Titik . Singgah

Posted: January 19, 2016 in Artikel, Catatan Harian, Uncategorized
Tags: , , ,

masthead_image1_1358639981

“saat kau mengukur hidupmu, maka kau tidak menjalaninya” |Mitch Albom

Lima bulan tepat, kurang empat hari. Waktu yang  saya habiskan belajar di Pare. Rasanya seperti baru kemarin. Dan waktu, seperti biasa, selalu berjalan terus. Sampailah saya pada hari ini. Setelah memantaskan diri dan merasa sudah lebih baik dari sebelumnya.

Saya datang dengan tujuan semata-mata belajar. Mendapatkan sertifikat dan memenuhi persyaratan beasiswa luar negeri? Ya, itu penting. Tapi, secara pribadi, menurut saya itu cuma bonusnya.

Pada akhirnya saya bersyukur karena beroleh banyak pengetahuan berguna, teman-teman baik, dan pengajar-pengajar hebat dan berdedikasi tinggi. Proses. Saya mencoba menghargai proses. Ya, di mana kesempatan hidup memberikan saya “waktu” untuk dijalani.

Puas? tentu saja tidak. Di atas langit, masih ada langit. Penguasaan terhadap bahasa perlu praktik yang intesif dan mendalam. Termasuk lingkungan yang kondusif untuk bisa saling berkomunikasi dengan bahasa asing.

Lima bulan ini adalah perjalanan dan sekaligus titik singgah. Sebelum saya melangkah pada fase yang selanjutnya. Dengan situasi Pare yang nyaman untuk belajar, rasanya saya ingin bertahan sedikit lebih lama lagi.

Tapi tidak.

Titik singgah selalu menjadi tempat untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya, menyiapkan perbekalan, menyiapkan stamina fisik dan mental. Tantangan di depan adalah, perjalanan yang sebenarnya. Dunia yang penuh gejolak.

Hari ini, adalah titik kulminasi dari segala persiapan-persiapan itu.

Jika saya ditanya, “siap?” Saya akan jawab tidak. Dan tidak akan ada orang yang benar-benar siap menghadapi hari yang membawanya menuju perjalanan yang baru. Tidak ada.

Meskipun demikian, kita semua sedang “mempersiapkan diri” di titik singgah. Memantaskan diri untuk benar-benar mencapai taraf “siap” yang kokoh. Lantas setelah itu, perhentian di titik singgah ini harus diakhiri masanya. Inilah saat di mana kita merasa inklinasi dan klimaks dari persiapan sudah benar-benar dekat.

Perjalanan harus dilanjutkan, ikat pinggang dikencangkan kembali, lengan baju disingsingkan lagi, ransel disampirkan di pundak kiri, dan ready to go.

Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita. Supaya setiap hari itu berharga | Dor.

Sebenarnya, apa apa yang membuat kita memutuskan untuk beralih dari satu fase ke fase yang lain dalam hidup? Kesiapan kita untuk beranjak pergi, untuk berubah dari satu keadaan (yang baik) menuju situasi lain (yang lebih baik lagi).

Sementara, orang-orang lain, menuduh waktu, ya, waktu. Kita dibatasi oleh waktu. Atau barangkali, kita sedang membuat perhitungan dengan waktu. “tak ada waktu lagi”, “tak cukup waktu lagi berlama-lama”, “waktu sudah mau habis”, dan semacamnya.

Sekarang-sekarang ini, orang-orang melihat waktu dengan berbagai macam gaya. Ada yang dengan senang, ada yang terengah-engah, ada pula yang sebegitu takutnya.

Mayoritas, orang-orang ingin memiliki waktu, menggenggam dan mengontrol jalannya waktu. Mereka, adalah orang-orang yang takut kehilangan waktu.

Padahal, yang terbaik dan esensial dari waktu, adalah dengan menjalaninya dengan sebaik mungkin. Mengapresiasi waktu dengan normal adalah jalan tengah yang paling baik. Tidak ada satu detik pun yang bisa kembali.

Kisah yang paling baik, menurutku ada dalam sebuah fabel Mitch Albom, The Time Keeper. Dulu, orang-orang belum tahu bagaimana cara mengukur waktu. Hari ini, sudah tercipta jam dengan presisi dua digit di bawah detik. Untuk apa? Mengukur dan memberi tanda pada waktu.

Selalu ada pencarian untuk mendapatkan lebih banyak menit, lebih banyak jam, dan kemajuan lebih cepat untuk menghasilkan lebih banyak setiap hari. Lantas, kebahagiaan sederhana dalam menjalani hidup antara dua matahari terbit tidak lagi dirasakan | Albom.

Dalam perusahaan misalnya, memaksimalkan waktu bukan berarti harus mencari cara untuk meringkas waktu, tetapi memaksimalkan produktivitas kerja, meningkatkan efisiensi mesin produksi, memperbaiki sistem, dan sebagainya. Waktu yang ringkas, itu cuma bonus. Semakin ringkas waktu suatu proses produksi, semakin banyak yang bisa dihasilkan dalam sehari.

Sebuah penafsiran yang salah bila memaksimalkan waktu diartikan sebagai proses menyingkat waktu untuk sebuah pencapaian. Esensinya tidak terletak di situ. Pemaknaan kita kepada proses dan usaha yang sungguh-sungguh maksimal. Itu dia menurutku.

Menggenggam waktu, itu berarti, menggenggam komitmen untuk berusaha yang terbaik.

Saatnya menjawab “ya, saya siap.”  Mari berangkat!

Bismillah. Salam.

*Picture source

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s