Surat (Balasan) Untuk Jahriyah

Posted: May 22, 2013 in Artikel, Catatan Harian
Tags: , ,

40961639
Saya dikejutkan dengan datangnya surat dari Wahyuddin MY. Seorang mentor, senior, sekaligus salah satu kawan terbaik saya di salah satu lembaga kemahasiswaan. Bersama surat itu, hadir pula sekitar dua puluh tiga surat-surat mungil yang lain.

Yakin saya, surat itu berasal dari murid-murid salah satu kelas yang diampu oleh Pak Wahyu –begitu siswa di Gili yang menyebutnya dalam surat. Dilihat dari kertas yang digunakan menulis, kertasnya berasal dari jenis yang sama. Kertas ukuran A4  yang disobek lalu menjadi dua bagian yang sama besar. Tebak saya, perlakuan tersebut merupakan pelajaran tentang ‘keadilan’ yang salah satunya bermakna: sama rata.

Saya membaca semua isi surat mereka. Mungkin saja, oleh pak Wahyu, sebelum mereka menuliskan kisahnya dalam surat, Pak Wahyu menyampaikan garis-garis besar apa-apa saja yang “harus” dan “tidak harus” disampaikan murid-murid dalam surat yang nantinya akan melintasi langit Sulawesi. Nada dan irama surat akhirnya menjadi dominan. Segendang dan sepenarian dengan surat-surat yang lain. Dengan makna lain: surat-surat itu isinya mirip satu sama lain. Yang berbeda palingan nama mereka, cita-cita mereka, serta kreativitas mereka dalam membuat surat kelihatan semenarik mungkin untuk dilirik. Seakan-akan, penampakan fisik surat mewakili pribadi unik masing-masing dari mereka.

Kelas 3 SD! Bayangkan saja. Kalau di sekitar kompleks saya tinggal, merekalah golongan pembuat kacau di masjid kala Jumat tiba, mereka pula-lah “ningrat” dari kalangan anak-anak yang suka membuat ribut dan onar siang-siang saat waktu istirahat. Nah, anak-anak di kelas 3 SD ujung nan terpencil di Jawa Timur ini mungkin saja melakukan kurang lebih sama dengan apa yang diperbuat anak-anak kompleks tempat tinggal saya. Maklumlah, namanya saja anak-anak.

Tapi, ada hal mereka lakukan, dan itu adalah: menulis. Dua puluh tiga anak kelas 3 SD menulis surat terkait sesuatu yang serius: cita-cita untuk kuliah dan bayangan kota besar yang selalu mengiringi benak belia mereka.

Surat-surat itu akhirnya berhasil melintasi pulau Sulawesi. Terkhusus bahwa, surat ditujukan pada awak-awak di LPM Penalaran UNM Makassar. Harapannya surat itu dapat dibalas. Agar kiranya surat balasan tersebut menginspirasi dan memacu semangat mereka untuk tetap tekun dan rajin belajar.

Surat itu dikreasikan oleh anak-anak dengan berupa macam aksi. Ada yang menggambar gunung sebagai latarnya, laut, langit biru, awan, dan burung yang terbang di udara, dan kepiting, udang -kalau saya tidak salah ingat- sebagai gamabran hasil laut yang melimpah di Pulau Gili sana.

Dari kualitas aksara yang dituliskan, kelihatannya ditulis oleh anak-anak dengan pensil yang bagian ujungnya sudah tidak lagi runcing, atau pensil yang sebentar lagi habis masa pakainya saking pendeknya. Saya juga melihat tulisan surat yang ditulis dengan menggunakan spidol warna yang diselingi dengan beragam warna lain.

Suratnya Jahriyah…

Jodoh dan nasib saya saya bertemu dengan suratnya Jahriyah, dan saya harus segera membalasnya. Nama lengkapnya: Jahriyahtul Amalia. Senangnya belajar Matematika, namun sangat bercita-cita menjadi seorang pramugari.  Inilah petikan lengkapnya:

Assalamualaikum
Perkenalkan, nama lengkap saya Jahriyahtul Amalia
bisa juga dipanggil Jahriyah
tempat saya di P. Gili
cita-citaku menjadi Pramugari
cita-cita kaka menjadi apa?
Bagaimana rasanya kuliah senang atau tidak?
di mana asal kuliah kakak?
Saya senang diajari Pak Wahyu
Saya suka pelajaran mtk,
Kakak suka pelajaran apa?
Saya pernah ikut OSK
OSK itu singkatan dari
Olimpiade Sains Kuark
Pak Wahyu mengajari kita menyanyi
Pak Wahyu orangnya sabar, jujur

(tolong dibalas)
P. Gili April 2013

Kondisi “pencerdasan kehidupan bangsa” masih jauh dari harapan. Padahal sejatinya, itulah janji kemerdekaan Indonesia yang harus disegerakan untuk membangun bangsa. Kalau tidak ada sumber daya manusia yang cakap, mustahil rasanya mewujudkan cita-cita mulia tersebut. Pak Wahyu sebagai Pengajar Muda turut membantu melunasi janji kemerdekaan itu dengan tak hanya sekedar mengajar…

“Jauh” dan “lama” adalah dua kata yang dipertaruhkan Pak Wahyu untuk keinginan sampainya surat beserta balasannya itu ke tangan Jahriyah, begitupun dengan balasan surat 22 anak-anak yang lainnya. Tapi, menantikan sesuatu yang telah dijanjikan merupakan kegembiraan dan kecemasan yang tak terkendalikan, apatah lagi bagi anak-anak.

Menurut Pak Wahyu, anak-anak selalu bertanya tentang balasan tersebut. Setiap hari. Si abang ini pun hampir dibut stress lantaran baru sebulan balasan tersebut diterima. Kabar yang saya ketahui, surat-surat itu beserta balasannya berhasil menyeberang pulau Sulawesi dan kembali lagi ke tangan anak si pembuatnya di Gili.

Untuk jawaban lengkap surat dari Jahriyah, saya lupa menyimpan salinannya karena tertulis tangan. Tulisannya pun sangat tidak rapi. Keraguan saya terlalu besar apakah Jahriyah nanti bisa membacanya atau tidak. Tidak ada keinginan sama sekali untuk men-scanning atau setidaknya saya fotokopi. Sehingga, saya bisa ingat apa yang pernah saya tuliskan.

Tapi, inilah rangkuman pertanyaan dan jawaban dari Jahriyahtul Amalia yang masih sempat saya ingat dan saya tuliskan. Sebagai reminder sekaligus pesan kepada diri saya pribadi.

Cita-cita kakak menjadi apa?

Surat ceria dari anak-anak SD itu ingin membandingkan cita-cita mereka dengan cita-cita kakak-kakak mereka di Penalaran yang kebetulan nanti akan menerima salah satu surat tersebut. Cita-cita Jahriyah sendiri adalah menjadi seorang Pramugari. Sebuah cita-cita yang sejak dari zaman SD saya dulu yang meng ”harus” kan mengikuti pakem dan pagu. Kalau bukan itu, ya paling dokter, insyinyur, polisi, arsitek, astronot, atau mungkin saja tentara.

Seperti kalau kita belajar membaca, bacanya harus yang seperti ini: “Ini Ibu Budi”, “Ini Bapak Budi”, dan seterusnya, yang jika tidak bukan kalimat itu, bukan belajar membaca namanya. Jadi, bila bukan daftar cita-cita di atas yang disebutkan, itu “sejati”-nya bukanlah cita-cita.

Ketahuilah nak, negeri kita butuh sangat guru (yang mengajar dengan hati), butuh banyak hakim (yang jujur), sangat butuh pegawai pajak (yang berani tidak korupsi pajak), dan petugas bea cukai (yang berani tidak terima suap). Nak, itulah beberapa dari sekian cita-cita yang luhur.

Hal yang saya perhatikan pula, walaupun orang tua mereka sehari-harinya pergi melaut, tak satupun –sepanjang sepengingatan saya- yang hendak bercita-cita menjadi Menteri Perikanan dan Kelautan.

Jawaban saya: saya bercita-cita menjadi pakar di bidang ilmu pendidikan Matematika. Sejauh ini, saya masih matematikawan-invalid. Alias mahasiswa yang sering bermalas-malasan.

Kakak suka pelajaran apa?

Inginnya, saya berniat menjawabnya dengan “Pelajaran Kehidupan”. Ah,,,terlalu filosofis untuk anak sekecil itu. Jelas itu tidak boleh dan tidak mungkin saya lakukan. Tapi dalam kenyataannya, pelajaran kehidupan-lah yang lebih penting. Boleh dimaknai apa saja.

Setiap orang boleh bermimpi untuk menjadi apa saja yang dia sukai di masa depan, namun harus diingat, ia berhadapan dengan namanya realitas. Makanya hidup harus realistis. Guru mereka harus mengajarkan untuk bekerja keras, belajar mandiri, menghormati guru, menyayangi teman-temannya di sekolah, dan fokus menggali potensi anak si empunya cita-cita.

Cita-citanya Jahriyah, dan semua cita-cita anak Indonesia pada dasarnya, yakinlah akan mentok saja pada dimensional sebuah mimpi, lalu pada saat dewasa cita-cita tersebut akan berwujud ingatan bawah sadar belaka. Seorang anak yang bercita-cita, kenyataannya hanya ingin ikut-ikutan mengikuti pakem ‘daftar cita-cita’ dari gurunya agar disebut pula bahwa anak ini “punya” cita-cita.

Semenjak di TK, kita disuruh memerankan dokter kecil, polisi kecil, tentara kecil, dan semua profesi membanggakan lainnya bersama kostum mini yang memang telah tersedia di lembaga pendidikan yang pertama kali kita enyam. Ayah dan orang tua kita? Tak perlu dinanya. Melihat anaknya didandani seperti itu, rasanya mereka banggaaa sekali.

Padahal sah-sah saja si anak di kenakan kostum ala petani, nelayan, seniman yang menggores di kanvas, atau juga gaya pemain sepak bola yang handal. Tanpa sadar, mereka telah menelikung potensi anaknya yang sebenarnya tidak mesti berada di posisi seperti itu.

Jawaban saya: saya sukaaaa sekali pelajaran Matematika* Nb: Saya ingin menggunakan ilmu matematika untuk keperluan pendidikan di sekolah (ini pengertian istilah “Ilmu Pendidikan Matematika” menurut pakar Prof. Soedjadi).

Pak Wahyu orangnya sabar, jujur.

Kamu bukanlah seperti apa yang kamu tuliskan, melainkan apa yang menjadi keseharianmu | Jamil Azzaini.

Mungkin saja, saya dan kawan-kawan lain mencoba bermanis-manis kata sembari menasihati anak SD polos nan lugu, namun diantara kami kuliah kadang ada yang bolos, jarang kerja tugas, mencontek makalah yang akan dipresentasikan pekan depan, dan berbagai perilaku lain yang  dan malah menjadikan kami sebagai orang yang sebenarnya pantas untuk dinasihati oleh seorang anak-anak.

Menceritakan mereka tentang kehidupan di kota yang penuh kemudahan tapi kita sendiri terbuai dengan segala kenyamanan yang ada. Tidak belajar dengan keras dan sangat sering menunda-nunda waktu. Anak-anak tidak bisa dibohongi, mereka akan mencari keteladanan itu dimana saja. Tanpa pernah kita tahu apa yang mereka perhatikan dari kita sebagai orang dewasa.

Awal Mei silam, Jamil Azzaini, berceritera kepada kami tentang keteladanan. Dalam sebuah kesempatan, beliau sepakat bermain petak umpet dengan anaknya paling bungsu.  Beliau spontan menutup mata, menyandarkan diri di tembok beranda, dan mulai menghitung maju sejumlah angka. Anaknya menyisir tempat yang baik di pekarangan rumah untuk dijadikan persembunyian.

Pak Jamil mencari anaknya ini di pekarangannya yang luas. Tapi setelah berlalunya sekian waktu, beliau belum saja menemukan lokasi persembunyian anaknya. Pak Jamil kemudian mulai gusar. Dicari kemana-mana pun tidak ada di dalam pekarangan rumah. “Nak, dimana kau bersembunyi nak?” katanya setengah berteriak.

Tidak ada jawaban sama sekali. Tambah gusarlah beliau. Sejumlah kemungkinan pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya. “Dimanakah anakku sebenarnya sekarang? Kenapa ia tak menjawab panggilanku, ayahnya?; Apakah anakku keluar dari rumah tanpa pengawasan?” Panik.

Seketika, pak Jamil kembali ke dalam rumah. Masuklah ia dan pada saat bersamaan, ia temukan pula anaknya di ruang keluarga. Lega sekali perasaan beliau. Ternyata kekahwatirannya tidak terbukti. Beliau peluk anaknya dengan perasaan damai sekaligus campur aduk.

“Nak, bapak sangaaaat khawatir.” sedu beliau disela tangisnya yang hampir pecah.
“Kenapa kamu bisa pergi dari pekarangan tanpa minta izin dari bapak, kita kan sedang bermain petak umpet!”

“Bapak setengah mati mencarimu ke mana-mana, dan ternyata kamu ada di dalam rumah. Lain kali, kalau mau pergi lagi, minta izin dulu sama bapak ya?”

Dan, inilah jawaban si Anak:

“gimana mau minta izin sama bapak, bapak sendiri tidak pernah minta izin sama aku jika pergi kantor setiap pagi.”

Jawaban itu langsung menyentak batin pak Jamil. Meskipun itu hal  kecil, tapi kita tidak bisa mengharapkan perubahan pada anak tanpa perbuatan.

teladan itu lebih dari berjuta kata, nak! | kata bunda Elly Risman, seorang Psikolog Anak terbaik yang dimiliki negeri ini.

Siapapun anak itu, darimanapun ia berada, suku bangsanya, rasnya, dan agamanya sekalipun. Ia membutuhkan keteladanan dari orang tuanya dirumah dan orang tuanya di sekolah: guru. Children see, children do.  Keteladanan itu akan melahirkan kebiasaan pada anak, lalu menjadi sikap, lalu menjadi benih-benih karakter yang baik.

Nak, syukurlah bahwa pak Wahyu telah mencontohkan teladan sikap yang jujur kepada Jahriyah dan semua murid-murid di sana. Saya yakin pula bahwa, pak Wahyu bisa dan telah memberikan teladan baik lainnya selama penempatan.

Nak, kita juga sangat membutuhkan berjuta-juta pribadi seorang pemimpin yang jujur (yang bisa men-drive kemana arah dari orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya) . Tidak bisa mengendalikan nafsu untuk berbuat curang, berbuat culas, tidak jujur kepada diri sendiri, merupakan tipologi orang yang tidak bisa mengendalikan dan men-drive diri sendiri. Lantas, bagaimana ia akan menjadi pemimpin bagi orang lain? Nak, Begitulah situasi negeri ini…

Nak Jahriyah, kelak menjadi apapun dirimu suatu saat, kamu harus tetap memegang baik-baik sifat jujur dan amanah. Jadilah pramugari yang jujur seperti cita-citamu kelak, atau pegawai jawatan negeri Departemen Perikanan Kelautan dan Perikanan yang jujur seperti yang mungkin diharapkan dari lingkunganmu di Pulau Gili. Orang jujur adalah penjaga diri sendiri, penjaga masyarakat, penjaga dan pelindung agama, serta penjaga sekaligus pengokoh negeri kita Indonesia. Merekalah orang-orang yang komitmen antara kata dan perbuatannya.

***

Ke-23 surat-surat tersebut seperti mengandung rintih-keluh seorang anak kecil yang serba ingin tahu: Apa sih yang ada di luar sana? Bagaimana keadaan listrik di kota besar? Adakah harapan kami untuk bisa melanjutkan sekolah? Apakah sekolah ketika besar itu adalah hal yang menyenangkan? dan, sejumlah pertanyaan lain dari 23 surat mungil tersebut yang jawabannya kadang menuntut kita untuk menelan dahulu pil pahit kenyataan sejumlah keterbelakangan pendidikan di Indonesia…

Saya hanya menyelipkan dua kartu pos bergambar Tana Toraja dan Benteng Rotterdam khas Sulawesi, beserta dua perangko yang nilainya sangat tidak seberapa. Semoga Jahriyah dan anak-anak di Pulau Gili yang lain bisa memulai perubahan kecil dalam hidup mereka. Memulai dengan menulis. Tanpa menunggu listrik terbatas yang byar-pet kala malam.

Apa yang telah dilakukan oleh Pak Wahyu -Wahyuddin MY- ialah mengajarkan mereka untuk berani bermimpi dan menabung harapan di masa yang akan datang. Mengetahui kakak-kakaknya yang dikirimi surat adalah para mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, makanya, surat-surat hebat itu punya kemampuan mentransfer semangat agar mereka rajin ke sekolah dan terus belajar.
Semoga demikian adanya…

Advertisements
Comments
  1. Nurul Kusuma Wardani says:

    terpukau ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s