Gandhi, Gus Dur dan Perdamaian

Posted: September 14, 2013 in Esai
Tags: ,

ahimsa cali NS

“hari ini kita telah kehilangan semua akal sehat, kita menjadi dungu”
-Mahatma
Gandhi

Perkataan itu dilontarkan Gandhi ketika tanah Hindustan yang mulanya satu itu, terpaksa harus terkoyak dua dengan dalih agama. Satu tempat untuk orang Hindu -India- dan satunya lagi untuk sebuah tempat yang bernama Pakistan -Muslim-.

Itulah masa ketika di Hindustan, orang-orang saling membenci dan membantai satu sama lain. Gandhi dengan ahimsa (perlawanan tanpa kekerasan), melakukan puasa nyaris lima hari tanpa makan minum. Aksi Gandhi merupakan reminder dan sekaligus kecaman keras pada rakyat Hindustan baik Muslim maupun yang Hindu, seakan ia berkata: “ke mana perginya akal sehatmu?” 1

Khusus Indonesia yang berada di pelosok garis khatulistiwa, ada satu nama yang layak kita sandingkan terkait peran Gandhi. Bukan lantas untuk membanding-bandingkan. Akan tetapi kita bisa menyimpulkan bahwa baik nama besar Gandhi di dunia internasional dan nama yang akan disebut kemudian ini, saling membagi spirit yang sama dengan orang-orang yang ada di sekitarnya: perdamaian.

Di Indonesia, nama ini demikian menggugah bagi sebagian orang dan memancing sinis bagi sebagian lain. Tapi kita semua sepakat, hingga hari ini identitasnya masih mampu menggetarkan kata dan makna “damai” di berbagai penjuru negeri dasawarsa ini dan silam: Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. “Damai”, yang menurut pengharapan kita hari ini berarti matinya kekerasan, laku diskriminatif, dan tindak intoleran yang terjadi di Indonesia selama ini.

Sosok Gus Dur sendiri sejauh yang kita ketahui lebih cenderung mengarah sebagai vrijdenker (pemikir bebas) yang melengkapi status negarawan dan agamawan yang disematnya. Pendidikan Islam klasik ia peroleh semenjak di pesantren, kemudian menempuh jauh ke Kairo dan terus berbelok ke Baghdad, dan selanjutnya menikmati kemoderenan Eropa selama beberapa waktu.

Pergulatan akademik, selingkung pengalaman, dan melebarnya wawasan seorang Gus Dur-lah yang berhasil membawa Gus Dur muda yang Islam-Tradisionalis menuju Islam-Progressif. Bersama akumulasi rekam jejak tersebut, Gus Dur dapat dan selalu siap menerima pemikiran modern yang sejatinya –menurutnya- menyegarkan kembali khazanah keislaman itu sendiri.

“Islam Kita” dan Perdamaian Indonesia

Indonesia merupakan sepetak bumi tempat Islam sebagai agama mayoritas dianut oleh masyarakat. Islam semenjak dibawa oleh Rasulullah SAW, telah menegaskan keberadaannya  sebagai agama Rahmat yang bukan sekadar Rahmat. Tetapi “rahmatan lil ‘aalamiin”, kasih sayang bagi sekalian alam dan umat manusia secara keseluruhan.

Akan tetapi di Indonesia, yang terjadi sungguh berpaling rupa dari perwajahan layaknya seorang Muslim yang seharusnya. Berdasarkan pemantauan HRW di tahun 2012, Indonesia disebut sebagai negara yang sangat tidak akomodatif terhadap hak-hak kaum minoritas dan tempat terjadinya banyak pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Hak-hak asasi ialah bagian hak yang secara universal melekat dalam diri setiap manusia. Sebagai negara yang berdaulat penuh, Indonesia memiliki kewajiban menghormati (pengakuan) hak dan melakukan kewajibannya (pemenuhan) atas hak-hak asasi yang telah diakui tersebut. Namun undang-undang yang dibentuk dalam rangka pemenuhan hak-hak dasar warga negara cenderung timpang dalam sisi praksisnya.

Human Rights Watch sempat mendokumentasikan sedikitnya 12 kasus di mana kelompok-kelompok militan yang mengatasnamakan agama memakai landasan SKB 2006 untuk menghalang-halangi pembangunan rumah ibadah baru2. Muncullah kekerasan yang berkedok agama dengan jumlah yang mencapai ratusan. Dan setiap kekerasan dan rongrongan hak yang paling fundamental ini, pastilah berakhir dengan korban manusia dan kemanusiaan.

Padahal menurut Gus Dur, Al-Qur’an jelas menegaskan agama adalah wilayah privat yang tidak bisa diintervensi atau dipaksakan. Beberapa ayat mengafirmasi kemajemukan atau pluralitas sebagai sebuah keniscayaan. Bagi Gus Dur, pluralisme ialah kesadaran yang mengakui keragaman kaum muslim dan keragaman manusia3

Inilah pandangan yang acapkali muncul. Golongan liyan dalam agama sering ditafsirkan sebagai yang patut untuk dicurigai, disisihkan, dan tidak diberikan ruang untuk mengupayakan praktik keberagamaan mereka dalam ranah perpektif dialogis antar agama.

Sementara Gus Dur berpendapat bahwa solusi untuk masalah itu sudah ada dari dulu-dulu. Al-Qur’an menegaskan bahwa iman yang terbaik adalah iman yang dialogis-empatik (wajaadilhum billatii hiya ahsan, [16]:25) dan menghargai perbedaan keyakinan (lakum diinukum waliyadiin, [109]:6).

Perdamaian yang dicita-citakan Gus Dur sebenarnya didasarkan pada spirit multikulturalisme dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Al Hujurat:13)

Gus Dur dinilai berhasil membawa “Islam Kita”, sebagai instrumen religio-sosial dalam upaya menciptakan perdamaian dan kerukunan di tengah-tengah keragaman beragama Indonesia. Perbuatan dan perkataan Gus Dur lantang dalam hal ini, “kalau ada yang berpendapat Ahmadiyah salah, silahkan. Tapi UUD Dasar 1945 memberi mereka kebebasan untuk menyatakan pendapat.”.

Dalam hal ini, tidak berarti Gus Dur membela keyakinan Ahmadiyah, tetapi membela hak warga minoritas yang tetap harus dilindungi. Toleransi memang mengizinkan seseorang untuk menawarkan pandangannya kepada orang lain, tetapi dengan syarat tanpa ada paksaan untuk menerimanya.

Tapi toleransi sesungguhnya juga mempunyai batas, yakni toleransi tidak bisa menoleransi tindakan-tindakan intoleran. Setiap orang boleh diputuskan bersalah atas keyakinannya, tapi tidak setiap dari mereka dapat diperlakukan dengan sewenang-wenang.

Pada masa lalu, beliau mengeluarkan Keppres Nomor 6/2000 tentang diakuinya Etnis Tionghoa khususnya kepercayaan Kong Hu Tcu sehingga mereka bisa mengekspresikan keberagamaannya hingga hari ini. Masih banyak contoh lain lagi4. Gus Dur menjadi unik karena “memaksakan” perdamaian itu hadir di tengah-tengah manusia beragam di Indonesia tanpa menghadirkan sesuatu yang sama sekali baru. Semua tertera dalam Al-Quran. Amanah konstitusi negara pun menegaskan hal yang sama.

Konsep “Islam Kita” yang digagas Gus Dur berhasil diejawantahkan ke dalam potensi-potensi konflik antara negara dan masyarakat. Ini sekaligus memberikan pelajaran kepada pemimpin-pemimpin Indonesia selanjutnya bertindak tegas dan tangkas mengedepankan ‘perdamaian Indonesia’ dalam menelorkan pelbagai kebijakan yang menyangkut hak-hak dasar warga negara.

Bahwa ‘perdamaian Indonesia’ haruslah mensyaratkan perdamaian yang berhasil meramu dan merangkul keberagaman Indonesia, bukan keseragaman. Ada yang muslim, ada pula non-muslim, tapi tetap sama Indonesia. Nah, sebagaimana kata Gandhi, semoga kita tidak sampai menjadi dungu dan mati karena bertikai.

Gambar: disini
Bahan bacaan:

  1. M. Fauzi Sukri. Teroka. “Puasa”, Gandhi, dan Kemanusiaan. Kompas/31 Juli 2013
  2. Humar Rights Watch. 2013. Atas Nama Agama (Pelanggaran Terhadap Minoritas Agama di Indonesia). United States of America.
  3. Irwan Masduqi. 2011. Berislam Secara Toleran (Teologi Kerukunan Umat Beragama). Bandung: Mizan
  4. Ikrar Nusa Bakti. Gus Dur, Bapak Perdamaian dan Toleransi. Seputar Indonesia/5 Januari 2010
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s