“Menjadi Indonesia” di Sekolah Hak Asasi Manusia (SeHAMA IV) 2012*

Peluncuran Program “Menjadi Indonesia” 12 Juli 2012 Tempo Institute

*Catatan refleksi ini adalah hasil pergumulan menciptakan rasa persaudaraan dengan 28 mahasiswa hebat dari seluruh Indonesia di Sekolah HAM KontraS. Saya juga posting dan share di Lintas.me. Harapannya, semoga bisa memberi manfaat yang besar. 

*****

kepekaan dan penghormatan pada kemanusiaan makin tipis. Kalau yang punya kewenangan diam saja, saya tak tahu harus bicara apa…” Soetandyo Wignyosoebroto.

Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Airlangga itu mengungkapkan kegelisahannya dalam pidato Yap Thiam Hien Award tahun lalu. Tentu dengan pelafalan yang sedikit menggeretakkan geraham di akhir. Geram? Mungkin saja. Situasi kemanusiaan yang sementara berlangsung dengan kondisi: “kepekaaan serta penghormatan makin tipis”.

“Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Inilah faktanya. Indonesia didirikan di atas visi kemanusiaan. Bahwa tujuan pendeklarasian bangsa Indonesia tidak lain: kemanusiaan yang sama martabatnya. Menurut William Chang, martabat manusia merupakan fondasi semua nilai moral dasar Pancasila. Tidak salah ketika Bung Karno mengutip ucapan Mahatma Gandhi: “saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan. my nationalism is humanity”.

Sila perikemanusiaan itu tertuang dalam philosophische grondslag yang dimiliki oleh bangunan Indonesia: Pancasila. Sebuah fundamen, asas, landasan, sekaligus dasar filsafat yang diikhtiarkan oleh pendiri bangsa. Di dalamnya sila perikemanusiaan itu menyangga sehingga ruwatan Indonesia dapat kita diami dengan kokoh.

Lantas, bangunan Indonesia ini ternyata pincang dari sisi itu. Sila-nya menghadap ke tubir jurang kebinasaan. Pemudanya cenderung acuh, rampak aksi, mandek pikir, sehingga solusi persoalaan hak asasi manusia yang kerapkali tampil di media, bukan sebuah persoalan yang menarik untuk dikhawatirkan, apalagi diselesaikan bersama. Sementara di sisi lain, saudara sesama pemuda dari Medan, Sampang, Bogor, Poso, Maluku, hingga Papua, supersibuk berkubang masalah sendiri. Memikirkan kemanusiaan Indonesia yang terus tergerus.

Sekolah HAM

Setidaknya, itulah refleksi dari perasaan yang saya ruapkan di Sekolah Hak Asasi Manusia yang diadakan untuk mahasiswa, pekan terakhir Juni hingga medio Juli 2012 di Kawasan Menteng. Hanya beberapa meter dari rumah tempat Soekarno merumuskan Pancasila.

Juni dan Juli adalah waktu mahasiswa untuk berlibur. Banyak yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu dengan hal yang berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain. Tawaran ber-summer school ria di universitas penjuru dunia kompak marak, tapi SeHAMA adalah pilihan. Saya merasakan atmosfer menjadi manusia Indonesia.

SeHAMA, menjadi pemersatu kami, dua puluh delapan mahasiswa Indonesia yang tersebar dari Aceh hingga Merauke. Termasuk seorang mahasiswa Universitas Nasional Lorosae, Timor Leste. Senang sekali rasanya mendengar bahasa Tetum yang merupakan bahasa lokal Flores dicakapkan oleh saudara dekat kami.

Sebelumnya, saya tidak pernah ikut aksi (demonstrasi dan semacamnya), baik di dalam maupun di luar kampus. Tetapi ketika SeHAMA melakukan beberapa kali aksi damai menyuarakan keadilan dan kebenaran di depan kantor pemilik Republik ini: Saya turut serta.

Sebelumnya, saya tidak pernah ke tempat para pemilik rumah ibadat selain Masjid sebagai rumah ibadat agama yang kuyakini. Akan tetapi ketika SeHAMA melaksanakan kunjungan ke Katedral yang berhadapan langsung dengan Masjid Istiqlal yang megah: Saya juga turut serta.

Saya menjadi paham dengan Indonesia. Negeri yang perahu masyarakatnya sering diombang-ambingkan, sengaja dihantam geladaknya oleh isu-isu terkait SARA (Suku, Agama, dan Ras).  Perbedaan, di mana salah satu kelompok menjadi hegemoni, dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan dan merampas hak-hak paling asasi dari manusia: hak hidup.

Ketika diskusi kelas, teman-teman saya mencoba berbicara menurut pengalaman dan pengamatannya masing-masing ketika konflik dan pelanggaran masih sering berlangsung. Seorang teman dari Maluku berceritera, konflik itu masih terjadi hingga sebelum keberangkatan mereka mengikuti SeHAMA. Pun kadangkala, atas nama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), oknum aparat sering bertindak represif.

Semua kemungkinan dibicarakan dan didiskusikan, termasuk disintegrasi jika negara tidak mampu mengatasi dan mencegah konflik kemanusiaan yang sudah seumur Republik. Negara ternyata pernah menjadi laku yang tidak adil bagi masyarakatnya. Levebfre menyimpulkan, kekerasan yang terjadi senantiasa diselubungi dengan rasionalitas dan rasionalitas penyatuan tersebut digunakan untuk menghalalkan kekuasaan.

Teman-teman di SeHAMA berbicara kemungkinan Repubik Maluku, mereka mendialogkan Papua Merdeka, mereka menceriterakan pengalaman perisitwa referendum Timor-Timor, dan berbagai peluang lain bilamana terus berlangsung di negara yang sistem perpolitikannya terindikasi acak adut ini. Begitu jelas terasa ironi yang ditampilkan oleh saudara-saudara saya di SeHAMA. Ternyata, terlalu banyak yang saya tidak ketahui. Termasuk sejarah Timor Leste sendiri. Saya harus banyak belajar lagi dari mereka…

Kita tidak boleh membiarkan sikap irrasional Indonesia yang malu dengan pelanggaran HAM di masa lalu. Sama sekali bukan untuk membuka borok yang semakin mengkarut. Tapi untuk meneguhkan ulang semangat persaudaraan sebangsa setanah air. Upaya rekonsiliasi dan penyelesaian yang elegan harus dihadirkan. Saya merasa sedih dan ngeri mendengar semua kemungkinan yang demikian. Pelanggaran terhadap kemanusiaan yang berujung disintegrasi. Semoga tidak sampai terjadi…

Saudara Saya dari Papua; Agamanya Katolik

Indonesia adalah sebuah kesatuan sistem yang akan terus menerus men-jadi, bukan sesuatu yang sudah-jadi. Dinamikanya bukan hanya sekedar asal-jadi. Proses ini memakan waktu yang sangat panjang. Melelahkan, menggetarkan, meminta harta dan korban jiwa yang begitu besar. Mewujudlah Indonesia. Gugusan tujuh belas ribu pulau itu tidak mungkin dihuni oleh orang-orang yang homogen. Jelas ia adalah sesuatu yang heterogen.

Ingat! Indonesia di bangun atas dasar nilai-nilai kemanusiaan. Sila Kemanusiaan ditempatkan tepat setelah Sila ke-Tuhan-an. Inilah mungkin tafsir yang menyeru kepada manusia Indonesia untuk mengutamakan tidak berbuat semena-mena kepada sesama manusia, khususnya kepada penganut agama lain. Tersebab, tidak satu titah agama manapun yang menghalalkan kekerasan terhadap sesama manusia.

Suatu ketika dalam kesempatan yang santai setelah kelas berlangsung, saya dengan sengaja mendengarkan musikalisasi sajak “Untuk Papua” karya Fahd Djibran kepada beberapa teman dari Bumi Cendrawasih. Sajak ini adalah bukti kecintaan terhadap saudara Papua yang tanah ulayat dan penduduknya sudah sangat sering dilanggar haknya. Namun, apa kira-kira tangggapan mereka?

Saya agak sedikit gamang saat komentar yang saya peroleh adalah: “aaahhh, itu propaganda saja…” katanya. Saya gentar dengan respon yang tiba-tiba itu. Saya menghela nafas panjang.  Tiba-tiba saja saya teringat buku “Nasionalisme Ganda Orang Papua” karya Bernarda Merteray. Namun, saya berharap damai di bumi Papua. Saya ingin menujukkan tidak benar, bahwa kami ingin Papua mengalami diskriminasi di tanah air sendiri.

Bahwa kami mengutuk perbuatan segala tindak kekerasan di Papua. Kami cinta dengan manusia Indonesia yang terangkai dalam kebhinekaan. Perlahan-lahan  sikap itu sedikit berubah setelah mendengar beberapa kali sajak itu. Setelahnya, saya sedemikian gembira karena dianggap saudara oleh teman-teman dari Papua. Kami semua begitu akrab satu dengan yang lain.

Bahkan, teman-teman dari Papua lah yang paling sering menyapa kami di pagi hari dengan lontaran teriakan “selamat pagi…” dengan suara agak keras. Dan bahkan seringkali jika mendapati ada diantara kami yang Muslim lalai mengerjakan shalat lima waktu, mereka mengingatkan walau agamanya Katolik.

Saya ingin NKRI tidak diindoktrinasi lagi. Apakah ia harga mati atau hanya batas imajiner yang telah lebih dahulu lenyap. Entahlah, mungkin saja ia betul-betul harga mati. Tapi “kesatuan” itu sendiri hampir mati diterjang garang gelombang sinisme. Saya mencoba merajut kembali satu dari ribuan atau bahkan jutaan rajutan kesatuaan itu di SeHAMA. Dengan anak-anak muda dari seluruh Indonesia.

Menjadi Indonesia: Memaknai Keragaman Indonesia

Mereka, anak-anak muda itu: adalah human right defender yang sebenarnya. Saya melihat  kecanggihan logika serta kejernihan berpikir dari teman-teman di SeHAMA. Padahal  di antara mereka terdapat korban-korban pelanggaran HAM; penganiayaan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, kerusuhan etnis sepanjang 1997 hingga 1999, kasus pertikaian umat beragama di Poso, di Ambon, dan pelanggaran HAM di Timor-Timor –sekarang negara Timor Leste- semasa referendum. Pada kenyataannya, balas dendam tak terlintas dalam benak mereka. Mereka datang dengan niat yang tulus.

Segala sesuatu yang primordialis dan partikularis (sempit) dalam diri mereka, telah dihempaskan sejauh-jauhnya. Berkat ketegasan dan kedirian nurani, mereka juga menyerahkan diri untuk menerima segala yang universalis (luas). Jika di pagi hari kami saling sikut berebutan kamar mandi, di siang hari kami saling melayani untuk makan bersama-sama. Dua puluh delapan pemuda Indonesia yang merelakan waktu berkumpul keluarga untuk bertemu keluarga baru: keluarga Indonesia.

Mereka menuturkan, mereka berceritera, kami mendengarkan dan mencoba untuk berdiskusi satu sama lain tentang hak asasi manusia. Selama tiga pekan lamanya, setiap malam, ada saja bahan diskusi yang menyertai berlalunya malam. Kawan dari Timor Leste, kerap memberikan kami penjelasan tentang pelanggaran HAM berat di Dili pada pra dan pasca-referendum 1999. Saya tahu dari sini, bahwa Indonesia punya iktikad baik untuk menyelesaikan kasus tersebut melalui KKP (Komisi Kebenaran dan Persahabatan) Indonesia-Timor Leste.

Saya berharap, semua tahu dan paham. Bahwa ada suku di luar wilayah yang kita pijaki, ada agama di luar agama kita sendiri, ada mazhab di luar yang kita ketahui, yang patut kita hargai dan jaga eksistensinya. Bukan karena kita berbeda, tapi karena kita adalah manusia yang diberikan hak dan kewajiban dasar untuk hidup dalam penjagaan dua ratus tiga puluh dua juta jiwa masyarakat Indonesia yang lain.

Tidak boleh ditindas dan tidak boleh menindas satu sama lain. Ini lebih menguatkan kita kepada yang “bhineka” ketimbang yang “eka”. Terlepas akan bersalin rupa seperti apa kelak mereka nanti, nilai-nilai kemanusiaan tetap terus mereka sebarkan ke setiap sudut Indonesia yang mereka sambangi.

Saya merenung, Sekolah HAM bukanlah sekadar tempat olah-pikir karena kognisi yang saya peroleh, tetapi juga olah-jiwa karena telah meluapkan rasa kemanusiaan yang begitu tinggi. Toleransi yang selama ini tidak saya dapati di kampus dan di masyarakat sekalipun.

Ketika sebuah pelanggaran terhadap kemanusiaan terjadi, dan pemuda Indonesia masih saja tidak tergerak hatinya. Saya semakin mengerti apa yang diutarakan oleh Soetandyo Wignyosoebroto di awal: “saya tak tahu harus bicara apa…

SeHAMA adalah sekolah kehidupan yang membuat anak-anak muda memiliki keberanian dalam menyuarakan keragaman dan kemanusiaan Indonesia yang cinta hak asasi manusia. Mengikuti SeHAMA, berarti setidaknya turut “menyalakan lilin, bukan terus merutuki kegelapan (Mahatma Gandhi)”. Bagi kami semua, itu juga mempunyai maksud: tidak memandang Indonesia sebagai petak kelam segala kesalahan.

Ah,,,semoga semua kita mau belajar dan saling memahami…

Sumber bacaan:

Yonky Karman. 2010. Runtuhnya Kepedulian Kita: Fenomena Bangsa Yang Terjebak Formalisme Agama. Jakarta: Kompas.
Goenawan Mohamad. 2011. Catatan Pinggir Edisi Delapan. Jakarta: Pusat Analisis Data Tempo.

Advertisements

5 thoughts on ““Menjadi Indonesia” di Sekolah Hak Asasi Manusia (SeHAMA IV) 2012*

    1. sip. Anda benar. penting bagi pemuda untuk tidak terprovokasi dengan konflik internal warga yang disusul kekerasan akhir-akhir ini. merekalah seharusnya yang menjadi penengah. mencoba untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan berdasarkan prinsip hak asasi manusia dan kebenaran di tengah-tengah masyarakat.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s