Memanusiakan Kota dengan ‘Design Thinking’ (1)

Posted: March 2, 2014 in Opini
Tags: , , , , , ,

“Kesehatan sebuah kota diukur dari vitalitas dan energi,  jalan dan ruang terbuka publiknya” | William H. Whyte

Kota. Gedung-gedung tingginya menjulang. Di malam hari, lampu dan segala jenis pencahayaan seperti rimba neon. Berwarna-warni dan menawarkan pesona yang tiada habis. Selalu asik untuk ditelisik. Tapi jutaan kilowatt dihabiskan sepanjang malam. Tujuannya tentu demi memuaskan keinginan manusia kota yang mencari hiburan sehabis bekerja.

Padahal esok subuh-subuh mereka sudah harus berangkat kerja bila tidak ingin terseret dampak kemacetan. Manusia kota, bagi saya mungkin merupakan sebentuk refleksi dari pesona luar biasa dari kota itu sendiri.

Kota. Tempat tumpah ruahnya keragaman demografi manusia. Terkadang aneh. Pada beberapa titik, daerah perkotaan tumbuh menjadi ideal. Namun di sebagian besar titik yang lain dari kota, menjadi tidak manusiawi. Untuk sebutan terakhir, Jakarta sering diperbincangkan dengan kondisi yang demikian. Hampir-hampir mirip.

Sebagai ibukota negara, Jakarta berubah garang dan ganas bagi penduduknya. Penyebabnya mungkin macet yang selalu lebih lama dari waktu kerja, banjir yang tidak kunjung mereda, tingkat kriminal diambang batas, dan rupa-rupa masalah urban lainnya.

Bukan maksud saya menegaskan opini buruk dan rasa heran orang-orang terhadap masalah sosial yang muncul di perkotaan. Bukan pula mengeritik kenapa bisa demikian. Tapi, ada hal yang bisa kita perbuat agar perkotaan dapat tumbuh menjadi tempat yang aman, nyaman dan sekaligus ideal bagi masyarakat. Upaya itu pada akhirnya akan bermuara pada kewarasan dan kenyamana orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Makassar: di mana saya bermula

Masalah macet, banjir, dan kriminalitas sudah bukan lagi ekslusivitas penuh Jakarta. Semua kota mengalami masalah yang hampir sama. Makassar, misalnya. Saya lahir dan besar di kota ini.

Inilah kota yang jika diukur dari garis bujur dan lintang di mana letak geografis Indonesia berawal, maka disinilah pusatnya. Titiknya ada di Pantai Losari yang terkenal itu. Makanya, belakangan dibuatlah proyek pembangunan CPI (Central Point of Indonesia) di sana. Sebuah proyek megah yang masih berlangsung hingga hari ini.

Ada Masjid Amirul Mukminin (masjid terapung) dengan bangunannya yang mengambang di udara tepat di atas Pantai Losari. Juga tak ketinggalan anjungan Losari dengan pelatarannya (Pelataran Bugis-Makassar dan Toraja-Mandar) yang keren-keren!

Sebenarnya masih ada sejumlah revitalisasi perwajahan kota Makassar yang lain jika mau disebutkan satu persatu. Untuk contoh, sebut saja revitalisasi Lapangan Karebosi. Tanah milik publik itu di caplok lalu di-branding oleh sebagian orang untuk dikomersilkan. Nilai publiknya sudah menguap entah ke wilayah atmosfir bagian mana. Jika mau masuk, Anda harus bayar.

Secara perlahan-lahan, orang-orang jadi kehilangan hak untuk memperoleh fasilitas publik secara layak. Dulu hijaunya Lapangan Karebosi bisa kita lihat dari pete’-pete’ karena belum ada penghalang. Sekarang, mau yang naik mobil pribadi, pete’-pete’, maupun motor, sama-sama tidak bisa lagi menikmati Karebosi dan menyaksikan sepintas asyiknya pemain-pemain handal PSM Makassar melakukan latihan rutin dari atas kendaraan masing-masing.

Ya, pengakuan hampir sebagian orang-orang, Karebosi bertambah cantik dari penampilan fisik luar. Nilai jualnya sebagai ikon Makassar semakin mahal dan terkenal. Polesan pemerintah kota terhadap Karebosi bisa dibilang berhasil. Hanya saja, pastilah ada harga yang ditukar demi revitalisasi itu.

Karebosi pasca reviltalisasi, punya basement. Tapi sayangnya, bukan dipermanfaatkan untuk lahan parkir,  pusat kendali kabel optik, sentral pengaturan air tanah, atau apalah yang canggih dari lorong-lorong bawah tanah kota-kota besar dunia seperti Tokyo dan New York sana.

Basement-nya disulap jadi ‘Karebosi Link’ yang isinya gerai pakaian, makanan, minuman, dan eletronik. Masih ada lagi, tepat di sudut sisi timur lapangan (yang ada tugu), berdiri ‘Eat @ Out’ yang megah dengan konsep dining outdoor-nya yang “mengambil” pemandangan Karebosi sebagai jualan. Padahal sebelumnya dilarang. “Anjing menggonggong, kafilah berlalu”. Semacam itulah. Jadilah Karebosi yang awalnya milik publik, beralih ke milik pemodal. Kalau orang-orang sini bilang, “moko masuk? bayarko paleng.” Minimal parkir.

Revitalisasi Untuk Publik

Sekitar sekilo dua kilo dari Pantai Losari, ada Pantai Akkarena. Pantai dengan paket wisata yang lengkap ini menawarkan pemandangan pantai berpasir kehitaman. Sangat cocok untuk liburan keluarga. Tak ketinggalan bagi yang suka pemandangan pantai dan penikmat suasana laut lepas. cobalah sekali waktu Anda menyambangi pantai ini. Sekedar berekreasi bolehlah. Namun untuk sering-sering, orang jadi pikir-pikir. Ongkosnya mahal. Biaya masuk, biaya penggunaan fasilitas, dan biaya parkir. Hitung sendiri.

Lain halnya dengan Pantai Tanjung Bayang yang masih sekawasan dengan Pantai Akkarena di Tanjung Bunga. Lokasinya sangat dekat. Cuma beberapa puluh meter saja. Namun sampai sekarang tidak ada perubahan. Pemerintah kota seakan membiarkannya semrawut. Rumah-rumah kayu yang disewakan di kawasan pantai tidak beraturan. Kesannya malah kumuh. Orang-orang berjualan hingga bibir pantai. Tapi jangan salah, pengunjung di Pantai Tanjung Bayang begitu ramai meski tanpa fasilitas standar seperti MCK.

Menyaksikan Pantai Akkarena dan Pantai Tanjung Bayang, tentunya sebagai warga kota, kita ingin revitalisasi tidak dilakukan semata-mata demi kepentingan pemodal yang sampai kiamat pasti cari profit. Akan tetapi, karena melihat kebutuhan warga kota yang memang punya hak menikmati lahan publik itu secara adil dan wajar. Hingga hari ini, kita sedikit ‘bermasalah’ dengan ruang publik.

Sebagai gambaran, inilah sejumlah problem –­kalau tidak ingin dikatakan kekurangan kota Makassar yang saya ketahui. Jl. Tala Salapang yang sering sekali kebanjiran, Jl. Syekh Yusuf meskipun sudah diberikan aspal beton, tetap saja tidak mengurangi luapan drainase yang sudah menahun.

Jalan Slamet Riyadi samping Jalan Ahmad Yani dan Gedung Balaikota yang selalu ditutup pada hari kerja untuk tempat parkir para pejabat pemkot, sehingga menimbulkan kemacetan setiap hari (mengambil hak publik pengguna jalan?). Jalan AP. Pettarani yang katanya jalan provinsi, tapi genangan air selalu kurang lebih setinggi betis orang dewasa jika hujan tidak reda hanya dalam beberapa jam, Jl. Abdullah Daeng Sirua yang selalu macet hampir setiap hari, dan semua masalah lainnya.

Kalau kita mau berbicara lebih jauh, di Makassar beberapa bangunan-bangunan petilasan yang bersejarah diubah sana-sini, ditambah lagi hampir tidak adanya kawasan pedestrian yang bisa digunakan warga kota untuk bersantai dan merasakan suasana guyub yang ramai.

Saya pikir membangun kota tidak diukur dengan banyaknya mega proyek trilyunan rupiah yang diinisiasi pemerintah, tapi dengan melihat problem dan kebutuhan mayarakat. Kita butuh lahan parkir, hutan dan taman kota, taman bermain untuk anak-anak, jalan-jalan yang tidak macet, trotoar yang rindang,  dan semacamnya. Misalkan saja seperti itu.

Kita bisa buat kota ini menjadi lebih baik dan nyaman dari sebelumnya. (Mungkin) Kita tidak perlu lagi mega proyek. Ada jalur thinking, mengobservasi, berpikir dan melakukan inovasi design pada ruang-ruang publik kota kita.

Kita bisa mulai dari sini. Apaka masalah yang sebenarnya? Mungkin masalah kemacetan sepanjang hari kerja di Jalan Ahmad Yani bukan karena banyaknya volume kendaraan atau kawasan perkantoran yang memang padat. Siapa tau karena hanya tata kelola parkir yang salah. Siapa tau…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s