Lelaki Tua

Setiap yang bernyawa pasti akan mati (Al-Qur’an)

Saya sementara menanti giliran audiensi dengan pejabat Dinas Pendidikan Fakfak. Ketika kabar itu datang. Satu pesan masuk dari teman. Isinya kurang lebih, satu jamaah Masjid Al-Furqan Makassar berpulang. Namanya tersebut pada penghujung pesan: Jasid Tawang.

Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Saya jawab pesan itu. Sekadar menabah-nabahkan diri, meski sebenarnya beliau bukanlah siapa-siapa. Sebuah ketentuan yang tidak bisa ditawar ketika Allah memanggil hamba ke Haribaan-Nya. Ini bulan Ramadhan. Dengan rahmat dan kasih sayang Allah pula, beliau menggapai satu syarat seorang Muslim dikatakan khusnul khatimah.

Saya coba mengingat seraut wajah tua tapi sungguh bersahaja itu. Tak lupa simpul senyum yang selalu tersampir rapi. Menebarkannya dengan ramah kepada semua orang. Orang-orang juga dengan ikhlas membalasnya.

Saya bayangkan ia ketika di usianya yang memasuki senja. Setiap lepas waktu shalat di bulan Ramadhan seperti ini, ia dengan sigap menunggu jamaah yang ingin membayar zakat. Sambil membaca Al-Qur’an dengan khusyu’. Menekuni satu persatu lafal ayat dengan teliti.

Saya bayangkan di bulan ramadhan, siang-siang selepas dhuhur, langkah berat untuk pulang ke rumah. Udara kadang begitu panasnya dan dahaga mulai berontak muncul. Biasanya, saya bermalas-malasan, ngobrol, atau tidur-tiduran di masjid. Dalam beberapa kesempatan, saya termotivasi membaca Al-Qur’an dari beliau. Waktu saya jadi lebih bermanfaat dan mengundang pahala kebaikan.

Saya ingat beliau yang sepanjang saya ketahui adalah ketua amil zakat. Semenjak masih kanak-kanak. Kerja rutin bermain mercon dan meriam bambu di belakang masjid. Beliau sudah kokoh memainkan peran mengawal pembayaran zakat umat muslim yang menjadi jamaah tetap di masjid. Beliau sangat menjaga prinsip dan etika Islam.

Tapi saya bayangkan lagi, dia bilang, beliau sudah mengundurkan diri dari ketua amil zakat di permulaan bulan suci ini. Sebuah pertanda yang beliau ketahui sendiri dan agar kami pun mengetahuinya. Ia menghargai datangnya sebuah kematian, sebagaimana ia memberikan penghargaan pada sebuah kehidupan yang lain.

Saya bayangkan ketika ia menjadi khatib pengganti Tarawih maupun Subuh saat khatib utama berhalangan hadir. Ia akan muncul dari shaf yang selalu paling depan. Memberikan nasihat dan ceramahnya. Sebagai orang tua, beliau tahu kondisi jamaah. Sehingga dalam menyampaikan ceramahnya, beliau bertutur dan bersikap sebagai pemimpin jamaah kepada jamaahnya, atau di lain tempo sebagai orang tua kepada anak-anaknya. Menyampaikan dalil dengan tenang, dan menguraikannya kepada jamaah sesuai permasalahan umat.

Pertemuan saya dan beliau cukup sering. Ketika jadi remaja masjid, saya rutin ke rumah beliau. Paling sering ketika shalat fardhu di masjid. Sehabis shalat sunnah dan salam-salaman, jika melihat, beliau menghampiri saya dan menjabat dengan erat. Itu karena beliau harus memandang dekat memastikan siapa orang yang ada di depannya. Ukuran kacamatanya terhitung besar. Berwarna coklat kehitaman dengan kaca yang menutupi sepertiga pipinya.

Namun seringkali saya menghindar. Mungkin waktu itu tergesa-gesa untuk urusan lain. Atau saya hanya sedang tidak berminat saja. Kebiasannya adalah tidak melepaskan jabatan tangannya sebelum bincang-bincang kami selesai.

Ini pertanyaan pamungkasnya, “Selesaimaki’ anak?”. Ia selalu bertanya dan mendiskusikan itu pada saya di waktu senggangnya. Sementara saya hanya bisa mengelak dan memberikan tempo waktu yang tidak jelas benar. Ia benar-benar berbudi baik dan santun. Sejarah mencatat, orang tua dan keluarga yang baik itu ketika bertemu, yang disoalkannya adalah pendidikan. Orang-orang besar di dunia ini melakukan hal yang serupa, begitupun dengan beliau.

Ayah saya sudah tiga belas tahun berpulang. Banyak yang sudah lupa. Tapi ia tidak lupa. Mungkin berkarib dekat dengan almarhum ayah. Mungkin banyak juga yang ingat, tapi hanya ia yang selalu menyinggungnya. Yang dengan cerdas selalu mengetengahkan hal itu sebelum saya mengalihkannya ke hal yang lain. Lalu setelah itu ia akan mengusap punggung dan kepala saya seperti anak kecil dulu. Meski saya sudah lama pensiun dari pasukan pelempar mercon.

Jika itu ia lakukan, maka saya cuma bisa mendengarkan petuah bijak beliau dengan khidmat. Setiap kali itu pula, saya mengingat almarhum. Yang sungguh efektif membuat pertahanan kelenjar air mata saya hampir runtuh. “Oh, jangan di depan beliau dan jamaah yang lain.” saya membatin selalu.  

Ingin saya membalas pekerti mulianya, meski yakin tak tercapai pamrihnya. Hingga kemarin, saya belum tahu ingin melakukan apa. Tiba-tiba saja ajal menyambanginya. Berangkat kemari pun saya tidak sempat memegang tangannya, pamitan. Beliau sudah pamit duluan. Ah, luput satu lagi kebaikan itu.

Jangan-jangan, saya mungkin jadi akan selalu teringat nasehat pengakhiran beliau. “Nak, senantiasalah memuji-Nya dan bersyukur atas apapun kondisi yang ada.” lirihnya pada saya. Mengingatnya berarti mengingat setumpuk nasehatnya, kenangan masa silam, dan kebaikan-kebaikannya yang lain. Beliau juga seorang ayah, suami, sepupu, paman, dan kerabat dari orang lain, yang senantiasa merindukan saat-saat bersama beliau, hingga di hari tuanya.

Saya bayangkan raut wajahnya yang berbalut kafan, membentuk sekulum senyum. Kemudian orang-orang dan sanak familinya berdatangan melayat di kediamannya, yang tak jauh dari rumahku.

Saya bayangkan mereka yang datang, juga ikhlas melepaskan beliau. Melangitkan doa dan meneguhkan harap yang terbaik. Mereka mengantarkan beliau lewat kalimat-kalimat duka yang paling baik di sisi-Nya.

Saya bayangkan ketika jenazahnya dimasukkan ke liang lahat yang sempit itu, orang-orang dalam perimeter hingga beberapa jarak jauhnya, menyebut-nyebut asma Allah dan mendoakan beliau.

Saya turut berdoa agar Allah berkenan senantiasa menggunakan kuasa-Nya memaafkan segala dosa-dosanya, melapangkan kuburnya, dan memberikan ketabahan kepada keluarga beliau. Allahumma Amiin…

Fakfak, 7 Juli 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s