Yagi: Teladan Bencana Jepang

Posted: September 5, 2012 in Opini, Reportase
Tags: , , , ,

Tentara Jepang berdoa di hadapan sekian dari 18.000 korban Tsunami…

terbang hujan, ungkai badai,
terendam karam,
runtuh ripuk tanamanmu rampak
……
manusia kecil lintang pukang
lari terbang jatuh duduk
air naik tetap terus
tumbang bungkar pokok purba

Amir Hamzah melukiskan kondisi manusia saat alam menjadi ganas
(“Catatan Pinggir” Goenawan Mohamad Edisi 8: 233)

*****
Perawakannya tegap, dengan rambut dibelah di bagian tengah. Alisnya agak tebal berbeda dengan khas orang Jepang pada umumnya. Kulitnya putih bersama bias kecoklatan. Pekerjaannya sebagai nelayan, membuat dirinya kian terbiasa terkena sengat kuat matahari.

Tampak sekilas, gelagatnya menunjukkan semangatnya. Tipikal orang yang tidak bisa diam barang sejenak. Baginya, tidak ada pekerjaan yang tidak mungkin diselesaikan jika semua orang turut membantu. Kebanyakan akan sulit kita percaya bahwa dialah pemuda rendah hati yang mampu membangkitkan kembali semangat dan tekad para nelayan Ofunato untuk kembali melaut.

Setelah Jepang timur laut dihantam gempa, tempat tinggalnya di Ofunato luluh lantak diterjang garang gelombang raksasa. Termasuk kantor kecil yang ia dirikan bersama temannya. Sebuah ruangan kecil bagi perusahaannya untuk memasarkan secara online hasil tangkapan nelayan Ofunato. Tsunami tiba, entah apa yang bersisa….

Namanya: Kenichiro Yagi. Berasal dari Tokyo namun memutuskan tinggal di Ofunato. Sanriku Toretate Market Co. (fresh form the sea) selepas tsunami, tak terjamah lagi. Apa yang bisa dijual kepada warga jika ikan dan hasil laut tak ada? Tak ada perahu…

 Efek traumatik bertakhta. Tidak satupun nelayan mau dan berani pergi melaut.

Kau dapat melihat sendiri seperti apa kelihatannya….ini bagikan dunia yang mau kiamat
tutur Yoshuyuki Kumagai –tetua nelayan Ofunato.

Ofunato adalah kota pesisir di Perfektur Iwate. Sistem peringatan dini akan tsunami, tidak berarti harta nelayan bisa selamat. Sebab bagi mereka, perahu dan jaring melautlah harta yang paling berharga. 572 kapal nelayan hanyut dan hancur…

Praktis, Kenichiro Yagi dan semua nelayan Ofunato berhenti melaut. Mau bagaimana lagi. Puing-puing sisa gulungan ombak terseret arus ke pantai lepas. Kondisi tidak jauh beda dengan dermaga dan pelabuhan. Kotor dan penuh sampah dan rongsokan yang tergolong berat. Hanya alat eksavasi yang bisa membuatnya tersingkir.

Kembali Ke Laut…

Kenichiro Yagi (34 tahun)

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyingkirkan puing-puing itu. Yagi memanggil kawan-kawannya sesama nelayan untuk segera bangkit dan tidak putus asa. Termasuk tetua Yoshiyuki Kumagai.

Waktu satu bulan dirasa kurang. Belum semuanya terangkut. Nelayan lebih memilih untuk bersabar dan tidak menampakkan kesedihan yang mendalam. Kuasa Tuhan mendahului keinginan mereka.

Biaya mengangkut puing-puing itu tidak sedikit. Beruntunglah, sering para relawan dari luar Ofunato datang mengunjungi mereka. Makan, menyanyi, dan gembira bersama. Sungguh menghibur para warga yang tinggal di pengungsian.

Yagi banyak bertemu dan bercakap dengan nelayan yang memiliki pengalaman melaut.  Mereka berdiskusi, mendengarkan saran, menerima argumentasi, dan pastinya melakukan aksi nyata. Bagaimanapun, Ofunato adalah tempat ikan bersarang. Ekonomi mereka sangat bergantung pada hasil laut yang melimpah.

Betapa usaha itu membuahkan hasil. Dia berhasil meyakinkan nelayan setempat. Mereka kembali membangun Sanriku Toretate Market Co. dari puing-puing. Situs online penjualan ikan segar Ofunato diaktifkan kembali. Seluruh perlengkapan melaut dipersiapkan meskipun rongsokan di laut masih tersisa banyak. Nelayan antusias…

Saat-saat yang mengharukan pun tiba: M E L A U T. Media turut meliput. Untuk kali pertama pada 11 April 2011 di pagi yang buta, sekitar pukul lima waktu setempat.  Mereka kembali melaut. Tepat sebulan dari nasib kelam nan bersejarah bagi Jepang.

Yagi berada di atas kapal dan mencoba ke haluan. Jala dilemparkan…

Yagi dan begitupun Kumagai, mewakili seluruh warga Jepang di sana, lantas tidak beigitu saja terus-terusan berada di tubir jurang nasib buruk yang akan menyengsarakan mereka. Jala diangkat…

Laut Ofunato menyiapkan mereka ikan yang siap mereka pasarkan kapan saja nelayan membutuhkannya. Ternyata, ikan-ikan ini masuk sendiri ke dalam jaring. Begitu kata sebagian nelayan. Selama lima jam melaut, mereka mendapatkan ikan dalam jumlah yang besar. Dalam bobot yang besar pula.

Gembira yang tak terperikan terpancar dari wajah-wajah  nelayan yang ikut melaut pertama kali sejak sebulan silam. Satu persatu, mereka saling berpelukan dengan erat.

Perahu ditambatkan di dermaga. Gelaran hasil laut dimulai…

Yagi memotret ikan hasil yang baru saja selesai ditangkap oleh para nelayan. Kemudian di upload ke situs. Hanya dalam tempo setengah jam setelah diposting, 31 total tangkapan ikan ludes terjual. Jangkar dilepas, gayung bersambut bergegas.

 “yang kami butuhkan bukan perahu, dana, dan fasilitas,” ujar Yagi bersemangat.
“tetapi harapan” katanya mengakhiri.

Pelajaran Untuk Indonesia…

Kisah Yagi di atas, tergambar dengan sangat baik dalam “Gareki no Naka Kara no Saishukko”  atau “Setting Sails from the Ruins” –Bangkit dari Puing Kembali Menuju Laut. Film sejatinya adalah produk budaya. Budaya diketahui dari peniscayaan perilaku masyarakat dalam keseharian. Sajian yang mencerminkan semangat ganbaru di Ofunato, Jepang.

Film dokumenter produksi Japan Foundation dan NHK ini pertama kali diputar di Indonesia, tepatnya di acara Makassar SEAScreen (South East Asean Screen) Academy 2012. Di sebuah malam dingin di Aula Fort Rotterdam pada Rabu pekan lalu.

Sebuah kegiatan yang sekaligus menandai peresmian berdirinya Rumata’ ArtSpace sebagai ruang kreatif dan rumah budaya di Makassar. Mira Lesmana dan Riri Riza turut hadir memeriahkan movie screening yang diadakan malam hari itu.

Film ini dapat menjadi pelajaran penting. Sebuah pemandangan yang bertaut erat dengan semangat pantang menyerah, tekad yang kuat, dan kerja sama yang terjalin dengan sangat baik. Singkat, hanya 30 menit. Namun, semua usaha dan kerja keras nelayan Ofunato terangkum apik. Tiga bulan pasca bencana: Ofunato bangkit…

Ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita peroleh melalui film ini, terutama semangat pantang menyerah masyarakat Jepang. Baru saja sebulan terkena bencana gempa dan tsunami, tetapi kesedihan berlebihan tidak menghantui raut wajah mereka.

Bahkan belum hilang dari ingatan: 220 warga Ofunato tewas dilimbur bencana dan 500 distrik rusak parah. Fokus Yagi dan semua nelayan: bagaimana bertahan, lalu bangkit, kemudian memusatkan potensi ke laut. Mungkin masih banyak lagi Yagi-Yagi lain yang tersebar seantero negeri Sakura pasca tsunami. Semangat dan harapannya masih besar tatkala mereka tidak lagi memiliki apa-apa tersebab bencana.

Sesuatu yang menurut saya sedemikian menggugah dan patut ditiru di tengah modernitas Jepang. Modernitas yang selalu tergoda oleh kecepatan, terbujuk hasrat menjulang, dan dengan agresif menjangkau. Semua perubahan yang kasat mata ada di sana. Namun bersyukurlah, Jepang punya masyarakat yang senantiasa terjaga dalam budaya dan tradisi.

Urusan pemerintah tetap jadi kewajiban pemerintah, warga tetaplah menjadi warga yang baik, individu teguh seutuhnya menuju individu yang memberikan teladan. Akibatnya: 20 juta Yen mengalir ke Ofunato untuk difungsikan kembali. Ofunato bangkit, Jepang pun bangkit…

Seperti halnya Jepang, di Indonesia saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kita punya sederetan nama. Tsunami di Aceh dan Gempa di Jogja misalnya. Inisitatif pemulihan pasca bencana telah dilakukan oleh warga setempat. Hanya saja nama-nama pembawa perubahan itu, belum diangkat ke permukaan dan dijadikan pelajaran bagi semuanya. Film dokumenter bisa merupakan satu alternatif.

Di Indonesia, motivasi dan semangat positif seperti itu harus dibentuk. Ketika terjadi bencana, media di Indonesia kesannya hanya membesarkan kisah sedih. Angle yang saya pikir cuma mementingkan tiras. Tidak berimbang.

Yagi adalah pemimpi yang juga pemimpi(n) bangkitnya nelayan di Ofunato. Jika Anda mencari seorang pemimpin, lihatlah apa yang ia telah lakukan, bukan apa yang akan ia lakukan. Seorang pemimpin adalah seorang teladan. Ia mampu mengeluarkan seluruh performa terbaiknya di saat-saat sulit dan menghimpit.

Pada akhirnya, pemimpin bekerja untuk semua. Yagi misalnya, segalanya demi kepentingan bersama. Berhasil atau tidak, semangat tidak boleh kendur dan jangan sekali-kali mundur.

“Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s