Anak Muda Memaknai Kemanusiaan

Posted: August 21, 2012 in Opini
Tags: , , , ,

Summer School Ala KontraS: SeHAMA *adiktif untuk anak muda

Pada tanggal 23 Juni hingga 13 Juli 2012 lalu, SeHAMA (Sekolah Hak Asasi Manusia untuk Mahasiswa) dilaksanakan untuk keempat kalinya semenjak 2009 silam. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada anak-anak muda terhadap perspektif hak-hak asasi dalam menyikapi isu-isu kemanusiaan kontemporer.

Tahun ini jumlah peserta SeHAMA IV sebanyak 28 mahasiswa yang tersebar dari berbagai kampus diseluruh Indonesia. Plus seorang mahasiswa bernama Adelio Da Costa Fernandes dari Universitas Nasional Lorosa’e utusan negara Timor Leste.

Kegiatan serupa Summer School tersebut dilaksanakan oleh KontraS (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) berkerjasama dengan Kedutaan Besar Swiss, Kedutaan Besar Norwegia, Yayasan Tifa, dan Hivos.

Sekolah HAM ini mengambil tempat di Jalan Borobudur 14 Menteng Jakarta Pusat, yang tidak lain adalah Kantor KontraS. Ruang Pameran utama segera saja disulap menjadi ruang kelas.

Pembukaan dilaksanakan di Goethe Hauss, Jakarta. Hadir Mardiyah Chamim (Direktur Tempo Institute), Usman hamid (pendiri change.org dan aktivis HAM), dan Pandji Pragiwaksono (penulis, presenter, stand up comedian). Semua narasumber menekankan pentingnya media sosial dan signifikansinya yang besar dan positif pada perubahan masyarakat di Indonesia dan juga di dunia.

Selama 21 hari lamanya peserta dibekali dengan prinsip-prinsip universalisme HAM, lalu bagaimana metode kampanye HAM secara populer agar peserta bisa terus menyuarakan agenda-agenda hak asasi manusia secara lebih meluas.

Terhubung Mendukung HAM

Hal ini tidak bisa dipungkiri. Anak muda menjadi netizen media sosial yang paling aktif. Oleh karena itulah SeHAMA IV dirancang dengan  mengambil tema besar “Anak Muda, HAM, dan Sosial Media” melalui  tagline “Kita Terhubung Mendukung HAM.” Di tengah arus mondialisasi, media sosial mewujud menjadi sarana paling ampuh untuk menyebarkan informasi yang efektif, murah, dan pastinya efisien.

“Sehingga, peserta dituntut untuk memiliki kepekaan sosial yang tinggi untuk turut serta dalam menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan  di ruang virtual. Kemudian nantinya, setelah lepas dari SeHAMA, mereka diharapkan juga bisa menggaungkan nilai itu kembali  di tengah-tengah masyarakat”

Apapun profesi kalian nantinyakata Kepala Sekolah SeHAMA IV Papang S. Hidayat di sela-sela kegiatan.

Adapun untuk isu-isu HAM kontemporer, selain diceramahkan di ruang kelas, penyajiannya di luar kelas juga dilakukan secara intens. Antara lain  melalui movie screening, kunjungan ke instansi negara dan internasional, mengikuti Aksi Hitam Diam Kamisan, dan  diskusi lepas seluruh peserta dan para Panitia SeHAMA di kala senggang, serta aktivitas kebersamaan lainnya  yang menjunjung nilai-nilai humanisme.

Isu-isu HAM kontemporer yang dimaksudkan adalah hak atas berkeyakinan, beragama, dan beribadah; kebebasan berkespresi; gender dan HAM; HAM dan Sosial Media; reformasi sektor keamanan; politik lingkungan hidup dan HAM.

Live In (Pemantauan)

Kegiatan di kelas dan luar kelas tidak kalah serunya. Selama tiga hari penuh, peserta mengikuti kegiatan Live In (pemantauan) yang tempatnya tersebar di penjuru Jakarta. Mereka bertemu dengan masyarakat korban pelanggaran HAM dan beberapa komunitas masyarakat yang juga rentan.

Peserta dibagi dalam lima kelompok dengan lokasi yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya adalah masyarakat kolong jembatan dan Flyover Kali Ciliwung Kampung Melayu, masyarakat Tembok Bolong, dan Komunitas Punk “Taring Babi.”

Setiap kelompok harus membuat laporan yang diperoleh dari hasil wawancara dan sejumlah observasi, membuat video ringkas untuk di- upload ke situs video sharing, membuat ringkasan pemantauan di blog, sampai membuat status di media sosial yang harus terus di-update dengan hastag dan mention tertentu.

Akhirnya setelah tiga pekan berkegiatan, digagaslah sebentuk wadah dengan nama “Gerakan Muda Untuk HAM.” Memaknai kemanusiaan berarti turut memaknai Indonesia yang beragam” tutur Muhammad Afif, peserta SeHAMA dari Universitas Hasanuddin. Sebuah melting pot bagi alumni SeHAMA IV untuk terus tetap terhubung mendukung dan menyurakan nilai-nilai kebaikan atas nama kemanusiaan dan hak asasi manusia.

Ini beberapa foto terkait kegiatan SeHAMA IV.  

Depan Katedral Jakarta bersama Prof Musdah Mulia dan Romo Yohanes

Bersama kawan di Goethe Haus.

Rutinitas Kami setiap Kamis Sore: Aksi Depan Istana Negara (Kamisan)

Beranda Kantor KontraS. Salam Borubudur 14!

Kebiasaanku yang paling baik: Tidur di kelas. Tidak ada uang beli kopi.

Ke Desa Sarongge untuk Hiking di Gunung Gede sewaktu Foke Bertarung

Jreeeng…..ini souvenir KontraS. Yang mau beli, hubungi saya ya. hehe…

Advertisements
Comments
  1. mr.f says:

    wihhh, luar biasa!!!

    Like

  2. mujahidzulfadli says:

    hahaha….*menertawai diri sendiri yang sering tidur di kelas.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s