Indonesia-69-Tahun

Posted: August 30, 2014 in Catatan Harian
Tags: , , , , , ,

Hidup adalah momen dari syukur ke syukur | Goenawan Mohamad

Kartu pendudukku, Indonesia.Alasannya ayah dan ibuku, juga Indonesia. Kalau dirunut hingga beberapa lapis generasi, semuanya masih Indonesia.Negara ini, bagaimanapun, tanah kelahiranku. Itu tak bisa berubah. Meski, pilihan menjadi warga negara Indonesia sampai akhir adalah kehendak bebas dari orang perorang. Hak individu masing-masing.

Tapi akankah kita menjadi warga negara Indonesia sampai mati?Akankah pula kitainginmempertahankan kewarganegaraan itu? Hal ini tentu menyisakan waktu untuk terungkap. Waktu menyimpan misteri bagi tiap insan bernyawa. Setiap manusia punya jalan hidup berlainan.

Kira-kira kalau kita boleh mengajukan tanya, “Apa arti sebuah kewarganegaraan bagi Anda?”Selembar kertas agak tebal dan eksklusif yang diberi cap, lalu kemudian benda itu kita namakan Paspor. Atau setumpuk identitas lainnya yang sama sekali tidak memberikan kebanggaan. Entahlah.

Bisa jadi, laiknya para pencari suaka itu. Seorang Prancis di abad 12 mengatakan dengan masam, “orang yang mendapatkan negerinya menyenangkan adalah ia yang hanya pemula yang masih mentah. Orang yang mendapatkan setiap negeri merupakan negerinya, ia sudah jadi orang yang kuat.” Negeri, bagi mereka, hanya labuhan tempat lima kali lima meter yang aman dari gangguan dan teror. Ia butuh cap untuk bisa tinggal di negara X, Y, atau Z.

Oleh karenanya, barangkali, bila sudah tidak betah, jugakita, dan bahkan siapa saja, bisa angkat kaki dari status kewarganegaraan. Pindah negara.Mengikuti ikatan pernikahan, atau demi memudahkan urusan-urusan. Negara itu, mungkin jelas lebih makmur dan hampir tidak ada yang perlu diperjuangkan lagi di sana.

***

Meski begitu, inilah negara tempatku dilahirkan. ‘Negara Kesatuan Republik Indonesia’. Semua institusi yang ada,menyebutnya NKRI. Plus dengan kewajiban menyebarkan nilai-nilai di dalamnya.

Terlebih POLRI sebagai institusi sipil, dan TNI sebagai institusi militerdengan kewenangan menjaga stabilitas keamanan dari dalam dan luar.“Demi menjaga keutuhan NKRI.”Begitu yang sering kudengarkan.Kadang didengungkan dengan mempertontonkan urat syaraf.

Unsur ‘Kesatuan’-nya begitu sakral.Tidak boleh terpecah-pecah. Jangan sampai ada yang mau merdeka sendiri. Kalau perlu, semua tindakan teror yang berpotensi mengancam keseimbangannya, diberangus.

‘Kesatuan’ ini dicirikan denganberbagai perlambang dan simbol.NKRI dipatok dengan sebuah keniscayaan,“NKRI harga mati.” Slogan nasionalisme yang agak mengikuti kehendak inferiorisme dan paranoisme.

Redaksionalnya dibuat mirip-mirip “Merdeka atau Mati.” Sebuah pekikperjuangan melawan kolonialisme di tahun-tahun lampau.Tapi kali ini, coba tebak, siapa yang berjuang? dan apa bentuk ‘Kesatuan’ yang diperjuangkan?Padahalnegeri ini bukan melulu soal keamanan. Pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, energi, sumber daya manusia, dan semua turunannya.

***

Sayangnya pula, negaraku NKRI, yang dibalut dengan harga mati itu, tidak selalu mati-matian membela rakyat banyak. NegarakuNKRI yang minta dipenuhi itu, sering alpa melakukan pemenuhan hak-hak dasar warga negara. NegarakuNKRI yang beroleh pertumbuhan ekonomi setara negara maju itu, tidak tahu kemana penghujung angkanya.

Adakah langkah yang jelas bagaimana ‘Kesatuan’ Indonesia dengan jelas ditata ke depannya?Aku membayangkan, ‘Kesatuan’, karena kita bisa dengan mudah mengakses tempat-tempat di tanah Indonesia. Aku membayangkan,‘Kesatuan’, karena kita bisa mengenyam sistem dan kualitas pendidikan yang sama di mana-mana di Indonesia. Kemana ‘kesatuan’ itu?

***

Namun, menjadi warga negara, berarti menjadi warga yang belajar berkonstitusi. Semua ikut aturan yang sama bila berada dalam negara atau wilayah yang sama.Negaraku, memiliki empat hal: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Majelis perwakilan negaraku senang sekali memakai istilah ‘Empat Pilar’. Sosialisasi NKRI-Bhinneka Tunggal Ika-Pancasila-UUD 1945 gencar dilakukan. Kepada siswa-siswa dan mahasiswa-mahasiswa itu.

Tapi, sekali lagi, ini juga cerita tentang negeriku yang memiliki persoalan paradoksal dengan ke-Empat Pilar itu.Barangkali, disinilah tampil kekuasaan. Kekuasaan yang diselewengkan. Kekuasaan yang disalahgunakan. Negara ini ditinggali dan diurus oleh pemimpin-pemimpin itu dengan rasa tanggung jawab yang tidak sepenuhnya.

Negaraku, punya anggota legislatif yang sering tidak masuk ruang sidang. Baru-baru ini negaraku bikin sejarah baru,pimpinan Mahkamah Konstitusi-nya ketangkap icip-icipmariyuana.Milan Kundera mungkin benar, bahwa, perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

Negaraku mungkin punya banyak masalah. Tapi ketika identitas dipertanyakan, aku masih akan menjawab dengan rasa yakin, “aku Indonesia.” Diantara orang-orang yang bukan Indonesia, itu menjadi penting. Mereka harus tahu, bahwa orang Indonesia masih memiliki rasa bangga akan negerinya. Diam-diam, malu-malu, atau terang-terangan.

Ikatan batin yang bertaut dengan memori masa kecil yang terserak, ingatan tentang orang-orang di dalamnya, dan apapun itu yang memaksa identitas tidak bisa diabaikan sama sekali. Katakanlah itu seperti nyanyi Ibu Sud, “tanah airku,,,,tanah airku,,,tidak kulupakan.

***

Hari ini, 17 Agustus 2014, NKRI ku berulang tahun. Aku mengucap selamat untuk itu. Aku mendengar peringatan detik-detik menegangkan di Pegangsaan 56 itu lewat radio tenaga baterei. Padasebuah kampung kecil di sibakan pegunungan Fakfak, yang gelombangnya sering berlarian.

Selamat menikmati napak tilas 69 tahun perjalanan kemerdekaan bangsa kita ini. Aku belum lagi bisa melakukan apa-apa. Namun kita wajib belajar dari sejarah bangsa yang belum lama. Belum ada 100 tahun. Semoga akumulasi kesyukuran semua warga negara, menjadi bongkahan energi yang terus menggandakan semangat untuk senantiasa berbuat.

Barangkali seperti beberapapetugas sosialisasi yang menyampaikan butir-butir “Empat Pilar” Indonesia dengan hati. Atau seperti Munif Chatib yang terus berjuang mengenalkan “Sekolahnya Manusia” untuk Indonesia yang lebih humanis. Mungkin kita tak sepenuhnya butuh alasan untuk berbuat. Sebutlah itu tulus…

Advertisements
Comments
  1. […] *me-refresh kembali tulisan 2 tahun silam. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s