kami tinggal terbingung sendiri.

“Risalah Rindu” hanyalah merupakan salah satu judul puisi dalam antologi karya tersebut. Sebagaimana antologi pada umumnya. Namun, judul itu juga merupakan sehelai benang merah yang saling menjalin dengan benang-benang homogen berwarna dan beraroma sama.

Sehelai benang berwarna merah itu adalah tanda yang paling konkret. Jika diamati dan kita cecap, kejelasan tersebut adalah kerinduan yang beraroma harum dan manis.Manis, oleh sebab inilah masa gilang gemilang penulis untuk merasakan pertautan kerinduan terhadap -apapun objeknya- dengan sebuah aksara. Mereka muda, dan punya keteguhan untuk senantiasa berkarya meskipun hanya untuk konsumsi pribadi.

Tapi keyakinan kami atas perlakuan karya-karya istimewa dari para penulis dengan menempatkan puisi-puisi itu dalam media blog, mewujudkan presisi prediksi kami yang hampir benar. Mereka jelas tidak ingin menikmati sendiri alias (sekali lagi) konsumsi pribadi pengalihan kegiatan semata.

Tentulah karya-karya tersebut dimaksudkan untuk dibaca oleh setiap orang yang pernah atau berkenan melakukan blog walking di wilayah ‘privat’ mereka yang dipenuhi karya aksara yang ter-update. Karya-karya mereka laik untuk diperlihatkan dalam bentuk yang lebih massif ketimbang dibaca secara online atau offline melalui media mondial: internet.

Direncanakanlah, disaling-rembukkanlah, digagaslah, direncanakan lagi, dan dilaksanakanah misi yang kami anggap tidak mungkin ini.

Terkadang, hidup ini perlu dibenturkan. Ada saat, kita belum tahu apa-apa, tapi ingin sekali mewujudkannya. Pertemuan kami dengan perbenturan-perbenturan ini jelas harus dan memang selayaknya harus ada. Mulai persiapan buku, semenjak problem content, penerbit, hingga cover buku yang dikerjakan swadaya.

Perbenturan ini sejatinya akan semakin meluaskan penampang selubung myelin yang melintang di bentangan otak manusia. Hal ini sudah barang tentu tentunya semakin mengasah kepekaaan dan kemampuan segenap penulis dalam meneruskan lebih jauh apa yang diperoleh sejauh ini. Tidak hanya berpikir tentang sebuah buku, tapi doing something more and more.

Apakah Kau melihat batas itu? Bagi kami, batas adalah kata yang agak sulit dipahami dan kami terima. Meskipun sekali lagi, berakhir dan berbatas disinilah segala usaha yang dimantapkan dan ditegakkan moncongnya sejak permulaan.

Walter Lipmann (dalam esainya di kolom Today and Tomorrow) “…semua tergantung bagaimana kita secara kena mengukur kekuatan kita, dan bagaimana secara benar melihat kemungkinan-kemungkinan dalam keterbatasannya.” Inilah batas yang kami maksud itu. Lahirnya sebuah karya yang merisalah yang ditemukan dalam pelbagai ketidakmungkinan. Risalah bagi semuanya (public). Tidak ada lagi yang lebih penting selain publik. Publik juga Anda sendiri bukan?

Semangat! Ganbaru…

Oleh karenanya, bersalinlah sebuah karya yang dimimpikan selama kurang lebih dua bulan lamanya. Berbagai perasaan campur aduk dalam sebuah melting pot: Risalah Rindu.

Sebagian karena dendam membuat benda bernama: Buku. Sebagian lagi karena merasa harus mengumpulkan karya meski dua hingga tiga orang dari penulis memang “calon penulis muda” sejak awal. Sampai-sampai ada yang telah menerbitkan dua buah buku: Wahyu Desi Natalia.

Terjunnya “calon penulis muda” ini untuk turut serta memasukkan naskah, berarti ada support injeksi motivasi menulis secara konstruktif yang diberikan kepada penulis pemula seperti kami.

Suatu ketika di malam Senin pertengahan Juni, di malam penutupan MIWF (Makassar Internasional Writers Festival) 2012 di pelaksaannnya yang kedua kalinya. Festival alternative untuk pertemuan penulis dan sastrawan dunia terbesar di negeri ini selain Ubud Writers and Festival.

Dua orang dari penulis pemula –Ainun Najib Alfatih dan Akhmad Syaputra Syarif- turut ber-festival dengan membacakan puisi di atas panggung yang demikian artistik. Penampilan mereka pun ciamik. Tepuk riuh memeriahkan lapangan tengah Fort Rotterdam yang disulap menjadi arena ber-festival.

Lantaskah mereka malu di tengah-tengah para pencinta dan penikmat sastra puisi? Kenapa mereka begitu bergairah dengan pembacaan puisi di bawah kelamnya langit Makassar yang  jarang cahaya bintang memancar berpencar? Kenapa mereka terlalu percaya diri membawakan puisi yang bisa jadi itu adalah satu-satunya karya mereka –atau mungkin itu karya perdana mereka-?

Dan sejumlah pertanyaan lain yang akan terus kami lontarkan karena tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Alasannya hanya ini kutaksir: mereka sedang galak-galaknya mencari cara menelorkan puisi dan sajak yang dapat menggema menggaung. Tersebab, naskah “Risalah Rindu” saat itu masih kekurangan deadline halaman.

Beruntung bukan malam sebelumnya mereka tampil dengan hadirnya salah satu penonton festival yang bernama Ahmad Tohari (penulis Ronggeng Dukuh Paruk yang terkenal itu).

Dua puluh tiga penulis dalam antologi puisi “Risalah Rindu.” Sejumlah penulis bahkan rela berdingin-dingin diterpa angin laut Pantai Losari yang berhembus mengendus untuk ikut ber-festival sastra.  Membuat lengan dan tengkuk menjadi semakin dingin. Obor yang diletakkan melingkar di area penonton panggung utama festival, tidak menjadi penghangat yang signifikan.

Tapi lebih bertujuan menghadirkan nuansa romantisme dan melankoli. Demi menggairahkan ide lebih banyak muncul dari kegiatan ini. Meruntuhkan bahwa sastra adalah pemilik para begawan bahasa: si pemilik kelihaian ber-aksara dan berekspresi secara  tertulis. Keindahan menjadi unsur penting dalam festival sastra.

Begitulah sastra dalam arti yang juga sebenarnya: di benak para pemujanya. Para pemuja aksara. “Kehidupan dan kepenulisan mereka di petak dalam lingkungan di mana seni dan pengalaman tentang keindahan diletakkan begitu penting dalam hidup manusia.” kata Goenawan Mohamad.

Zona keindahan dan manisnya kerinduan telah menghantui para penulis semenjak dan setelah berfestival sastra. Kami beruntung bisa diselenggarakan di Makassar. Puisi dan sajak terkumpul. Draft puisi akhirnya dikirim ke penerbit, dan “Risalah Rindu” sungguh-sungguh terbayarkan. Jerih payah ini rupanya tidak sia-sia, akan ada ‘revolusi dan resolusi’ (meminjam istilah Ma’ruf M Noor) lanjutan untuk menggelontorkan Book Project II oleh Komunitas Daeng Blogger.

Semangatnya yang tinggi untuk tetap berkarya dan menulis dari saudara Ma’ruf M Noor mengingatkan Kami pada tokoh “Aku” Chairil Anwar yang menyepak menerjang membawa luka dan bisa berlari, dan ingin hidup seribu tahun lagi. Ini menguntungkan bagi penulis di Komunitas Daeng Blogger dengan hadirnya sosok brilian dan pekerja keras satu ini.

Atau pula sosok “Aku” dalam novel Sult (Hunger, Lapar: Bhs Indonesia) oleh Knut Hamsun. Peraih Nobel Kesusastraan tahun 1920 yang dengan gigih mempertahankan prinsip dan nilai hidup yang diyakininya mekipun ditempa oleh getirnya kehidupan. Sosok “Aku” masih tetap menulis dan terus saja menulis.

Nah, sekarang, mari berefleksi.

“Sebuah dendam pada sejarah (Fahd Djibran)” inilah yang akan menyelamatkan kita dari olok-olokan ponakan lucu yang lebih mengenal orang lain daripada pamannya sendiri tatkala raganya musnah ditelan rayap. Atau perihnya hati ketika cucu lebih mengenal Soekarno lewat tulisannya (Di Bawah Bendera Revolusi: kumpulan pidato Soekarno) daripada kakeknya sendiri. Hanya karena Ia tidak meninggalkan alamat berupa tulisan.

“Jangan sekali-kali menyembah aksara” Soekarno.
Silahkan berkontemplasi.
Selamat membaca,…silahkan menikmati labirin kerinduan: Aku dan Kami.

Sampul Depan Antologi Puisi “Risalah Rindu”
Advertisements

7 thoughts on “Dendam (Aku dan Kami) Untuk “Risalah Rindu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s