Temu Blogger Kampus: Resolusi, Selanjutnya Aksi!!!

1487746_10200747820132449_639912341_o

Pertemuan digelar. Wacana digulirkan. Hasilnya, muncullah kesepakatan, lalu kompromi, selanjutnya simplikasi  atas reduksi itu dirumuskan bersama. Lahirlah sebuah ruang berkarya kreatif yang baru: Komunitas Blogger Kampus.

Ini ceritanya!

Masih awal Januari. Rerata 6 Januari, orang-orang sudah mulai dengan habitus masing-masing. Belajar, bekerja, berladang, dan berlayar. Seolah orang-orang ramai tidak peduli lagi hari kemarin. Di mana mereka saling merangkul karena suka cita pergantian tahun atau saling merangkul sebab duka cita karena mala atau bencana. Lives go on…

Sibuk. Mendadak semua sibuk. Di negeri ini, bahkan hal penting kadang dilupakan. Padahal di awal tahun, poin indeks saham di lantai bursa resmi dibuka, jaminan sosial yang bertaut hajat hidup seluruh warga diberlakukan, panasnya suhu persaingan di tahun politik mulai terasa sengit, hingga siar kedatangan trophi World Cup yang dibawa Dwight Yorke ke Indonesia yang menandai tahun sepakbola.

Beruntung, kami menjadi sejumlah orang yang masih terhubung dengan tahun lalu. Disela-sela aktvitas awal tahun, kami teringat sebuah janji pada penghujung tahun kemarin. Bukannya kami ingin hidup di masa lalu, justru kami mencoba tegak menatap waktu yang akan berjelang. Katakanlah itu sebagai ‘masa depan’.

Rencana pada mulanya, menjelang akhir tahun, ‘Daeng Blogger’ –komunitas blogger kampus UNM Makassar– akan mengadakan kopdar (kopi darat) bersama seluruh eksponen yang terlibat di dalamnya. Kopdar itu mengusung sebuah resolusi. Ada beberapa pertanyaan yang sudah harus terjawab sebelum memasuki tahun 2014 mendatang. Tahun yang di dalamnya terentang centang perenang rencana-rencana baru. Apa yang akan dilakukan di tahun mendatang? dan apa project selanjutnya?

Tentu saja resolusi tersebut bertujuan meneguhkan semangat keberaksaraan mahasiswa di lingkup kampus Universitas Negeri Makassar. Kebetulan ada project buku keroyokan yang sementara dalam perampungan dan harus segera kami tuntaskan.  Komunitas ini memang dimaksudkan untuk tujuan itu, sebagai komunitas literasi kampus di Makassar. Kami pikir, inilah saatnya untuk membicarakan hal itu dan kembali menegaskan sejumlah resolusi baru.

Disinilah letak keluwesan sekaligus keasyikannnya. Kami berkomunitas. Kami guyub. Walhasil, setelah mengalami beberapa diskusi agak panjang dengan beberapa loyalis di komunitas ini, ide-ide langsung segera bertebaran. Maka diputuskanlah untuk memperlebar daya jangkau kopdar awal tahun. Semula hanya ‘Temu Blogger se-Kampus UNM Makassar’ dengan maksud menjaring minat mahasiswa bergabung ke dalam Komunitas Daeng Blogger. Kemudian cakupannya semakin meluas menjadi ‘Temu Blogger Kampus’ se-Makassar.

Waktu itu yang hadir saat diskusi penentuan ada Ma’ruf M Nur (founder Daeng Blogger), Sri Yunita, Akhmad Saputra Syarif, Yudi Arianto, Ainun Najib Al-Fatih, Soma Salim Sain, dan beberapa lagi lainnya terlibat dalam beberapa diskusi lepas selama persiapan kegiatan ini.

Persiapannya tidak begitu banyak. Hanya pamflet, dan sebiji dua biji souvenir sebagai oleh-oleh yang menandakan mereka hadir di kegiatan tersebut. Tak lupa beberapa piring yang berisikan kue-kue. Untuk menggaet para blogger kampus se-Makassar, kami sangat mengandalkan kekuatan social media seperti Facebook, Twitter, dan tak lupa blog. Tidak disangka, sebanyak 104 orang mengonfirmasi kehadirannya dalam waktu kurang dari 10 hari.

Kami bahkan tidak memberitahu peserta ‘Temu Blogger Kampus’ bahwa kita akan membicarakan gagasan membentuk sebuah wadah, tempat, dan komunitas blogger secara bersama-sama. Bagi kami, sebuah ruang berkarya yang tercipta itulah inti resolusi ‘Temu Blogger Kampus’.

Bdtr6Y3CIAAtkR5

Menggagas Resolusi

Sabtu tanggal 11  Januari yang bertahun 2014. Hari yang kami tunggu semenjak kurang dari sepuluh hari lalu. Beberapa jam lagi ‘Temu Blogger Kampus’ akan dimulai. Meskipun ini kegiatan kecil yang berlangsung dua jam, namun bagi kami sangat besar maknanya. Sebab ini menentukan. Apakah resolusi ini hanya akan jadi sejarah yang tergilas waktu di dua jam berikutnya, atau ia akan mencatatkan sejarah dirinya sendiri sampai jutaan jam berikutnya.

Hari itu saya sudah berada di Menara Phinisi UNM Makassar Lantai I, bahkan semenjak pukul 11 pagi lewat. Ada kekhawatiran mendasar. Tempat pelaksanaannya belum pasti. Jujur, sejak awal tempat pelaksanannya hanya meraba-raba.

Di jam itu, kami masih berusaha mencari titik di Phinisi yang paling nyaman untuk digunakan sore hari. Entah kami akan memakai ruangan ber-AC di salah satu lantai Menara Phinisi atau pilihan paling memungkinkan duduk lesehan.

Mencantumkan Phinisi sebagai tempat dilangsungkannya kegiatan mungkin bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk kenekatan yang tiada bandingnya. Surat ataupun izin tidak ada. Sedikit salah bersilat lidah, bisa diusir kapan saja. Namun kami punya jurus sangat ampuh. Nama seorang senior -Hartoto (Staff ICT Centre UNM)- yang begitu mendukung kegiatan ini kami sebut di hadapan Security Menara Phinisi. Alhamdulillah, sukses mundur teratur. Tapi jangan dicontoh. Kali kedua mungkin sudah tidak akan berhasil. Heheh.

Itupun kami cuma dapat jatah duduk lesehan dengan duduk melingkar di pojokan sayap Menara Phinisi Lantai II. Yang penting tempatnya bersih dan nyaman. Maka jadilah kami berburu waktu maghrib. Sebelum satpam benar-benar mengusir kami.

Pertemuan ini dihadiri unsur blogger individu dan blogger komunitas dari kampus yang tersebar di kota Makassar. Universitas Hasanuddin, UIN Alauddin Makassar, Universitas Negeri Makassar, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Islam Makassar Al-Ghazali, STIKES NANI Hasanuddin, Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA), dan beberapa perwakilan FLP (Forum Lingkar Pena) Chapter kampus yang sempat hadir.

Suasana yang terjalin begitu akrab. Sebelum dimulai, beberapa langsung berbaur mengobral cerita demi saling berakrab-akrab. Ada pula yang sudah saling mengenal satu sama lain.  Entah mengapa segera saja muncul semangat egaliter dan kekeluargaan. Ada harapan untuk komunitas literasi kampus ini nantinya bisa menggeliat dan terus bertumbuh.

Semangat Menjadi Literer

Dalam sebuah esai di Gempa Literasi (2012), Gol A Gong dan Agus M Irkam mengutip Peter Freebody dan Luke (dalam ‘Literacy Lexicon: 2003’) yang saya pikir telah memberikan pengertian terbaik mengenai literasi. Bahwa literasi adalah semua cakupan kemampuan yang diperlukan oleh seseorang atau sebuah komunitas untuk ambil bagian dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan teks dan wacana.

Sehingga menjadi orang atau komunitas yang melakukan atau mendasarkan aktvitasnya pada kegiatan literasi (disebut literer), berarti dianggap mampu berpartisipasi secara aktif dan mandiri dalam komunikasi teks, termasuk menggunakan media cetak, dan media digital.

Akan tetapi teks atau wacana dalam entri ‘literasi’ itu sendiri pun telah mengalami semacam pergeseran pemaknaan. Literasi pada awalnya erat kaitannya dengan kemelekhurufan, yang berarti ujung-ujungnya: buku. Hari-hari ini, ditengah gempuran sistem kehidupan yang mondial, ‘kemelekhurufan’ sebagai salah satu makna literasi telah meluas menjadi ‘keberaksaraan’.

Lebih lanjut dalam esai yang lain, Gol A Gong dan Agus M Irkham memberikan pendapat yang khas mengenai keberaksaraan itu sendiri. Bahwasanya, dalam pandang kaum relativis (sosiokultural), keberaksaraan memiliki bawaan dasar yang beragam. Aksara tidak datang dari ruang hampa udara. Ia merupakan hasil pergulatan atas waktu yang dikemas dengan sejarah tiap masing-masing suku bangsa di dunia.

Bila ditilik dari konteks multibahasa, ia punya banyak variasi. Belum lagi jika variasi kebahasaan itu dikaitkan pula dengan aspek kehidupan masyarakat. Muncullah berupa macam keberaksaraan, ada keberaksaraan informasi dan komunikasi, keberaksaraan ekonomi, keberaksaraan moral, dan lain sebagainya. Beberapa kondisi itu mampu mengubah corak gerakan dan ragam bentuk komunitas literasi yang ada, khususnya di Indonesia. Literasi tidak lagi terbatas pada buku. Misalnya saja terbit komunitas film, fotografi, anime, hobi, bahkan hingga komunitas game online.

Komunitas Blogger Kampus’, sekali lagi, merupakan komunitas literasi. Tapi istilahnya, mengambil jalan yang sedikit memutar. Mungkin pada mulanya cuma pamer atau unjuk kebolehan nge- blog. Isinya boleh apa saja, mulai beragam jenis tulisan, video di Vimeo atau, atauapun hanya sekedar rekaman puisi di Reverbnation atau SoundCloud yang lagi populer. Namun, ujung-ujungnya adalah buku.

Ketika tiba masanya, komunitas literasi dengan varian apapun, akan kembali kepada aktivitas literasi yang paling awal dan kuno: buku. Apalagi kalau bukan kegiatan membaca dan menulis.

Di akhir pertemuan kopdar ‘Temu Blogger Kampus’, mereka sudah menyimpan rencana aksi dalam benak masing-masing. Mereka adalah para penggagas ‘Komunitas Blogger Kampus’ yang mengklaim diri seorang agent. Mereka akan menyebarkan virus-virus ber-komunitas dan ber-literasi di kampus masing-masing. Mereka sepakat mengajak semua elemen civitas akademika untuk turut serta membangun budaya literasi di kalangan mahasiswa Makassar. Mungkin karena alasan itu, kita butuh ‘Komunitas Blogger Kampus’.

*Nb: Kawan-kawan yang berminat silahkan bergabung,  di grup Facebook “Blogger Kampus” dan follow kami di Twitter @bloggerkampus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s