Berkemas, dan Berangkat!

original

Tiba-tiba, perjalanan waktu tahu-tahu berganti dengan cepat. Saya berangkat. Memulai Pelatihan Intensive Pengajar Muda Angkatan VIII Indonesia Mengajar.

Hasil tes diluar perkiraan kami semua. Dari Direct Asessment Tahap II, saya dan seorang kawan bahkan sudah bisa menebak siapa persona yang akan bersinar. Lalu melenggang lulus dengan mulus.

Kupikir, hanya bisa bertahan hingga tahap kemarin itu. Tapi saya lulus. Senang? Tentu saja. Campur aduklah. Tapi hanya di awal. Setelah malam berganti dan pagi menjelang, saya baru memikirkan konsekuensi itu semua. Pokoknya bingunglah. Kemarin kayaknya seperti mimpi saja.

Inilah masalahnya, sebelumnya saya hanya mencoba kembangkan rencana hidup ke depan yang normal-normal saja –tidak lulus-. Lanjut kuliah di jenjang yang lebih tinggi, mencari kerja, menata karir, dan sebagainya. Macam itulah. Yang saya tidak rencanakan adalah bilamana seandainya saya lulus. Rencana ke depan bakalan tertunda sementara waktu. Sungguh, saya akan menghadapi situasi hidup yang benar-benar tidak normal lagi.

Motivasi jadi Pengajar Muda sederhana: saya ingin bergabung membantu melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Klise, kan? Alasan seperti itu akrab kita dengar dari dulu-dulu ketika Indonesia Mengajar baru memulai langkah pertama.

Waktu itu saya berpikir, alasan itu ideal sekali untuk ukuran anak muda. Penggagasnya (Anies Baswedan) melontarkan argumentasi yang oke punya. Bahkan tiap kali alasan itu digaungkan, ada emosi positif yang terlontar, yang kemudian benar-benar menggerakkan para lulusan ini memenuhi panggilan mengabdikan diri sebagai guru SD setahun di daerah terpencil Indonesia. Paling tidak mereka mencoba mengisi form Pengajar Muda.

Intinya ya, saya pun hanya mencoba. Terkadang, saya tidak bisa menahan diri untuk memulai sesuatu atau mencoba hal-hal yang baru. Namun begitulah cara nasib bekerja. Saya baru mengerti konsekuensinya (tidak semua).

Makanya sebelum berangkat, saya pamitan dan mohon doa. Semoga diberi kekuatan, kesehatan, dan umur yang panjang. Utamanya ke Ibu dan sanak famili yang lain. Kemudian saya ucap Basmalah. Semoga bernilai Ibadah.

CPM (Calon Pengajar Muda) VIII, kami cuma berdua dari Makassar. Satunya lagi alumni Universitas Hasanuddin. Sebelum berangkat, ada kemas-kemas yang paling penting: minta nasehat. Budaya orang Bugis Makassar, kalau mau pergi-pergi, didahului matabe’ dengan orang yang lebih tua, atau orang yang kami tuakan. Dalam hal ini, untunglah sempat bertemu Pengajar Muda I. Pesannya: to be or not to be, keep fight! berjuang dan bertahan…

Gambar: sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s