Kitong Tara Bisa Liat Pak Guru Lagi.

11750984_10203130161094294_1682646150_oAnak-anak gunung memang pemalu.

Namun Tuhan mentakdirkan setahun ini, saya berjodoh dengan mereka.Bermain dan belajar bersama mereka. Makan minum, juga bersama mereka. Lalu, menjadi bagian dari keluarga mereka yang dipenuhi kebersamaan dan kehangatan. Pengalaman setahun ini, adalah pelajaran yang begitu bernilai dan berharga.

Anak-anak ini sebenarnya beruntung bertempat tinggal di daerah pegunungan. Mereka bisa menyaksikan langit terasa demikian dekatnya. Awan yang menggumpal begitu banyak. Jika tersibak, langit akan menjadi sedemikian cerahnya. Anak-anak ini hidup dengan pikiran yang segar.

Nak, ada alasannya kenapa Teteh Manis takdirkan kitorang tinggal di gunung. Kitorang dekat dengan langit. Kitorang dekat dengan Teteh Manis. Gampang sekali kitorang gantungkan cita-cita di langit sana. Kalau kitorang berusaha, pasti dapat. Kalau kitorang berdoa, pasti Teteh Manis jawab.

Yanto

“Pak Guru perpisahan tanggal berapa?” tanya Yanto. Anak ini cuma ingin memastikan. Anak ini sebenarnya tahu. Cuma ia butuh alasan untuk mengungkapkan kalimat-kalimatnya.

“Tanggal 27 nak, hari sabtu.”

Dengan mata yang tak kuasa menatap langsung, Yanto menimpali, “kasian,,, sabtu bapak su pigi. Kitorang semua tidak bisa liat pa guru lagi.”

Nyessss…

Yanto benar. Seketika saya sadar. Acara perpisahan berarti sebentar lagi anak-anak tidak akan merasakan kehadiran saya secara fisik. Di lingkungan kampung dan di sekolah. Entah untuk waktu yang sampai berapa lama.

Kristian

Menjelang malam, Kristian, muridku kelas III, datang ke rumah.

Di kamar terdapat pelita yang sengaja kutaruh di pojokan kamar. Kristian datang. Anak ini, bagaimanapun bandelnya, ia anak yang cerdas.

Kristian meminta izin masuk ke kamar. Saya sementara menengguk air putih berbuka puasa. Ia kemudian duduk. Bersila. Tanpa kusadari, ia mengambil tangan saya dan mendekapkan ke telapak tangannya. Saya refleks mengikuti apa yang ia lakukan.

“Pak guru, beta minta maaf selama ini kalo ada yang salah. Karena jasa pak guru saya bisa naik kelas empat.” Dia menjabat tangan saya erat. Ia tertunduk dan terdiam. Lama kami terdiam dalam remang yang segera berganti gelap.

Seandainya ia bisa melihat raut wajah saya, bola mata saya memerah karena panas. Barangkali karena perkataannya yang spontan, tegas, tapi terbata-bata sebab ditekan rasa haru. Sebab besok adalah acara syukuran perpisahan dengan semua warga kampung.

Maria

Di tengah-tengah acara perpisahan di sekolah bersama orang tua siswa di sekolah, entah bagaimana Maria, muridku kelas VI,tiba-tiba masuk ke ruangan yang semuanya. Ia mengulurkan kedua lengannya dan mendekapku dengan tubuh mungilnya. Setelah itu, ia pergi. Maria datang hanya untuk memeluk saya di sekolah.

Tak ada kata yang panjang lebar. Tak ada rajukan manjadari anak-anak. Yang ada hanya isyarat. Bahwa anak-anak ingin mengucapkan kata perpisahan:

“terima kasih pak guru”

Anak-anak, terima kasih juga untuk setahun ini.Pak Guru akan selalu ingat kamorang semua.

*Teteh Manis: Tuhan Yesus.

Advertisements

One thought on “Kitong Tara Bisa Liat Pak Guru Lagi.

  1. Hahahahah…….sangking serunya pangalamanya yahhhhhhh…..bisa jadi 1 buku nantinya……beta jg penasaran dgn orang sana…kata temanku yg pernah ngajar di sana , anak papua jauh lebih baik ketimbang anak kalimantan…mereka mau kalo diajak maju

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s