Sedikit Ingatan Sebelum Keberangkatan…

Bagaimanapun sulit dan sempitnya hidup, berbagilah! | Hamid Batubara

Medio 2014. Sepekan sebelum keberangkatan ke penempatan, pihak Indonesia Mengajar menjadwalkan Meet The Leader selama tiga hari. Diantara yang sempat mengisi ada Boediono (Wapres RI), Anies Baswedan (Penggagas Indonesia Mengajar), Pramono Edhie Wibowo (Mantan Panglima Kostrad), Hamid Batubara (Presdir Chevron Indonesia), dan Musliar Kasim (Wamen Dikbud).

Bukan hanya itu, sebelumnya dalam tujuh pekan pelatihan intensif Pengajar Muda, selalu diselipkan sesi Forum Leadership setiap Rabu Malam. Sesi yang selalu dinanti-nanti. Sesi yang mereproduksi semangat. Setiap satu orang datang, saya beroleh satu pelajaran hidup. Dan tak lupa sesi yang begitu menghibur batin oleh Abah Iwan Abdulrachman (Dewan Pembina Wanadri).

Ada banyak kisah hidup mereka yang tidak terungkap di publik luar sana. Namun, kepada kami, kisah itu dingat dan disampaikan. Sebagai pelajaran berharga setahun ke depan, dan mungkin saja puluhan tahun berikutnya. Rasa-rasanya, setiap kami jadi optimis dengan masa depan bangsa ini.

Nasehat yang disampaikan terasa benar-benar berharga. Mengapa? mungkin karena di sinilah, dan pada titik inilah, kami benar-benar siap menerima dan menjalankan nasehat.

Beberapa dari mereka merupakan saksi hidup perjuangan berpuluh-puluh tahun menjaga dedikasi dan integritas sehingga kokoh di puncak. Dengan tampilnya mereka di hadapan kami, bercerita, kami menyaksikan sebuah layar hidup. Ini lebih dari sekedar membaca biografi.

Ketika sesi dengan leader-leader ini dimulai, tak tahan mereka untuk tidak memberikan salam sapaan paling ramah, dan menyunggingkan senyum yang begitu lekat. Kamipun menaruh berjuta rasa hormat kepada mereka yang memberikan senyum dengan tulus ikhlas.

Tak lupa mereka menyampaikan rasa gembira dan salut, pada kami, Pengajar Muda (Angkatan VIII Indonesia Mengajar). Tersebab rela memberikan iuran satu tahun dari jatah hidupnya untuk sebuah tahapan kecil bersama-sama memajukan pendidikan.

Mungkin itu pula alasan mengapa ribuan relawan GIM (Gerakan Indonesia Mengajar) dengan tulus memberikan senyumnya dan memamerkan rasa bangganya. Seakan berujar, “berbahagialah teman, kamu tidak sendiri, mari bekerja bersama-sama.”

Hampir setahun ini, saya mulai rindu dengan petuah khas orang tua yang mereka sampaikan setahun lalu. Barangkali, realitanya, kami seakan-akan menumbuhkan harapan di dalam dada-dada mereka. Harapan  yang mengandung optimisme, dan membicarakan optimisme berarti membincangkan sebentuk hal yang menimbulkan semangat dan gairah. Ini sulit. Meski sulit, kami punya caranya. Semua kami mulai dengan: Mengajar.

Hikmat Hardono sering bilang, “barangkali dan jangan-jangan, hidup memang sesulit itu.” Makanya tidak ada jalan pintas untuk perubahan. Kami membawa misi keberlanjutan pendidikan dan kebangkitan serentak aktor-aktor di daerah yang saling terhubung mendukung pendidikan sebagai proyek besar membangun manusia Indonesia.

Dengan cara itulah kami berbagi. Bekerja intensif pada satu sekolah selama setahun yang letaknya di ujung-ujung negeri. Sebuah upaya kami untuk berusaha mencintai Indonesia.

Kata Pak Anies menjelang keberangkatan, “Kami tidak pernah bilang telah memberikan semua bekal di penempatan. Tapi kami yakin telah memberikan semua stimulus-stimulus itu. Penting bagi Anda untuk mengembangkannya sendiri kemudian.

Kepada beliau-beliau yang menjadi narasumber sesi Meet The Leader, Pak Anies berujar, “saya mohon, sampaikan apapun yang akan berguna bagi mereka.

Bismillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s