Menempuh “Jauh” dan Melangkah “Pulang”

Posted: July 12, 2013 in Opini
Tags: ,

backhome

No one realizes how beautiful it is to travel until he comes home and rests his head on his old familiar pillow –Lin Yutang-

Pulang. Kalau kawan pernah berada di tempat yang jauh from homeland, tentu pernah merasakan keinginan paling kuat dan naluriah seperti ini. Pulang adalah ingatan bawah sadar dan memori masa kecil. Kata yang sangat mengakrabi kita sejak kecil dulu.

“kalau pulang bermain, ajak temenmu ke rumah nak. Ibu siapkan opor ayam yang banyak”. Dulu bahkan hingga sekarang, kita menganggap kalimat itu seperti sihir, menentramkan, meneduhkan, dan menambah semangat ketika kita sedang bermain.

Kali lain, si Ibu mungkin akan berujar: “Nak, kalau pulang mainnya tepat jam 5 sore, Ibu kasi uang jajan tambahan buat besok”. Beragam perintah itu selalu mengandung janji yang terngiang terus di benak. Pulang, pokoknya saya harus pulang ke rumah. Dengan variasi-variasi kenyamanan di balik kata ‘pulang’, kalimat-kalimat itu diulang setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan sepanjang tahun…

Apa sebabnya? Ada kenyamanan dibalik kata “pulang”. Selain mengadung janji, tersembunyi dekapan ibu, hangatnya keluarga, makan malam yang senantiasa lezat, aktivitas ninabobo, dan sesekali PR yang selalu selesai tepat waktu berkat bantuannya.

Tapi entah mengapa setelah dewasa, kita lebih ter-provoke kata “jauh”. Pengaruhnya selalu menuntut dan menuntun kita pergi sejauh-jauhnya, menyelam sedalam-dalamnya, dan mengangkasa setinggi-tingginya.

Ada apa pula di balik “jauh”? Kata “Jauh”, dalam sepanjang sejarah peradaban umat manusia, telah berhasil mereproduksi ketegangan, debar yang tidak biasa, pengalaman luar biasa, pertemuan dengan negeri-negeri tak terjamah, penemuan tempat bermukim yang tak terekam di peta, dan pelbagai anasir yang dijumpai dalam masyarakat yang kita temukan sepanjang perjalanan menempuh “jauh”.

Siapa yang tidak terobsesi ketika berbagai penaklukan hanya dapat digapai dengan merengkuh jalan yang “jauh”? “Pulang” pun bersalin wujud menjadi ide abstrak yang dimakan rayap.

Setidaknya hal itu hampir terjadi pada tokoh “Titik Nol” -Aku- dan “Rantau 1 Muara” -Alif-. Awalnya, mereka bahkan tidak berniat untuk pulang. Cita-cita yang tanggung, ketangguhan pribadi yang selalu ingin menantang diri, dan kenyamanan di tempat persinggahan. Kesannya, masih banyak yang harus dikerjakan di tempat yang bagi mereka memiliki dimensi “jauh” yang tidak terbatas.

Meskipun memiliki genre yang berbeda, dua buku ini, kontemplasi perjalanan dan catatannya (safarnama) yang terangkum apik di “Titik Nol” -Agustinus Wibowo- dan based on true story-nya A. Fuadi dalam “Rantau 1 Muara”, mencoba menjaringkan setangkup pesan kepada kita. Pesan yang kita genggam selama perjalanan menempuh hidup di rantau negeri orang.

Pertama, hidup, haruslah selalu berjalan bersisian dengan perjuangan, petulangan dan pengalaman baru, dan men-challenge diri sendiri agar tidak terbuai waktu bersantai. Kedua, bahwa setiap perjalanan akan selalu menemukan persinggahan terakhirnya. Dan, muara tersebut adalah kembali ke rumah: Pulang.

Tapi, mereka masih belum mencapai tujuan masing-masing. Si Aku, belum lagi menjajal Eropa hingga Afrika ketika Ibunya sedang sekarat memanggilnya dari nun jauh di ujung Jawa Timur sana. Sedangkan Alif, belum sempat mengumpulkan pundi-pundi hidup melalui kenyamanan fasilitas dan gaji yang sangat layak dari pekerjaannya sebagai wartawan di Amerika, ketika teman-temannya menyadarkannya akan butuhnya Indonesia dibangun oleh tangan-tangan kreatif seperti mereka.

Melangkah “Pulang”

Lantas, mengapa setiap kita menjadi harus pulang? “Pulang” berarti mengambil jarak dengan perjalanan yang lain, kembali berdiskusi dengan waktu untuk mengetahui kapan lagi saat yang tepat untuk merengkuh lagi yang “jauh” itu. “Pulang” juga berarti merasakan janji kenyamanan. Janji yang ketika kecil dulu sangat meriangkan hati dan jiwa kita. Sekalipun ketika pulang, si Aku –Titik Nol- tidak menjumpai sama sekali kenyamanan di sana. Sumber kenyamanannya –sang Ibu- sudah beku di peti mati ketika ia melangkah pulang.

Kenyamanan kata “pulang” pun, tidak berarti menjadikan si Aku dan si Alif tidak seproduktif lagi seperti dirantau. Agustinus Wibowo –si Aku- dan Ahmad Fuadi –Si Alif-, kedua tokoh nyata itu sama-sama merindukan Indonesia dan menepati janji dari perintah “pulang”-nya seorang Ibu.

Melalui tulisan-tulisannya dalam sejumlah buku, mereka berhasil mendekatkan “jauh” yang dalam arti sebenarnya sangat jaaauuuhh dan mengakrabkan kembali “pulang” yang sebetulnya sangat deeekaatt. Indonesia masih butuh ribuan orang-orang yang pergi “jauh” dan kembali “pulang” membangun negeri, membangun masa depan bangsa.

Menularkan “jauh” dan “pulang”, saya pikir adalah cara paling efektif mengagitasi masyarakat untuk tidak henti-hentinya belajar, bekerja, dan berinovasi demi kehidupan.

“Pulang” menjadi pelengkap paling canggih dari “jauh”. Inilah dua kata yang menjadi pantas untuk disandingkan. Tapi, kita mungkin tidak pernah benar-benar mengerti untuk “pulang” jika belum merasakan yang “jauh”. Cobalah untuk merasakan getir sakaligus bahagia dari “jauh” itu.

Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang. Bersujud di ranjang ibunya, Dan justru dari ibunya yang tidak pernah kemana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna lembaran yang selama ini terabaikan –Titik Nol-

‘Mantra’ ketiga “man saara ala darbi washala” (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan) menuntun pencapaian misi hidup Alif. Hidup hakikatnya adalah perantauan. Suatu masa akan kembali ke akar; ke yang satu, ke yang awal. Muara segala muara –Rantau 1 Muara-

Mereka terpanggil, mereka pulang. Ternyata, muara perjalanan adalah awal dari perjalanan itu sendiri. Langkah pertama sebelum memulai safar. Safar yang jauh.

*Gambar: di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s