Menggerakkan Semesta, Pertaruhan Keberlanjutan Daerah*

cover
Baca lengkap Kabar Indonesia Mengajar’

 

Saat artikel ini ditulis, 52 Pengajar Muda Angkatan VII sudah resmi dilantik untuk bertugas di tahun keempat di tiap desa dan daerah penempatan Indonesia Mengajar. Mereka berangkat pada 21 Desember 2013 ini untuk bertugas di selama satu tahun di 52 sekolah dan desa di tujuh kabupaten.

Ya, mereka akan melanjutkan estafet tiga angkatan terdahulu –angkatan VII menggantikan angkatan ganjil sebelumnya- untuk membentuk apa yang kami sebut sebagai keberlanjutan daerah. Setahun ke depan, mereka tidak hanya akan mengajar –dalam tugas formal sebagai guru sekolah dasar- tetapi akan mengerjakan mandat dasarnya sebagai penggerak masyarakat dalam berbagai model peran di lapangan.

Tahun keempat? Iya, pada angkatan VII ini, Indonesia Mengajar akan memulai kerja pada masa penugasan tahun keempat di semua desa dan kabupaten. Sedari awal, cita-cita Indonesia Mengajar bukan hanya ‘mengisi kekurangan guru semata’, tetapi memang memimpikan bahwa seluruh masyarakat Indonesia bergerak dalam berbagai perannya bagi kemajuan pendidikan.

Karena itu pula, cita-cita kami di tiap desa dan kabupaten adalah keberlanjutan di entitas yang dimaksud. Keberlanjutan terletak ketika semua orang bergerak dan terlibat dalam kemajuan pendidikan, dengan atau tanpa Pengajar Muda yang bertugas di sana.

Suatu daerah dapat disebut berlanjut ketika dalam hari-hari biasa di tempat-tempat itu, masyarakat yang ada dapat mengelola pendidikan dengan baik dan mengatasi berbagai tantangan atau masalah yang ada dengan kapasitas mereka sendiri. Tidak perlu bantuan, tidak perlu instruksi dari pusat, tidak perlu inspirasi dari orang lain. Kepercayaan diri adalah hak mereka; dan kecerdikan untuk mengatasi tantangan menjadi kapasitas dasar mereka.

Studi kami yang menggunakan alat berupa Capaian Dambaan (Outcome Mapping) dan Cerita Perubahan (Most Significant Changes) selama tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa perubahan perilaku yang menjadi ciri kemandirian telah menguat di seluruh desa dan kabupaten. Umumnya, perubahan paling signifikan tampak di perilaku siswa dan guru.

Di beberapa daerah, aktor-aktor di tingkat kabupaten juga telah tumbuh menguat dan bahkan menciptakan berbagai inisiatif daerah yang kuat. Di Halmahera Selatan, misalnya, para pemimpin Pemerintah Kabupaten membangun berbagai inisiatif, salah satunya Gerakan Desa Cerdas untuk mengisi kekurangan guru di pulau-pulau lain di sana.

Hebatnya, inisiatif di berbagai kabupaten ini unik dan terlepas dari pendekatan model tunggal yang selama ini ditawarkan oleh solusi nasional. Mereka merumuskan sendiri dan percaya diri untuk membangun inisiatif dengan cara-cara dan sumber daya yang mereka miliki.

Tentu saja tidak ada yang tiba-tiba dari munculnya dampak tersebut. Kuncinya ternyata sederhana; bahwa kita bekerja intensif, mendalam, dan tanpa henti. Selama tiga tahun ini para Pengajar Muda bekerja tanpa henti sepanjang tahun di daerah-daerah itu. Pagi-siang mengajar di sekolah, sore dan malam membangun berbagai inisiatif kelas tambahan atau pembelajaran masyarakat lain. Mereka juga bekerja intensif mendampingi aktor-aktor pendidikan di kabupaten itu untuk terus belajar dan berkembang bersama membangun jejaring pendidikan yang kuat dan mandiri.

Para Pengajar Muda ini juga bekerja tajam dan mendalam –dan bukan melebar namun tipis- di desa dan kabupaten itu, masuk dalam jantung tantangan pendidikan negeri ini, yaitu perilaku aktor-aktor masyarakat di suatu wilayah. Dan tiga kata –intensif, mendalam, dan tanpa henti –itu maknanya sederhana; kerja keraslah yang menciptakan keajaiban.

Bagi Indonesia Mengajar, keberlanjutan adalah pertaruhan penting. Masa depan republik pada dasarnya tersusun oleh lapis-lapis generasi yang setiap tahun lahir dan tumbuh perlahan menjadi fundamen bagi negeri ini. Saat ini jumlah siswa kita 49 juta anak; dan merekalah –bersama adik-adik yang akan terus lahir –Indonesia masa depan itu.

Kami memilih memulainya dari ujung-ujung republik dan hanya akan berhenti ketika desa-desa dan kabupaten itu siap terbang membangun kemajuannya sendiri –maupun bersama desa-desa lain di bagian lain negeri ini.

Namun tentu itu tidak pernah cukup. Pertaruhan besar itu harus pula diisi dengan terlibatnya desa-desa dan kota-kota lain di Indonesia. Semua orang harus terlibat, bukan hanya desa-desa itu yang bergerak. Karena itu pula kami terus membuka diri untuk mengajak siapapun untuk bergerak dalam berbagai model inisiatif serta di berbagai wilayah sesegera mungkin. Tidak perlu berdebat panjang soal nama, soal banner, soal logo, dan aspek seremonial lain: segera berbuat dan serentak bergerak.

Menggerakkan semesta memang tidak pernah mudah. Namun rumus dasar sejak dulu selalu sama: mulailah lebih dahulu, berilah lebih dari yang diminta.

*Hikmat Hardono
Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s