Perihal Yang Tumbuh di Halaman*

Posted: December 24, 2013 in Rewriting
Tags: , , , ,

FlyerPromosiBukuPidatoKebudayaan_zps9843e2e1
Untuk Diskusi Imajinasi Kebudayaan: Pidato Kebudayaan DKJ 1998-2013 di Kampung Buku Makassar 21 Desember 2013.

*Anwar Jimpe Rachman menulis soal keseharian. Bukunya yang sudah terbit: Hidup di atas Patahan [Insist, 2012] dan Chambers, Makassar Urban Culture Identity [Chambers Celebes, 2013]. Menerjemahkan Pakkurru Sumange: Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan [Ininnawa, 2013]. Sehari-hari bekerja untuk Tanahindie, Ininnawa, dan keluarganya.

———————-

Alam Kata

Ada dua kata yang akan dibincangkan dalam tulisan ini: ‘halaman’ dan ‘pekarangan’. Keduanya sedaya dan dan setara –bermakna ‘tanah di sekitar rumah’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lema ‘pekarangan’ memiliki arti yang berdaya hidup, berasal dari kata dasar ‘karang’ yang berarti ‘tempat berkumpul’. Sedang ‘halaman’ sesungguhnya sudah kata dasar. Namun di dalamnya terdapat ‘alam’, lingkup yang membentang dan mengelilingi manusia, hewan, dan tumbuhan.

Dunia buku juga mengenal ‘halaman’, lembaran kitab yang membuka diri untuk para pembaca. Di halamanlah abjad-abjad dirangkai menjadi kata, lalu kata mengalimat yang memenuhi halaman demi halaman. Andai pekarangan kita adalah halaman-halaman buku, maka manusia menjadi aksaranya yang kelak berkumpul baku menyebut dan saling melengkapi agar menjadi kalimat utuh. Begitu pula benda-benda yang ada di lingkup halaman menjadi tanda bacanya.

Bagaimana alam pikiran arsitektural orang-orang Indonesia? Menurut Osrifel Oesman, arsitektur kita itu arsitektur halaman. Fungsi rumah itu, kata Oesrifel, hanya untuk tidur.1 Itu bisa berarti bahwa ‘halaman’ bagi orang Indonesia adalah tempat bermain, bekerja, bercengkerama, memasak, menerima tamu, dan lain-lain. Mungkin sebab itu pula perbendaharaan kata kita menggunakan ‘kampung halaman’ untuk merujuk ‘asal’ kita ‘lahir’ dan ‘bertumbuh’.

Alam Kenangan

Pengalaman saya juga begitu. Berikut ini saya membagi beberapa kenangan dan pengalaman halaman beberapa waktu belakangan, terutama di Makassar dalam pengalaman saya selama 20 tahunan terakhir.

Saya tumbuh di lingkungan masyarakat Bugis. Di kampung saya, Rappang, saya bersama keempat saudara saya dibesarkan di sebuah rumah panggung, yang jarak dan lantainya dan tanah sekisar tiga meter. Di bawahnya kami bermain. Saya dan teman-teman yang gandrung sepakbola kerap bermain kiper-kiperan di bawahnya. Jarak tiang ke tiang, yang disebut oleh orang sebagai ‘badan’ selebar empat meter, menjadi gawang kami.

Kalangan pemuda pun sering berkumpul di bawah rumah saya, terutama pada hari pasar yang berlangsung tiga kali (Selasa, Jumat, dan Minggu). Mereka duduk di balai-balai besar buatan Ayah berukuran 2 x 4 meter. Bagi para tetangga, balai-balai dari kayu bengkirai dan berlantai bambu itu sangat besar. Butuh setidaknya enam orang untuk menggerakkan. Selain berat, balai itu juga susah mengggerakkannya lantaran agak terkunci di antara tiang-tiang rumah. Di hari senggang, mereka sering bersantai di sana. Main catur, main kartu, (sampai judi), minum miras karena menjamu teman dari jauh dilakukan di bawah rumah kami.

Rumah saya dulunya berhadapan dengan Pasar Sentral Rappang sampai menjelang pergantian alaf (milenium). Pasar ini sudah diganti dengan yang baru, 500 meter di barat yang diresmikan pada awal dasawarsa 2010. Kolong rumah saya ketika itu juga berfungsi sebagai tempat berjualan beberapa pedagang telur, tempat parkir kendaraan roda dua, dan menitip barang beberapa pedagang. Tetangga saya yang tukang emas menjadikan kolong rumah jadi bilik kerja. Yang tukang kayu memakai kolong rumahnya menjadi ruang kerja. Ia dan rekan-rekannya menggergaji, memahat, dan memasang rangkaian rumah panggung pesanan mereka.

Kolong rumah saya sewaktu-waktu bisa menjadi sepi jika musim hujan menderas. Ruang bermain kami terendam dan harus menunggu sekisar dua minggu untuk benar-benar kering. Tapi bagi para pemuda itu, mereka biasanya memasang papan sebagai jembatan agar bisa tetap leluasa menuju balai-balai tersebut.

Kolong rumah merupakan bagian rumah yang paling sejuk. Itu juga yang membuat para penghuninya betah di situ. Rata-rata rumah panggung di kampung saya adalah sejenis rumah yang panas karena tanpa langit-langit, sehingga pagi sampi sore kegiatan penghuni dipusatkan di bawah rumah panggung –mengorbit di halaman.

Mereka menidurkan balita mereka dengan ayunan sarung yang dikaitkan di batang penghubung antar tiang. Mereka memberi makan anak mereka juga di kolong. Kecuali mereka yang punya ‘rumah batu’, istilah orang Bugis untuk rumah beton, nyaris seluruh anak-anak yang lahir dan besar di tengah masyarakat Bugis adalah mereka yang tumbuh dan bermain di kolong/halaman rumah.

Alam Mutakhir

Pengalaman itu lalu saya harus tinggalkan karena pindah ke Makassar untuk berkuliah. Namun alam rumah panggung tak serta merta saya tanggalkan. Kamar kos saya masih di salah satu bagian rumah panggung di balik pagar pembatas kampus. Rerata kos-kosan tahun dasawarsa 1990-an berbentuk begitu.

Menjelang masa-masa akhir kuliah, pengalaman rumah panggung saya berganti dengan rumah beton. Saya tak banyak menghabiskan waktu di luar rumah seperti itu, kecuali terjadi ketika rumah yang kami sewa di jalan Abdullah Daeng Sirua. Rumah itu rumah idaman saya. Halamannya lapang. Ada sebatang pohon mangga. Hanya saja, paving blok menutup seluruh pekarangannya. Rupanya itu sangat berpengaruh pada saya. Betapa gerah sepanjang hari beberapa bulan awal di rumah ini. Beberapa potong paving itu saya bongkar agar saya bisa menanam bunga. Ya, saya pikir, kesejukan bukan semata bisa ditawat dengan kipas angin. Tumbuhan di halaman pun saya yakin bisa menjadi penangkal panasnya kota Makassar.

Pembongkaran itu saya lakukan bersama perupa Firman Djamil. Firman juga membawakan beberapa bunga dari Kompleks Benteng Somba Opu, tempat tinggalnya, dengan mobilnya. Pelan-pelan ‘titik api’ di halaman redup. Kian lama halaman ini juga menjadi tempat bersantai sekaligus tempat menyeriusi banyak hal, termasuk serius bersantai.

Awalnya rumah ini sekaligus kantor untuk Penerbit Ininnnawa –siasat yang kami seriusi sejak 2005. Seiring kebutuhan, di berandanya yang cukup lapang berdiri sebuah perpustakaan yang dinamai Kampung Buku padas Oktober 2008. Sengaja nama itu diambil agar kelak ia benar-benar menjelma sebagai sebuah kampung. Meski rencana awalnya semata sebagai perpustakaan umum, perjalanannya sampai 2013 menggiring perpustakaan ini menjadi ruang baru bagi beberapa sahabat kawan sampai kawan jaringan, baik datang sengaja untuk bersua kawan lain maupun sekadar singgah menunggu macet reda. Perpustakaan ini kemudian pelan-pelan bisa menjadi ‘latar depan’ (kegiatan yang berhubungan langsung dengan buku) atau ‘latar belakang’ (aktivitas lain yang semata menggunakan ruang perpustakaan).

Di halaman inilah, tempat kita berkumpul sekarang, beberapa kegiatan dirancang. Ada kelas merajut setiap hari Minggu, kelas menulis, diskusi, peluncuran buku, sampai layar tancap. Jenis-jenis kegiatan itu dulu banyak berlangsung di kampus. Mungkin sampai sekarang.

Masa kuliah saya pada pertengahan 1990-an hingga tahun 2000, komunitas sebelum reformasi banyak berada di kampus, sebuah ruang bebas gravitasi militer dan polisi. Ketika militer berkuasa, gagasan-gagasan komunitas banyak dilarikan ke ‘ruang tengah’ atau ‘ruang belakang’. Barulah dilarikan lagi ke ‘halaman’ begitu reformasi berjalan.

Kita mafhumi bersama, Wiji Thukul tumbuh dan mengeras menjadi “kerikil dalam sepatu” Orde Baru lewat kemungkinan-kemungkinan yang dihamparkan oleh ‘halaman’.

Di sebuah rumah bercat putih bernomor 5 itu terletak di sudut perempatan jalan Kampung Jagalan Tengah, Jebres, Solo. Halamannya yang luas dirimbuni beragam jenis tanaman, dari pohon mangga hingga bambu. Di bawah rimbun pohon itulah Wiji Thukul bersama anggota Teater Jagat lainnya biasa berlatih teater dan musik serta membaca puisi. “Dulu kami biasa berlatih di halaman ini,” kata Campe Lawu Warta, pendiri Teater Jagat.2

Namun begitu dicari aparat dan para tilik sandi, Wiji Thukul tetap tumbuh dan mendenyutkan daya hidup dan pemikirannya (menulis) di ruang-ruang ‘belakang’ beberapa rumah simpatisan dan jaringannya.

Sesungguhnya, praktik dan kecenderungan komunitas di Indonesia adalah praktik gerakan yang digerakkan dari halaman atau, setidaknya, beranda. Mengapa demikian? Halaman menjadi ruang bebas nilai yang memungkinkan kebebasan berekspresi dan berinteraksi sosial yang membuka pula kemungkinan yang lebar dalam mencipta (kerja) atau menggagas (wacana).

Di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, sampai Surabaya berkembang komunitas berbasis pada halaman, seperti RuangRupa, Common Room, Teater Garasi, Kunci, sampai C20 Library. Perkembangan yang sama pun terjadi di Makassar. Di kota ini tumbuh pula persemaian gagasan lewat Ininnawa (pengalaman saya bergelut di sana 2005), Kedai Buku Jenny, dan beberapa komunitas semacam itu di kota ini.

Di Kampung Buku sendiri, persentuhan dan bincang-bincang santai tentang banyak hal mengemukakan beberapa gagasan pula. Obrolan dengan teman-teman Arkom lalu memunculkan cara bersiasat dan mengakali halaman. Ini terutama karena melihat akar pohon mangga makin menyembul sehingga paving blok yang terpasang di sekitar batangnya menjadi tidak rata. Akhirnya, berdua dengan Cora, saya membongka paving blok itu. Potongan paving tetap kami kumpulkan. Sebisa mungkin, semua yang sudah kami buka tidak kami buang. Kami simpan menjadi dinding, pelindung bunga yang baru kami tanam. Beberapa juga ditumpuk jadi angkringan pot bunga. Semuanya semata-mata untuk mengakali agar halaman leluasa sehingga bisa dipakai untuk menjadi tempat nongkrong dan menyeruput kopi penghangat obrolan.

Beberapa orang turut berpartisipasi. Meski masih dugaan saja, pengalaman banjir di pembuka tahun 2013 tampaknya memberi pemahaman bahwa air tak akan bisa kita lawan. Hanya beberapa usaha dan upaya kecil yang bisa kita lakukan, yakni membersihkan sampah [meski tak rajin] dan membuka jalan dan serapan air yang lebih lebar, yakni membongkat paving blok.

Alam Makassar

Percobaan dan praktik yang dilakukan di Kampung Buku bertalian kuat dengan Panakkukang, titik di mana perpustakaan ini berada. Sejak pertengahan dekade 2000, harga properti di Makassar ‘menggila’. Lebih sering disebut “tidak terkendali”. Kini, santer disebut bahwa harga tanah Makassar tertinggi setelah Jakarta.

Menurut seorang kawan saya yang bekerja di industri perbankan, perkembangan itu baru terjadi setelah pemerintah mengeluarkan aturan. “Entah aturan apa, yang jelas itu mengatur tentang hak penggunaan lahan [surat hak guna bangunan]. Peraturannya melarang orang membeli tanah di kawasan tertentu di Jalan Pettarani,” jelas teman itu, dalam suatu pertemuan saya pada 8 Desember 2013.

SHGM membatasi lahan tersebut hanya seperti disewa, tidak dimiliki, karena dianggap sebagai tanah Negara. “Orang-orang lantas berpikir bahwa ternyata di kawasan itu mahal. Ramai-ramai mi ‘beli’ tanah di sana,” katanya.

Dalam satu kasus, ia mencontohkan, sepetak tanah seluas 3.000 meter persegi di Jalan Pettarani terjual Rp 56 miliar. Sebenarnya tanah itu pernah ditawar Rp 30 miliar hanya enam bulan sebelumnya tapi si pemilik belum mau melepas. “Bayangkan hanya dalam enam bulan tanah itu naik sampai hampir seratus persen. Gila kan?!”

Oleh si pembeli, tanah itu dibanguni 24 ruko. Dengan harga pasaran ruko 2013 berkisar antara Rp 5-6 miliar, maka sangat terbuka kemungkinan bagi si pemilik bisa memperoleh keuntungan sebesar 100 persen dari harga beli tanah tersebut.

Harga seperti itu kemudian memicu dan membuat standar baru harga tanah di Makassar, yang parahnya cenderung semena-mena. Harian Tribun Timur edisi 14 November 2013 (hal. 3) menyebut, harga tanah di Jalan Boulevard Panakkukang dan sekitarnya mencapai Rp 30 juta per meter persegi. Kawasan ini adalah kawasan lapis kedua dari ruas Jalan Pettarani.

Modal yang digunakan untuk memenuhi ‘harga tinggi’ harus kembali membawa setumpuk untung. Jelas praktik pembangunan ruko adalah salah satu solusi mutlak karena, konon, dalam perhitungan bangunan jenis ini lebih ekonomis sebab lebih mudah mengukurnya.

Bisa diperkirakan pula bahwa dengan lonjakan harga seperti itu, jelas bahwa ruang-ruang pribadi dan sosial akan menghilang lantaran berganti dengan gedung-gedung besar yang mengucilkan manusia. Di sinilah nilai ‘politis’ Kampung Buku dan komunitas sejenisnya di Makassar yang membentuk komunalitas berkaitan dengan fungsi-fungsi halaman rumah. Berbagai acara yang dihelat, seperti diskusi informal maupun formal, pemutaran film layar tancap, kegiatan komunitas seperti merajut, kelas menulis, dan lainnya, seperti hanya ingin mencetus pertemuan-pertemuan tatap mata.

Alam Pikiran

Pada tahun 1984 silam, seorang psikolog bernama Roger Ulrich mempelajari pasien yang sedang dalam masa penyembuhan di rumah sakit di Pennsylvania. Beberapa pasien ditempatkan di kamar yang menghadap pepohonan kecil pantai di musim gugur. Beberapa pasien lainnya ditempatkan di kamar yang menghadap dinding bata.

“Pasien dengan pemandangan jendela alam menginap di rumah sakit lebih singkat pasca operasi, mempunyai lebih sedikit komentar negatif dalam catatan perawat… selanjutnya, pasien yang ditempatkan di ruangan yang menghadap dinding bata memerlukan lebih banyak suntikan penghilang rasa sakit.”4

Dari penelitian itulah kita bisa membaca bahwa bentangan alam, yang dalam skala terkecil kita adalah pekarangan/halaman, memiliki efek penyembuhan kuat terhadap pikiran-pikiran para penghuninya, ketimbang bangunan-bangunan berdinding tinggi dan tebal yang merenggut lanskap hidup manusia.

Sudah saatnya kita kembali ke rumah masing-masing dan membuka ruang lapang yang tersisa di halaman dan merayakan tatap muka.[]

NB: Terimak kasih sebesar-besarnya untuk Bram dan Cora yang ikut ‘menggodok’ dan mengobrolkan tema ini dalam setahun terakhir.

Gambar: disini

  1. Disari dari National Geography edisi September 2012, hl. 42.
  2. Majalah Tempo, edisi 13-19 Mei 2013, hl. 94. (Kata miring dari saya, Pen.)
  3. Baca lebih lengkap dalam Ibid.
  4. Eric Weiner, Geography of Bliss, hl. 66.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s