Melihat Pak @SupirPete2 Sekarang

Posted: August 12, 2013 in Catatan Harian, Reportase
Tags: ,

SONY DSC

Kalau kawan-kawan ada yang follow @SupirPete2, mungkin akan tersenyum-senyum kecil dengan sering bergantinya username akun twitter dengan followers terheboh se-Makassar itu. Nah, beberapa hari ini -mungkin sudah masuk sepekan-, username-nya: (SAYANG DULU PALE’). Aseeekkk.

Saya tidak tahu apa kaitannya antara Pete-Pete dan sapaan mendayu “SAYANG DULU PALE”. Adakah yang tahu? Sejauh ini, saya masih kepikiran poster “SAYANG” –julukan Gubernur Sulawesi Selatan dan pasangannya- yang tertempel secara tidak rapi di beberapa pete-pete’.

Tapi, ada baiknya kita tinggalkan saja pencarian relevansi yang memusingkan itu.  Ini menarik. Sebab, di kota yang terkenal ‘keras’ dan ‘kasar’, inilah salah satu kalimat rayuan melankolik yang jamak diucapkan. Di dalamnya ada nada manja dan rajukan setengah hati. Saya pun melakukannya, di rumah ada kemenakan laki yang belum genap usianya dua tahun.

Karena belum pandai berbicara, saya mengajarinya bahasa verbal. Sehingga, setiap saya menyorongkan pipi ke mulutnya yang mungil, sontak dengan sukarela ia akan mencium pipi saya dengan lembut. Bahkan tanpa harus mendesakkan “CIUM DULU PALE’” ke telinganya. Semoga Anda tidak iri.

Sebenarnya, sudah dari sono-nya manusia itu punya kecenderungan dan kecintaan terhadap anak-anak. SBY saja rambutnya dijambak sama Airlangga –anak dari Ibas-, masih bisa tertawa puas. Bahasa agamanya, fitrah manusia.

Kalimat ini pula, setahu saya, paling sering diucapkan oleh seorang Kakak sama adiknya, sama anak tetangganya yang lucu menggemaskan, sama sepupu-sepupunya yang kecil, ataupun dengan ponakan-ponakannya yang terhitung masih balita.

Pokoknya, setiap bertemu, kita akan mencegat si balita itu. Dan tidak membiarkannya sekalipun lewat tanpa kecupan. Biasanya kita meminta dengan meniru gaya bicara dan mengubahnya cadel, “CAYANGKA DULU PALE'”, atau “CAYANGKA DULU KODONG”.

Tapi maaf, tidak ada yang gratis di dunia ini. Mereka juga adalah manusia, alias kaum-kaum pragmatis. Entah mencontoh siapa, atau siapa yang menyuruhnya berbuat demikian, kita nggak tahu. No candy, no kiss. Tidak ada permen Yupi, kecupan berlalu.

Saya kembali ke topik. Jadi, jika kita melihat dari kacamata kebudayaan,  @SupirPete2 dengan (Sayang Dulu Pale’)-nya, sudah jelas memiliki maskud. Pertama memenuhi fitrah-nya dengan bergabung dalam bagian masyarakat komunal Indonesia yang selalu ingin disayang dan diberi perhatian. Tujuan kedua adalah memuaskan hasrat manusiawi yang sama pragmatisnya. Anda beri dan saya akan membalasnya dengan setimpal. Tidak kurang dan tidak lebih.

Kita tahu, bahwa meskipun berada di ruang komunikasi global, wadah @SupirPete2 itu tidak hidup dalam ruang hampa. Jelas keberadaannya sangat terikat dengan ruang dan waktu.

Tapi kita fair di sini. Kita butuh untuk menyebarluaskan informasi, kita butuh informasi secepat mungkin, dan keberadaan kita pun ingin diketahui oleh banyak orang. Dengan me-mention @SupirPete2, dan bila si buzzer ini me-Retweet apa yang Anda postingkan, maka pada saat itu: BERSYUKURLAH.

Sebanyak tidak kurang empat puluh empat ribu orang akan membantu Anda sedapat mungkin. Tentunya sangat menyenangkan bisa bekerja sama dengan pak @SupirPete2.

Efek pragmatisnya bisa diketahui. Saat postingan Anda di-Retweet @SupirPete2, tentulah ada imbalan yang perlu dilunasi, atau paling tidak sebagai balasan moral (moril?) kepada si buzzer. “NAH, SAYANGKA DULU PALE’”, kata @SupirPete2. Artinya: Anda harus mem-follow-nya. Komunitas harus terus terkembang.

 Hingga saat ini, “buzzer dan para followers-nya” seperti @SupirPete2 ini jika diumpamakan, seperti semacam “komunitas yang dianggit/di-imaji” –imagined communities – kata Bennedict Anderson.

Berdasarkan defenisi antropologisnya, buzzer dan pengikutnya ini kita istilahkan layaknya sebuah nation di sosial  media. Nah, “buzzer and the followers” ini dulunya masih komunitas yang kita bayangkan akan terjadi.

Mereka tidak saling kenal secara fisik –kecuali yang sering kopdar bareng-, dan tidak pernah ketemu sekalipun, tetapi dalam benak mereka selalu tumbuh kesadaran. Mereka merupakan suatu persekutuan.

Sebagai bukti nyata, mungkin inilah komunitas yang lahir dengan di-imaji/dibayangkan itu. Lahir supirpete2.com yang di-support Telkomsel. Sebuah situs direktori kota Makassar online yang menginformasikan seputar hal-hal yang Anda cari di Makassar. Sebagaimana sebuah komunitas pada umumnya, supirpete2.com memiliki visi.

Visinya adalah menjadi situs pusat informasi kepercayaan masyarakat Makassar dan untuk membantu mereka yang berkunjung ke Makassar. Pada akhirnya, @SupirPete2 bersama supirpete2.com berubah menjadi satu kesatuan yang semakin disayang. Hebat, kan? Silahkan berkunjung suatu saat.

Untuk Biography-nya dengan deskripsi “Naik Gratis, Turun Bayar”, no comment. Saya pikir Ini hal yang sudah semestinya. Anda tidak harus berkejaran dengan @SupirPete2  karena tidak bayar, kan?

Sayang Dulu Pale’. Haha…

Gambar: disini

Advertisements
Comments
  1. akbarmangindara says:

    sayamh dulu pale’..

    Like

  2. mujahidzulfadli says:

    haha…mmuaahh.

    Like

  3. Ahmad dahlan says:

    cayank dule om,,hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s