Haji Agus Salim, Indonesia, dan Islam*

agus salim1

*dikutip ulang dari KOLOM Majalah Tempo Agustus 2013 -Edisi Khusus Kemerdekaan-

Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Budayawan dan Pendiri Maarif Institute

Karier Haji Agus Salim dapat dipantau melalui seribu satu jendela: penerjemah, aktivis politik, wartawan, diplomat ulung, negarawan, alim, dan intelektual kelas berat. Sekiranya dulu usul RA Kartini dikabulkan oleh pemerintah kolonial untuk memberikan beasiswa kepada alumnus terbaik Hogere Burger School tahun 1903 ini buat belajar ilmu kedokteran di Belanda, boleh jadi Salim akan menjadi manusia lain sama sekali. Tidak mustahil ia akan menjadi seorang agnostik, bahkan ateis. Atau jika manusia cerdas ini tidak berkenalan dengan kultur rantau yang merangsang potensi intelektualnya untuk berkembang sampai batas maksimal dengan radius yang sangat jauh, dengan hanya terenyak di Koto Gadang (Bukittinggi), misalnya, tentu Salim, yang nama aslinya Masjudul Haq, hanya akan dikenal di sekitar tempat kelahirannya. Pergumulannya dengan kultur rantau telah menempa Salim menjadi manusia universal dengan wawasan kemanusiaan, keindonesiaan, dan keislaman yang mendahului zaman.

Profesor Willem “Wim” Schermerhorn, ketua delegasi Belanda dalam Perundingan Linggarjati, dalam catatan hariannya tertanggal 14 Oktober 1946 menulis hanya satu kelemahan Salim, yaitu “selama hidupnya selalu melarat dan miskin”. Di antara elite Indonesia, Salim adalah salah seorang asketis sejati dalam formatnya yang sempurna. Mr. Mohamad Roem menulis salah satu artikel dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim (Sinar Harapan, 1984) tentang kehidupan mentornya ini pada 1920-an:

Rumah itu menunjukkan rumah keluarga yang kurang berada. Tetapi waktu itu kami tak pernah menanyakan terus terang, mengapa pindah dari dari Gang Tanah Tinggi (ke Gang Toapekong). Tidak sempat memikirkan perasaan kasihan dengan keluarga Haji A.Salim yang hidup dalam keadaan kekurangan.

Tentu sebenarnya kurang masuk akal bila Salim yang melarat sebenarnya sudah menjadi tokoh penting Sarekat Islam (SI) bersama H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis. Sekiranya semangat anti-penjajahannya tidak menulang sumsum dan mau terus bekerja sama dengan kekuasaan kolonial, cerita tentang asketisme di atas tidak akan pernah muncul. Roem melanjutkan: “Berpindah-pindah rumah dalam keadaan tambah memburuk ternyata sudah dalam perhitungannya. Pada waktu itu penulis ingat kepada perkataan Kasman: Leiden is Lijden. ‘Memimpin adalah menderita’.”

Pada tulisan lain di buku Manusia dalam Kemelut Sejarah (LP3ES, 1981), Roem memberi kesaksian lagi: “Haji Agus Salim menarik perhatian saya karena dia lain dari yang lain. Rumahnya rumah kampung. Meja dan kursinya sangat sederhana. Sangat berlawanan dengan apa yang saya bayangkan tempat seseorang yang sudah terkenal”. Roem memang dikenal dengan Salim dan keluarganya.

Bagi Salim, penderitaan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa adalah risiko belaka. Hamka dalam buku yang sama mencatat kualitas patriotisme seorang Salim: “…tidak beberapa hari sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, yang ketika itu usianya sudah 61 tahun, ketika seorang wartawan asing menanyainya, ‘Bagaimana jika bangsa Belanda meminta kembali agar Indonesia diserahkan kembali kepadanya?’ Beliau menjawab, ‘Daripada menyerahkannya kembali kepada Belanda, lebi baik saya bakar Indonesia ini’.”

Salim yang pernah bekerja sama dengan Belanda, sadar betul sistem penjajahan harus dilawan dengan segala kekuatan. Dalam harian Neratja, 25 September 1917, jiwa revolusioner Salim terbaca dalam ungkapannya: “…dalam kegeri kita, janganlah kita yang menumpang.” Sebuah hasrat kuat untuk segera lepas dari kekuasaan penjajahan. Anehnya, Salim tidak pernah ditangkap oleh aparat Belanda.

Keinsafan Salim ini terutama setelah terlibat kegiatan SI, dari semula ditugasi polisi Belanda untuk mematai-matai gerakan rakyat itu. Inilah tuturan Salim tentang perubahan sikap politiknya yang dramatis, seperti dikutip dari The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942 karya Deliar Noer. Pengakuan Salim itu dimuat pertama kali dalam Bendera Islam, 2 Mei 1927:

Perkenalan pertama saya dengan organisasi ini…terjadi pada waktu saya sebagai anggota seksi politik polisi. Saya diminta untuk menyelidiki kebenaran tentang rumor yang mengatakan bahwa Tjokroaminoto telah ‘menjual Sarekat Islam kepada Jerman’ seharga f 150.000; dengan uang ini memungkinkannya untuk melakukan pemberontakan berskala luas di Jawa yang disuplai senjata oleh Jerman. Dari semula saya meyakini dua hal: pertama, bahwa rumor itu nonsens, dan kedua, bahwa jika pemberontakan itu menjadi kenyataan, itu hanyalah akan mengakibatkan suatu malapetaka bagi negeri dan rakyat. Saya terimalah tugas itu, tetapi pada waktu yang sama saya juga beritahukan perwira atasan saya tentang keyakinan saya di atas… Penyelidikan itu membawa saya kepada pengetahuan yang lebih dalam tentang Sarekat Islam, terutama tentang kepemimpinan Tjokroaminoto dan ini menyebabkan saya turut serta dalam gerakan itu, setelah itu saya putuskan hubungan saya dengan kepolisian.

Sekiranya tidak berkenalan dengan Tjokroaminoto-pemimpin rakyat yang sangat dikaguminya, dan masuk pada 1915-belum tentu Salim muncul sebagai seorang revolusioner. Sebenarnya, dalam struktur pimpinan Central Sarekat Islam (CSI) dalam Kongres 1919 di Surabaya, posisi Salim hanyalah komisaris yang mengurus divisi perburuhan dan sekaligus penasihat Tjokroaminoto. Tapi tanpa Salim, Tjokroaminoto, dan Abdoel Moeis (Wakil Ketua 1 CSI) akan kewalahan menghadapi serangan gencar SI Merah dengan tokoh-tokoh utamanya, seperti Semaoen dan Darsono. Pertarungan Islam versus Marxisme yang memanas itu, yang semula terjadi dalam tubuh SI/CSI, berlanjut sampai puluhan tahun kemudian pasca-proklamasi kemerdekaan-dengan korbannya masing-masing dalam jumlah besar.

Salimlah aktor intelektual terdepan yang memberikan warna Islam ke tubuh SI yang berhadapan dengan kekuatan Marxisme yang diselundupkan Henk Sneevliet melalui SI Semarang. Sneevliet, yang bernama lengkap Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, adalah warga Belanda kelahiran Rotterdam yang berjasa memasukkan ideologi Marxisme ke Indonesia. Ideologi kiri yang sedang di atas angin inilah yang memecah belas SI menjadi SI Merah dan SI Putih.

Sejak perpecahan itu, SI semakin kehilangan daya sebagai kekuatan politik rakyat terjajah berhadapan dengan sistem kolonial. Trio Tjokroaminoto-Moeis-Salim tidak pernah berhasil mengembalikan sasaran SI, yang mencapai puncaknya pada 1916. SI Merah, yang kemudian pada Mei 1920 menjadi Partai Komunis Indonesia, oleh Salim dicap sebagai kekuatan politik yang  “membahayakan kesatuan Islam”.

Kelebihan Salim terutama terlihat pada kekuatan intelektualismenya yang sangat mengesankan Tjokroaminoto, bukan pada posisinya dalam struktur CSI. Tapi saya belum punya data apakah Salim pada saat pergumulan ideologis yang sengit itu telah membaca Das Kapital karangan Karl Marx, seperti halnya Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir.

agus salim2

Sengaja disinggung Das Kapital, yang telah jadi semacam kitab suci kaum pergerakan Indonesia, karena Salim dalam beberapa artikelnya pada 1925-1953 tak khusus berbicara tentang Marxisme. Paling-paling ketika Semaoen dan Tan Malaka dalam Kongres Nasional VI SI, Oktober 1921, menuduh pimpinan pusat SI “sebagai bersifat kapitalis dan antisosialis” karena menolak prinsip perjuangan kelas seperti yang diajarkan Marx, reaksi Salim terasa lebih bercorak defensif. Seperti dikutip dari Nationalism and Revolution in Indonesia (Cornell University Press, 1970) Salim mengatakan: “…bahwa Muhammah telah menyampaikan sistem ekonomi sosialis dua belas abad sebelum Marx lahir…” Salim ketika itu tidak menyinggung situasi umat Islam di muka bumi yang centang perenang selama berabad-abad.

Memang sulit melawan gelombang Marxisme global di saat dunia Islam, termasuk Indonesia, sedang di tikungan terendah peradaban Indonesia. Sekalipun Al-Quran melalui Nabi Muhammad di era Mekah (610-622) telah berbicara lantang tentang absennya keadilan dan pembelaan keras terhadap masyarakat marginal yang merupakan mayoritas penduduk Mekah, pesan universal ini telah lama tertimbun abu sejarah, dibenamkan oleh para penguasa muslim despotik dan mabuk kekuasaan.

Semaoen dan Tan Malaka dengan senjata Marxismenya merasa berada pada posisi atas setelah Vladimir Ilyich Lenin memenangi Revolusi Oktober 1917 di Rusia. Tjokroaminoto, Salim, dan Moeis secara empiris tampaknya menemui kesukaran untuk mematahkan dalil-dalil sosialisme SI Merah. Jalan yang aman adalah menegakkan disiplin organisasi dengan mengeluarkan kekuatan merah dari tubuh SI dengan risiko kehilangan semangat radikalnya.

Karier politik Salim telah menyatu dengan seluruh napas perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan visi moderat, ramah, damai, dan sangat maju. Kebesaran Salim sebenarnya tidak bergantung pada dukungan suatu partai politik, karenan diri dan pemikirannya telah menjadi institusi tersendiri. Setelah Tjokroaminoto wafat pada 1934, Salim berselisih dengan Abikoesno Tjokrosoejoso, adik kandung Tjokroaminoto, tentang masa depan SI. Lalu didirikannya Partai Penyadar sebagai tandingan SI Abikoesno. Kedua sayap politik Islam ini tidak pernah membesar, baik sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka.

Tapi kader-kader SI bersama Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama pada awal November 1945 berhasil membentuk Partai Masyumi, partai Islam modern pembela demokrasi dan konstitusi. Mohammad Natsir, Mohamad Roem, Kasman Singodimedjo, Prawoto Mangkusasmito, dan Jusuf Wibisono, yang menguasai sayap politik Masyumi, tidak lain anak spiritual dan intelektual Salim saat mereka aktif dalam gerakan pemuda Jong Islamieten Bond, yang didirikan pada akhir 1925. Salim adalah penasihat gerakan anak muda ini.

Gagasan besar Salim tentang kemanusiaan, keindonesiaan, dan keislaman dapat diikuti dalam berbagai karyanya. Termasuk yang mutakhir adalah kumpulan kuliahnya yang memikat dan memukau di Unviersitas Cornell pada 1953 yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia di bawah judul Pesan-Pesan Islam (Mizan, 2011).

*****
Advertisements

5 thoughts on “Haji Agus Salim, Indonesia, dan Islam*

    1. benar. Hadji Agus Salim seorang poliglot. Sekitar 12 bahasa yang ia kuasai dengan baik.

      Tapi Ada satu orang lagi yang sesuai dengan yang kawan maksudkan. Namanya RMP (Raden Mas Panji) Sosrokartono. Kakaknya RA (Raden Ajeng) Kartini. Dia satu-satunya orang di Indonesia -hingga sekarang- yang diakui sebagai poliglot dan orang paling cerdas di negeri ini. Menguasai 24 bahasa asing dan beberapa bahasa daerah dengan lancar. Semoga Allah memberikan kelancaran pikiran kepada kepada kita semua.

      Like

    1. Tempo menerbitkan serial khusus tentang Kartini. Jadi, kebetulan saya tahu setelah baca. Hanya dengan membaca kawan bisa tahu lebih banyak. Selamat Idhul Adha.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s