Kuliah Terakhir Morrie.

morris-tweet
                                 di sini gambarnya.

Kata Morrie Schwartz, tidak ada kata terlambat di dunia ini. Beliau seorang profesor sosiologi yang sangat cemerlang di Brandeis. Memasuki umur ke tujuh puluh empat tahun, penyakit ALS perlahan menggorogoti tubuhnya. Menurut dokter, ia tidak akan bertahan lama dengan penyakit mematikan ini. Hanya beberapa bulan saja. Kelumpuhan tubuh akan diawali dari ujung jemari kaki hingga berakhir di paru-paru.

Jika sudah menghampiri paru-paru, maka kematian pun akan tiba di depan mata.Seperti tercekik, paru-paru akan membisu dan kaku.Penyakit saraf langka yang kebetulan juga menimpa orang-orang langka seperti Stephen Hawking.

Morrie,semua organ fisik luarnya tak bisa ia fungsikan secara mandiri, perlu dibantu perawat yang siaga dua puluh empat jam. Hawking, ia hanya bisa menggerakkan bola matanya.Menghadapi situasi mengerikan dikejar kematian, mereka memilih menggunakan caranya sendiri menghadapi maut. Caranya? Berbagi.

Sebelum mereka benar-benar pergi, mereka memutuskan akan meninggalkan sesuatu yang benar-benar bermakna.Belajar menghadapi kematian. Kata Morrie, “Sekali kita belajar tentang kematian, maka kita juga belajar tentang kehidupan (apa yang penting dari hidup ini)”

Morrie memilih mendokumentasikansaat-saat menjelang kematiannya dalam sebuah kuliah dengan satu –dan hanya satu- mahasiswanya yangmengambil mata kuliah ini, dialah Mitch Albom. Salah satu mahasiswa favoritnya. Hanya dari kursi sandar dan tempat tidur, Morrie menyampaikan kuliahnya yang mengesankan: tentang kematian dirinya sendiri.

Mitch kemudian membukukan kuliah ini dalam buku “Tuesdays With Morrie”. Kuliahnya hanya sekali sepekan di hari Selasa. Mitch merekam setiap bagian dari kuliah yang berharga ini. Sesekali, Mitch membantumelap dahak dan membuang ingus Morrie yang semakin hari semakin mengenaskan.

Tidak ada kata terlambat, kata Morrie. Kata-kata Morrie betul-betul berdengung. Tidak ada kata terlambat. Saya tahu saya benar-benar terlambat membaca buku ini. Saya merasa menyesal tidak membaca buku ini jauh hari sebelum berangkat ke Papua selama setahun misalnya. Saya harus menyadarkan diri bahwa apa yang dikatakan Morrie benar.

Apa sebenarnya yang benar-benar ingin diucapkan orang yang ingin mati kepada orang yang masih akan hidup lebih lama?Dasar pertanyaan inilah yang menjadi bahan kuliah Morrie kepada Mitch dan kepada kita semua.

Morrie memberikan wejangan-wejangan hidup yang lebih manusiawi dengan pendekatan kasih sayang dan hubungan interpersonal yang kuat di antara sesama. Keluarga yang beribu-ribu kali lebih penting dari harta, misalnya. Tapi kadang manusia meremehkannya.

Kata Morrie, “setiap kita percaya bahwa kematian akan datang. Tapi kita tidak percaya bahwa kematian bisa datang lebih cepat” Itulah alasan mengapa manusiasering mendasarkan nilai hidupnya kepada hal-hal yang bersifat kebendaan. Sudah terlalu sering, ketika kematian menjelang, barulah hal yang insaniah itu terpikirkan. Ketika harta dan tahta tak mampu mengubah jalan kematian seorang manusia, kematian serasa mencekam karena dimensi kemanusian sudah terenggut oleh nilai-nilai kebendaan.

Morrie menginginkan agar setiap orang bisa berdamai dengan kematiannya sendiri (meminjam istilah Komaruddin Hidayat). Bisa lebih tenang menghadapinya karena hidupnya diupayakan mengisi secara maksimal dimensi kemanusiaannya. Menjadi lebih peduli dan lebih menyayangi sesama.

Tiap nyawa yang bersemayam dalam tubuh manusia, semua dimulai dengan kelahiran. Pun akan bersama-sama –cepat atau lambat- akan menghabisinya lewat jalan kematian. Manusia tahu bahwa sekelilingnya banyak kematian. Tapi yang tidak alami adalah ketidaksadaran manusia bahwa hal itu juga akan menimpanya. Sekali lagi, cepat atau lambat.

Lantas mengapa manusia tidak bisa secara bersama-sama menciptakan makna hidup yang cuma sekali itu dengan mendayagunakan seluruh potensi kemanusiaan yang dimiliki? Begitu Morrie mencoba menggugat budaya sebagian besar manusia.

Kata Morrie lagi, “saling mencintai, atau mati”

***

*Saya sangat menikmati membaca tiap lembar dari Tuesdays With Morrie. Dan kepada teman-teman, Anda sangat layak berbahagia dengan buku ini. Bacalah di saat-saat yang tenang.

Advertisements

One thought on “Kuliah Terakhir Morrie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s