Memanusiakan Kota dengan Design Thinking (2-end)

Masalahnya apa?

Mengapa perkotaan belum menjadi tempat yang nyaman bagi warga? Banjir, kriminalitas, macet, dan sebagainya. Lantas, mengapa lahan publik didominasi area komersil ketimbang menjadi public space yang nyaman? Seperti sudah terbiasa, jadinya, hal itu  biasa-biasa saja. Warga pasrah, bahwa inilah risiko mereka hidup di area perkotaan. Kita perlu memperbaiki itu secara perlahan-lahan. Memikirkan alternatif solusi yang baik dan tepat bagi masalah perkotaan.

Mengapa kita perlu berpikir ulang tentang sebuah masalah yang terjadi di perkotaan? Analoginya kira-kira seperti ini. Kata Yulianti Tanyadji di kelas Akademi Berbagi Makassar (@ytanyadji), sungai-sungai masih terlalu dalam untuk disimplifikasi penyebabnya sehingga terjadi banjir. Jalanan kota masih begitu panjang untuk kita sederhanakan penyebabnya menjadi kemacetan.

Kita breakdown sejumlah masalah itu untuk dipikirkan bersama-sama.

Coba ambil satu masalah. Lakukan observasi menyeluruh, proses analisa, lalu kita sama-sama memikirkan re-design masalah tersebut sehingga lahirlah rekomendasi bagi pemerintah kota misalnya. Mengapa? Sebab, terkadang, tak perlu design baru.

Untuk itu, semua persona yang memainkan peran di dalam tumbuh sehatnya sebuah kota –termasuk masyaratnya- sebisa mungkin keluar dari cara berpikir yang standar,  think out of the box.

Design Thinking

Kalau kita berbicara tentang design, biasanya orang berpikir produk akhir dari suatu pabrikan atau industri yang ingin memuaskan keinginan atau menyelesaikan masalah konsumen mereka. Sebuah produk memang dikembangkan demi menuntaskan masalah yang ada.

Herbert Simon dalam Sciences of The Artificial memang mendefinisikan design sebagai “transformasi dari kondisi yang ada ke kondisi yang lebih disukai”. Masalah-masalah yang muncul dari suatu kondisi, diselesaikan dengan design yang baru pada untuk mengatasi kondisi itu, dan begitu seterusnya.

Lalu ada Ellen Lupton –kurator desain kontemporer di New York- yang menarik kesimpulan design sebagai “art people use”. Desain adalah seni mengatasi masalah orang-orang. Dengan penjelasan seperti itu, makanya “design” pada mulanya lebih populer di dunia industri dan seni kreatif.

Barulah belakangan,“design” menemukan jodohnya dengan “thinking” sehingga diperoleh konteks dan makna yang lebih luas. Kata “design” pada hakikatnya bertindak sebagai verb (kerja yang terus menerus).  ‘Design as verb (kerja yang terus menerus) ini mesti dihindarkan sejauh-jauhnya dari anggapan ‘design as noun(sekedar produk akhir).’ Design Thinking’ mengharuskan  proses analisis dan berpikir yang lanjut. Selalu berusaha memperbaiki yang sudah ada.

Simpulannya, ‘design’ dalam ‘design thinking’ tidak lagi dilirik sebagai added value dari suatu produk akhir, tetapi bagaimana proses menciptakan sebuah nilai ataupun strategi baru dengan mengalami ‘design’ dan ‘thinking’ itu sendiri.

Menurut saya, disitulah letak menariknya. Sebab, di kepala saya, sama seperti anggapan orang lain pada umumnya. Desain, pasti tidak jauh-jauh dari hasil akhir (end product). Yang mengejutkan, pengertian yang diajukan di kelas Akademi Berbagi sore itu begitu sederhana: “Design Thinking adalah metoda  membuat solusi kreatif bagi kota”.

Misalkan saja, suatu wilayah dari kota Makassar, katakanlah pemukiman penduduk di bantaran sungai Tallo atau sungai Pampang. Masalah yang sering muncul adalah di tempat ini sering terjadi perbuatan kriminal. Kalau malam, orang-orang sudah tidak berani lewat di sana. Gelap. Akibatnya, warga menjadi takut dan lebih sering waspada untuk tidak keluar rumah. Bagian yang terang hanya lampu jalan di jembatan tempat pete’-pete’ lewat.

Kira-kira, apa yang bisa kita lakukan di sana?

Menurut Yulianti Tanyadji, berdasarkan pengetahuan para pakar, metode ringkas design thinking bisa dipraktikkan di mana saja. Ini dia:

  1. Listen and respect | mulailah dengan mencari tahu apa yang sudah dan pernah dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dengarkan apa yang menjadi keresahan masyarakat sekitar. Pembangunan dan penataan kota tidak akan menjadi efektif bila pemerintah membangun apa yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh warganya.
  2. Be in their shoes | selanjutnya lakukan observasi. Apa sebenarnya cerita yang ada di dalamnya. Cobalah berempati dengan merasakan apa yang sebenarnya warga kota rasakan dengan adanya masalah itu.
  3. Suspend judgement | susun pertanyaan yang betul-betul tepat untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan. Right words [questions] is the right answer’.
  4. Find the patterns | carilah pola mengapa masalah-masalah itu muncul secara berulang-ulang.
  5. re-[Frame] | Coba pikirkan alternatif solusi dan analisis yang lebih mendalam. Bisa jadi masalahnya muncul karena problem yang lain. Siapa tau bukan itu penyebabnya.
  6. Build idea[s] on top ideas | berpikirlah dengan kreatif. Ciptakan ide baru di atas ide-ide yang ada sebelumnya. Seperti itulah design dan thinking.
  7. End product-nya tidak mesti sesuatu yang wah. Sebagai contoh: Banjir dan genangan air yang kerap terjadi di sejumlah ruas jalan akan diselesaikan dengan metoda design thinking. Setelah ditelisik, ternyata tidak perlu dibangun proyek drainase yang besar untuk menuntaskan problem itu. Siapa sangka masalah akan selesai dengan pembuatan lubang biopori? (ini contoh masalah yang sempat dituntaskan di Bandung.)

Kota Makassar ke depan?

Seorang arsitek dan urban planner terpilih menjadi Walikota di Makassar periode 2014-2019. Bayangan kita (semua) dengan Makassar adalah problem tata kota yang sering jadi masalah. Sebagai warga kota, Walikota yang baru dilantik Agustus mendatang ini kita harapkan bisa mengajak semua orang untuk melakukan penyehatan kota dengan menerapkan ‘design thinking‘ dalam prosesnya. Sebab  mewujudkan itu semua tak bisa jika Walikota sendiri, kolaborasi elemen masyarakat menjadi penting.

Kita ingin Makassar masih menjadi tempatnya manusia Makassar. Yang manusiawi, rapi, tertib, dan Teduh Bersinar (heheh.)

Visi Danny Poemanto mewujudkan kota Makassar sebagai kota dunia untuk semua. (catat-catat memangmi janjinya! heheh) Tapi kalau yang diartikan kota dunia ialah Makassar lalu menjadi penuh dengan aneka properti dan bangunan mewah, saya rasa bukan hanya hal itu. Atau menyulap kota ini dengan julukan kota seribu arena konvensi.

Cukupmi mungkin dengan CCC (Celebes Convention Center) yang selalu bikin kegiatan. Tiada hari tanpa festival. Kita butuh kota yang lebih manusiawi, tempat parkir, public transport, taman kota, dan segala hal yang diharapkan oleh publik terhadap kotanya sendiri.

Kita ingat ada Ibu Tri Risma Harini, seorang Walikota Surabaya seorang arsitek alumni ITS. Sekarang, Surabaya sudah mulai berbenah agar lebih nyaman ditempati.

Juga ada Ridwan Kamil, arsitek super terkenal alumni ITB. Beliau menggerakkan urang Bandung dan komunitas untuk bekerja menyehatkan dan menyamankan kotanya tanpa harus melalui proyek-proyek mahal.

Apa Makassar bisa bersolek seperti Bandung dan Surabaya tapi murah meriah misalnya? atau malah bergegas mengikuti kemoderenan Jakarta? Kita lihat saja nanti.

Advertisements

One thought on “Memanusiakan Kota dengan Design Thinking (2-end)

  1. sebenarnya, design thinking adalah tools problem solving. dia bukan target yg hendak mau dituju. cmn yang menjadi pembeda dr tools problem solving konvensional yang menggunakan SWOT sbg pisau analisis. Design thinking menawarkan 5 (Emptahyz, define, insight, proTotype, testing) tahapan proses dengan melihat konteks lingkungan, kesesuaian anggaran dan pemanfaatan teknologi yg bisa digunakan (desirability, veability, feasibility). Hal yg harus di garis bawahi ketika membahas seputar design thinking adalah, peralihan paradigma yang ditawarkan. Jika cartesian newtonian sbg mazhab populer di era modern ini, design thinking mencoba menawarkan counter wacana terhadap pemikiran tersebut, dgn melihat paradigma holistik sebagai cara pandang dlm melihat masalah secara keseluruhan, bukan bagian. itu sdikit kira2 oms

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s