Menengok Warga dan Senja

Posted: December 13, 2015 in Catatan Harian, Reportase
Tags: ,

“nasib adalah kesunyian masing-masing” | Chairil Anwar.

Maka, juga setiap perjalanan, akan membawa kita pada keheningan masing-masing. Sebab setiap orang akan memaknani berbeda dari perjalanannya.

Pare, sebuah kampung yang ditempati tidak lebih dari dua ratusan tempat kursus yang tersebar di beberapa desa dan jalan. Kawasan yang paling terkenal, namanya Jalan Anyelir. Orang-orang bilang, “pusatnya kampung Inggris, Kediri.”

Sekali dua kali saya lewat di jalan itu. Anak-anak muda tumpah ruah di sepanjang jalan. Mereka bersepeda atau cukup dengan berjalan kaki. Kegiatan ekonomi terlihat begitu lancar dan bergairah. Menguntungkan dan mendatangkan rejeki bagi para pemilik warung makan, binatu, toko buku, hingga tukang jahit sepatu.

Tapi, barangkali memang tak ada yang bisa lepas dari modernisasi. Hampir di setiap sudut ada cafe dengan fasilitas wifi. Beberapa dari tempat nyaman itu malah diawaki oleh tempat kursus sebagai usaha sampingan.

Smartphone dan media sosial, merupakan bagian dari paket lengkap perangkat komunikasi jaman ini. Hanya berbekal pribadi, belum tentu bisa menjadi faktor dominan dalam memulai komunikasi face-to-face yang berkualitas. Harus ada hp canggih atau tab terbaru.

Anak-anak muda ini memang kelihatannya bergerombol di meja-meja cafe, tapi sibuk masing-masing dengan komunikasi antar screen yang berada di seberang sana. Melihat situasi ini, saya seperti diperlihatkan dengan fenomena yang sama yang terjadi di kota-kota besar. hehe…

Sejuk lahan bawang

Di luar area Kampung Inggris, Pare memiliki banyak tempat di mana spirit komunitas dan kehidupan bermasyarakat masih kental. Di mana penduduk masih menekankan guyub dalam kehidupan keseharian. Pemandangan alam yang tersedia juga tidak kalah menariknya.

Siang hari terasa begitu terik di bulan-bulan ini, Sepetember dan Oktober. Puncak-puncak musim panas yang juga terjadi hampir seluruh bagian bumi. Keringat saya tak berhenti mengucur. Perasaan gerah jadi tak tertahankan.

Beruntung saya punya tempat minum es langganan yang murah meriah, samping Masjid ITC Pare. Cuma 3000 rupiah, semangkuk sup buah terhidang untuk melenyapkan dahaga. Tempatnya berupa lapak kecil. Membelakangi lahan kosong. Semilir angin membantu melenyapkan keringat yang menempel di badan. Pemiliknya sepasang tua yang selalu terlihat tersenyum. Setiap siang saya ke sana.

Sore itu, kuputuskan untuk mendatangi tempat-tempat yang jauh dari keramaian Kampung Inggris. Dari tempat kursusan, kuraih sepeda dan kulajukan ke arah selatan. Terus menjauh melewati Anyelir dan terus melaju lagi.

Sekitar dua puluh menit bersepeda, saya merasa nyaman dan enteng. Tak ada hiruk pikuk. Saya tidak harus pelan-pelan karena harus berhati-hati dengan pesepeda dan pejalan kaki yang sama-sama berebut jalan. Saya jadi bisa bersepeda dengan kecepatan tinggi. hehe.

Rumah-rumah Joglo yang artistik dan tradisional masih bertahan di sisi-sisi jalan. Di ata-atap rumah bergantungan bawang-bawang hasil panen.

Anak-anak bermain dengan riangnya. Setiap beranda rumah dipenuhi gelak tawa ibu-ibu dan anak-anaknya. Membersihkan bawang yang baru selesai dipanen. Kehidupan sore yang benar-benar berbeda. Wajah-wajah lelah mereka begitu sumringah meski setelah seharian bekerja di ladang. Membuat saya juga ikut tertular rasa bahagia.

Sampailah saya di plang jalan yang bertuliskan “TPA” Tempat Pembuangan Akhir. “Akhir” bisa diartikan sebagai penghabisan. Tempat Pembuangan Akhir ini memang sejatinya merupakan batas dari perumahan masyarakat. Semua sampah bermuara ke mari. Saya mendekat tapi enggan untuk masuk ke dalam kompleks. Dari luar saja, sampah itu kelihatan jelas membentuk gunungan empat hingga enam meter.

Sudah ujungkah? Ternyata belum.

Sepeda kulajukan lagi,,,lagi,,,dan lagi.

Lahan bawang dan jagung terhampar di sepanjang pelupuk mata. Semerbak bau alam yang begitu kurindukan memenuhi paru-paru dan pikiran.

Sepeda saya begitu kencangnya hingga tidak terasa sudah tiba di penghujung jalan. Ada jembatan yang dibawahnya mengalir sungai kecil. Pohon bambu yang begitu lebat terasa meneduhkan.

Dan, ooooouuuuh, masalah. Jalan pulang harus melawan arah angin. Badan saya berpeluh berulang-ulang kali sebelum tiba kembali ke kampung Inggris.

Meski begitu, matahari masih berbaik hati menampilkan wajah bulat besar merahnya sebelum berganti malam. Sebuah komunikasi yang intens antara manusia dan alam: pertanda.

Advertisements
Comments
  1. @kaprilyanto says:

    aku suka gambar yang matahari tenggelam, sejuk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s