Pulang*

Jadi, tulisan ini saya sengaja ketik ulang dari Harian Kompas terbitan Selasa 6 Agustus 2013 pada Kolom Opini, oleh Acep Iwan Saidi (Ketua Forum Studi Kebudayaan ITB).

heading back home 002

*Pengantar Re-writing:

Memasuki waktu menjelang Lebaran Idul Fitri 1434 H ( beberapa jam lagi insya Allah), ada ulasan yang menarik sy temukan di koran. Berbicara tentang “Pulang”. Semua orang boleh memaknai apa saja “pulang” ini. Tapi karena terikat dengan momen dan mudik sebagai peristiwa dengan latar motivasi spiritualitas dan kebudayaan, maka “Pulang” -menurut penulis- diartimaknakan pula sebagai “Pulang Kecil”. Kembali ke kampung halaman, mengingat kembali semua kenangan masa silam dengan sanak saudara. Sekaligus pula dapat berarti “Pulang” kembali ke diri yang fitri, yang suci. Sebelum kita semua kembali “Pulang” menghadap keharibaan-Nya.

***

Pulang adalah salah satu momen terindah dalam perjalanan. Dalam pulang, kita bayangkan orang-orang yang ditinggalkan sedang menunggu, setidaknya terhadap cerita yang hendak kita dedahkan.

Dalam semiotika, pulang adalah sebuah tanda bahwa manusia hidup dalam siklus yang tak pernah putus. Saat sebelum pergi, perjalanan adalah masa depan, sedangkan titik berangkat adalah sejarah. Saat pulang, situasinya jadi terbalik. Perjalanan adalah sejarah, tentu dengan sejuta kisah. Sejarah yang indah adalah ketika ia memberi kenangan, sekaligus kenang-kenangan. Itu sebabnya, ketika pulang, sang pengembara selalu berusaha membawa buah tangan. Itu sebabnya pula, pengembara sejati selalu berusaha memberi makna pada setiap lekuk perjalanan. Bahkan naluri untuk membuat segalanya bermakna memang telah ada dalam diri setiap manusia. Salah satu penanda di lapis terluar, para pelancong (turis) biasanya tidak pernah lupa membawa kamera.

Hal ini menandai bahwa jauh di bawah titik sadarnya, manusia memiliki keyakinan bahwa hidup yang berarti adalah gambar abadi. Hidup itu sendiri, sebagaimana dikatakan Nettis (1965) dalam Schroeder (2005) memang tak lebih dari serangkaian gambar.

Pulang Massal

Begitulah, setidaknya sekali dalam setahun kita menyaksikan perisitwa pulang yang massal: mudik lebaran. Mudik adalah “mekanisme tak sadar” bahwa pengembara minta dikisahkan kepada orang-orang yang ditinggalkan di tanah asal, sang “ibu kandung kebudayaan”. Kamera butuh dibuka untuk orang lain, juga diri sendiri.

Tentu banyak cara bagaimana kisah itu diartikulasikan: bisa dengan buah tangan, dengan yang ditampilkan, hingga dengan sekadar bualan. Tuntutan tak sadar ini menyebabkan bahwa mudik tidak pernah bisa ditunda. Bahwa untuk seseorang yang notabene tidak ingin lagi mengenal kampung halamannya sendiri, pulang tetap diperlukan. Kita bisa catat ini, setidaknya melalui kisah Malin Kundang.

Pulang sebagai peristiwa budaya sedemikian gayung bersambut dengan pulang sebagai peristiwa spiritual. Semua Muslim tahu belaka bahwa Idul Fitri adalah sebuah titik kepulangan, ruang bagi berkumpulnya manusia yang kembali suci. Dalam kajian narasi, Lebaran adalah sebuah momen flashback dalam alur kehidupan. Ramadhan jadi miniatur tentang bagaimana perjalanan pulang ke “ruang suci” tersebut harus ditempuh, yakni dengan menahan diri (shaum) dari lapar dan dahaga, dari segala hal yang dimotivasi hasrat.

Bagaimana jalan spiritual itu dapat sinkron dengan dengan jalan budaya? Mengapa mudik justru ditempuh dengan hiruk pikuk? Mengapa pulang dalam Lebaran malah cenderung menjadi “jalan petaka”  ketimbang kedua jalan tadi? Pertanyaan ini tak mudah dijawab. Mudik dengan fenomena mengerikan sedemikian tidak bisa dilihat hanya dari lapis luar sebagai “euforia pulang”. Itu terjadi karena sejauh ini pemerintah memang tak melihat mudik sebagai peristiwa yang berkaitan dengan spiritualitas dan kebudayaan. Mudik hanya dilihat sebagai massa yang pulang ke udik setelah sebulan berpuasa.

Karena timbangannya hanya sampai di situ, mudik tak pernah digarap maksimal sebagai peristiwa besar yang bermakna dan bernilai tinggi bagi kehidupan beragama, apalagi berbangsa. Penanganan mudik sangat menyedihkan. Karena infrastruktur mudik yang morat marit, korban akibat kecelakaan selama prosesi ini pun besar. Tahun 2012, hampir 1000 orang. Perang selama dua pekan belum tentu menelan korban sebanyak ini. Anehnya pemerintah menganggap sepi. Seperti biasa, tak ada pernyataan apapun dari kepala negara.

Korban dengan jumlah besar juga disebabkan fakta, yang menangani mudik hanya Kementerian Perhubungan dan Kepolisian. Sepanjang sejarah mudik, kita tak pernah mendengar kementerian yang membidangi kebudayaan, misalnya, turut mengawal. Padahal, jika mudik disikapi sebagai peristiwa kebudayaan, banyak program yang bisa dibuat oleh kementerian ini. Sebagai contoh, mudik bisa jadi “hajat budaya dan pariwisata kolosal” dengan membuat sepanjang jalur mudik menjadi “rute budaya dan pariwisata tahunan”.

Jika digabung dengan Kementerian Agama yang membuat program “mudik spiritual”, akan lahir sebuah kegiatan besar: bolehlah kita beri nama “mudi sebagai perjalanan budaya dan pariwisata spiritual”. Sayang, dalam soal Ramadhan, Kementerian Agama lebih banyak terpaku pada soal-soal formal dan karenanya tak kreatif. Ketimbang memotivasi umat berperilaku spiritual, dengan sidang isbatnya kementerian ini justru lebih suka buat “kegaduhan” pada awal dan akhir Ramadhan.

“Pulang Kecil”

Akan tetapi, baiklah, terlepas dari plus-minus penanganannya, semoga mudik kali ini menjadi peristiwa yang “nikmat dan bermanfaat”. Kita memang masih menemukan jalan raya yang rusak di sana sini dan hanya diperbaiki dengan grasa-grusu menjelang Lebaran, tetapi mudah-mudahan itu bukan representasi pemerintah dan bangsa yang rusak. Semoga mudik kali ini jadi refleksi bagi semua pihak: sesungguhnya pengembaraan manusia di dunia adalah perjalanan menuju pulang.

Silaunya mata sebab sinar dunia menyebabkan seolah-olah kita sedang berjalan ke depan. Padahal, jika kita sadar sejenak saja, langkah kita sebenarnya menuju titik akhir. Kita sedang melangkah ke belakang, ke sebuah titik tempat dulu diberangkatkan. Dan, sekali lagi, pulang dalam Idul Fitri hanyalah sebuah miniatur, sebut saja sebagai “pulang kecil”. Maka semoga “pulang kecil” kita kali ini membawa kenangan dan kenang-kenangan. Selamat Idul Fitri!

Acep Iwan Saidi (Ketua Forum Studi Kebudayaan ITB)

Gambar: di sini.

Advertisements

4 thoughts on “Pulang*

    1. hehe,,,siap. Sepakat.

      Perkara nasehat-menasehati dalam kebaikan, kita semua punya kewajiban untuk itu. Biasanya, momen-momen tertentu yang buat saya menuliskannya. Di samping secara kapasitas keilmuan keagamaan, saya kurang. Tapi seringnya, kendala pengalaman keagamaan, biasanya bersifat privasi. Kesannya jadi curhat.

      Tapi ada kejadian menarik diluar hal-hal keagamaan dari yang sifatnya privasi itu. Saya ikut pengamatan hilal 1 Syawwal dengan teropong bintang Celestron yang lumayan. Tapi yang lihat hilalnya, cuma teropong yang dibawa dari Observatorium Boscha, Bandung. Itupun mereka menangkap dengan teknologi canggihnya. Hilal tahun ini ada 3 derajat. Di tempat pengamatan, ada 5 teropong bintang dari berbagai lembaga independen, ormas Islam, dan pemerintah.

      Lantas, saya minta penjelasan ringkas tentang teknologi yang ia gunakan. Beberapa kali dijelaskan pun, saya belum pasti mengerti. Namun demikian, terbit kekaguman saya dengan keteraturan alam semesta ciptaan Allah. Perjalanan benda-benda langit, pergatian siang malam, dsb. Kami semua yang berada di lokasi pengamatan, shalat maghrib dan buka puasa bersama dengan rasa syukur dan khidmat yang dalam. Pengalaman batin itu bagi saya cukuplah, tanpa harus menuliskannya.

      Like

      1. sy mungkin tidak berkapasitas untuk mengingatkan, tapi mungkin masukan saya bisa dipertimbangkan karna terus terang kanda, saya cukup mengagumi kt dengan kemampuan menulis yang biasanya dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang..

        Like

      2. Terima kasih Amirullah, jangan sungkan. Uraian yang paling tajam pun, saya terima. Ini saya ucapkan Alhamdulillah, karena masih diingatkan. Haha, malah agak malu karena kita berada di postingan “yang saya CUMA ketik kembali” dari koran KOMPAS. Tulisannya Acep Iwan Saidi (jago bahasa Ibrani) -Ketua Forum Studi Kebudayaan ITB-, yang tulisan-tulisan reflektifnya saya senang membacanya. Jadi, bukan tulisan saya.

        Banyak blog-blog menarik yang mesti kau simak. Ini beberapa diantaranya: 1. http://imanusman.com/, 2. http://muhammadassad.wordpress.com/, 3. http://ndorokakung.com/, 4. http://www.fahdisme.com/. Seorang kawan Pengajar Muda (Indonesia Mengajar), berpesan begini: “menulislah jika kau terkejut, sebelum esok atau lusa semuanya akan menjadi biasa-biasa saja seperti sedia kala”. Kalau mau menulis, ingat saja itu. Kalau Amirullah mau membagi pengalamannya, dengan senang hati saya akan belajar.

        hmm, ya, jelas akan saya pikirkan untuk itu.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s