Mengapa Turun Tangan? Sosok Muda Ini Punya Faktor N-(Nyali)

Posted: March 20, 2014 in Catatan Harian, Reportase
Tags: , , , , ,

073841c4baf377ea4ec3b350f69ccc89d5389a71ecc7c0bf4cdbcd57efa7f274

Suatu waktu di hari Jum’at, figur yang selalu tersenyum ramah ini datang ke kampus UNM Makassar memberikan kuliah umum. Ketika itu, Indonesia Mengajar sudah menghasilkan dua angkatan. Itulah pertama kalinya saya melihat langsung sosok penggerak sarjana-sarjana terbaik Indonesia ini untuk mau mengajar setahun di daerah terpencil. Namanya sudah begitu dikenal banyak orang: Anies Baswedan.

Katanya, “Mendidik adalah tugas setiap orang yang terdidik”. Entah darimana beliau mendapatkan muasal pernyataan ini yang secara logis keilmuan tidak sepenuhnya benar. Tapi mungkin disitulah letak leadership power beliau. Mampu menggerakkan begitu banyak talenta, begitu banyak potensi, begitu banyak sumber daya untuk turun tangan sedikit demi sedikit mengatasi masalah pendidikan dasar.

Beliau mampu meyakinkan orang-orang bahwa kita semua yang telah terdidik sebenarnya berkewajiban memberikan apa yang telah kita terima sebelumnya. Walhasil, kita semua para sarjana dari manapun didikan asalnya –jurusan guru atau non-guru- harus membayarkan balik budi itu dengan mendidik dan mengajar.

Ternyata, jawabnya ringkas saja. Kami diingatkan tentang sepenggal kalimat kecil amanat konstitusi berupa janji melunasi kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Penjelasannya, negara masih belum hadir sepenuhnya di ranah pendidikan. Apalagi kalau sudah menyangkut fasilitas dan sumber daya guru yang berada di bagian-bagian terluar dan terpencil Indonesia. Apa yang beliau lakukan adalah mengajak orang-orang untuk berbuat, sekecil apapun itu.

Lalu muncul lagi Kelas Inpirasi. Kota-kota bergeliat dengan para profesional yang mewakafkan dirinya satu hari mengajar dan menjadi inspirator. Sebenarnya kita ini negara gotong royong. Hanya saja mungkin perlu ada pemantik yang mengingatkan, menyadarkan, kalau perlu mencontohkan apa yang pernah dilakukan orang-orang tua kita dahulu. Beliau menunjukkan itu. Nilai dan potensi gotong royong itu sangat membantu kita melejitkan kualitas setiap aspek kehidupan berbangsa.

Setelah itu, beliau mengajak lagi semua orang untuk ‘merayakan’ pendidikan. Hal yang sebetulnya menjadi tugas dan kewajiban negara. Sebagai homo festivus, kita ikut berfestival dengan merayakan FGIM (Festival Gerakan Indonesia Mengajar). Ribuan relawan datang memberikan bantuan, dukungan dan semangat para ujung tombak di pelosok sana: Pengajar Muda.

“Orang tua itu berkawan dengan masa lalu, sementara anak muda berkawan dengan masa depan”. Dari kata-katanya, terdengar logika yang tersusun rapi sekaligus santun.

Kali ini, aksinya lebih hebat lagi. Beliau menjawab dan menghadiri undangan mengikuti Konvensi Partai Demokrat. Sebuah pilihan yang mungkin kita pikir tidak ditimbang masak-masak. Tapi itu dijawabnya dengan moral tanggung jawab yang besar kepada negara. Pertaruhannya sungguh bukan main-main, nama baik yang sudah meng-Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yang menggaung dari Sangihe ke Rote. “Biar anak-anak saya liat, ayahnya pilih untuk berjuang”.

Puluhan ribu anak muda bahkan orang dewasa diajak turut terlibat mendukung perbaikan sistem politik yang lebih baik. Untuk membangun negara ini, butuh lebih dari seorang Presiden dan perangkat pemerintahan lain. Kita butuh partisipasi dan keterlibatan rakyat banyak. Indonesia semesta harus bergerak, serentak, dan bersama-sama.

“Biarkan politik negeri ini diramaikan dengan pertarungan gagasan, ide, dan integritas”. Mulia betul harapan ini. Saya, Anda, dan mungkin kita semua didera skeptisisme yang luar biasa di awal. Tapi siapa yang tahu ini bakal benar-benar terjadi.

Tidak lebih dari sejam beliau berbicara. Tapi banyak kesan yang ditinggalkan kepada kami semua. Selepas kuliah umum, beliau yang didampingi Rektor langsung bergeser ke masjid kampus untuk shalat Jumat. Selepas shalat, beliau menemui khatib, barangkali ingin menyampaikan sesuatu. Mungkin sekitar 10 menit. Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari barisan shaf depan, saya melihat laku, sikap, dan gerak tubuhnya yang begitu hormat kepada  orang yang lebih tua. Sikap yang sudah jarang dimiliki pemimpin Indonesia di masa sekarang. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Beliau yang dikenal punya kapasitas dan integritas yang sangat baik, juga punya sejumlah nyali berani, dan ini yang memungkinkannya untuk menjadi pemimpin bangsa Indonesia ke depan.

  1. Berani menyambangi anak-anak muda di seluruh Indonesia sebagai elemen bangsa yang paling besar jumlahnya untuk ikut membangun etika politik. Dan hasilnya, anak-anak muda ini entah bagaimana caranya terpengaruh untuk ikut bergabung dengan gerakannya.
  2. Berani menyumbangkan gagasan politiknya lewat visi 5 tahun “Indonesia 1945” untuk mewujudkan “Indonesia Kita Semua”, yang berarti, ia juga berani untuk didebat dan dikritik oleh semua masyarakat Indonesia lewat visinya itu.
  3. Berani memberikan contoh kepada generasi muda untuk tidak diam dan mendiamkan jika ada hal yang baik untuk dilakukan. Meski konsekuensinya adalah meninggalkan segala bentuk kenyamanan. Republik ini didirikan dan diikhtiarkan oleh sangat banyak orang muda yang mau mengangkat senjata dan berdiplomasi di meja perundingan. Jika generasi muda saat ini diam saja, itu berarti mereka menyalahi karakter ikhtiar dari perjuangan bangsa.
  4. Berani meneruskan dan meneguhkan tradisi pemimpin bangsa yang berasal dari kalangan akedemisi. Sebab bangsa ini diimaji oleh founding father yang merupakan cerdik cendikia dan pemikir di masa lalu.

Tiap butir uraian visinya adalah sebuah proses yang tak akan pernah tuntas jika kita tidak ikut terlibat. Tidak akan jadi sama sekali tanpa seluruh gerak aktif segenap warga negara Indonesia. Demi mewujudkan Indonesia Kita Semua.

Tujuan itu belum tercapai. Ini belum berakhir. Semakin banyak saja orang-orang yang ikut turun tangan, bergabung dengan semangat nol rupiah (Rp 0,-) yang oleh karenanya tak terhargakan. Dan saya memilih bersikap. Untuk itulah saya memilih untuk ikut mendukung, dan bergabung dalam Turun Tangan.

Daripada hanya jadi pengamat yang duduk di bangku penonton, lebih baik saya ikut berbuat sesuatu. Hasilnya belakangan. Kita tidak akan pernah tahu Indonesia akan semakin baik di masa mendatang, jika kita tak berbuat apa-apa pada hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s