Musik Indonesia: Amplifikasi Kritik

Gambar
Efek Rumah Kaca: menolak nada tanpa makna…

Persatuan tak tercapai dengan laras senjata
Perdamaian tak tercapai dengan secara paksa
Tanah perjanjian harusnya tertanam Pancasila
Negeriku semestinya adil dan sejahtera
(Tanah Perjanjian/Ras Muhamad)

Cuplikan lirik lagu tersebut mendesak kuat -kolaborasi musisi Glenn Fredly- di awal tahun ini. Sebuah syair lagu yang terinspirasi oleh multilapis ketimpangan ekonomi, sosial, dan persoalan keamanan yang terjadi di bumi Cendrawasih, Papua.

Persoalan Papua, agaknya sesuatu yang tidak populer untuk diperbincangkan di kalangan anak muda. Akan tetapi, kritik itu disampaikan dalam lagu. Musik Ras Muhamad terlanjur populer. Para pendengarnya -mau paham atau tidak, ingin bertindak atau cuma diam- jelas akan turut berseru: “T A N A H   P E R J A N J I A N.”

Musik -bagi saya yang awam- merupakan bagian penting dalam penciptaan dialog yang massif dalam masyarakat. Manusia mengenang-ngenang masanya lewat musik yang pernah populer di zamannya. Bukan hanya musik pop, tapi juga rock, jazz, reggae, hip hop, bahkan apapun itu. Musik dalam syair, tentunya punya pesan dan makna. Musik dicipta dalam dimensi ruang dan waktu yang bersisian dengan sejarah masa lalu.

Kita ingat, dan harus berkarya…

Ada sesuatu yang ingin dijangkau oleh musik untuk menggairahkan dan mencerahkan masyarakat. Grup Nasyid ingin menjangkau dimensi religiositas, misalnya. Seperti itu pula musik beratmosfer kritik, mereka berusaha merengkuh perhatian penggemar dengan lagu yang kontennya masalah korupsi atau pelanggaran HAM, katakanlah demikian. Sesuatu yang lain dan berbeda pun ditampilkan…

Satu dari sekian “something different” itu saya temukan dalam “Hilang”-nya Efek Rumah Kaca. Sesaat sebelum lagu tersebut berakhir, ada penyebutan nama-nama aktivis yang pernah “dihilangkan” pada rentang 1997-1998 silam. Dibacakan dengan nada mengecam dan dikeluarkan dengan suara yang berat. Bagi saya, itu berarti: ada yang mesti kita ingat, dan kita perbuat…

Musik bisa meng-counter dan membantu meng-amplifikasi (menggemakan) suara-suara musisi yang berikhtiar tidak gentar menghembuskan nada kritik dalam syair lagunya. Gairah dan renaisans musik kritik ini (akan) berdampak, ketika para musisi tersebut adalah agen perubahan nyata di tengah masyarakat. Pendengar akan tergugah, gayung  pun bersambut…

orang mendengar musik kami dan mencoba melakukan apa yang bisa dilakukan setelah mendengarnya karena terdorong oleh pesan lagu itu,” kata Cholil –vokalis Efek Rumah Kaca.

Sejarah mencatat: tahun 1987 Carlos Santana berujar lantang di sebuah panggung dibalik Tembok Berlin Berlin Timur, “Tidak ada yang tidak mungkin. Suatu hari nanti, tak akan lagi ada tembok pemisah.” Kita tahu, Tembok momentum Perang Dingin itu rubuh.

Kemudian setahun berlalu, 1998 Santana kembali menggemuruhkan ribuan penonton dengan kalimatnya, “Nama Mandela mewakili kebebasan. Selama salah satu saudara atau saudari kita dipenjara secara tidak adil, tidak satu pun diantara kita sebetulnya benar-benar merdeka. Suatu hari, dia pun akan bebas.” Mandela bebas, Ia bahkan pernah jadi Presiden Afrika Selatan.

Karya musik tidak boleh rampak menjadi nihilitas nada, tetapi sesekali berganti peran mewujudkan elemen katalis sejumput perbaikan dari ragamnya ketimpangan di Indonesia. Industri musik di Indonesia –apapun trend komersialisasinya- sejogyanya membantu para penikmat untuk tidak melupakan sejarah dan mengabaikan persoalan bangsa. Bukan melulu tiras penjualan album yang nantinya secara dramatik menghamba pada nafsu kapitalistik.

Pola-pola musik kritik bisa diadaptasi, dan dikembangkan lebih jauh. Gelaran “dancehall” –gabungan reggae dan hip hop- nya Ras Muhamad, saya berharap bisa menggerakkan musik Indonesia, para penikmat, dan pengagum musik. Ah, semoga saya benar…

*Gambar: http://www.greenersmagz.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s