Jakarta: Yang Adil Yang Humanis!

Posted: August 30, 2012 in Lomba Blog, Opini
Tags:

Kemacetan di salah satu sudut Jakarta…

Seperti laiknya ibu kota di seluruh dunia, saya pun mengesankan bahwa Jakarta tidak hanya dihuni suku Betawi dan para pelaku urban dari Sabang hingga Merauke.

Ada pula Suku Kamoro yang awal Agustus ini berkegiatan di Bentara Budaya Jakarta. Bahkan etnis Rohingnya Myanmar di Jakarta yang sedang mencari suaka. Sebuah kota dengan tingkat kemajemukan yang sangat tinggi. Maka setidaknya, Jakarta harus menjadi laku yang adil bagi semua warganya.

Mau liat buktinya? Dalam jajak pendapat harian Kompas pertengahan Agustus, menunjukkan 51,3 persen (lebih dari separuh representasi) masyarakat Jakarta  menginginkan kotanya dibentuk sebagai kota yang humanis dan peduli.

Apakah ini unjuk keprihatinan warga Jakarta akan eskalasi pelanggaran kemanusiaan yang terjadi di Indonesia? Mungkin saja. Namun pelajaran paling berarti adalah kerusuhan rasial pertengahan 1997-1998 silam. Malah minggu kemarin: di Sampang Madura, kelompok Syiah diserang dan dibakar rumahnya oleh kelompok anti Syiah. Berulang lagi…

Kita tidak ingin hal yang sama terjadi lagi di Jakarta.

Oleh karenanya, pasangan Foke-Nara dan Jokowi-Ahok –siapun yang menjadi Gubernur DKI Jakarta nantinya- sejatinya memerhatikan aspirasi warga tersebut.

Hal konkret yang bisa kita lihat adalah laporan analisis di media sosial. PoliticaWave melansir pada Juni lalu terkait Keyword Mapping yang dimiliki digunakan oleh kandidat dalam kampanyenya.

Sebagai perbandingan, kubu Foke-Nara menggunakan ‘pasar, melekat, melepas, kotor, membuka, kembali, jorok, berharap, kumuh, cuti, kampanye, tim, dan cagub’. Terlihat, mereka sering menyinggung kepedulian terhadap isu-isu sosial. Sementara pasangan Jokowi-Ahok memilih: ‘melakukan, menyambangi, selamat, mengunjungi, menjabat, Solo, pilih, sukses, Gubernur, dukung.

Apa yang mereka lakukan di lapangan saat berkampanye dengan keyword tersebut, terbukti signifikan dengan perolehan suara mereka di sosmed (sosial media) khususnya Twitter dan Google Buzz.

Raihan kategori ‘Share of Awareness’ Foke dengan angka 37891 menandingi Jokowi yang hanya 32.449. Begitu pula dalam kategori ‘Media Trend’ di mana Foke menembus 37.727 dan Jokowi hanya 32.265. ‘Link Trend’ dan Retweet Trend’  Foke-Nara selalu mengungguli pasangan Jokowi-Ahok.

Lembaga analisis politik media, semisal PoliticaWave hendaknya memerhatikan isu sosial dan kemanusiaan sebagai kategori yang baru. Masyarakat netizen jeli melihat perkembangan situasi yang ada. Sebab demokrasi harus melibatkan partisipasi masyarakat. Partisipasi mereka adalah memberikan respon di media sosial media.

Luapan kata hanya sekedar susunan huruf yang diucap tanpa maksud, bila tidak diiringi dengan perbuatan. Sekali lagi, Jakarta memang harus menjadi lebih adil dan humanis….

Referensi:

1. PoliticaWave. Jakarta Governor Election 2012 ‘Social Media Monitoring Periode 11-17 Juni 2012
2. Senin / 27 Agustus 2012. Jajak Pendapat Kompas “Rasionalitas untuk Jakarta Yang Humanis”  periode 13-15 Agustus 2012

Advertisements
Comments
  1. […] Nama : Mujahid Zulfadli Aulia Rahman URL : Jakarta: Yang Adil Yang Humanis! Twitter : […]

    Like

  2. mr.f says:

    pilgub jakarta hanya momentum narsis-narsisan dan tempat sampah bagi triliunan anggaran pemilukada.

    jakarta tercipta tidak untuk rusuh dan kumuh. jakarta adalah tanah harapan kaum urban. area pertarungan kemampuan dan keberuntungan. tempat hidup lama dan kematian yang sia-sia.

    Like

    • mujahidzulfadli says:

      haha…sepakat kanda. Partai pengusung kedua calon memang bertarung UANG. Mungkin habis-habisan sebagai dana kampanye. Dan dana itu bukan tidak mungkin akan dikembalikan, siapapun pemenangnya. Jadi, semacam kontrak politik untuk mementingkan Partai jika ia menang nanti. Rakyat: dikesampingkan. haha…*semoga tidak sepenuhnya benar.

      haha…cocok sekali kak. Saya tinggal di kolong jembatan Kampung Melayu Jakarta Timur selama tiga hari. Mereka hanya diperhatikan sebagai warga kelas bawah yang diperhatikan jika saat kampanye tiba. haha…*sangar.

      Perilaku urban tidak jadi momok ketika Jakarta mampu dipoles dengan baik oleh pemerintah. Biar bagaimanapun, jika terjadi apa-apa, Jakarta langsung menjadi sorotan nasional dan internasional terkait posisinya sebagai Ibu Kota Negara.

      Mauki’ mengadu nasib ke sana kak? “Jakarta adalah guru yang baik” kata mereka yang telah sukses. haha…cobami kak. haha….

      terima kasih komentarnya kanda.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s