Mengharapkan Kejujuran

Posted: January 26, 2013 in Catatan Harian
Tags: , ,

speak_the_truth_by_apgraph_desktop_1440x900_hd-wallpaper-661312

Di Zaman Yunani Kuno, Aristoteles (abad ke-4 Sebelum Masehi) telah menyatakan manusia adalah “animal rationale” (hewan yang rasional atau hewan yang berpikir). Zaman itu telah banyak orang mulai percaya bahwa akal manusia sebagai sumber kebenaran tertinggi.

Kemudian Rene Descartes (abad ke-15) mendengungkan motto perjuangan ilmiahnya yang dituangkan dalam tesis “cogito ergo sum”, yang berarti “Aku berpikir, oleh sebab itu Aku ada”, mengutuhkan tingginya posisi kesadaran manusia sebagai sumber untuk mencari kebenaran [1]

Kita mengatakan kebenaran, jika itu memang benar. Sebaliknya, kita mengatakan sesuatu sebagai sebuah kesalahan, jika hal tersebut memang benar suatu kesalahan. Ada yang jujur dalam pengakuan dan pengungkapannnya. Tidak ada yang sengaja ditutup-tutupi. Benar adalah benar, dan salah adalah salah. Tidak ada teks yang hilang dan ambigu di sini. Semuanya jujur demi menegakkan apa yang menjadi kediriannya.

LPM Penalaran UNM, sebagai lembaga riset mahasiswa yang menjunjung tinggi sifat-sifat ilmiah sementara dalam keadaan mengalami “ujian kecil”. Ketika kejujuran –yang menjadi elemen kebenaran- dipertanyakan dengan meng-ADA-kan Kantin Kejujuran di Rumah Nalar.

Motfinya? ada segelintir ‘Anak Nalar’ (ini pendapat pribadi) yang ingin menguji seberapa jujurkah mereka dalam berperilaku sehari-hari. Atau mungkin juga ada yang sedang melakukan riset bisnis berbasis moral dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Entahlah.

Kantin Kejujuran

Saya pun tak tahu apakah kawan-kawan mengharapkan keuntungan atau tidak dari Kantin Kejujuran di Rumah Nalar. Meskipun katanya ide ini muncul dari bagian pendanaan PMP-OMK (Pelatihan Metodolodi Penelitian–Orientasi Manajemen Keorganisasian). Sebab, sejauh jangkaun pengamatan saya, Kantin Kejujuran ini hanya sekadar selintas menghidupi perut-perut kelaparan ‘Anak Nalar’ yang kebetulan punya gawe di Rumah Nalar. Atau paling tidak sebagai daya tarik mengatasi kebosanan ‘Anak Nalar’ yang tinggal di kosan dengan mengajaknya diskusi di Kantin Kejujuran.

Setelah berjalan, frekuensi transaksi terjadi sangat sering sehingga saya mengira ini akan berjalan sebagaimana mestinya: untung besar. Akan tetapi, setelah melihat intensitas pembayaran yang tidak sesuai: saya pangling.

Fenomena baru di Rumah Nalar ini terjadi secara mengejutkan selama dua pekan terakhir. Inilah kali pertama dalam empat tahun menjadi anggota ‘Anak Nalar’, ada barang konsumsi yang diperdagangkan di sekretariat lembaga dan itu bisa di kasbon -kan. Sehingga, saya tidak melihat ini semata niatan baik demi meraih receh pendanaan kegiatan perekrutan anggota baru. Bagaimanapun, saya juga harus memandang bahwa Kantin Kejujuran adalah something new  yang sangat pantas dicoba. Sungguh ajaib. Saya takjub sekaligus gembira menyambut ide gila ini (meskipun hobi saya ngutang…)

Sejumlah Ironi…

“ambil sepuasnya bayar seikhlasnya”.

Sempat mencuat selama beberapa hari ini hingga menghasilkan candaan yang mengundang gelak tawa sangat ramai dalam beberapa kesempatan. Sesuatu yang agaknya kurang pas untuk dijadikan bahan tertawaan.

Ide ini awalnya berasal dari KPK (Komisi Pemberantan Korupsi) yang sasarannya murid sekolah dasar dan sekolah menengah. Sepengetahuan saya, Kantin Kejujuran sebagian besar mengalami kebangkrutan. Beberapa data menunjukkan jumlah Kantin Kejujuran di sejumlah daerah di Indonesia tutup akibat merugi. Kantin Kejujuran juga pernah diterapkan dibeberapa sekolah menengah di Makassar. Hasilnya menurut kesaksian siswa, Kantin Kejujuran di sekolahnya bangkrut karena banyak pembelian tanpa pembayaran yang seharusnya dibayarkan.

Tapi saya berpikir, Kantin Kejujuran layak untuk dijalankan seterusnya di masa-masa mendatang. Tidak lantas berhenti ketika selesai perekrutan anggota baru. Hanya saja, diperlukan ada aturan yang tegas sehingga tidak mengarah defisit alias tidak melulu merugi. Contoh saja, aturan tidak boleh ada kas bon, atau jika hal itu diperbolehkan, dilakukan pencatatan yang rinci dengan jumlah minimum kas bos yang diperkenankan.

Efek konsumerisme? Tenang saja. Kekhawatiran ini rasanya masih terlalu berlebihan, atau dalam kadar minimal tidak sepenuhnya benar. Tersebab ‘Anak Nalar’ terkadang tidak memiliki uang lebih untuk digunakan jajan secara berlebihan diluar kegiatan makan tiga kali sehari.

Me-Lembaga-kan Kejujuran

Kejujuran mengingatkan saya dengan peran sentral “sejumlah kecil” peneliti muda di lembaga ini yang kelak akan mengangkat derajat bangsa dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Membudidayakan perilaku jujur dalam keseharian kelembagaan adalah tujuan ‘Kantin Kejujuran’ secara tersirat. Sifat tersebut mutlak ada dalam membangun semangat ilmiah.

Dengan sejumlah ironi yang menyertainyam, jangan sampai ada pemisahan kelompok berbau feodalis yang secara jelas meruntuhkan prinsip kesetaraan dan kekeluargaan di Rumah Nalar. Istilahnya Clifford Geertz (biar agak keren) dalam The Religion of Java (1960), ada peristilahan Santri, Abangan, dan Priyayi di daerah Jawa sana. Meskipun banyak antropolog yang masih saja mendebatkan metode Geertz.

Santri (anggota baru), Abangan (pengurus periode berjalan dan penghuni Rumah Nalar), dan kaum Priyayi (senior yang selalu mangkal tiap malam minum kopi sambil makan beng-beng kesemutan) adalah tiga kelompok yang punya kepentingan sendiri-sendiri di ‘Kantin Kejujuran’ sebagai wilayah jajahannya.

Para ‘Abangan’ yang diserahi amanah mengurus Kantin Kejujuran di Rumah Nalar, mudah-mudahan tidak “dipaksa” turun kasta menjadi ‘Santri’. Awal mula gedongan lalu tiba-tiba bangkrut karena pembelinya mengutang semua. Ini tak bisa dihindarkan. Apalagi di saat-saat tanggal sudah mulai menua. Bulan baru bukan harapan mendapatkan dana tunai kiriman orang tua. Apalagi beasiswa yang sudah habis dipakai melepaskan buas nafsu pada produk-produk kapitalisitik. Nah, tinggallah utang di Kantin Kejujuran menjadi pilihan terakhir.

Tapi sampai kapan eksistensi kantin yang baru berumur dua pekan tersebut jika tidak ada pemasukan yang berarti sebagai cash-flow? Diperlukan pemahaman kepada seluruh ‘Anak Nalar’ dalam bertransaksi di Kantin Kejujuran.

Harga sudah termasuk sedekah”.

Kata itu tersampir rapi pada daftar harga yang tertempel di dinding pojok ruang depan.

Pernah suatu ketika ada seorang ‘Priyayi’ mengonfirmasi dan mendebat harga ‘tidak biasa’ yang menurut ukurannya: kemahalan. Setelah berpanjang lebar, dia mengalah pada ‘Abangan’ tersebut yang secara kebetulan berada di ‘Kantin Kejujuran’. Semuanya berakhir hening dengan pelafalan frasa ‘termasuk sedekah’ yang dibarengi dengan senyum paling manis. Pintanya agar si ‘Priyayi’ tadi melihat daftar harga.

“Ah, sudahlah.” batin si ‘Priyayi’.

Kemudian gondoklah si ‘Priyayi’. Wajahnya pias, badannya lemas. Setelah puas, si ‘Abangan’ bahkan meminta agar ia pun dibelikan juga. Padahal, dengan harga seperti itu saja, Anda sudah tidak akan Anda ketemukan di manapun toko kelontong yang ada di seluruh Indonesia. Haha…asli lebai.

Saya berterima kasih kepada kawan-kawan Panitia Pelaksana PMP-OMK yang menginisiasi adanya Kantin Kejujuran. Terdapat banyak kemudahan di dalamnya. Beberapa kawan sudah tidak lagi keluar menyeberang jalan untuk ngopi dan ngemil sambil berbincang-bincang di beranda Rumah Nalar. Walaupun ada-ada saja hal-hal yang patut diwaspadai dengan melimpahnya makanan-makanan instan semisal Mie Instan.

Efeknya adalah  budaya instan yang mungkin belum berasa sekarang. Memasak dan makan bersama berubah menjadi laku yang mungkin saja terdegradasi nantinya. Banyak juga produk-produk kecil (permen, coki-coki) yang bila di makan sendiri akan menimbulkan kecemburuan kasta (harus beli grosir, haha…)

“Sudahkah Anda jujur hari ini?”

Pertanyaan tersebut dapat saja memiliki makna, Sudahkah Anda berbelanja di Kantin Kejujuran hari ini?”

Sama sekali tulisan ini tidak dimaksudkan arena promosi “Kantin Kejujuran”. Namun, dengan berbelanja, mungkin Anda dapat kembali bersilaturrahmi, menyisihkan sebagian rezeki,  dan tentunya demi mengharapkan rasa jujur semakin menebal dalam diri.  Itu pesan yang mungkin ingin disampaikan oleh Panitia Pelaksana PMP-OMK. Dan, saya mendukung pesan dengan nilai moril yang dibawanya: Jujur.

Obrigado [2]

Footnote
[1]  Bagong Suyanto dan Sutinah (ed.) 2010. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana
[2]  Bahasa Tetun yang berarti terima kasih. Tetun adalah bahasa lokal di negara Timor Leste dan sebagian daerah di Timor.
Gambar: http://onlyhdwallpapers.com

Advertisements
Comments
  1. di sekolah saya dulu ada juga kantin kejujuran….sebuah tantangan tersendiri saat belanja di situ

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s