Namanya Pak Rudi, dari Fakfak.

Posted: November 13, 2015 in Artikel, Lomba Blog
Tags: ,
DSC05676

Murid-murid Pak Rudolof di SD YPK Rangkendak.

Barangkali banyak nama. Tapi sebuah nama berarti sebuah pelajaran. Barangkali, di situ kita bisa belajar menghormati setiap guru. Karena kemuliaan tugasnya, dan kesadaran tentang kemanusiaannya yang begitu tinggi. Pak Rudolof Namanya.

Di salah satu pagi berhujan dan diselingi kabut tipis, kami menemui beliau di SD YPK Rangkendak, Distrik Kramonggmongga, Fakfak Papua Barat. Kami datang sekedar saling mengakrabkan diri dan mendengarkan kisahnya.

Setiap hari beliau mengajar kelas V danVI. Terkadang Kelas IV, V, dan VI sekaligus. Keberadaan Pak Rudolof di sekolah merupakan single fighter. Bila ditemani Ibu Kepala Sekolah yang tidak sampai dua tahun lagi pensiun, mereka menjadi duo fighters.

Dari beban tugasnya yang sering merangkap kelas, Pak Rudolof tidak memiliki alasan untuk tinggal berlama-lama di kota.
iya dik, saya jarang turun (ke kota). Saya ada rasa kasihan melihat anak-anak yang pasti tidak belajar jika saya pergi.” katanya.

Ketika datang masa pengurusan kenaikan pangkat dan gaji berkala di Dinas Pendidikan, Pak Rudolof sering tidak menggubrisnya meski itu bagian dari haknya. Menurut beliau, muridnya lebih membutuhkan perhatiannya daripada mesti meninggalkan mereka selama dua atau tiga hari di kota.

tidak apa-apa dik, biar saja itu tertunda, asal anak-anak tidak terlantar di sekolah.”pikirnya.

Di daerah gunung gemunung ini, hujan acapkali datang dengan tibanya pagi.

sering sekali saya mau sengaja terlambat ke sekolah karena hujan. Tapi saya kasihan ingat anak-anak kampung yang selalu lebih dulu datang di sekolah.” ia bercerita. Sikapnya itu menjadikan beliau seseorang yang cukup istimewa di hati murid-murid.

Beliau selalu teringat pesan mendiang ayahnya yang juga seorang guru, “guru itu membangun manusia.” Jika diajarkan dengan moral, teladan, dan sikap yang tidak patut, ia juga akan menjadi bangunan manusia yang seperti itu.

Suatu cerita, pernah ia merasa sangat tersinggung di lokasi pelaksanaan ujian nasional. Harga dirinya diusik. Setiap tahun, ujian dilaksanakan di sekolah ibukota distrik. Ketika itu, ada guru yang mencoba memberikan jawaban kepada seluruh peserta ujian termasuk kelompok anak muridnya. Pak Rudolof tidak terima dan ia sempat bersitegang beberapa saat dengan beberapa pihak.

berapapun nilanya, itulah hasil kerja anak-anak. Dan hasil kerja keras kita juga dalam membimbingnya selama ini. Tidak lulus juga tidak apa-apa.”protesnya. Tindakan itu menurutnya tidak menghargai kesungguhan upayanya dalam mengajar anak-anaknya.

Setelah sepuluh tahun mengabdi, kata Pak Rudolof, ada keinginan terdalam beliau untuk mengabdi di kampung sendiri, Kampung Kayuni. Namun, katanya, di mana pun itu, ia akan tetap memberikan pengabdian terbaiknya.

Pada akhirnya, saya sadar, bahwa senyatanya, pendidikan bukan melulu tentang infrastruktur sekolah, kesiapan kurikulum, dan hal-hal canggih lainnya. Tapi bagaimana mencetak guru-guru yang mau bekerja dengan sepenuh jiwa. Jiwa yang sadar bahwa pekerjaannya adalah pekerjaan yang melibatkan mata dan hati. Jiwa yang selalu berbahagia dengan pendidikan.

Bagi saya, Pak Rudolof adalah satu dari sekian banyak guru-guru kita yang terus bekerja dengan laku, tanpa banyak ceracau. Setelah ini, cobalah datangi seorang guru. Dan dengarkan ceritanya. Maka cerita tentang Pak Rudolof-Pak Rudolof ini, akan terus berlanjut.

* Tulisan dibuat untuk Lomba Menulis “Guruku Pahlawanku”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s