Mengalami Ujian

22152816-a-cartoon-diploma

Sebagaimana biasanya, setiap menjelang ujian –atau apapun itu-, biasanya saya meminta restu dari ibu. Kadang saya mencium punggung tangannya. Sekali waktu saya memeluk lembut tubuhnya, sebagai isyarat. Sebab dengan Ibu, saya tak mampu berpanjang kata berceritera dengannya, sebab mata saya pasti akan panas. Kelenjar yang bertugas memompa air mata, yakin, saya tak kuasa membendungnya. Saya hanya berdoa, semoga Ibu senantiasa memanjatkan doanya.

Ujian akhir digelar. Masih kurang lebih sepekan lagi. Saya tak keruan menyiapkannya. Banyak bolong. Tapi bagaimanapun juga, saya harus terus menyiapkan diri. Pertaruhan diri sebagai bagian dari civitas akademik selama beberapa tahun, saya hempaskan dalam pertarungan akhir ini.

Ujian ini adalah salah satu dari sekian pemberhentian ikhtiar. Segala usaha telah saya kerahkan untuk sampai pada titik singgah ini. Karena sifat ‘pesinggahan’ yang hanya sementara, maka ujian-lah sebagai cermin tempat meyakinkan diri agar pantas melaju pada perjalanan berikutnya. Saya akan melangkah pada ikhtiar yang lebih sulit dari yang telah ada.

Sebagaimana sakit, ujian mengingatkan saya dengan kematian. Sebab mungkin setelah ini, saya telah lebih sigap mencermati keadaan dibanding kemarin, saya lebih siap mati dari sebelumnya, dan lebih siap menghadapi hidup dari biasanya.

Hidup yang dilanjutkan adalah hidup yang sadar. Sadar yang dilakonkan adalah sadar yang bertanggung jawab. Sadar sesadar-sadarnya bahwa saya akan memertanggungjawabkan apa yang saya telah perbuat di hari penghabisan. Ujian menjadikan saya mengerti tanggung jawab. Tanggung jawab sebagai seorang anggota masyarakat, anak muda, dan sebagai bagian penting dari keluarga.

Setelah Ujian

Good_Luck_for_Final_Exams-Ujian berakhir. Kalimat-kalimat redaksional dalam sidang yudisium telah ditasbihkan. Segera setelah itu, nasehat akademik dipanjatkan. Sejumlah kalimat mengadung doa, harap, dan wejangan standar akademik menjaga nama baik almamater dilangitkan. Jumat menjelang siang itu menjadi hari penuh berkah yang akan sulit saya lupakan sepanjang hayat masih dikandung jiwa.

Untuk kali pertama, saya mengacuhkan budaya kontra-egaliter. Spontan, saya berlalu mencium tangan dua orang dosen kami yang menjadi panitia ujian setelah beliau membacakan gelaran yang secara resmi telah tersemat di belakang nama.

Sesaat setelah ujian, saya mengabari dua orang bibi mengenai berita gembira ini -saudari Ayah dan saudari Ibu- yang keduanya sangat saya cintai. Beliau menukas, “Nak, semoga setelah ini, Allah masih membimbingmu untuk tetap teguh di jalan-Nya.”. Ihdinash shiraatal mustaqiim | Duhai Allah, Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus |

Di luar dugaan. Saya diingatkan kepada doa yang kerapkali saya panjatkan. Tapi sangat sering saya lupakan. Sebuah kalimat pinta yang penuh harap namun acapkali terlontar tanpa makna.

Saya pikir, saya akan mendapatkan pesan bagaimana cara mendapatkan kerja, dan ucapan selamat dengan kalimat standar seorang bibi. Atau setidaknya akan memastikan mengabari saya sesegera mungkin jika ada lowongan pekerjaan di tempanya di luar kota. Saya justru memeroleh sesuatu yang lebih, bukan ucapan “selamat”, tapi doa “semoga selamat”.

Bibi benar. Sebab pertarungan sejati mungkin berada di luar sana. Menunggu saya. Kini tibalah giliran saya untuk melihat diri sendiri –look in– terlebih dahulu. Sembari melihat cerminan diri dari sisi yang paling dalam. Menanya sanubari dan mengomentari diri sendiri. Sebelum melangkah pada fasa yang lebih berat, look out. Dimensinya ada pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Maka bersiaplah saya untuk pertarungan selanjutnya: Ujian hidup. Meskipun ujung-ujungnya pasti diakhiri dengan kematian.

Gambar 1, gambar 2.

Advertisements

5 thoughts on “Mengalami Ujian

  1. Selamat yah…tapi ujian di luar bangku kuliah lebih dahsyat lagi.

    Saya menyukai kalimat ini:Hidup yang dilanjutkan adalah hidup yang sadar. Sadar yang dilakonkan adalah sadar yang bertanggung jawab. Sadar sesadar-sadarnya bahwa saya akan memertanggungjawabkan apa yang saya telah perbuat di hari penghabisan. Ujian menjadikan saya mengerti tanggung jawab. Tanggung jawab sebagai seorang anggota masyarakat, anak muda, dan sebagai bagian penting dari keluarga.

    http://jarimanisindonesia.wordpress.com/

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s