Semen Tonasa: Pondasi Negeri di Timur Indonesia

semen_Indonesia

*tulisan ini diikutkan dalam ajang Tonas Award Jurnalistik 2013 Kategori KTJM (Kategori Karya Jurnalistik Mahasiswa), dengan raihan sebagai Juara Harapan.

Pondasi. Mengapa mesti pondasi? Sebab, pondasi merupakan “grondslag”, yang berarti ‘dasar’ dari sebuah bangunan yang bernama I. N. D. O. N. E. S. I. A. Jika Pancasila adalah sebuah ‘pondasi non-fisik’ sekaligus ‘philosophische grondslag/dasar filsafat’ bangsa, maka Semen Tonasa adalah ‘pondasi fisik’ yang menjadi penyangga negeri di timur Indonesia.

Peran strategisnya sebagai anak usaha BUMN Semen Indonesia, ialah menjadi yang pertama dalam merespon perubahan menghadang serbuan kapitalisme modern yang melanda perekonomian nasional. Semen Indonesia yang terdiri dari perseroan Semen Padang, Semen Gresik, dan Semen Tonasa merupakan ‘Pondasi Negeri’ yang masing-masing menyimpan kekuatan yang saling merekatkan satu dengan yang lain.

Semen Tonasa berarti pula “weltanschauung”, sesuatu yang bermakna ‘kita semua setujui’, tersebab anak usaha yang berbasis di Pangkep Sulawesi Selatan inilah  yang disepakati secara bulat menjalankan fungsi mandat dan tanggung jawab sebagai pondasi negeri di timur Indonesia.

Oleh karenanya, usaha membangun dan memberikan yang terbaik bagi Indonesia mutlak berada di pundak. Sebuah bangunan dapat bertahan seberapa lama, sangatlah ditentukan oleh kekuatan pondasi yang menyangganya di bawah. Selama kurang lebih 44 tahun lamanya, Semen Tonasa menjadi penyokong kekuatan yang menyumbangkan ketahanan bangunan Indonesia.

Holding Company: Berkah dan Peluang

Ada baiknya kita belajar dari histori. Dalam sebuah proyek di masa lampau, Soekarno menanamkan: “membangun Jakarta sama dengan membangun tanah air, membangun negara, dan membangun masyarakat”. Saya pikir, persepsi yang menahun inilah jurang sempit nan dalam yang mencoba menihilkan peluang Semen Indonesia –sebelum strategic holding–  untuk melakukan penetrasi di world market.

Perseroan yang terbagi ke dalam Semen Padang dan Semen Tonasa di dalam wilayah atap kerja Semen Gresik dahulu dianggap sebagai faktor inefisiensi serta memicu nirsemangat membangun Indonesia setahap demi setahap. Masing-masing wilayah bekerja masing-masing untuk kepentingan profit daerah.

Sehingga ada kecenderungan para ‘pondasi negeri di barat dan di timur’ dijadikan wilayah pinggiran dari pusatnya, Gresik di Jawa Timur dan Kementrian BUMN di Jakarta. Analisis tajam dilontarkan oleh Daniel Dakhidae (2010) –dalam salah satu edisi Jurnal Prisma-: tahukah mereka bahwa Jakarta punsejatinya adalah pinggiran dari Amerika dan Eropa –pusat dunia?

Kita merasa tiba-tiba terhubung dengan dunia. Kita membayangkan, tanpa Semen Padang, tanpa Semen Gresik, dan Semen Tonasa, atau melempem bangkrut salah satu saja diantaranya, gagallah Semen Indonesia disebut sebagai ‘Pondasi Negeri’. Setiap wilayah perseroan Semen Indoensia memiliki sumbangsih yang besar bagi kemajuan ekonomi Indonesia. Sebab ternyata, pilar-pilar penting Indonesia berada di daerah, bukan semata-mata di pusat. Holding-isasi mungkin merupakan jawaban.

Beberapa waktu sebelum 20 Desember 2012, Semen Indonesia (Semen Padang, Semen Gresik, dan Semen Tonasa) masih tertatih-tatih mengupayakan transformasi korporasi dengan jalan strategic holding. Dimulai pada 1995 dengan perseroan sebagai operation holding, functional holding pada 2010, lalu kemudian 2012 menerapkan strategic holding sekaligus perubahan nama dari PT Semen Gresik (Persero) Tbk menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dan mendapatkan persetujuan dari Kementerian Hukum dan HAM. Maka hasilnya, Semen Indonesia turut memayungi Semen Gresik yang turut bertransformasi.

Lalu, berkah dan peluang itupun muncul satu persatu. Permintaan semen PT Semen Indonesia Tbk di awal tahun ini langsung menorehkan pencatatan peningkatan volume penjualan semen 2,05 juta ton di Januari 2013. Jumlah ini meningkat sebesar 24,24% dari volume penjualan pada Januari 2012 lalu sebanyak 1,65 juta ton. Kontribusi langsung tersebut merupakan salah satu dampak dari dioperasikannya pabrik Semen Tonasa V yang dijalankan pertengahan tahun 2012.

Dengan demikian, wajib adanya efektifitas dan efisiensi kinerja sinergi grup secara menyeluruh dalam perseroan dalam rangka meningkatkan persaingan di kancah produksi nasional, regional, hingga global. Malah terakhir, akusisi TLCC (Thang Long Cement Company) berhasil menomorwahidkan Semen Indonesia dalam kapasitas produksi se-Asia Tenggara.

Inovasi Semen Tonasa

Sekali lagi, Semen Tonasa hadir sebagai pondasi yang membentuk bangunan Indonesia. Sebab Indonesia adalah bangunan yang masih terus berproses untuk men”jadi” Indonesia. Bukan asal atau sekalian langsung “jadi”. Akan tetapi, men”jadi”kan bangunan Indonesia secara utuh, merupakan suatu ikhtiar yang tidak akan pernah usai.

Menyuplai segi finansial bangunan Indonesia, dibutuhkan efisiensi besar-besaran. Hal ini disebabkan,  faktor ketidak-efisienan menjadi satu-satunya determinasi masalah laba bersih di lingkup BUMN. Salah satu jalan yang paling memungkinkan adalah inovasi. Investor Daily mencatat laba bersih 141 BUMN sepanjang 2012 dengan jumlah Rp 128,006 triliun. Sedangkan pemasukan laba bersih 2011 sebesar Rp 120,266 triliun. Sehingga mestinya naik 6,44% dibanding tahun lalu.

Nah sebagai perbandingan, asset BUMN setara dengan Rp 2.950 triliun saat ini. Jumlah yang luar biasa, namun rasio laba bersih terhadap asset masih sekitar 4,3%, padahal rasio rata-rata industri terhadap asset berdasarkan Cohen (2010) dan Pingle (1997), pada umumnya minimal 20%. Itu berarti jumlah laba yang harus diterima oleh negara dalam rangka membangun Indonesia mendekati angka Rp 590 triliun per tahun. Masih ada selisih sekitar Rp 470 triliun!!! Inovasi jelas diperlukan, tak terkecuali Semen Tonasa di lingkup Semen Indonesia.

Inovasi yang dilakukan oleh Semen Tonasa dilingkungan kerja Semen Indonesia adalah menyumbangkan 37 proposal inovasi ke ajang SIAI (Semen Indonesia Award on Innovation) pada awal Maret lalu. Angka tersebut meningkat 42% dari ajang serupa tahun lalu. Inovasi yang masuk memiliki tingkat kecenderungan upaya melakukan optimalisasi energi alternatif hingga peningkatan kinerja mesin.

Inovasi ini sangat penting mengingat penuturan Dwi Soetjipto sebagai Direktur Utama Semen Indonesia, bahwa jalur inovasi berhasil memeperoleh efisiensi Rp 300 miliar per tahun. Profit yang dihasilkan jelas merupakan hasil yang nyata dari strategi dan inovasi yang terus menerus berkelanjutan. Ini menjadi bukti bahwa perhatian khusus ke teknologi tidak akan membebani perusahaan dengan bermacam-macam biaya, tapi justru menghasilkan efisiensi. Lebih lanjut dia menyimpulkan bahwa teknologi memungkinkan pelaku industri mencapai kinerja yang optimal.

Kriteria penilaian SIAI antara lain, meliputi landasan ilmiah, identifikasi teknologi, nilai ekonomi, kebaruan dan inovasi, kompleksitas dan nilai kompetitif teknologi, penggunaan kandungan lokal, dan utilisasi serta potensi aplikasi teknologi yang dikembangkan.  Perhatian khusus harus kita berikan terhadap bagian terakhir, yakni teknologi yang dikembangkan.

Modernitas teknologi yang dikembangkan (semoga) tidak berubah menjadi instrumen yang tidak terkontrol. Alih-alih digunakan untuk efisiensi, ternyata malah memberikan bad impact terhadap lingkungan sekitar. Sebagaimana Edmund Leach (1967) menyebut modernitas sebagai “runaway world”. Saat para ‘Pondasi Negeri’ ramai-ramai menggunakan teknologi inovasi, itu berarti bahwa punggawa Semen Indonesia tersebut sedang melebur dalam kecepatan jalanan modernitas teknologi industri. Tetapi saat berada pada sisi yang berlawanan, para ‘Pondasi Negeri’  hanya menjadi penikmat dari modernitas yang sedang dipertontonkan, sembari berharap kecepatan itu tidak melibas bangunan yang bernama I. N. D. O. N. E. S. I. A.

Banyak contoh yang bisa kita tilik. Perusahaan yang go public internasional sukses mendulang emas di negeri orang lain, padahal label perusahaan pelat merah menempel di negeri mereka sendiri. Ini bisa menjadi pelajaran yang baik jika inovasi teknologi yang dihasilkan mampu menjangkau logika kesetimbangan ekosistem. Kontestasi ini ditingkahi perilaku manusia dan korporasi global yang secara “rasional” mengutamakan kepentingannya sendiri.

Demi mewujudkan bangunan Indonesia yang bersih, maka dengan penuh kesadaran, Semen Tonasa mengembangkan proyek CDM (Clean Development Mechanism) dengan core inovasi berupa produksi semen yang mengurangi emisi gas rumah kaca. Inovasi tersebut diharapkan bersalin rupa menjadi elemen katalis peningkatan kemampuan teknologi industri nasional secara berkelanjutan, serta bisa mengembangkan daya saing industri nasional dengan memanfaatkan dan mengembangkan riset dan teknologi industri yang bernilai tinggi.

Membangun Negeri: Sebuah Sinergi

Langkah-langkah membangun negeri telah dilakukan oleh Semen Tonasa. Semen Padang, Semen Padang, dan Semen Tonasa, adalah tiga penyangga bangunan Indonesia yang saling bersinergi. Peran nyata jelas diperlihatkan oleh Semen Tonasa untuk Indonesia. Inilah satu-satunya anak perusahaan Semen Indonesia yang memiliki kontribusi ekspor ke Timor Leste sebanyak 6.189 ton.

Alvin Toffler (1980) dalam analisisnya terkait globalisasi yang ditandai oleh kemajuan teknologi industri yang pesat menyatakan, dunia ini seolah menjadi sebuah desa global (global village). Pada tataran ini eksistensi dan inovasi Semen Tonasa  perlu kita maknai sebagai entitas penting yang menghantar manusia Indonesia untuk mampu berkiprah di arena perindustrian global.

Akhirnya segala bentuk inovasi yang diluncurkan Semen Tonasa sebagai pilar kokoh penyangga bagian timur strategis bangunan Indonesia, hendaknya dapat dimanfaatkan oleh manusia Indonesia secara keseluruhan di manapun berada demi mengukuhkan Semen Indonesia melalui predikat “market leader” yang kompeten dan kompetitif. Bukan dengan tujuan untuk mengirasionalkan manusia Indonesia dan kemudian terjatuh pada kesenjangan semu indutri kapitalistik yang menghalalkan kontestasi tidak sehat antara the haves dan the haves-not.

Kita mengalkulasi waktu dan memprediksi masa depan dengan harapan, semoga  Semen Tonasa dan BUMN pada umumnya tidak pernah berhenti berpikir untuk kelanjutan pembangunan Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Vivere est cogitare [hidup berarti berpikir]…

Bahan Bacaan dan Referensi:

1.  Alvin Toffler. 1980. The Third Wave. United States: Bantam Books.
2.  Daniel Dakhidae. 2010. Elegia Pusat yang Terpinggirkan. Jakarta: Jurnal    Prisma.
3.  Goenawan Mohamad. 2011. Catatan Pinggir Edisi 8 (Kumpulan Catatan Pinggir: Juli 2005 – Juli 2007). Jakarta: PDAT (Pusat Data dan Analisia Tempo).
4. Stanley J. Tambiah. 2002. Edmund Leach: An Anthropogical Life (Google Books). United Kingdom: Cambridge University Press.

Advertisements

One thought on “Semen Tonasa: Pondasi Negeri di Timur Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s