Ini satu cerita yang ingin saya utarakan. Saya pernah baca buku (judulnya lupa) dengan judul dan inti yang menyampaikan pesan bahwa ‘bercerita’ atau ‘diceritakan’, merupakan salah satu healing  yang ampuh dalam pengobatan stress. Jadi, bila meski akhirnya nanti saya tidak memenuhi kriteria calon Pengajar Muda, saya tidak mengalami kekecewaan yang mendalam, apalagi sampai bunuh diri. Heheh.

Ya, seperti itulah. Masih ada sejumlah cerita dan perihal yang saya ingat dalam keseluruhan agenda DA (Direct Assessment) IM Angkatan VIII. Untuk dijadikan bahan tertawaan. Sebab menurut saya pribadi, terlalu banyak hal lucu dan spontan yang berserakan di sana. Bahkan untuk dijadikan bahan renungan (mungkin). Soalnya, seorang teman DA (Mursyida Nur Fadhila) mengirim twitpic nasehat religi di akun @jadiPM. Ditujukan kepada semua peserta DA seluruh Indonesia. Kalau dilihat dari tampilannya, anaknya memang terlihat sholehah banget. Tulisannya seperti ini kurang lebih:

 

BgE9lh3CEAElD-p

Alhamdulillah, awalnya saya dinyatakan lolos berkas dalam Direct Assesment Tahap I Calon Pengajar Muda Angkatan VIII. Seleksi berkas, biasalah. Tidak ada yang istimewa. Cuma isi aplikasi plus tulis esei yang bikin mata merah perih. Kurang lebih 15 menit sebelum pendaftaran IM ditutup, aplikasinya terkirim juga. Ilmu pelet kepepet bekerja ampuh pada waktunya. Mungkin ini berarti masih ada kesempatan untuk berbuat yang terbaik di tahapan seleksi berikutnya. Heheh.

Saya melihat, ada 12 nama yang akan ikut seleksi ini. Kesemuanya merupakan mahasiswa yang berasal dari kawasan timur Indonesia, kecuali seorang dari Aceh (Aldy Muhammah Harun). Pekerjaannya sebagai tenaga pengawas desa status kontrak di Majene (kabupaten di Sulawesi Barat) membuatnya memilih Makassar sebagai lokasi DA yang secara jarak lebih dekat.

Dengan saya, peserta yang hadir tes seharian penuh ini berjumlah 9 orang. Setahu saya, seorang tidak datang karena musibah banjir bandang dan tanah longsor di kampungnya, Manado. Kami prihatin.

Hm, pagi itu saya tidak kesulitan menemukan peserta tes lainnya. Itu karena kami semua menunggu tepat di teras depan Gedung Rektorat UNHAS Lt. I. Hanya kami-kami ini yang rela kepagian sebelum pukul 7 sudah standby seperti tidak sabaran menunggu undian berhadiah. Heheh. Beberapa saat kemudian, kami semua masuk ke dalam ruangan tepat ketika jam menunjukkan pukul 7 pagi.

Tim assesor yang terdiri dari dua Pengajar Muda Angkatan I (Mas Rahmat Danu Andhika dan Mbak Yunita) dan seorang lagi staff IM yang bernama Mas Susilo, dengan sangat serius langsung memulai tes padahal masih ada yang belum tiba. Asli gubrak tanpa neko-neko!!!

Semuanya dimulai tepat pukul 7 pagi. Untungnya tadi pagi saya dan Abdurrahman Mahmud (UNG Gorontalo) tiba di lokasi sekitar sepuluh menit sebelum tes dimulai. Seorang peserta yang baru sampai beberapa menit ketika tes awal berjalan, terpaksa harus pulang karena assesor tidak menerima keterlambatan dengan alasan apapun. Dalam hati saya berucap, ‘wah, hampir saya ketiban sial’. Biasanya saya terbangun jam 9 pagi.

Kebetulan saya bertemu dan berbincang dengannya secara tidak sengaja waktu ke kamar kecil. Saya bilang ke dia (saya tak tahu namanya siapa), “bro, coba dilobi lagi, tes baru berjalan sekitar 7-10 menit yang lalu. Mudah-mudahan mauji panitianya,”. Terus dia jawab, “gak masalah bro, ok, nanti kita ketemu lagi dan diskusi lebih banyak”. Wah, luar biasa, ditolak ikut tes masih sanggup mengatakan hal yang sepertinya tidak terjadi apa-apa.

Pak Anies Baswedan dalam video presenstasi TEDx Jakarta 2011 bilang begini; “para Pengajar Muda gerakan Indonesia Mengajar merupakan bukti bahwa ibu-ibu kita masih melahirkan para pejuang”. Retorikanya begitu kuat, gaya bahasanya itu-itu saja, tapi entah kenapa begitu meyakinkan. Saya jadi yakin, anak muda yang saya temui itu adalah satu dari sekian calon pejuang yang dilahirkan oleh ibu pertiwi.

Kondisi Super Ancur DA Tahap II

Yang pertama, pada dasarnya, potensi dasar manusia itu saling membantu dan toleran terhadap yang manusia lainnya. Tapi di sini, kami harus meng-combine dua sikap bertentangan yang terkadang ada pada diri manusia. Apa itu? Saling membantu dan saling ‘menjatuhkan’ antar satu dengan yang lain. Luar biasa, kan?

Pada awalnya, ini tes formal yang menurut saya agak berat. Pagi itu saya belum sempat sarapan pagi karena buru-buru berangkat. Agendanya super padat juga. Ada penejelasan singkat di awal tes, self presentation, wawancara, lalu psikotest, kemudian FGD (Focus Group Discussion), dan terakhir microteaching (simulasi mengajar). Parahnya, ini yang saya takutkan. Ada psikotest dalam jadwal DA hari ini. Ampun deh, hingga tes berlangsung jam 10 pagi, saya masih tidak bisa konsenstrasi dengan baik. Lapar, bosss!!!
Ini beberapa kesimpulan hasil tes saya.

Self presentation: busyet, saya digadang naik pertama kali. Entah kenapa sejak awal saya gusar bolak balik posisi duduk. Teman-teman peserta DA yang lain tidak ada yang mau menggeser seinci pun pantatnya dari tempat duduk. Semua teman melirik pada saya, ujung mata dan senyum simpul aneh yang mereka buat, langsung diarahkan kepada saya. Jebretttttt,,,,,oh, man! jebakan batman.

Wawancara: saya pula yang wawancara pertama kali. Lantas kata teman (Ryan Rinaldi), suara saya mengacaukan sterilitas dan keheningan ruangan. Dia bilang, “besarnya suaramu waktu wawancara, bro.” Iya, dia belum tahu kalau waktu itu suara saya lemah karena belum makan. Jadi lebih baik saya setengah berteriak pada saat wawancara. Berkali-kali assesor (Mas Susilo) bilang, “sudah,,,sudah,,, cukup gitu aja”. Dalam hati saya bergumam, “yah, koq disetop mas, kan ceritanya belum abis”. Ya begitulah kondisinya. Saya seperti terlanjur bego menghabiskan sisa suara sebelum makan siang dibagikan.

Psikotest: bagian psikotest paling ancur yang saya rasakan adalah instruksi menggambar manusia. Utuh dengan organ tubuhnya. Imajinasi saya sangat buruk. Belum lagi kepala masih agak sedikit pusing karena begadang. Sumpah, hari itu saya sepertinya jadi menggambar anak setan, genderuwo, dan semacamnya.

Mau nyontek, malah membuat saya semakin gila. Teman disebelah saya, gambarnya sudah tidak jelas, tapi masih bisa menertawakan produk gagalnya. Ternyata, dalam ruangan ini, masih ada yang selevel atau bahkan lebih parah dari saya.

Lalu, kami juga diperintahkan menggambar sebatang pohon berkayu, sekaligus memberikan nama pada pohon yang dimaksud. Saya angkat tangan kalo urusan gambar menggambar. Pohon yang saya lukis sepertinya adalah spesies tumbuhan yang belum pernah ditemukan di bagian bumi manapun. Yang bisa menebak ini gambar apa, hanya orang sok tahu yang dengan lagak berkata, “ah, gambar kamu ini pasti pohon Khuldi, yakin saya”.

Ah, tidak, saya malah jadi semakin yakin, sayalah yang begitu freak dalam psikotes kali ini. Pelajaran moral, kalau kawan ada rencana psikotes atau apapun itu, intinya ada di sarapan pagi.

Focus Group Discussion (FGD): ini bagian yang agak serius, tapi tidak seru. Ada masalah yang harus kami bahas dan cari solusinya secara berkelompok. Untungnya sudah makan siang, jadi suara saya sudah fit, dan siap berdebat. Eh, sayangnya ini bukan tes debat. Tapi kemampuan problem solving dan mencari prioritas solusi dengan mempertimbangkan semua aspek yang ada seperti kekuatan kelemahan, ancaman, dan tantangan, istilah ringkasnya SWOT.

Simulasi Mengajar: Ini tes yang paling seru menurut saya. Inti tes ini sebenarnya adalah menguji penguasaan kelas, dan pengendalian diri tentunya. Dasar, saya tipe manusia yang selalu berharap magic (winggardium laviosa!!!) atau keajaiban bakal datang menghampiri. Yeahhh,,,, dan itu benar-benar terjadi. Saya merasa sangat bersyukur. Bahan mengajar (buku BSE Kelas II SD Pelajaran IPS) saya baru print out semalam sebelum tes. Cuma di-print doang tanpa dilirik sama sekali. Setelah itu, tidur lelap. Persiapan perangkat dan alat bantu pembelajaran, menguap dalam mimpi panjang. Karena memang semuanya ‘tidak diperlukan’ dalam arti yang sebenarnya. Heheh…

Nyatanya, dalam tes ini, kami harus saling berkontribusi secara pribadi dan kelompok untuk menjatuhkan mental teman yang akan melakukan simulasi mengajar. Tempat duduk dibuat berbanjar tiga. Masing-masing tiga kursi tiap banjar. Kami yang jadi muridnya. Heheh, ini bisa jadi momentum pembalasan atas kelaparan yang saya derita tadi pagi.

Dan inilah situasi kelas yang didramakan dengan sangat baik oleh teman-teman peserta DA. Suasana kelas masih diam pada 15 detik pertama, lalu seorang anak datang menghampiri temannya. Keduanya perempuan. Si anak pertama karena merasa lebih superior, langsung berdiri di atas kursi temannya lalu melompat-lompat diatasnya. Padahal kakinya begitu kotor dan bau.

Oh, sial. Kagaduhan mulai berlangsung. Si anak kedua tidak mulai menangis, merengek sambil melapor tidak mau belajar kalau kursinya tidak akan diganti. Dia juga mememaki-maki si anak pertama yang menduduki telah mengotori kursinya.

Saya sudah merayunya dengan mengatakan, “ kalau begitu, bapak akan ganti kursinya dengan kursi yang bapak pakai”. Oh, luar biasa. Tidak mempan. Dia bahkan mau belajar kalau si anak pertama di usir saja dari kelas. Wah, semakin parah. Anak-anak yang lain juga ikut memprotes dan tidak mendukung tindakan si anak pertama.

Mereka bilang, “pak, kalau si anak pertama di usir dari kelas, lebih baik kami juga keluar dari kelas dan pulang, yuk temen-temen”. Situasi semakin brutal. Mereka naik ke depan kelas dan menaiki meja guru. Hahhh, seumur-umur, tidak pernah ada murid SD Kelas II se-jahiliah seperti mereka.

Dan akhirnya setelah beberapa saat saya membujuk dan menenangkan mereka, bel berbunyi. Alhamdulillah, puji syukur. Saya terlepas dari makhluk-makhluk mengerikan seperti mereka.

Kami Pulang Dan Mulai Berjejaring

Mas Dika membagikan kami buletin Kabar Indonesia Mengajar edisi terbaru. Bisa kawan-kawan baca di www.isssu.com. Katanya tahun ini, Indonesia Mengajar melalui pengajar mudanya akan lebih fokus pada menggerakkan semesta untuk saling bahu membahu, bergerak serentak, dan serempak melanjutkan perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa di daerah-daerah.

Tes terakhir sudah usai, dan berarti segala rangkaian tes  mulai jam 7 pagi hingga pukul 4 lebih 30 menit di sore hari juga akan ditutup. Banyak hal yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit perut. Ada juga yang membuat saya merenung dan berefleksi diri. Tapi pada akhirnya, saya menemukan 8 orang yang begitu hebat tapi rendah hati, begitu spartan tapi santun, dan begitu berdedikasi dalam rekam jejaknya.

Saya berteman dan bertemu mereka selama sehari penuh. Ini masih DA tahap II, tapi inspirasi sudah saya temukan duluan dalam diri mereka pada tes kali ini. Semoga pertemanan ini akan terus berlanjut dengan saling berjejaringnya kami walau hanya satu atau dua orang saja yang akan move to the next. Sebelum kami pulang, foto bersama dulu. Nanti dikira penyebar hoax ikut DA Tahap II Indonesia Mengajar. Heheh.

67893_808974759116963_560781298_n

Peserta DA Tahap II Makassar dan assesor (demi Indonesia, kami bahagia!)

Advertisements
Comments
  1. Planetyar says:

    Deh, tawwa kerennya ikut ki IM…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s