Voluntarisme: Mencetak Pemuda Pahlawan Indonesia

Posted: November 25, 2012 in Lomba Blog, Opini
Tags: , ,

“Berani” Untuk Peduli, karena kita adalah Pemuda. Be A Volunteer!

Kekhidmatan “Hari Pahlawan” belum hilang dari ingatan. Indonesia telah dipertemukan kembali dengan momentum yang sarat sejarah perjuangan bangsa. Upaya perjuangan yang tidak pernah susut baranya tersebut akhirnya melontarkan imperialisme dan pendudukan kolonial di nusantara. Era kepahlawanan akan senantiasa dikenang karena ada sesuatu yang diperjuangkan dan diperebutkan sungguh-sungguh: kemerdekaan. Para pejuangnya sebagian besar dari golongan pemuda.

Era kepahlawanan telah berganti. Sudah merupakan kemestian pemuda di zaman mondial menyambut gayung memenuhi janji-janji kemerdekaan yang diusahakan susah payah. Meskipun jauh terpaut dengan masa lampau, tentunya kita semua turut menghormati dan mengenang jasa pahlawan.

Ada yang membuat beragam kegiatan bertemakan heroisme pahlawan bangsa, dan sebagian lain mengikuti keriuhannya di sosial media. Tapi yakinlah, simbolitas perayaan tersebut tidak akan pernah menyelesaikan kompleksitas masalah yang seharusnya diperjuangkan pemuda hari ini.

Indonesia menunjukkan pertumbuhan ekonomi teringgi kedua se-Asia, Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia ke-16, dan akan menjadi kekuatan ekonomi ke-7 se-dunia pada 2030. Inilah fakta yang tidak terbantahkan. Namun semewah apapun raihan statistik tersebut, permasalahan sosial tidak akan pernah tuntas.

Yakinlah, masih ada anak-anak Indonesia yang tidak memperoleh akses pendidikan, putus sekolah, atau di sebuah lorong sempit, di pinggir kali, di samping apartemen mewah, ada saja masyarakat Indonesia yang untuk sesuap nasi saja harus berjuang keras, dan aneka masalah sosial lain yang lepas dari pantauan dan perhatian pemerintah. Siapa lagi yang akan menjadi ‘pahlawan’ bagi mereka jika bukan para pemuda yang kuat secara fisik dan mentalnya.

Gelaran pahlawan merupakan sesuatu yang secara moral berat disematkan begitu saja. Sebab pahlawan selalu lekat dengan pengorbanan. Bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat diceraiberaikan satu dengan yang lain. Pengorbanan memiliki asosiasi paling identik dengan keikhlasan.

Keikhlasanlah pada gilirannya menjiwai dan menghidupi aksi-aksi kuseralelawanan sosial di berbagai belahan dunia. Inilah konsep yang mendasari voluntarisme, melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan apapun. Kita yakin di tengah alur materialisme dan pragmatisme, masih banyak pemuda yang mau berkorban.

Semua adalah Pahlawan

Bill Clinton pernah berujar, sebenarnya setiap permasalahan sosial di dunia ini sudah ada penyelesaiannya. Telah ada orang yang pernah melakukannya. Artinya, tidak ada yang baru lagi. Kita hanya perlu mencontoh dan mengkontekskan sesuai dengan kondisi masyarakat dan jenis permasalahannya. Pemuda harus menunjukkan bukti konkrit betapa Indonesia masih punya pahlawan.

Anak muda dengan energi berlebih ini butuh wadah. Sebuah ruang berkarya dimana mereka dapat mengasah kepekaan sosial, memimpin diri sendiri dan orang lain, memanajemen waktu, bekerja sama dengan orang lain, dan tentu saja berpartisipasi di masyarakat dengan kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat secara langsung.

Mempertahankan semangat kejuangan pemuda sebagai ‘pahlawan sosial’ dilakukan dengan terus melakukan kontribusi positif di masyarakat. Tak usah jauh-jauh, lingkungan tempat tinggal dan menetap saja yang didahulukan. Itulah yang utama. Masalahnya dengan jelas telah mereka ketahui. Aksi jauh lebih dibutuhkan daripada hanya sekedar tuturan dan debat yang tak henti-hentinya.

Contoh paling populer yang dapat kita cermati adalah ‘Project Repat’. Kondisi sosial di Kenya menggugah sejumlah pemuda di Boston, Amerika Serikat untuk menggulirkan proyek tersebut. T-shirt bekas dikumpulkan, dicuci bersih, di sablon ulang, lalu di jual dengan label ‘Repat’. Kampanye dilakukan dengan sangat baik menggunakan sosial media. Sehingga keuntungan penjualan dapat diserahkan kembali ke Kenya untuk membantu permasalahan sosial yang ada di sana.

Tebaran informasi dan dilengkapi perangkat gadget, membuat mereka terhubung satu dengan  sangat cepat. Membuat inisiasi, melakukan rencana aksi, berbagi, dan saling menginspirasi satu dengan yang lain.

Pada intinya, setiap diri pemuda hendaknya punya tekad kuat dan keinginan melakukan kepahlawanan sosial. Setelah itu, lakukan apa saja yang bisa dilakukan. Menunggu diri menjadi kaya sehingga mampu menolong orang lain, justru menjadi hambatan tersendiri. Dengan demikian, semua pemuda bisa menjadi pahlawan sosial dengan kegiatan voluntarisme.

Meniru Superhero

Dalam imaji superhero, terdapat dua tipe kepahlawanan sosial.  Tipe kepahlawanan sosial yang pertama adalah Batman. Dia punya segudang kemampuan untuk melakukan aksi kepahlawanan. Sangat mahir teknologi, punya kemampuan finansial yang sangat memadai, dan ahli beladiri yang mumpuni dengan tubuh yang kekar atletis.

Pahlawan jenis ini mampu mengetahui di mana ia mesti mengalokasikan dan mengaktualisasikan kemampuannya. Meninggalkan segala kenyamanan, dan memilih untuk menolong orang lain dari kejahatan. Tanpa diperintah pun, stereotip kepahlawanan jenis Batman akan dengan senang hati melakukannya. Tak ada misi lain ia hidup di dunia selain: be a hero.

Pemuda jenis ini sedikit banyak bertebaran di tengah masyarakat. Anak muda dengan kemampuan dan keterampilan yang ia miliki, dan punya kesadaran untuk menjadi seorang pahlawan, menjadi seorang volunteer untuk kegiatan sosial.

Tipe kedua adalah Spiderman. Mulanya ia hanya seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja. Ia malah terlebih dahulu dipahamkan arti responsibility (tanggung jawab moral) lewat wafatnya orang yang ia cintai. Kemudian kekuatan yang ia peroleh dari gigitan laba-laba hasil mutasi genetik menyadarkannya bahwa ia harus berjuang melawan kejahatan.

Kenyataan di atas mengisyaratkan bahwa semua pemuda di dunia ini dapat menjadi pahlawan dengan tipe Spiderman. Pemuda dengan kesadaran sosial mungkin banyak, tapi untuk menggerakkan hatinya untuk ikut kerja-kerja sosial setidaknya membutuhkan impuls yang disengaja.

Menjalankan kegiatan voluntarisme akan mengasah naluri kebangsaan pemuda agar senantiasa peka dengan kondisi sosial masyarakat. Mari mencetak pemuda pahlawan Indonesia demi ber-“Aksi Untuk Indonesiaku”: Indonesia kita bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s