Menjejak Sorowako

Tulisan ini dibuat untuk membantu ingat | Sebelum lupa bahwa pernah kemari

Memulai langkah

Dari Makassar, Sorowako dapat ditempuh menggunakan bus ber-AC selama 12 jam perjalanan kurang lebih. Maklumlah, posisinya berada 600 barat daya dari Makassar. Langsung saja ke Terminal Regional Daya, atau bisa juga melalui kantor-kantor perwakilan bus ukuran jumbo itu.

Biasanya bus akan berangkat pada pukul 8 malam waktu setempat, dan akan tiba di Sorowako pada pukul 8 pula. Tapi di pagi harinya. Begitu pun untuk menempuh rute sebaliknya. Dalam sehari, bus cuma sekali berangkat. Untuk ongkosnya rata-rata seratus lima puluh ribu rupiah sekali jalan.

Sekarang sudah ada pula penerbangan perintis dari Bandara Sultan Hasanuddin. Jenis pesawatnya Fokker 50 buatan Belanda yang memang disewa oleh PT Vale Indonesia untuk keperluan aksesibilitas perusahaan dan masyarakat Sorowako. Jarak tempuh hanya 40 hingga 50 menit dengan kapasitas penumpang 58 orang. Sama dengan bus, pesawat ini hanya sekali berangkat. Akan tetapi jika libur panjang dan lebaran tiba, pesawat bisa pulang pergi hingga dua kali.

Saya sampai di tempat ini, setelah bus yang saya tumpangi selama 13 jam lebih itu, akhirnya menghentikan lajunya. Badan saya terasa sangat pegal. Urat-urat leher nyut-nyutan entah sudah berapa lama akibat semalaman penuh bersandar.

Kernet bus, tidur tepat dibawah kaki saya. Adat mengharuskan saya menghormati orang apapun profesinya. Apalagi kalau usianya lebih tua. Saya jadi susah tidur selonjor. Semalaman tidak bisa lurus. Walhasil, kaki saya berat untuk diluruskan.

Saya beli pengalaman ini dengan kenekatan. Sebelum berangkat, pagi-pagi saya dihubungi untuk berangkat ke Soroako. Tanpa proses berpikir yang panjang, ide itu langsung saya setujui. Padahal, berangkatnya sudah sebentar sore. Urusan janji yang sudah disepakati dua pekan ini, saya batalkan sepihak.

Segera setelah itu, saya bukannya bersiap-siap. Tapi melenggang dulu ke kampus dan bersapa hai dengan junior yang memasang ekspresi datar. Mungkin sudah bosan melihat tampang seniornya yang itu-itu juga. Baiklah. Saya akan pergi. Dekat saja. Tidak keluar dari radius Sulawesi Selatan.

Intinya begini kawan. Okelah kalau saat itu saya naik mobil bus selama 13 jam. Kalau Tuhan mengizinkan, nanti saya masih 13 jam di perjalanan. Tapi dalam pesawat yang sementara menuju belahan dunia lain, “Amerika, juga Eropa boy!” Saya jadi ingat Arai dalam tetralogi Laskar Pelangi. (haha, ta’liwa-liwa…)

Perjalanan ke Soroako saya anggap sebuah biji lego dari bangunan lego yang lebih besar. Miniatur perjalanan akbar ke beberapa titik di dunia.

001-sorowako-airport-from-butoh-hill_img_7481

Melihat sekeliling, semua gunung. Dimana-mana gunung.
Berlari-lari sedikit, eh ketemu danau. Danaunya ada tiga.
Dikelilingi gunung gemunung pula.

Tampak alam itu saya temukan di Soroako. Letak persisnya berada di Desa Soroako, Kelurahan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Sehingga secara legal administratifnya, tempat ini masih wilayah Sulawesi Selatan. Tapi letaknya paling ujung. Sekaligus paling tinggi, kurang lebih 1388 meter di atas permukaan laut.

Sebelum saya datang, saya berharap daerah ini dingin. Jadi, minimal bisa mendinginkan tubuh, perasaan, dan pikiran. Tapi yang saya temui, Sorowako tidak seperti umumnya daerah di ketinggian. Malah udara terkadang panas dan lembab. Belum lagi kecepatan angin sedang-sedang saja.

Gunung, memang serasa dekat. Dekat sekali. Tapi matahari juga seperti berada di atas kepala. Hal ini mungkin karena tanahnya yang mengandung mineral nikel dan bijih besi. Eksplorasinya dimulai sejak tahun 1968, dan mulai beroperasi pada 1970-an awal.

Kekayaan mineral tambang tersebut menjadikan kampung pelosok Sulawesi Selatan ini menjadi riuh. Durasi penambangan yang sudah lebih 40 tahun ini membuat Sorowako bersolek. Sekitar 70% penduduk adalah para staff perusahaan tambang nikel dan perusahaan rekanan. Sebagian dari jumlah itu merupakan para ekspatriat alias para bos dan board of director lainnya yang domisili sebenarnya di dalam negeri maupun di luar negeri.

Bagi orang-orang, apalagi di Makassar, Soroako tempatnya PT INCO beroperasi. Sebuah perusahaan multinasional asing milik Kanada yang melakukan usaha penambangan nikel. Terbesar di dunia. Namun, semenjak September 2011, nama INCO sudah berubah menjadi PT Vale Indonesia yang berpusat di Brazil. Singkatnya, keuntungan penjualan nikel beralih ke sana. Lumayanlah, 58,73 persen sahamnya milik mereka. Hitung-hitung sumbang ongkos Piala Dunia tahun depan. Hehe.

Tapi,  tidak banyak yang tahu kalau di Sorowako lah terdapat danau terdalam se-Asia Tenggara, dan sekaligus terdalam ke-8 se-dunia. Ditambah lagi, danau ini berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Sekitar seperenam dari ketinggian Danau Biru, sebuah base camp menuju Puncak Jayawijaya.

Danau Matano, itulah namanya. Berasal dari bahasa asli Sorowako yang berarti mata air. Katanya (sumber Kaskus), danau ini terbentuk dari ribuan mata air yang muncul akibat gerakan tektonik, lipatan, dan patahan kerak bumi yang terjadi di sekitar daerah litosfer yang  membutuhkan waktu lama untuk terisi oleh air dan membentuk danau sekitar empat juta tahun yang lalu.

Mengerti? Haha, saya mengaku tidak. Konon kabarnya, ribuan mata air yang mengalir ke Matano itulah yang membuat airnya sangat jernih.

Danau Matano (orang Sorowako bilang –Pantai Ide-). Memang bentuknya serupa pantai. Ada sejumlah besar volume air yang tertahan ke perimeter gunung yang mengungkungnya. Danau ini bermula dari bibir danau yang berpasir, masuk ke bagian danau yang dangkal, terus kemudian dalam. Seperti halnya tampak laut yang lain.

Kalau saya bilang, alamak, danau ini indah betul. Sekelilingnya dipenuhi hutan rimbun yang masih perawan sebagiannya. Pegunungan Verbeeck yang merangkulnya terlihat begitu kokoh, angkuh, tapi melindungi. Ya, begitulah. Selama kurang lebih 40 tahun eksplorasi tambang nikel dilakukan di sana, air danau tetap jernih.

Padahal jika dipantau dari citra penginderaan jauh, di luar danau mulai yang paling terdekat, ribuan hektar lahan terbuka sedang dalam posisi menganga. Berwarna merah tanah. Airnya tetap saja jernih. Warna biru dari danau seakan pemain tunggal dari lahan yang menganga dan siap tambang itu.

Alamnya begitu menghadirkan ketenangan. Airnya jernih sekali. Nyaris tanpa riak sama sekali. Warnanya begitu biru. Dasarnya kelihatan.

Dengan luas 16.408 hektar, banyak yang bisa dilakukan di sini. Berenang, kayak (pakai perahu kano) atau rafting, diving, maupun sekedar snorkeling. Untuk masuk kemari, sediakan zero rupiah. Gratis. Kata teman-teman, ongkos sewa rafting cuma 25 ribu seorang. Sampai kapan pemakaiannya? Sampai puas.

Dua hal yang saya takutkan jika Anda tidak tergoda untuk berenang di dalamnya: tidak tahu berenang, atau setelah sampai di sana, Anda kebelet pup dan takut eek’ nya mencemari danau secara keseluruhan. Tidak bisa berenang, Anda bisa menyewa lifevest (pelampung). Anda ingin pup, silahkan menyepi ke hutan. Jangan sampai ketahuan.

100_5677

100_5775

100_5777

7

Dua hal aneh

Ada dua hal yang tidak pernah saya temukan di sini: nyamuk dan Pak Polisi. Yang jual segala macam aroma lavender untuk menghindari gigitan nyamuk, tentu saja tidak laku. Hehe.

Pak Polisi hampir tidak pernah berkeliaran di jalanan. Mobil operasional Vale yang justru banyak bersileweran di jalan-jalan. Kendaraan itu beroperasi seakan tidak kenal waktu. Dua puluh empat jam sehari semalam.  Bus pengangkut pekerja tambang, staff, engineer, maupun para pengawas tambang bekerja mulai pagi hingga pagi lagi.

Sebagaimana jalan di desa, lampu merah bisa dihitung dengan satu jari tangan. Sebab jumlah dan volume kendaraan yang melaju di atas jalan raya pun tidak seberapa. Berbeda di Soroako, meskipun banyak kendaraan yang lalu lalang, lampu merah pada jarang, tapi kendaraan tertibnya minta ampun.

Selama hampir dua pekan, tidak sekalipun saya lihat kendaraan menyalip kendaraan lain. Di pertigaan atau perempatan (panynyingkul),  si pengendara –apakah itu mobil pribadi atau kendaraan operasional Vale- akan berhenti di badan jalan untuk mendahulukan kendaraan yang lain. Pokoknya, saya dan kamu, jika berkendara, sama-sama harus tahu aturan.

Namun, rasa-rasanya ada yang salah dalam perjalanan saya kali ini. Sebelum pergi, saya sama sekali tidak tahu menahu tempat ini. Sorowako dan apa saja yang menarik di dalamnya. Hanya berbekal panggilan mendadak dan keinginan yang begitu hebat untuk keluar sejenak dari kota yang menempa saya selama betahun-tahun: Makassar.

Tertohok Moslih Eddin Saadi yang bilang seperti ini, “a traveler without observation is a bird without wings”.  Wah, saya hampir gila rasanya. Disibukkan dengan kegiatan mengajar, saya jadi lupa hendak kemana kaki ini akan melangkah.

Untungnya selain mengajar selama kurang lebih dua pekan, masih ada tiga kenikmatan yang bisa saya rasakan selama di Sorowako. Di tengah hamparan Pegunungan Verbeeck yang rupawan, saya bisa merasakan semilir angin berdesau, menelan air di Danau, dan menjawab panggilan adzan dari surau.

Bagi saya yang baru kali pertama, Soroako merupakan gambar nyata pemandangan alam Sulawesi.

100_5666

100_5669

100_5799

Oleh karenanya, untuk pelajaran berharga yang satu itu, ini link bagi kawan-kawan yang ingin menapak jejak di Sorowako.

The Beauty of Sorowako In Picture
Sorowako: Wisata Alam Di Balik Tambang Nikel.

Advertisements

7 thoughts on “Menjejak Sorowako

    1. terima kasih sempat mampir di blog ini bung Ivan. hehe. sebelum menulis ini, saya baca beberapa blog terkait sorowako, termasuk blognya bung Ivan.di Matano. Semuanya berdecak kagum dan menabung rindu di sana. Betul2 termpat yang keren. hehe.

      Like

    1. hahah, terima kasih. ini perjalanan kebetulan. kata seorang teman: dalam setiap perjalanan, pasti akan ada teman. Yang Tuhan pilihkan dengan tepat sebagai peneman dalam perjalanan.

      Like

    1. hehe,,makasih. Asli tempatnya memang keren. Sebagai orang Sul-Sel yah jalan2lah ke sana kalo ada waktu. blognya Wina bagus. Ayo’ mari gabung di “Komunitas Blogger Kampus“. Follow @bloggerkampus. Kami tunggu.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s