Mengantar “Garis Batas”

Posted: June 6, 2013 in Rewriting
Tags: , ,

Singkatnya, saya menulis lengkap “Kata pengantar”. Bagi saya, kata pengantar merupakan bacaan wajib bagi setiap pembaca untuk memulai bacaan. Tentunya pula, mendapatkan gambaran utuh tentang apa yang “dicari” dalam buku yang sedang dibaca.

Tuturan pembuka tersebut digoreskan oleh Ambar Briastuti (Moderator milis Indobackpacker) sebagai “Kata Pengantar” dari buku Garis Batas karya Agustinus Wibowo.

“Kata Pengantar” ini jelaslah bukan kumpulan kalimat ajaib nan membuai seperti di backcover untuk menarik pembaca. Bukan pula nukilan sejumput kalimat kelebihan-kelebihan buku yang biasanya terdapat dalam resensi untuk mengagitasi beberapa orang untuk segera ke toko buku, membayar harganya di kasir, lalu menghabiskan waktu dengan melahapnya. Sebab, resensi pun terkadang mempertontonkan kelemahan buku.

Sekali lagi, tulisan ini sekadar pengantar.

Dan maaf saja, buku ini tidak cocok bagi penganut deskripsi eksotisme tempat-tempat perjalanan yang selalu menuntut detail, detail, dan detail tanpa memperhitungkan roda kehidupan yang bergerak disekelilingnya. Ada simpulan yang ditarik dari penulis  dan objeknya –sekumpulan negeri berakhiran Stan- serta interaksi antar keduanya.

Buku ini mencoba menyelami ragam sisi negeri-negeri Stan dengan observasi dan eskplorasi seorang backpacker dan traveler. Sebab, perjalanan adalah sebuah langkah yang dimulai. Ia juga berarti beribu langkah untuk mencapai “Garis Batas.”

garis_batas-cov_ok - Copy

***KATA PENGANTAR***

Satu persatu lembar paspor dibolak-balik. Foto ditatap, halaman kosong dicari. Stempel dicapkan dengan mantap. Dicorat-coret sedikit. Ditiup-tiup hingga cap itu kering. Selesai.

Itulah proses imigrasi, proses perlintasan di garis batas internasional. Proses ini tampaknya begitu mudah dan sederhana, hanya dua tiga menit saja. Tapi saya menunggu hampir satu jam di perbatasan darat Kodari di Nepal Utara. Pagi itu empat pegawai imigrasi duduk di belakang meja panjang, melayani seratusan lebih calon pelintas batas. Kantor ini tak kalah dengan ruang kelas sekolah dasar di pedalaman. Lusuh, gelap, kotor, pengap, sumpek. Tidak ada komputer, tidak ada pemeriksaan barang, apalagi pengambilan foto secara digital. Semua serba manual. Tidak ada yang berbaris karena memang tidak ada sistem antrean. Orang-orang hanya butuh menumpuk paspor, barang, pasfoto, plus lembaran dolar.

Hanya beberapa langkah dari sini adalah kantor perbatasan Zhangmu, titik imigrasi dari Tibet China yang baru saja saya lewati. Alangkah bedanya! Alangkah kontrasnya! Gedung nan megah, pegawai imigrasi yang tegas seperti tentara, komputer dan alat pemindai di mana-mana. Lantai keramik putih, terang benderang. Paspor saya diteliti secara saksama, dicocokkan dengan setumpuk dokumen perjalanan yang telah disiapkan. Tidak tampak uang beredar, kecuali kepingan uang receh di tangan anak kecil yang meminta sedekah. Mereka ini adalah anak-anak etnis Xarba yang hidup di perbatasan Tibet-Nepal, yang hanya dipisahkan sebuah jembatan menyeberangi Sungai Bhote Koshi. Kedua sisi jembatan ini terlihat begitu beda. Di pangkal jembatan tentara China dengan gagah berpatroli dengan senjata lengkap, sedangkan di ujung jembatan sana tentara Nepal duduk-duduk santai menikmati hari.

Perbedaan bagaikan bumi dan langit. Di atas jembatan yang sama, hanya beberapa langkah kaki saja jauhnya…

Dalam perjalanan darat lintas batas menyeberang dari satu negara ke negara lain, kita bisa mengamati refleksi bagaimana negara-negara bekerja, bagaimana roda-rodanya berputar, bagaimana pemikiran manusia-manusianya. Maju atau miskin. Korup atau tertib. Efisien atau molor-molor. Taat hukum atau slebor. Perbatasan adalah jendela kita untuk mengintip sebuah negara, titik kecil yang memberi ilustrasi gambar besar di baliknya. Perbatasan internasional ini memberikan jendela perjalanan yang menghampar di depan kita, menegaskan dugaan atau justru menciptakan prasangka baru.

Garis batas adalah jejak-jejak titik yang memisahkan satu bagian dengan bagian yang lain. Tegas, karena tercantum di atas peta dunia dan dikawal ribuan tentara (saya jadi bertanya, berapa juta tentara di seluruh muka bumi yang berpatroli di perbatasan ratusan negara, dari jalan raya hingga ke puncak gunung, dari hutan belantara hingga ke laut lepas). Tetapi garis batas juga punya sejarah. Siapa yang menciptakan garis-garis itu? Di baliknya ada politik, peperangan, penjajahan, ragam etnis, pertikaian agama, ataukah garis itu hanyalah sekedar zona pembagi? Ternyata dimensi garis batas tidaklah seperti segurat garis tegas hitam memanjang yang digambarkan di legenda peta. Ada dimensi yang berlapis-lapis, ada kesimpangsiuran, ada kesalahpahaman, ada pula pembantaian –sisi gelap yang jarang diceritakan jika kita ber-backpacking tanpa membaca dan merenungkan arti perjalanan, atau menjadikan perjalanan backpacking semata-mata seperti piknik liburan. Backpacking atau menjadi backpacker adalah identitas yang ingin ditempelkan ke semua pelaku perjalanan. Tapi untuk seorang Agustinus, backpacking adalah proses pembelajaran, bukanlah sekadar mengunjungi tempat, hanya demi mengatakan, “I have been there. I have done it”.

Dalam beberapa tahun terakhir sangat sedikit backpacker yang mampu melihat perjalanan sebagai sebuah pengalaman batin yang menguji mental, fisik, kepercayaan diri, bahkan menantang harga diri. Backpacking tidak hanya dilihat sebagai kisah pejalan kere berbekal ransel lusuh dengan rute semrawut. Seorang backpacker harus membekali diri dengan keingintahuan yang besar, independansi, dan mampu keberanian untuk mempertanggungjawabkan pilihannya, termasuk keputusan untuk mengunjungi tempat-tempat yang tidak biasa, berbahaya, ataupun berpotensi konflik.

Agustinus Wibowo yang saya kenal mempunyai multidimensi dalam hidup dan perjalanan backpacking-nya. Ia mengaku orang Indonesia asal Lumajang, berpaspor garuda hijau tapi bermata sipit, berpendidikan terakhir di Beijing. Kefasihan bahasa Tajik yang diperolehnya dari Afghanistan, ditambah sedikit Uzbek, Kirgiz, dan Rusia, membawanya ke negeri-negeri Asia Tengah yang namanya semua berakhiran Stan. Baginya negeri pecahan Uni Soviet adalah refleksi masa lalu komunisme dan sebuah pencarian jati diri negara-negara baru, yang tertatih dan mencoba eksis. Hampir paralel dengan perjalanan hidup pribadinya.

Garis batas adalah pergulatan panjang antara benturan jati diri, dan titik-titik batas yang menurutnya semu. Baginya, ilusi garis yang memisahkan negara adalah buatan manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Terkadang garis batas adalah sebuah garis imajiner yang sangat dinamis. Garis batas tidak hanya mencerminkan kedinamisan manusia itu sendiri, tetapi juga melukiskan kondisi yang mengubah seluruh kondisi kehidupan.

Garis itu bukan sekadar garis biasa…

Agustinus mencoba melihat dinamisme manusia melalui perjalanan ke negeri-negeri Stan, seiring dinamisme dirinya dalam melihat mereka. Benarkah agama menciptakan syak wasyangka? Benarkah komunisme membunuh toleransi? Benarkah hati nurani berubah ketika kapitalisme merengut negeri-negeri Stan sedikit demi sedikit. Dan apakah dirinya yang terlahir sebagai minoritas bisa memahami superiority complex yang menjangkiti mayoritas etnis?

Selimut Debu dan Garis Batas membuktikan bahwa travel writing bukanlah media narsistis atau euforia individualis. Agustinus memilih dengan dua sisi: hal yang membuatnya belajar tentang manusia dan hal yang membuatnya belajar menjadi manusia. Baik-buruk, miskin-kaya, jahat-tulus, kejam-sabar, adalah dua sisi sekeping logam dari sifat universal manusia. Pendekatan humanis, pemahaman kultur, agama, latar belakang demografis membuat buku ini tampil beda. Agustinus menjelma menjadi eksplorer yang bermetamorfosis menjadi observer. Ia memilih merangkum, memperkaya pengalaman backpacking dan menjadikannya seorang pejalan makin arif dan kaya akan pengalaman batin.

Buku Garis Batas ini adalah bagian dari perjalanannya yang panjang lewat darat, melalui banyak titik penyeberangan yang jarang dilewati. Sebagai pembaca, Anda akan dibawa melihat sudut negara yang baru muncul dua puluh tahunan silam. Carut marut, kekacauan, ketidakadilan, dan kisah-kisah yang menawarkan petualangan. Tetapi seperti bukunya terdahulu, Selimut Debu tentang Afghanistan, ia mampu melihat kecantikan dan keindahan di balik negeri suram nan berdebu.

Selamat membaca…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s