Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu*

Jhon Harvard, di depan kampus yang terkenal sejagat itu

Ibu selalu menganggap kita anak kecil yang kebetulan tumbuh dewasa -Irfan Amalee- 

*Tulisan ini adalah satu sekian puluh judul tulisan dari buku dengan judul yang sama. Karya Irfan Amalee. Beberapa kalimat dicetak Bold yang sekiranya dapat menjadi ibrah (pelajaran) untuk kita semua. Bahwa sebenarnya bukan saja untuk meraih beasiswa Ridha Ibu kita selalu harapkan. Tapi untuk semua hal yang akan kita lakukan. Dunia dan akhirat. Selama wanita yang sangat kita cintai itu masih tetap kita sapa dengan “IBU”. Sampai ia kemudian ia menjadi tua, renta, kemudian kembali berpulang menghadap Allah Yang Maha Kuasa.

 ***

Setiap musim liburan summer, kampus Harvard ramai sekali. Bukan oleh mahasiswa, tapi oleh para pelancong dari berbagai negara. Kampus ini lebih mirip tempat wisata. Tujuan utama mereka adalah patung John Harvard, orang yang empat abad lalu berjasa pada pendirian kampus paling bergengsi di jagat ini.

Terlihat antrean panjang orang yang menunggu untuk dapat giliran berfoto, berpose di bawah patung John Harvard sambil memegang sepatunya yang mulai kelihatan mengilat akibat terlalu sering dipegang pelancong yang berfoto di sana.

Saya menemukan diri saya ada di antrean orang yang ingin difoto itu. Sukidi, teman saya yang sedang menempuh S3 di Harvard Divinity School, meyakinkan saya bahwa kalau ingin bertemu diterima di Harvard, saya harus berfoto di sana. Meskipun tak percaya dengan takhayul ini, saya akhirnya berfoto juga. Hehehe…

Menjadi mahasiswa di Amerika adalah impian banyak orang yang kini semakin mahal. Untuk orang-orang yang tak beruang, keinginan itu seperti mimpi di siang bolong. Karenanya, diperlukan untuk mewujudkan mimpi itu, diantaranya dengan memegang sepatu John Harvard. Tapi, bagi saya keajaiban itu adalah doa ibu.

Sejak awal saya menyampaikan niat untuk melanjutkan sekolah S2, ibu tak setuju. Ibu sangat khawatir jika saya harus meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan, bagaimana nanti saya menafkahi istri dan dua orang anak. Di samping itu, keinginan saya untuk sekolah di luar negeri sunggu meresahkan beliau, karena itu berarti akan membuat saya jauh dari sisinya. Tak ada ibu yang menginginkan jauh dari anaknya. Meskipun anaknya sudah beranak pinak. Ibu tetaplah ibu. Ibu selalu menganggap kita anak kecil yang kebetulan tumbuh dewasa. Berkali-kali ibu saya menyampaikan kekhawatirannya kepada istri saya, dengan harapan istri saya bisa melobi saya agar menyimpan mimpi tersebut.

Tapi, keinginan saya untuk sekolah semakin kuat. Bekerja lebih dari tujuh tahun setelah lulus S1 membuat saya merasa rindu suasana akademik dan merasa harus segera mengasah gergaji. Paling tidak sedikit lamaran beasiswa saya layangkan setiap tahun, selama lebih dari empat tahun berturut-turut. Alhamdulillah, selalu saja ditolak. Padahal, rasanya semua usaha sudah dikerahkan.

Surat rekomendasi dari tokoh besar Indonesia, transkrip ijazah dengan nilai memuaskan, serta CV yang meyakinkan. Saking begitu seringnya membuat lamaran, rasanya mual perut ini setiap kali mengisi data yang sama berulang-ulang pada formulir yang berbeda-beda. Saat di ujung putus asa, pada 2010 saya mendapat surat kelulusan tahap awal beasiswa IFP Ford Foundation. Dalam hati saya berbisik, “Inilah harapan terakhir saya. Harus lolos sampai tahap akhir. Jika tidak, tak sudi lagi saya melamar beasiswa.” Saya benar-benar di ujung putus asa.

Ayah menjadi supporter utama selama saya menjalani proses seleksi ini. Meskipun dulu tak memberi izin saya sekolah ke Barat, kini doanya untuk saya tak pernah putus. Ayah terus mengikuti perkembangan, dari proses seleksi administrasi, seleksi tulis, seleksi bahasa, hingga wawancara yang total waktunya sekitar satu tahun penuh.

Singkat cerita, setelah berhasil menyisihkan ribuan peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, saya tiba di putaran final. Saya diundang tes terakhir wawancara di Yogyakarta.

Dengan sentuhan tukang pangkas rambut di dekat Stasiun Tugu Yogyakarta, saya berusaha menyembunyikan kekucelan yang menjadi bakat alami. Tapi keputusan untuk tampi necis di hadapan pewawancara ternyatra langkah yang salah. Satu dari tiga pewawancara meragukan kemarjinalan saya, “Beasiswa kami diprioritaskan untuk orang marjinal. Anda sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda masuk kelompok ini!” Sambil membaca CV saya, dia menyinggung jabatan dan penghasilan saya yang dianggap tidak marjinal, serta surat rekomendasi dari Buya Syafii Maarif dan Dr. Haidar Bagir. Dia mengatakan, “Mana mungkin orang marjinal punya akses pada orang-orang besar.”

Saya pulang dengan langkah gontai. Perjuangan bertahun-tahun berburu beasiswa sekolah ke luar negeri akan hanya tinggal mimpi. Seperti telah diduga, ketika pengumuman tiba, tak ada nama saya diantara lima puluh orang yang diterima. Dengan berat hari saya sampaikan duka ini kepada orang tua. Ayah tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Namun wajah ibu terlihat sumringah, sambil mengucap Alhamdulillah.

Saya baru sadar, ternyata doa ayah barulah separuh dari ridha Allah. Separuh lagi ada pada ibu yang saat itu belum membukakan pintu restunya.

Semua terjadi begitu cepat, ketika ibu jatuh sakit. Dokter menemukan kanker ganas di hari ibu. Padahal sebelumnya begitu sehat-sehat saja, atau mungkin ibu tak pernah memedulikannya.

Saya yang kadang lupa meluangkan waktu untuk ibu karena terlalu sibuk bekerja, mulai menyempatkan lebih sering untuk berkunjung ke rumahnya. Kadang-kadang saya memijat ibu. Waktu kecil dulu, pijatan ibu seperti obat yang ampuh. Bahkan, kadang saya pura-pura sakit hanya untuk mendapatkan pijatannya. Sekarang giliran saya yang memijatnya.

Di sela-sela memijatnya, saya curhat tentang mimpi untuk sekolah yang baru saja kandas di ujung jalan. Padahal, sekolah bagi saya bukan hanya keinginan, tapi kebutuhan untuk bekal masa depan. Meskipun saya tak bermaksud merayu, ternyata hati ibu mulai berubah. Ibu tak keberatan saya sekolah, asal jangan jauh-jauh. Pintu restunya mulai terbuka.

Suatu siang, ketika saya di kantor, telepon berbunyi. Di ujung sana Ibu Nuwening, staf IIEF, mengabarkan ada satu kandidat penerima beasiswa yang mengundurkan diri. Saya telah disetujui oleh kantor pusat di Amerika untuk menjadi pengganti. Subhanallah, dalam jangka wwatu kurang dari 48 jam, restu Ibu mampu mengubah takdir.

Betapa bahagianya ayah dan ibu menerima kabar ini. Ibu berpesan kalau bisa saya tidak memilih Eropa atau Amerika. “Kalau bisa Australia saja, biar gampang pulang kalau Ibu ada apa-apa,” kata Ibu yang kondisi kesehatannya semakin menurun.

Saya berusaha lebih sering mengunjunginya, memijitnya, mendengar cerita-ceritanya. Hingga suatu hari Ibu mengatakan bahwa dia tak keberatan kalau saya ingin belajar ke Eropa, Amerika, atau bahkan ujung dunia. Saya heran mengapa begitu cepat Ibu berubah pikiran.

Pada suatu sore di akhir Oktober, tepat satu hari sebelum saya pergi ke Jakarta untu memulai karantina pendidikan Bahasa Inggris sebagai bagian dari program beasiswa, saya mencium tangan Ibu tanda pamit dan memohon doanya. Ibu memberi beberapa nasihat dan senyumnya. Ternyata, itulah nasihat dan senyumnya yang terakhir. Satu jam kemudian, setelah saya tiba di rumah, saya mendapat telepon bahwa ibu telah tiada.

Saya baru sadar bahwa ibu memberikan izin kepada saya untuk pergi jauh, karena dia akan pergi lebih jauh.[]

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s